
"Hueekkkk...... hueekkkk....."
Sudah berulang kali Lala, keluar masuk kamar mandi. Bahkan sampai kakinya terasa letih, merasa tidak kuat lagi untuk bergerak. Tetapi harus tetap dipaksakan karena rasa mual yang terus terasa.
"Huuueekkk...... Huuueekkk....."
Tangan memegang dinding, memapah tubuh lelah dengan perlahan agar mampu berjalan keluar. Saat di depan pintu kamar mandi, mata Lala menatap Dimas yang berjalan masuk kedalam kamar. Diam dengan wajah datar, hingga tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Lala walaupun hanya sekedar sapaan saja.
"Hueekkkk."
Dengan menutup mulut Lala kembali masuk kedalam kamar mandi, entah sudah berapa kali keluar masuk kamar mandi. Bahkan sampai malam mulai larut matanya belum juga terpejam.
Dimas tidur dengan memunggungi, akan tetapi itu lebih baik dari pada malam kemarin Dimas bahkan tidak tidur di kamar bersama. Ada rasa ingin memeluk, atau di peluk. Akan tetapi, Lala masih sangat takut pada Dimas. Dengan terpaksa Lala berbaring miring dengan menatap Dimas yang memunggungi.
Krukkk.
Perut Lala berbunyi, cacing-cacing di dalamnya bernyanyi. Lala memang makan dengan porsi yang cukup banyak, akan tetapi karena terlalu sering muntah membuat makanan tersebut keluar sebelum tubuh mencernanya. Hingga membuat rasa lapar begitu cepat, dengan malas bangun dari atas ranjang. Mengambil ponsel yang tergeletak asal di atas meja. Dengan langkah yang lunglai Lala tetap memaksakan diri, membuat mie instan untuk mengganjal perut yang terasa lapar.
"Lala kamu belum tidur?"
"Belum Ma, Lala muntah terus gara-gara masuk angin. Jadinya lapar banget," menunjukan semangkuk mie instan miliknya yang sudah tersaji di atas meja makan.
Mama Yeni menatap mangkuk putih, mungkin itu buatan Lala sendiri. Karena jam memang sudah menunjukan pukul 02:00 dini hari.
"Kamu jangan terlalu sering makan mie instan, tidak baik," Mama Yeni terlihat memperingati Lala.
"Iya Ma, tapi ulu hati Lala perih banget. Mau masak kepala Lala pusing, Lala enggak kuat berdiri lama-lama. Mau bangunin Bik Sum juga enggak tega."
"Setelah selesai makan kamu tidur, wajah kamu pucat. Besok kita ke dokter," tambah Mama Yeni lagi, ingin membuktikan kecurigaan bahwa menantunya tengah berbadan dua.
__ADS_1
Di hati kecil Mama Yeni ingin sekali jika Lala hamil, karena dengan begitu sudah pasti Dimas tidak akan mendiamkan Lala lagi seperti saat ini.
Kembali ke kamar, setelah selesai makan semangkuk mie instan untuk mengganjal perut lapar. Dengan perlahan kembali menaiki ranjang dan berbaring di samping Dimas, semua terasa hampa karena sikap dingin Dimas yang tengah menghukum dirinya.
Perlahan Lala bergerak, kini beralih memunggungi Dimas juga. Sedetik kemudian Lala mulai terisak, hukuman yang di berikan Dimas membuat hati begitu tersiksa. Air mata yang terus mengalir seakan menandakan rasa takut yang begitu besar, entah sampai kapan semua ini berlangsung. Akan tetapi Lala tidak sanggup berada dalam keadaan yang membuatnya merasa di titik paling rendah.
Tangannya bergerak, menarik laci dan mengambil obat penenang yang sudah lama tidak pernah di telan lagi. Mengambil satu butir dan menelannya dengan cepat, perlahan matanya mulai tertidur pulas karena obat penenang yang mulai bekerja.
"Huuueekkk....."
