Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bukti


__ADS_3

"Aku ingin berbicara dengan mu secara baik-baik, kenapa kau tidak bisa menghargai aku sedikit saja?" tanya Sandy.


Sandy tahu Dimas adalah sahabat yang sangat baik serta bijak, apa lagi Dimas juga membawa pengaruh baik untuk dirinya. Namun, Sandy tidak mengerti mengapa Dimas sangat menentang hubungannya dengan Rika.


"Tidak ada penawaran!" jawab Dimas dengan wajah dinginnya.


"Aku mencintai nya Dimas, sangat!" ujar Sandy dengan menekankan kata sangat, agar Dimas tahu jika ia tidak main-main.


Dimas tersenyum saat melihat wajah Sandy, ia menatap Sandy sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran nya, "Sudah berapa wanita yang mendengar kata-kata itu?"


"Aku tidak pernah berjanji apa-apa pada mereka, apa lagi menikah, dan kau pun tahu mengapa aku selalu bermain wanita. Aku ingin mencari kebahagiaan, ketenangan seperti apa sebuah keluarga. Tapi aku tahu mereka semua hanya memandang harta ku saja, mereka hanya tahu aku pemilik rumah sakit. Mereka hanya tahu aku ini bisa memberikan mereka uang, itu saja. Dan saat aku melihat Rika, aku tahu dia wanita yang apa adanya, tulus tanpa ada yang di buat-buat," jawab Sandy dengan panjang lebar, "Aku mencintai nya Dimas, tolong mengerti."


Dimas bangun dari duduknya, ia berjalan ke depan meja kerjanya sambil sebelah tangannya memegang meja dengan kaki yang menyilang, "Tapi adik ku itu masih terlalu kecil, usia mu 29 tahun, sedangkan dia 20 tahun, terlalu jauh," jawab Dimas santai.


"Masalah di mana? Bukankah kau juga menikahi sahabat nya Rika, dan usia mereka masih sama?"


"Kami berdua saling mencintai!"


"Kami pun sama!" jawab Sandy yang tidak ingin mengalah, "Kami juga saling mencintai," jelas Sandy lagi untuk meyakinkan Dimas, "Aku akan membiayai seluruh pendidikan nya, sampai jenjang yang dia inginkan, tolong, berikan dia untuk ku," pinta Sandy lagi dengan perasaan rindu yang kian semakin terasa berat.


"Jangan kau samakan antara aku dan istriku ku!" Dimas sangat tidak suka pada Sandy yang membandingkan antara masalah nya dan juga masalah Sandy, "Aku dan istri ku itu urusan ku, kalau kau keluarganya kau boleh berbicara! Kalau tidak sebaiknya diam!" papar Dimas.


"Tolong Sandy aki mohon," lirih Dimas.


"Dia masih terlalu kecil, dia baru merasa jatuh cinta. Dan mungkin tidak akan lama lagi dia akan lupa juga dengan mu."


"Aku mohon Dimas, kami saling mencintai."


"Selesaikan masalah mu! Jauhi adik ku!"

__ADS_1


"Aku sudah menyelesaikan nya.


Flashback on.


Pagi ini tiga orang polisi mendatangi kediaman Sandy, dengan satu orang pengacara dan juga seorang pria paruh baya.


"Anda harus ikut dengan kami, karena sudah menyebabkan saudari Azela sekarang masih dirawat di rumah sakit," kata seorang anggota kepolisian, sambil tangannya memberikan sebuah amplopnya berwarna kuning kepada Sandy.


Sandy berdiri di depan pintu, ia menerima amplop tersebut dan membacanya. Bibirnya tersenyum miring saat kemudian ia melihat Pirman.


"Saya ingin menawarkan penawaran terbaik!" ujar Sandy dengan senyum miring nya.


"Aku juga punya penawaran untuk mu, kalau kau menikahi putri ku. Semua tuntutan ini akan lepas dari mu!" kata Pirman dengan angkuhnya.


"Saya tidak tertarik," jawab Sandy dengan sinis, "Tunggu di sini dulu," Sandy sejenak masuk ke kamarnya. Setelah itu ia kembali keluar dan memberikan beberapa benda pada Pirman.


"Kau ingin bermain-main dengan ku!"


Pirman langsung kertas apa yang barusan di berikan oleh Sandy, mata Pirman melebar saat tahu ternyata itu adalah bukti jika Azela tidak pernah tidur dengannya, bahkan ada beberapa foto saat Azela memasukan obat pada minuman Sandy.


