Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Ketemu diam-diam


__ADS_3

"Woy Kakak ipar!!!" seru Rika yang langsung masuk ke kamar Lala dan juga Dimas.


"Dasar adik ipar kurang ajar!" Lala yang hanya berbalut selimut sangat kesal pada Rika, pagi-pagi sekali adik iparnya itu sudah masuk tanpa ijin ke dalam kamar nya.


"Biarin!" gerutu Rika, sambil berdiri di dekat ranjang. Kemudian lehernya memutar ke kanan dan kiri.


"Ada apasih!" Lala sangat kesal pada Rika yang terlihat aneh, bahkan seperti sedang mencari sesuatu.


Rika merasa tidak ada Dimas di sana, kemudian ia kembali melihat Lala yang kini sudah duduk tapi masih menutup tubuhnya dengan selimut, "Kak Dimas mana?"


"Di kamar mandi," Lala menunjuk arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, "Ada apa?" tanya Lala penasaran, sebab tidak biasanya Rika mencari Dimas.


"Aku butuh bantuan mu."


Rika mendekati Lala dan berbisik, setelah itu ia menjauh dan menatap Lala penuh tanya.


"Gila lu ya!" Rika melempar bantal pada Rika, menurutnya keinginan Rika sangat menyulitkan dirinya.


"Ayolah please," Rika menangkup kedua tangannya berharap Lala mau menolong dirinya.


"Gila lu, semalam aja aku udah tepar," Lala kembali merebahkan tubuhnya, dan menutup mata.


"Lala ayolah, tolongin," Rika terus berusaha untuk membuat Lala mau menolongnya, bahkan ia sampai ingin masuk ke dalam selimut.


"Apaan sih!" Lala tidak mengijinkan Rika untuk masuk kedalam selimut nya, karena ia juga sedang menutupi tubuh polosnya dengan selimut, "Iya udah, aku bantuin!!" geram Lala.


Bibir Rika seketika tersenyum, ia meloncat naik ke atas ranjang dan memeluk Lala.


"Aku enggak bisa nafas!"


"Hehehe....." Rika menjauh dengan perasaan tidak enak, "Baiklah Kakak ipar sampai jumpa di kampus," ujar Rika tersenyum.


"Kau akan berangkat bersama kami!" suara Dimas yang berat dan tertahan seakan membuat kedua orang yang tengah berbicara di atas ranjang terkejut.

__ADS_1


Rika berusaha tenang, dan berharap Dimas tidak curiga padanya. Ia melihat Dimas dan memutar lehernya kembali untuk menatap Lala.


"Rika tunggu di meja makan," Rika langsung turun dari atas ranjang, ia kemudian berjalan ke arah pintu dan keluar.


Lala juga takut melihat wajah Dimas yang terlihat sangat dingin, tapi ia sudah berjanji untuk menolong Rika, "Aa," Lala memakai jubah dan turun dari atas ranjang, "Malu banget, tapi demi Rika," batin Lala, "Mandi bareng yuk," ajak Lala.


Dimas memicingkan matanya merasa aneh dengan ajakan Lala, sebab tidak biasanya Lala mengajaknya mandi bersama. Malahan ia sering menolak saat di ajak mandi bersama.


"Aa," Lala langsung memeluk lengan Dimas, sebenarnya saat ini Lala sangat malu sekali tapi harus tetap tenang.


Dimas masih diam menatap Lala, entah apa yang di pikirkan oleh Dimas saat ini.


"Aa, denger nggak sih," pinta Lala lagi dengan suara pelan.


"Tapi Aa kan sudah selesai mandi sayang," Dimas menunjukkan handuk yang masih melingkar di pinggang nya.


"Aduh," Lala mendesus dan mulai bingung harus beralasan apa lagi.


"Ya udah, kalau kamu mau mandi sama Aa," Dimas kembali masuk ke dalam kamar mandi, bahkan dengan ikut menarik Lala yang ikut masuk bersama dengan nya.


