Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Selamat


__ADS_3

"Sayang," Sandy mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Rika yang duduk di sampingnya.


"Apa?"


Sandy mulai menepikan mobilnya di depan pintu gerbang rumah Rika, kemudian ia melihat Rika.


"Rika turun ya Mas," Rika ingin membuka pintu mobil, tapi Sandy malah menguncinya hingga Rika tidak bisa turun, "Mas?" Rika berbalik menatap Sandy dengan malas.


Sandy menaik turunkan kedua alis matanya menggoda Rika, matanya terus saja menatap Rika tanpa jeda.


"Apasih enggak jelas banget!" Rika mendadak salah tingkah karena Sandy yang terlihat sedang tebar pesona di hadapannya.


"Besok Mas kerja, kamu datang ya ke rumah sakit," pinta Sandy.


"Rika kan enggak sakit Mas."


"Mas yang sakit kalau enggak lihat kamu," seloroh Sandy.


Mata Rika melebar seiringan dengan rasa malu yang terasa membuatnya tegang, "Ish!" Rika kesal pada Sandy dan ia langsung mencubit lengan bagian atas Sandy.


"Sayang sakit," rengek Sandy dengan manja.


"Mas apaan, sih. Enggak usah lebay!"


Sejenak Sandy terdiam sambil menatap Rika tanpa mengkedipkan mata.


"Mas buka," pinta Rika sambil memegang pintu mobil, ia sudah ingin turun.


"Nikah yuk."


Rika mendesus karena malas, setiap kali Sandy membahas tentang pernikahan membuat Rika geram.


"Mas sudah tidak kuat."


Rika memijat dahinya, tapi ia juga tidak mengerti dengan kata-kata tidak kuat. Apakah Sandy sudah tidak sanggup menghadapi Kakaknya atau bagaimana, "Enggak kuat apanya?"


Sandy terdiam sambil memegang kemudi, ia melihat ke depan. Setelah menarik nafas dalam-dalam Sandy kembali menatap Rika, "Rika," Sandy sejenak diam sambil menimbang apa yabg ingin ia utarakan.


"Iya Roma?" celetuk Rika, dari tadi Rika sudah ingin turun tapi Sandy tidak mengijinkan nya.


"Ahahahhaha......." Sandy tertawa mendengar Rika memanggilnya Roma, "Kau ada-ada saja!" kata Sandy di sela-sela tawanya, bahkan Sandy sampai memegang perutnya.


Rika memanyunkan bibirnya, ia masih menatap Sandy dengan kesal, "Mas Rika mau turun!" rengek Rika.


"Kiss dulu," Sandy menunjuk bibirnya.

__ADS_1


"Apaan, sih Mas. Kita belum menikah," tolak Rika, "Lagian Mas itu udah nyuri ciuman pertama Rika!" kesal Rika saat mengingat beberapa waktu lalu.


"Di pantai itu pas Mas ngasih napas buatan kamu enggak ingat?" goda Sandy lagi.


"Enggak!"


Sandy mangguk-mangguk, berpacaran dengan anak kecil membuatnya tertantang. Apa lagi Rika yang masih sangat polos membuat rasa penasaran nya semakin menjadi-jadi.


"Mas Rika takut Kak Dimas lihat Rika di sini," kata Rika dengan raut wajah memohon pada Sandy.


Sandy melihat ke luar dari jendela, "Sayang, sekali saja," pinta Sandy dengan nada memohon.


Rika mendadak geli dengan tingkah Sandy, ia juga tidak mau menuruti keinginan Sandy yang begitu menyimpang dari gaya berpacaran yang selama ini di jalani Rika.


"Mas, kalau kita udah nikah. Semua juga buat Mas, Rika enggak mau!" tolak Rika dengan tegas.


"Sayang, Adek Mas keras lho...." Sandy menunjuk ke bawah, tapi matanya melihat kearah luar.


Rika dengan polosnya langsung melihat ke arah yang di tunjuk Sandy, setelah merasa bodoh Rika langsung melihat keluar.


"Hehe....." Sandy terkekeh melihat wajah Rika yang memerah, "Mikirin apa?" goda Sandy.


"Mas apa, sih. Dasar dokter mesum!" geram Rika.


"Sayang sekali saja, aku mohon," pinta Sandy lagi.


Dengan cepat Sandy langsung menarik tengkuk Rika, ia bahkan melahap dengan cepat bibir Rika.


"Bernafas!"


"Huuuufff...." Rika langsung menarik nafas dengan panjang, karena tadi ia benar-benar shock.


"Sudah?" tanya Sandy.