Rasa mual mengusik tidur lelap Lala, dengan cepat turun dari atas ranjang dan bergegas masuk kedalam kamar mandi. Puas dengan memuntahkan cairan, kaki Lala melangkah keluar. Matanya menatap jam dinding yang menunjukan pukul 06:13 pagi. Kemudian mata Lala beralih menatap Dimas yang masih tidur dengan lelap.
Tidak ingin melanjutkan tidurnya, Lala memutuskan untuk menuju dapur. Membuat sarapan untuk pagi ini, lama sudah tidak melakukan pekerjaan dapur. Terakhir kalinya saat masih menjadi istri Dimitri, tanpaknya kini tidak ingin lagi menyandang gelar janda untuk kedua kalinya. Lala benar-benar berusaha untuk menjadi yang terbaik, hingga Dimas tidak lagi marah atau bahkan meninta untuk berpisah.
"Selesai."
Lala melihat semua menu masakannya di pagi hari ini sudah cukup, dengan perlahan melepaskan celemek dan segera menuju kamar kembali. Matanya tidak melihat Dimas berbaring di atas ranjang, tetapi, terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Artinya Dimas ada di dalam sana.
"Sssstttt....."
Mencoba diam sejenak, meresapi sakit yang tiba-tiba muncul pada perut. Dengan perlahan Lala duduk di kursi taman belakang, meletakan selang yang sudah mengeluarkan air.
Setelah merasa lebih baik, tangannya kembali mengambil selang dan mulai menyiram bunga yang tengah bermekaran.
"La!!!" seru Rika.
Lala berbalik, menatap Rika yang berdiri cukup jauh darinya.
"Sarapan dulu, kamu udah sarapan?" tanya Rika dengan suara yang cukup kencang.
__ADS_1
"Belum."
Tangan Lala kembali meletakan selang, dan berjalan kearah Rika.
Duduk di kursi meja makan dengan perasaan was-was, takut jika ada keributan kembali atau pun Dimas berbicara mengenai perpisahan. Dada Lala terus bergemuruh, menahan perasaan jika sewaktu-waktu apa yang di pikirkan benar-benar terjadi. Tapi tidak, Dimas hanya diam tanpa bicara.
"Dim, Mama sama La......" belum sempat menyelesaikan satu kalimat pun, Mama Yeni terpaksa berhenti untuk berbicara.
Dimas langsung berdiri, dan menggeser kursi meja makan. Pergi begitu saja tanpa satu patah katapun.
"Lala, kita harus ini ke dokter ya. Wajah kamu pucat sekali," Mama Yeni tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk Lala, walaupun Dimas terlihat acuh.
Lala menggeleng, dengan bibir tersenyum kecut, "Lala nyiram bunga dulu ya Ma," Lala bangun dari duduknya, lalu kembali menuju taman belakang untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.
"Lala," Mama Yeni mengerti dengan perasaan Lala saat ini, tetapi apa yang dikatakan. Dimas tampaknya begitu kecewa, karena kebohongan Lala sendiri.
Duduk terdiam sambil menatap bunga bermekaran di sekelilingnya, tidak ada lagi Lala yang selalu menempel pada suaminya. Mengikuti kemanapun Dimas pergi, bergelayut manja pada lengan Dimas seperti sebelumnya. Tersisa hanya kesedihan dan rasa rindu untuk bisa seperti dulu lagi.
"La," tepukan pada pundaknya menyadarkan wanita yang tengah memikirkan nasib rumah tangganya yang tengah goyah.
Lala menatap Rika yang perlahan duduk di sampingnya.
"Maaf ya," hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Rika, sejuta sesal asal melihat Lala yang begitu terluka.
Lala merasa sudah tidak sanggup menyembunyikan perasaannya, memeluk Rika dengan erat sambil melepaskan tangisan yang selama ini di tahan. Lala benar-benar terisak dengan begitu kencang.
"Lala," Rika terus memeluk Lala dengan erat, mengerti akan perasaan Lala saat ini, "Aku keluar dulu ya, aku mau menyelesaikan semuanya."
*
__ADS_1
Jangan lupa like dan Vote.