Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri

Kisah Romantis Anak SMA Penyendiri
Bab 85 : Perasaan Yang Terpendam


__ADS_3

Suara mereka yang cukup dekat itu, seketika langsung memanggil Daffa dan Syifa agar menoleh ke arahnya.


"Eh, ternyata kalian." Ucap Syifa.


"Kayaknya kalian berdua semakin akrab aja, nich."


Daffa membalas. "Gak, biasa aja."


Farrel melangkah lebih mendekat ke Daffa, tiba-tiba ia sandarkan lengannya di bahunya Daffa.


Farrel dan Daffa menggerakkan mulutnya, sepertinya mereka berdua mengobrolkan sesuatu hal kecil yang tampak seru, Ridho pun tertarik untuk menghampiri mereka.


Karena bel sudah berbunyi jelas, tentunya teman satu kelas lainnya Daffa juga sudah pada berdatangan masuk ke kelas satu per satu.


Mereka berjalan sambil mengelus perutnya, karena perutnya merasa sudah cukup kenyang. "Aghhh ... ! Kenyang sekali."


Tak hanya Daffa saja, Syifa juga dihampiri oleh kedua sahabatnya itu dan ia pun mendapatkan sejumlah pertanyaan.


"Kalian habis makan berdua? Terus Melly ke mana?" Secara beruntun, Vira langsung menanyakan dia hal, sesaat setelah melihat kondisi mejanya Daffa.


"Ah, iya ... Kalau Melly tadi keluar kelas."


Diam-diam, matanya Bella terus memerhatikan wajah Syifa yang agak memerah. "Syifa, kayaknya kamu menyembunyikan sesuatu, yah? "


Dengan ragu-ragu, Syifa membuka mulutnya sembari menatap Bella. "Kalian mau tau? ... Sebenarnya ... Sebenarnya aku tuh, sudah melakukan itu ... " Wajahnya mendadak menunduk saat dirinya belum selesai mengatakannya.


"Eh, melakukan apa?!"


Tak hanya kedua sahabat Syifa saja yang merasa kaget, tapi seluruh murid di kelas. Hal itu karena Syifa yang tiba-tiba menggantung ucapannya.


Daffa juga terkaget, tapi bukan karena ucapan Syifa, melainkan karena suara teriakan mereka yang secara mendadak. "Oi, kalian berisik sekali." Ocehan Daffa dalam hatinya.


" ... A—aku sudah melakukan sesuatu dengan Daffa." Sambung Syifa.


Sedetik kemudian, ucapannya sontak langsung menggemparkan seisi kelas. "Apa!? ... "


Semuanya pada berisik sekali saat itu, ada juga mereka yang kegirangan koar-koar sana sini.


Tak berselang lama Daffa langsung merasakan akibatnya, mulutnya tertampar tak begitu keras tapi sangat terasa, karena Farrel yang tiba-tiba bergerak maju.


Daffa langsung memegangi mulutnya. "Sial, apalagi yang akan dia katakan?!" Batinnya.


Di tengah-tengah keramaian suara yang bising itu, Bella mencoba menanyakan kembali atas jawaban Syifa yang tidak terlalu jelas baginya.


"Syifa, kamu tidak bohong, kan? ... Memangnya kamu sudah melakukan apa? ... Emm, maksudnya dengan Daffa." Bella mengucapkannya dengan pelan dan hati-hati, karena takut salah.


Mendengar perkataannya, membuat Syifa langsung memikirkan jawabannya dalam sesaat, sebelum ia mengatakannya.

__ADS_1


Syifa berbicara dengan pandangan matanya yang ke langit-langit, serta jari telunjuknya yang menempel di pipinya. "Emm, kemaren aku jalan berduaan dengan Daffa."


"Lah ... " Mereka sedikit kecewa ketika mendengar jawabannya, karena tidak sesuai ekspektasi.


"Eh, kita berjalan bertiga, karena sama adikku juga, ding." Saat mengingatnya, Syifa langsung membenarkan perkataannya yang sedikit salah.


"Lahhhh ... Dikira apaan."


Seketika teman sekelasnya Daffa ditiban kekecewaan yang menumpuk pada mereka.


Di saat suasana kelas yang amat ramai, Bella mendadak merasa aneh dengan perilaku Vira.


Sebab Bella memerhatikan Vira yang seperti tengah menggenggam bajunya dengan begitu kuat. Akan tetapi yang membuat Bella kepikiran, seluruh bagian tangannya Vira sedikit terlihat menggetar dengan sangat jelas.


"Vira, kamu ... Kamu sakit perut?"


