Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 101


__ADS_3

Wajah Dimas begitu bahagia, senyumnya pun tidak pernah luntur. Kembali ke ruang kerja untuk menemui Arka. Tetapi Dimas juga tidak yakin Arka masih menunggunya setelah hampir dua jam di tinggalkan.


"Ini dia orangnya!"


Arka langsung menendang lutut Dimas dengan begitu kencang, hingga terkapar pada lantai.


Baru saja Dimas berada di ambang pintu, tetapi Arka sudah menyambutnya dengan tendangan yang cukup menyakitkan.


"Dasar Bos sialan!"


Dimas segera bangun, sambil merapikan pakaian yang kusut.


"Kau benar-benar tidak ada otak!" geram Arka.


Dimas tahu kesalahan, tetap bukan berarti bisa mengalah begitu saja. Wajar jika Arka marah mengingat Arka yang menunggu dirinya berjam-jam.


"Baru juga sekali," Dimas mencari pembenaran di atas kesalahannya.


"Dasar sialan!"


Arka ingin kembali memberi bogem mentah pada Dimas, mungkin dengan begitu otak Dimas yang tergeser bisa bekerja kembali dengan normal.


Dimas sudah membaca gerakan Arka, dengan secepat mungkin ia meloncat sofa hingga keduanya di batasi.


"Sudah lah Bos, kita damai-damai," Dimas menunjukan senyumnya pada Arka.


"Tidak usah selebar itu senyumnya! Aku masih normal! gerutu Arka.


"Hehe....." Dimas mangguk-mangguk, "Tapi terima kasih banyak idenya Bos."


Arka seketika mengerutkan keningnya, sambil menatap Dimas penuh tanya.


"Ternyata kau adalah guru terbaik, dan aku akan berguru pada mu!" Dimas kembali meloncati sofa, lalu dengan refleks memeluk Arka.


Mentari baru saja sampai, setelah sebelumnya Arka mengirimkan supir untuk menjemputnya. Karena mereka akan jalan-jalan bersama yang lainnya untuk hari ini penuh.


Tetapi, yang di lihat Mentari cukup mencengangkan. Arka dan Dimas tengah berpelukan.


"Aaaaaa!" teriak Mentari.


Dengan cepat Arka menendang Dimas sampai terkapar di atas sofa.


Mentari masih bingung sambil terus menatap dua lelaki dengan saling bergantian.


"Sayang, ini tidak seperti yang kau pikirkan," Arka mulai panik dan dengan berusaha menjelaskan nya pada Mentari secepat mungkin.


"Kakak masih normal kan?"


Glek!


Arka meneguk saliva terkejut dengan pertanyaan Mentari.


"Mmmmfffffp."


"Diam bodoh!" serkah Arka.


Dimas berusaha duduk, lalu tidak lagi tertawa demi menghindari amukan Arka.


"Sayang, Kakak masih normal. Tadi itu si gila itu yang memeluk Aa!" Arka berusaha membela dirinya.


"Enak saja, Anda yang memeluk saya!" Dimas tahu Arka sangat takut pada istrinya, maka dari itu. Ingin sekali Dimas melihat Arka seperti kucing yang tersiram air.


"Kau jangan sembarang bicara!" Arka tidak dapat mengontrol emosi, kembali mendekati Dimas dan berusaha mencekik Dimas.

__ADS_1


"Arka, apa kau sengaja dengan posisi ini?"


Arka masih berada di atas Dimas, kemudian setelah memutar leher agar melihat exspresi wajah Mentari.


Mentari malah merinding saat melihat Arka yang mengungkung Dimas.


Dengan cepat Arka melepaskan Dimas, lalu menendang kaki Dimas dan segera berjalan ke arah Mentari yang masih berdiri di ambang pintu.


"Sayang, Kakak masih normal. Kamu percaya kan?" Jantung Arka sudah tidak lagi dapat di kondisikan, karena takut pada Mentari yang malah menganggapnya sudah berpindah selera.


Arka juga tidak akan mau bila seleranya berpindah pada sesama nya, karena bagi Arka itu adalah hal yang sangat menjijikan.


"Normal? Yakin?" ejek Dimas.


Mentari menatap Dimas kemudian kembali menatap Arka.


"Kalau Kak Arka enggak normal, kemungkinan Dimas juga dong?" tanya Mentari.


Dimas langsung berdiri dari duduknya, kemudian menggerakkan kedua tangannya di depan wajah, "Dia yang nyosor!" telunjuk Dimas beralih pada Arka.


"Enak saja!"


"Kak?" Mentari menatap Arka dengan penuh tanya.


Dimas tertawa penuh kemenangan, kapan lagi bisa melihat wajah Arka yang dingin berubah menggemaskan karena ketakutan pada istrinya.


