Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 92 : Tebak-menebak


__ADS_3

Daffa menatap muka Syifa. "Syifa, kamu harus menjawabnya. Kalau tidak—"


"Emangnya kalau tidak, kenapa?" Syifa langsung menyelanya.


"Kalau tidak, aku akan langsung menarik tanganku."


Syifa melirik dengan muka cemberut. "Heh ... Itu sih namanya curang."


"Jadi, menurut kamu siapa?" Daffa bertanya kembali.


"Hmm ... " Syifa memegang dagunya, ia berpikir sejenak sesaat sebelum dirinya mengatakan pendapatnya.


"Ya udah deh, kalau begitu ... Aku pilih anak cowok aja."


"Maksudmu Ridho dan Farrel? Alasannya kenapa?"


"Iyah, tapi aku gak punya alasannya. Emm, mungkin karena cowok lebih kuat daripada cewek?"


Pandangan Daffa kembali ke depan, ia mendengus karena kecewa dengan jawabannya. "Huh, emang benar sih ... Cowok lebih kuat dari cewek. Tapi ya sudahlah, yang penting kamu udah mau menjawabnya dan terima kasih atas jawabannya."


Syifa menatap Daffa, ia merasa tidak enak setelah mendengar ucapannya. "Ya maaf deh, aku gak bermaksud mengecewakan kamu. Mereka kan teman-temanku sejak aku masih kecil, jadi aku cuma mengarang saja."


"Tenang, tadi aku hanya ingin mendengar pendapatmu saja, kok."


Daffa mendadak tersenyum tipis, itu terlihat jelas sekali oleh Syifa. "Aku juga tidak menyuruhmu untuk meminta maaf. Soalnya ... Aku sudah tahu siapa orang itu."


Kedua matanya mengkilap, Syifa tertegun melihatnya bersamaan dengan suasana hatinya yang menjadi terharu.


"Syifa ... " Panggil Daffa.


"Syifa, kamu tidak mau tahu, kah? Tentang siapa orang itu?"


Syifa sedikit kaget ketika mendengar suaranya, ia pun tersadar. "Eh, maaf-maaf. Memangnya siapa?" Tanyanya, sambil sedikit mengusap wajahnya.


Daffa langsung menjawabnya. "Rahasia. Sebenarnya itu juga belum pasti, aku hanya menebaknya dengan isi pikiranku. Nanti kalau sudah pasti, aku akan memberitahumu."


Dalam hatinya, Daffa sengaja memancingnya untuk mengatakan itu. "Haha, dia pasti akan marah—"


Syifa tiba-tiba menyandarkan kepalanya di pundaknya Daffa. Ia memejamkan matanya sambil tersenyum manis.


"K—kamu gak marah?"


Syifa kemudian membuka matanya perlahan, ia mendadak tertawa sendiri. "Hm? Buat apa aku marah? Malahan aku sangat senang, bisa melihat kamu yang berusaha keras demi membantuku."


Daffa seakan-akan diam dan tak bisa berkata-kata lagi, ucapan Syifa sangat mengena di Daffa. Dia yang niatnya ingin mengerjainya, malah kena balik.

__ADS_1


Daffa menghirup napas, ia merasakan bau yang sangat wangi masuk ke dalam hidungnya.


Setelah menghirupnya, Daffa tiba-tiba langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan kepalanya yang gemetaran.


"I–ini gawat sekali, sumpah ini bahaya sekali ... Seriusan dah, baunya wangi banget. Udah begitu, dekat sekali!" Batinnya meronta-ronta.


Seraya menahan jeritan hatinya, Daffa sekarang juga bernafas tak melalui hidung lagi, melainkan melalu mulutnya secara pelan. "Eh, tunggu sebentar ... " Daffa kepikiran dengan suatu hal.


Daffa mengangkat salah satu tangannya, lalu ia menekan erat dada kirinya sendiri. "Kenapa ... Kenapa aku bisa sesenang ini?! Padahal dulu aku gak begini ... Padahal dia hanya menyandarkan kepalanya saja. Seharusnya aku bersikap biasa saja, kan?!"


Seketika perasaan yang menggetar dalam dirinya, menghilang sirna tanpa jejak. Tampaknya Daffa menjadi lebih tenang dan santai.


Daffa kembali menoleh ke arahnya. "Syifa, bisakah kamu geseran dikit? Pundakku udah mulai terasa sakit—"


"Daffa ... " Syifa memotong ucapannya. "Sebenarnya aku juga punya pertanyaan untukmu."


"Malah gak didengerin." Gumam Daffa.