Rika yang menunggu di meja makan merasa bahagia, karena sampai saat ini juga Dimas belum juga turun. Kemudian ia menatap jam yang melingkar pada pergelangan tangannya, "Ma, Kak Dimas sama Lala kok belum nongol sih?!" Rika berpura-pura kesal, padahal ia tahu apa yang sedang di lakukan Lala di dalam kamar demi menjinakkan Dimas.


Mama Yeni juga tidak melihat Dimas dan Lala, "Ya udah kamu berangkat duluan saja ke kampus," ujar Mama Yeni.


Bibir Rika tersenyum samar, ia sangat bahagia dan sepertinya rencananya sangat berhasil.


"Rika berangkat ke kampus duluan ya Mas."


Bibir Rika terus tertarik ke masing-masing sudutnya, ia keluar dari rumah dengan rasa yang bahagia. Sampai akhirnya di persimpangan jalan sebuah mobil terparkir.


"Selamat pagi Cinta," goda Sandy.


Rika sedikit menunduk, dan melihat Sandy dari jendela mobil yang terbuka. Ia tersipu malu saat mendengar panggilan Sandy.

__ADS_1


"Ayo masuk."


Rika duduk manis di samping Sandy, perasaannya kini benar-benar tidak karuan, jika biasanya Rika sangat tidak suka dengan Sandy, kini semua berubah seakan berbalik.


"Kenapa diam saja?" tanya Sandy memecahkan keheningan antara keduanya.


"Mas Rika bingung, kenapa ya Kak Dimas marah kalau kita dekat?" Rika menatap Sandy penuh tanya, "Kan Mas sama Kak Dimas sahabatan," Rika tidak ingin terus merasa ada yang mengganjal di hatinya, hingga ia memilih bertanya.


Sandy mengerti dengan perasaan Rika, ia langsung menepikan mobilnya dan menatap Rika. Sejenak Sandy menimbang apakah Rika perlu tahu akan masalah nya, tapi Sandy tidak ingin kehilangan Rika.


"Mas mau menceritakan semua ke kamu, tapi kamu bisa janji untuk tidak meninggalkan Mas?" tanya Sandy dengan yakin.


"Kok Mas ngomongnya begitu sih?"


"Mas tidak ingin kau mendengar dari orang lain, dan nantinya akan ada salah paham. Tapi Mas akan mengatakan dengan jujur," Sandy memegang tangan Rika dan menggenggam dengan erat.


Rika merasa ada masalah yang mungkin selama ini terjadi, hingga Dimas sangat melarang dirinya untuk bersama Sandy. Tapi sampai disini perasaan Rika juga begitu besar pada Sandy, ia dalam dilema yang sulit untuk di pahami.


"Sayang," Sandy menyadari Rika yang kini diam dan bingung, tapi ia pun tidak ingin Rika tahu masalah nya dari mulut orang lain nantinya.


Rika mengangguk, "Iya, Rika mau dengar apa yang akan Mas ceritakan."


Flashback on.


Sandy terlahir dari keluarga broken home, ia selalu melihat kedua orang tuanya yang bertengkar. Sampai akhirnya Ibu Jihan merasa Sandy mulai terpengaruh dengan dunia luar, Jihan memutuskan untuk tidak lagi melarang suaminya dalam hal apapun. Namun, di balik itu semua Sandy sudah masuk kedalam dunia yang seharusnya bukan di usianya. Setiap malam ia ke club, menikmati pesta dengan minuman haram yang menjadi sahabatnya.


"Sandy, ini bukan tempat kita," kata Dimas yang tidak ingin terus berada di sana, ia juga terpaksa ke tempat tersebut karena ajakan Sandy.


"Sedikit bersenang-senang tidak masalah," kata Sandy sambil melirik wanita.


"Terserah kau saja, aku tidak ingin terus berada di sini!" Dimas langsung pergi dan meninggalkan Sandy di sana.


Hari-hari terus berlalu, Sandy mulai terbiasa berpacaran dengan banyaknya wanita. Bahkan mereka tetap mau menjadi kekasih Sandy walaupun tahu Sandy sudah memiliki kekasih.

__ADS_1


Flashback off.


__ADS_2