Rika terdiam dengan jantung yang berdetak begitu cepat, pertama kalinya ia dan lelaki bertukar saliva seperti barusan. Hingga ia kembali terkejut saat Sandy kembali menarik tengkuknya.


"Sssstttt....." Rika malah mendesah karena merasa gelagat aneh, sebelah tangan Sandy mulai bergerak meremas sebelah gundukannya, dan membuat Rika tersadar. Dengan cepat Rika mendorong Sandy, karena ia merasa Sandy semakin menjadi-jadi, "Mas apa, sih!"


Sandy tersenyum, "Khilaf sayang, Mas memang sudah tidak kuat," jawab Sandy sambil cengengesan, "Kalau Mas minta dinikahkan malam ini juga gimana ya?"


"Enggak usah aneh-aneh!" kesal Rika.


"Sayang, sekali lagi ya," pinta Sandy lagi, ia menunjukkan wajah melasnya pada Rika.


"Mas bukain pintunya!" pinta Rika karena Sandy semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Sekali lagi, buat Mas semangat," tambah Sandy lagi.


"Abis ini udah ya Mas," kata Rika.


"Janji," Sandy mengangguk.


Dengan perlahan Sandy kembali menarik Rika dengan perasaan cinta yang semakin lama semakin membuncah, andai Dimas tahu ia sudah tidak sanggup untuk menahan hasrat pada Rika dengan sangat besar. Ia yakin Dimas tidak akan berpikir untuk tidak menikahkan mereka.


"Sssstttt...." Rika hanya merintih saat Sandy melahap bibirnya, rasa cinta Rika tidak bisa menolak keinginan Sandy. Sebenarnya Rika tidak terbiasa akan hal berbau dewasa, akan tetapi Rika hanya ingin memberitahukan kepada Sandy jika ia tidak main-main dalam mencintai Sandy. Rika juga berdoa semoga Sandy yang menjadi cinta pertama dan juga terakhir nya.


Semakin lama semakin menuntut, dengan cepat Sandy melepaskan Rika dan membuka pintu mobil, "Cepat keluar," titah Sandy.


Rika langsung turun dengan cepat, ia juga merasa Sandy semakin menginginkan lebih. Jadi ia lebih ingin mencari aman.


"Sial, biasanya kalau sudah begitu aku sudah tidak lagi bergairah," gerutu Sandy sambil memegang kemudi, setelah meneguk air mineral ia langsung menyalakan mesin mobilnya.


Sandy terus saja mengemudikan mobil nya, ia meluapkan keinginan yang tertahan pada pedal gas. Semakin lama semakin ingin dan penasaran, bagaimana caranya agar Dimas mengerti akan dirinya.


Rika berdiri di depan pintu utama, ia mengusap dadanya terlebih dahulu agar merasa lebih tenang. Setelah menarik nafas dengan panjang akhirnya Rika memutuskan untuk masuk ke dalam Rumah, sambil melihat sekitarnya yang cukup sepi.


"Dari mana?!"


Suara Dimas yang dingin dan tertahan seakan mengejutkan Rika, ia memejamkan matanya sejenak sambil berusaha untuk tetap tenang. Setelah itu ia melihat Dimas yang berdiri tidak jauh dari nya.


Dimas menatap jam yang melingkar pada pergelangan tangan nya, "Jam 19:30," Dimas menunjuk jamnya.


"Aa," Lala langsung memeluk lengan Dimas, "Lala pengen di peluk, ayo," pinta Lala dengan suara manjanya.


Sebenarnya Lala juga geli dengan tingkahnya saat ini, tapi ia juga ingin menolong Rika dari kemarahan Dimas.


"Ayo Aa," ajak Lala lagi sambil bergelayut manja pada lengan Dimas.


"Sayang Aa sedang ingin berbicara pada Rika," tolak Dimas.


Lala melihat Rika dengan wajah memucat, kemudian ia kembali melihat Dimas, "Aa, Lala tahu Aa pasti udah enggak sayang sama Lala!" kata Lala seolah kesal.


"Kau bicara apa?" tanya Dimas bingung.


Lala berpura-pura cemberut, agar Dimas mau ikut dengannya.


"Ya udah," Dimas langsung membawa Lala ke kamar.


"Huuuufff....." Rika menarik nafas dengan lega, "Selamat," Rika sampai mengusap wajahnya sampai beberapa kali, setelah itu ia cepat-cepat berlari masuk ke dalam kamar.


*

__ADS_1


Semua para penggemar setia novel kutunggu jandamu, saya mohon dukungan nya ya. Like dan Vote.


__ADS_2