"Ya udah, kali ini akan kudengar baik-baik. Jadi kamu mau nanya apaan?"


"Seriusan, nih?"


Daffa mendengus. "Iya."


"T–tentunya selain ibumu, intinya perempuan yang sepesial di hatimu." Imbuh Syifa, pipinya memerah sendiri di saat mengatakannya.


Daffa tertegun sesaat setelah mendengarnya. Otaknya serasa kebingungan dan sedang berputar-putar mencari jawaban.


"Ah, mungkin ... Gak ada." Jawab Daffa telat.


"Oh, sudah aku duga. Hihi ... "


"Hihihi ... !" Syifa tertawa lepas.


Syifa semakin mengeraskan tawaannya sendiri dalam waktu yang cukup lama, hingga membuat Daffa keheranan melihatnya.


"Syifa, kamu masih sehat, kan?"


Mendengar ucapan Daffa, membuat Syifa menyudahi tertawanya. "Oh, maaf-maaf ... Entah kenapa, itu terdengar sangat lucu."


"Itu sama sekali gak lucu, weh." Gumam Daffa dalam hati."


"Oh, iya. Omong-omong, kamu gak mau tanya tentang aku, nih?" Tanya Syifa.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Ya seperti ... Apa hobiku, warna kesukaanku, makanan favoritku, atau mungkin bisa juga ... Orang yang paling spesial di hatiku."


"Aku tebak, dia pasti sekarang sedang penasaran. Hehe." Gumam Syifa terkekeh.


Namun Daffa justru menanggapinya biasa-biasa saja. "Emang buat apa aku bertanya seperti itu? Lagian, aku juga udah tau jawaban itu semua dari melihat kebiasaan kehidupanmu."


"Eh, apa iya? Coba jawab satu per satu. Kalau salah, kamu harus menerima hukuman." Ucap Syifa dengan nada berat. Matanya menyipit, karena ia tak percaya dengan Dafa.


"Ya jangan ada hukuman juga, oh." Keluh Daffa.


"Gak, aku maunya harus ada. Wlee ... " Syifa memelet ke arah Daffa dengan wajah tak senangnya.


Daffa mendengus. "Ya ampun, nih anak. Baiklah terserah kamu aja, lagian aku seratus persen percaya diri, kalau jawabanku akan benar semuanya." Ia tersenyum tipis karena saking percaya dirinya.


"Jadi?"


"Okeh, pertama hobimu. Dilihat dari kegiatan ekskul kamu sih, pasti udah pada tau, kalau hobimu itu berenang atau menyanyi ... Benar, kan? Kalau selain renang, kamu juga masuk ekskul paduan suara? Hmm, mungkin ada lagi. Kamu juga sering posting fotomu di media sosial, yang kemungkinan kamu juga hobi berfoto."


Syifa melirik ke arah Daffa, ia berkeprok satu kali untuknya. "Yah ... Itu benar sih, walau aku masih punya hobi lagi selain itu. Tapi gak apa-apa, aku ucapkan selamat atas jawaban pertamanya."


"Eh, ternyata benar toh, kalau kamu hobi berfoto?" Daffa menggeleng kepalanya.


Syifa menatap tajamnya. "Iya, emangnya kenapa? Daripada kamu, hobinya nge-game."


"Hei, aku tidak hobi nge-game. Asal kamu tau yah, aku hanya bermain game saat ada waktu luang saja."


"Iya deh ... Aku percaya aja. Lanjut?"


Tak beberapa lama, Daffa melanjutkan jawabannya. "Kalau warna favoritmu mah gampang, pasti semua siswa sudah tahu lah ya ... "


"Ah, yang benar?"


Daffa menunjuk ke arah pakaiannya Syifa. "Lihat, kamu sedang menggunakan baju warna pink. Sebelum-sebelumnya aku juga sering lihat kamu yang memakai pakaian warna itu. Jadi tidak salah lagi, kalau warna favoritmu itu warna pink."


"Huh ... kenapa kebanyakan seorang perempuan lebih menyukai warna pink, padahal warna itu sangat mencolok di mata." Imbuhnya.


Syifa membuang napas, jawabannya bukan suatu yang diharapkannya.


"Yah ... Benar lagi deh, padahal aku mengharapkan sebaliknya. Tapi, ada juga para perempuan yang menyukai warna selain pink lho."


"Lanjut, kalau makanan favoritku?" Imbuhnya dengan tatapan sipitnya.


Lagi-lagi Daffa membuang napas lewat mulutnya. "Huh ... "


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2