Lala tahu Mentari sudah datang, seketika menyusul ke ruang kerja Dimas. Tetapi dari jarak beberapa meter ia melihat hal yang menarik.


"Sayang, apa iya kamu percaya sama orang gila?" tanya Arka berusaha membela diri.


"Tapi, memang benar. Kakak yang nyosor barusan," kata Mentari dengan sedikit kikuk.


"Hahahaha....." Tawa kemenangan Dimas seketika pecah karena tampak Mentari termakan hasutannya.


Dimas terkejut saat Arka menyebut nama istrinya, seketika ia berdiri dan memang benar ada Lala berdiri di belakang tubuh Mentari.


"Ada," Jawab Lala dengan polosnya.


"Bisa tolong ambilkan?" pinta Arka.


Lala mengangguk, kemudian memberikan buku Yasin pada Arka. Setelah mengambilnya dari kamar.


"Buat apa?" tanya Mentari bingung.


"Mau di bacain, soalnya bingung yang mana manusia yang mana SETAN!" Arka menyebut 'setan' cukup kencang sambil menatap Dimas, "Soalnya dia suka lihat rumah tangga orang hancur!" tambah Arka lagi.


Dimas mengusap wajah beberapakali, kata-kata Arka cukup membuatnya tersudut.


"Memang nya siapa manusia atau setan yang Pak Arka maksud?" Lala tampaknya tidak mau terus kebingungan jadi lebih baik ia bertanya.


Wajah Dimas terlihat masam, ingin marah tidak berani. Tetapi pertanyaan Lala sungguh semakin membuat Arka berada di atas angin.


Arka tersenyum penuh kemenangan, tau jika Dimas tidak berani berbicara.


"Udah-udah," Mentari mengambil buku Yasin dari tangan Arka, kemudian meletakan dengan baik pada meja.


"Sayang kamu percaya Kakak normal?" Arka masih belum puas sebelum masalah terselesaikan.


"Hehehe......" Mentari menggeleng.


"Kenapa?"


"Karena tadi kau memeluk ku!" timpal Dimas.

__ADS_1


"Aa?" tegur Lala.


"Hehehe......." Dimas menggaruk kepalanya, karena tidak berani pada Lala.


"Ahahahhaha....." Arka menertawakan Dimas yang juga mengalami seperti yang baru saja ia alami.


"Kakak!" kata Mentari juga.


Arka juga diam tanpa berani berbicara.


"Assalamualaikum?"


Sandy sebelum nya di hubungi Dimas agar datang, akan tetapi malah melihat semua hanya diam saja.


"Waalaikumusalam....." jawab Lala dan Mentari bersama.


Sandy tanpaknya sedikit bingung melihat Arka dan juga Dimas yang tiba-tiba menjadi kalem.


"Kalian berdua kenapa?" tanya Sandy.


"Mereka berdua abis mesum!" jawab Mentari.


"APA!!!"


Sandy terbelalak mendengar penuturan Mentari.


Arka dan Dimas dengan cepat menggeleng, karena Sandy menatap penuh intimidasi.


"Sayang, kau bicara apa!" kesal Arka.


"Tapi bener kok, Pak Arka sama Aa tadi pelukan!" kata Lala menimpali.


Sandy semakin terkejut, seketika merasa takut jika Dimas dan Arka juga akan memeluk dirinya.


Sandy memang jomblo tapi bukan berarti mau dengan sesamanya, sekalipun tidak ada lagi wanita di dunia ini tidak akan sudi untuk di peluk Arka dan Dimas.


"Kau berpikir apa!"


"Jangan aneh-aneh!" tambah Dimas.


Sandy menggaruk kepalanya sambil menggeleng, "Memangnya aku memikirkan apa?" seakan bodoh, sebenarnya memang benar pikiran Dimas dan Arka tentang dirinya.


"Nah kan?" Mentari semakin menyudutkan Dimas dan Arka.


"Aa, berpikir sesuai yang di pikirkan Pak Arka!" timpal Lala.


"Enggak!!!" seru Dimas dan Arka bersama.


"Huuueekkk....." Sandy langsung melenggang pergi karena mual.


"Tari?" Lala menatap Mentari penuh tanya.


"Aku kok merinding?" Mentari langsung keluar dari ruang kerja Dimas sambil menarik Lala untuk ikut dengan nya.


"Sayang!!!!! teriak Arka.


"Lala!!!!" teriak Dimas.


Sedangkan Mentari dan Lala cekikikan karena berhasil mengerjai suami mereka.


"Ahahahhaha....." keduanya segera menuju taman belakang, untuk melepaskan tawa yang tertahan setelah mengerjai dua manusia yang mereka cintai.


***

__ADS_1


Tolong like dan Vote.


__ADS_2