
"Aa kok balik ke Jakarta sih," dari subuh tadi Lala terus saja mendesus kesal pada Dimas, entah apa sebabnya hingga mendadak jadwal liburan mereka di percepat. Padahal seharusnya mereka masih menikmati indahnya pantai Bali.
"Aa banyak pekerjaan, dan kita harus kembali ke Jakarta," jawab Dimas dengan wajah datarnya.
Dimas memang tidak memberi tahu dengan pasti alasan liburan mereka yang dipersingkat, tapi satu hal yang pasti, ia tidak ingin Rika dan Sandy terus saja berdekatan.
"Kak Dimas!!!" Rika langsung melenggang masuk kedalam kamar Dimas dan juga Lala, ia juga tidak kalah kesal karena kepulangan mereka yang sangat mendadak.
Dimas dan Lala seketika melihat kearah Rika, tidak biasanya Rika langsung masuk tanpa ijin. Hingga membuat bingung.
"Kak Dimas bukannya kita masih satu minggu lagi berlibur di sini?"
Dimas tidak ingin mempermasalahkan pertanyaan Rika, keputusannya sudah bulat. Mereka kembali ke Jakarta jauh lebih cepat dari pada rencana liburan yang mereka susun sebelumnya.
Lala terus saja menggerutu kesal, karena Dimas yang memaksa kembali sebelum waktunya. Bahkan sampai saat ini mereka sudah sampai di rumah. Namun, Lala masih kesal pada suaminya.
"Sayang," Dimas mengusap punggung Lala, dan ia mencoba untuk bernegosiasi dengan istri bocahnya.
"Enggak usah pegang-pegang," Lala menggerakkan punggungnya, sebab ia sedang tidak ingin di pegang oleh Dimas.
Dimas mendesus kesal, karena Lala menolak sentuhan tangannya. Dimas mengerti Lala masih ingin berlibur. Namun, saat ini Rika dan Sandy tidak boleh berdekatan.
"Sayang Aa janji deh, abis Aa selesai bekerja kita liburan lagi," kata Dimas.
"Serius?" Lala menatap Dimas penuh intimidasi.
"Iya," Dimas mengangguk, ia memang berencana untuk berlibur lagi nantinya. Tapi untuk saat ini ia ingin fokus pada Rika, Dimas tidak akan pernah rela bila adiknya tersakiti.
"Awas kalau boong!"
Dimas tersenyum dan mengacak rambut Lala, "Udah pinter mengancam ya," seloroh Dimas.
Lala mengerucutkan bibirnya, "Aa bikin kesal!" gerutu Lala, "Padahal Lala sama Rika, Tari udah enggak pakek bikini. Terus rencananya hari ini tu kita mau nunggu sunset."
Dimas menggaruk kepalanya sambil melihat bibir Lala, "Terus sekarang Rika dimana?"
__ADS_1
"Rika mau keluar," Lala berjalan menuju meja rias, kemudian ia mulai membersihkan wajah.
"Keluar?" Dimas juga mengikuti Lala, karena ia sedikit penasaran.
"Iya, mau ketemu sama...." Lala terdiam karena ia juga lupa tentang apa yang yang barusan di katakan oleh Rika.
Dimas seketika semakin penasaran, ia menatap Lala penuh tanya, "Sama siapa?" tanya Dimas dengan tidak sabar.
Lala melihat wajah Dimas yang panik pada cermin, "Apasih Aa, kepo banget!" kesal Lala.
"Aa akan kembali lagi," Dimas langsung pergi tanpa menunggu Lala menjawab nya.
Disebuah taman kota seorang wanita dan juga seorang pria tengah duduk berdua, rasa bahagia terus saja terpanjang dari wajah keduanya. Sesekali canda tawa mengiringi, hingga menciptakan suasana menjadi lebih indah.
"Besok kuliah?"
"Iya Mas."
Sandy mengangguk mengerti, dan ia kembali melihat ke depan.
"Ehem..."
"Kak Dimas," Rika langsung berdiri karena terkejut dengan kedatangan Dimas yang menghampiri dirinya.
Dimas tidak menghiraukan Rika, ia beralih menatap Sandy yang berdiri di samping Rika.
"Maaf Dimas, tapi aku mencintainya," ucap Sandy dengan wajah melas.