Vira merasa sangat terkejut ketika tiba-tiba mendengar panggilan dari Bella, ia pun langsung menoleh ke arahnya. "Ah, iya."


"Maaf, aku mau ke toilet sebentar." Ucapnya.


"O–oke." Bella keheranan melihatnya.


Setelahnya Vira langsung berderap keluar kelas dengan wajah yang tidak begitu menyenangkan.


Ketika berada di dalam toilet siswi, suara langkah kakinya begitu keras karena terdengar nyaring.


Tap!


Tap!


Tap!


Vira kemudian langsung masuk ke kamar mandi dan ia menutup pintunya dengan cukup keras secara tiba-tiba.


Brak!


"Krek!" Vira mengunci dirinya sendiri di dalam kamar mandi kecil itu.


Vira melangkahkan kakinya satu kali lagi ke depan, ia menghadap ke tembok yang berdiri sangat tinggi dan kokoh.


Bugh!


Vira tiba-tiba memukul tembok itu dengan sangat keras, hingga siswa-siswi yang berjalan melewati tempat toilet tersebut merasa sedikit terkejut, karena suara misterius itu.


"Aduh, sakit!" Vira merasa kesakitan sendiri.


Tangannya agak memerah akibat memukulnya, tapi entah mengapa suasana hatinya lebih merasa lega dan puas, setelah melakukan itu semua.

__ADS_1


Telapak tangannya melebar, lalu menempel pada mukanya. Vira menunduk, ia mencoba untuk merenungkan isi pikirannya yang sudah kacau-balau.


"Kenapa ... Kenapa? ... Kenapaa?!"


Dari pelan hingga menjadi keras, Vira berbicara dengan dirinya sendiri seperti orang yang terlihat aneh, di saat-saat terakhirnya berada di tempat itu.


*****


"Teng! Tong ... !"


"Saatnya istirahat kedua ... !"


Seperti biasa, suara belnya berbunyi cukup keras dan nyaring ketika didengar.


Di jam istirahat kedua, kelasnya Daffa sudah seperti kantin sekolah saja.


Mereka saling membisik. "Hey, kita juga ke kelasnya Syifa, yok ... "


"Gas!"


Di saat itu banyak siswa-siswi yang berdatangan ke kelasnya Daffa secara bergantian, bahkan kedatangan mereka yang saat ini, lebih banyak ketimbang saat jam istirahat pertama.


Beberapa di antara mereka hanya berjalan sangat pelan melewati kelasnya Daffa, sambil melihat kondisi di dalam kelas melalui kaca jendela.


"Lah kok, aku tidak melihat Syifa ... "


"Bukan Syifa doang weh ... Aku juga tidak melihat siswa beruntung itu."


Ada juga sekumpulan murid-murid yang sejak tadi berdiri terus di depan ruangan kelasnya Daffa.


Hal itu, membuat teman sekelasnya Daffa yang berada di dalam kelas merasa canggung dan tidak enak, karena dilihat oleh siswa-siswi kelas lain yang begitu banyaknya.


Akan tetapi, Daffa untungnya sudah memperkirakan itu semua akan terjadi, sesaat sebelum bel istirahat kedua berbunyi.


Sehingga Daffa cepat-cepat memutuskan untuk langsung berlari kabur terbirit-birit dari kelasnya menuju tempat lain.


Di ruangan kelas yang Daffa duduki saat ini, suasananya begitu hening, hingga dapat membuat otak dan jiwanya yang kacau merasa sangat nyaman.


Daffa membalikkan halaman buku yang sedang ia baca. Saking fokusnya terhadap buku tersebut, kedua matanya sampai membuka lebar dan bergerak ke kanan kiri.


Tapi ternyata tak hanya buku itu saja yang ada di rungan itu, melainkan banyak sekali dan jumlahnya bisa lebih dari ratusan.


Karena Daffa saat ini sedang berada di ruangan perpustakaan, lebih tepatnya di bagian belakangnya. Sebab saat ini bisa dikatakan kalau ia tengah bersembunyi.


Namun entah kenapa, ekspresi wajahnya terus mengkerut sejak tadi.


Seharusnya keadaan di sekitar Daffa juga sepi dan tentram, akan tetapi itu sedikit berubah ketika beberapa teman dekatnya dagangan mengikuti jejaknya. Mungkin juga karena itulah wajahnya menjadi tak senang.

__ADS_1


Mereka antara lainnya adalah Ridho, Farrel, Melly, Vira, dan juga Bella. Mereka berlima ternyata secara diam-diam membuntuti Daffa sampai ke sini.


Bersambung ....


__ADS_2