"Bagaimana?" tanya Sandy mengangkat sebelah alisnya.


Pirman merasa tidak bisa lagi menjebak Sandy, bahkan ada juga foto klinik aborsi. Tempat Azela melakukan aborsi.


"Saya juga bisa menuntut Anda dan putri anda sekaligus, karena semua rekamannya sudah saya dapatkan!"


Pirman benar-benar berada dalam situasi yang begitu menyulitkan dirinya, tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia hanya bingung sambil membolak-balik kertas-kertas di tangannya.


"Bagaimana? Kalau anda melaporkan saya, saya juga bisa melaporkan anda. Bahkan ada juga seorang wanita yang beberapa hari lalu menjadi korban putri anda. Dan bagaimana jika wanita itu juga melaporkan?"

__ADS_1


Sandy mengingat saat Rika yang mendapatkan tindakan kasar dari Azela, yang semakin bisa membuat Azela juga masuk ke balik jeruji besi.


Pirman merasa kini berada di dalam situasi yang sangat rumit, niat hati ingin membuat Sandy yang menurut padanya malah berbalik arah. Justru saat ini ia yang takut jika putrinya yang akhirnya bersalah.


"Pak saya tidak ingin melanjutkan kasus ini," Pirman langsung pergi dengan penuh rasa kecewa, padahal niat hatinya sudah sangat berharap jika kali ini Azela mendapatkan apa yang ia inginkan seperti janjinya. Namun, tanpaknya untuk kali ini terlalu sulit, berhadapan dengan Sandy tidak semudah berhadapan dengan banyaknya orang di luar sana yang selama ini bisa ia taklukkan dengan mudah.


Sandy kembali menutup pintu, sebab ia tidak jadi ikut dengan polisi yang di bawa oleh Pirman.


Flashback off.


"Aku mohon Dimas," pinta Sandy lagi, karena Dimas hanya diam saat ia berbicara.


Dimas diam dan menatap Sandy, tampaknya ia masih belum puas dengan penjelasan Sandy, ia mendesus dan menggeleng, "Aku tidak perduli, yang aku tahu kau harus menjauhi adik ku!"


"Dimas."


"Keluar."


Sandy merasa Dimas memang tidak bisa memberikan restu pada nya, padahal cinta yang ia miliki untuk Rika begitu besar. Karena merasa Dimas masih pada pendiriannya, akhirnya Sandy menunduk lesu. Dengan langkah kaki yang berat ia melangkah keluar, sampai di depan pintu ia melihat Lala yang berdiri di sana.


Lala memang sudah cukup lama berada di perusahaan, ia tadinya di minta Dimas untuk tetap di rumah saja menemani Rika. Namun, Lala tiba-tiba menyusul Dimas ke perusahaan, ia merasa ada yang kurang saat tidak bersama Dimas. Sampai akhirnya ia hanya berdiri mematung di depan pintu yang sedikit terbuka, telinganya mendengar dengan baik pembicaraan antara Sandy dan Dimas.


"Aku mohon," Sandy menatap Lala dengan wajah melasnya, "Aku yakin kau tahu aku sangat mencintai sahabat mu, tolong yakinkan suami mu akan cinta ku itu," tutur Sandy dengan suara yang pelan.


Lala terdiam, setelah itu ia perlahan melangkah masuk dan Sandy pun terpaksa pergi dengan membawa perasaan yang begitu menyiksa. Tidak pernah terbayangkan jika cinta yang ia anggap sempurna begitu menyiksa karena terhalang restu, bahkan dengan bodohnya ia malah mencintai adik sahabatnya sendiri. Dengan banyaknya keburukan yang selama ini di ketahui Dimas, Sandy sangat menyesali andai waktu bisa di ulang lagi. Ia ingin memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik, agar ia tidak pernah berada di posisi saat ini. Cinta tapi tidak bisa memiliki, sayang tanpa bisa menghalalkan, rindu tanpa bisa terluapkan.


*


Lalu apakah yang akan terjadi selanjutnya? Jangan lupa like dan Vote. Yang pasti, siapkan tissu. Ini cerita perjuangan sekali, kenapa? Karena wanita memang harus di perjuangkan agar lelaki tidak pernah berpikir menduakan, karena mendapatkan wanita nya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

__ADS_1


sampai jumpa lagi.


__ADS_2