Rika menatap Sandy, kemudian memutar leher menatap Dimas. Ia bingung mengapa Dimas yang memasang wajah dingin, sedangkan Sandy yang terlihat murung.
"Jauhi dia!" Dimas menatap Rika dengan pandangan yang begitu tajam, sebab ia sedang tidak ingin di bantah.
Rika terkejut dengan keinginan Dimas, pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di kepala Rika. Namun, tidak satu pun yang bisa ia jawab karena semuanya sangat membingungkan, "Kenapa Kak?" tanya Rika. Dimas dan Sandy adalah sahabat, dan bukankah artinya Dimas tidak masalah bila keduanya dekat ataupun memiliki hubungan khusus.
"Aku sudah pernah meminta mu untuk menjauhi adik ku," terang Dimas lalu menjeda perkataannya, "Tapi sepertinya kau tidak mendengar, dan saat ini aku peringatkan untuk yang kedua kalinya. Jauhi adik ku!" kata-kata Dimas yang pelan. Namun, penuh penekanan dalam setiap kata yang di ucapkan sebab ada amarah yang tertahan di dalam nya.
__ADS_1
"Kak, Rika sama Mas Sandy udah jadian. Terus kenapa harus jauhan, Mas Sandy juga mau nikahin Rika," jelas Rika yang ingin membela Sandy.
"Dia ingin menikahi mu?" Dimas tersenyum miring, "Coba tanyakan padanya apa benar begitu!" Dimas memang berbicara pada Rika, tapi tatapan matanya terus saja mengarah pada Sandy.
Rika sangat bingung dengan kata-kata Dimas, ia beralih menatap Sandy, "Mas?" wajah Rika menatap Sandy dengan bingung.
"Hehehe....." Dimas tertawa kecil saat mendengar Rika bertanya pada Sandy, karena itu terdengar sangat lucu di telinga Dimas, "Cepat sekali kau percaya pada kata-kata nya itu, pada semua wanita juga dia berkata begitu," ucap Dimas sambil tertawa kecil karena merasa lucu, "Bukan begitu Sandy?" tanya Dimas lagi dengan mengejek.
Sandy tidak menyangka ternyata Dimas sangat menentang hubungannya dengan Rika, padahal mereka adalah sahabat.
"Ayo pulang," Dimas menarik lengan Rika, ia ingin membawa adiknya untuk pergi.
"Kak Dimas tunggu," Rika yang masih bingung tentu saja menolak untuk di bawa pulang, ia masih penasaran dengan kata-kata Dimas barusan.
Dimas menghentikan langkah kakinya, karena Rika yang berhenti melangkah, "Ayo pulang, lebih baik kau tersakiti sekarang dari pada nanti."
"Dimas," suara Sandy membuat Rika dan Dimas teralih menatapnya, "Aku mencintainya, aku mohon," pinta Sandy lagi yang tidak ingin mengalah.
Dimas tersenyum sinis, "Simpan saja kata cinta mu itu," Dimas tidak perduli akan Rika yang tidak ingin ikut dengannya, ia terus membawa Rika pergi dari sana.
"Kak Dimas."
Sampai di dalam rumah Rika hanya diam saja, sebab ia sangat kesal sekali pada Dimas.
"Rika, Dimas, ada apa ini?" Mama Yeni merasa bingung akan Rika yang terlihat marah pada Dimas, sedangkan Dimas hanya memasang wajah datar.
"Mama," Rika langsung memeluk Mama Yeni dengan erat sambil menangis dengan kencang.
Mama Yeni semakin bingung dengan kedua anaknya, ia kini beralih menatap Dimas, sebab sebesar apapun pertengkaran Dimas dan juga Rika tidak biasanya ada yang sampai menangis.
"Rika," Lala juga ikut mendekati Rika, karena ia juga penasaran mengapa sahabat nya menangis.
"Jangan pernah kau menemui Sandy lagi, ingat aku sudah memberi mu peringatan!" tegas Dimas.
"Sandy?" Mama Yeni menatap Rika dengan bingung.
__ADS_1
"Mama emang salah ya kalau Rika dekat sama Mas Sandy," lirih Rika.
Mama Yeni berusaha untuk mengusap punggung Rika, "Kamu tenang dulu."