
Keesokan harinya.
Setelah operasi selesai kini keadaan Rika berangsur-angsur membaik, sekalipun masih merasa lelah yang berlebihan dan mual karena bagian dari efek samping beberapa obat berdosis tinggi.
"Mas, kok mual banget, tapi muntah malah nggak bisa," keluh Rika dengan tubuh kedinginan.
"Sabar, ya sayang," Sandy mengusap minyak angin aromatherapy agar meringankan rasa mual Rika.
"Ayang Bebeb aku," Mentari datang dan langsung memeluk Rika, dengan wajah begitu bahagia.
Wajah Rika berbinar melihat Sean juga ikut menjenguknya.
"Sean, Tante pengen cium," pinta Rika menatap bayi mungil berusia 6 Bulan itu, "Satya mana?" Rika mencari kembaran Sean.
"Satya di bawa Oma jalan-jalan ke mall sama Opa juga," jelas Mentari.
"Kok Sean nggak ikut, nge-Mall?"
"Sean pengen jenguk Tante Rika, ya Nak," Mentari seakan berbicara layaknya anak kecil.
Sebab tujuan membawa anaknya agar Rika bisa tersenyum dan merasa bahagia.
"O, gitu, cium dong Tari, kiss Tante dong Sean," pinta Rika.
"Enak aja, bikin dong," celetuk Mentari hingga membuat gelak tawa.
"Ahahahhaha," tawa keluarga benar-benar pecah saat mendengar jawaban Mentari.
"Tari apa sih?!" Wajah Rika memerah karena Mentari, apa lagi saat ini Sandy tersenyum seakan menggoda dirinya.
"Aduh, Mama keluar aja, ini obrolan anak muda," Mama Yeni berdiri dan keluar dengan segera.
Tersisa tiga pasangan semprol di tambah lagi satu bocah tampan yang membuat siapa saja gemas melihatnya. Sean berbaring di atas troli bayi.
"Kapan buat Yang," goda Sandy menggerakkan lengan Rika.
Sudah hampir dua bulan keduanya menikah, baru satu kali merasakan memiliki istri itupun belum terasa memuaskan karena, Rika tidak sadar.
Setiap malam hanya bisa tidur memeluk istrinya, berusaha tenang dalam keadaan tegang.
Sangat menyulitkan.
"Rika, ayo sembuh, semangat. Suami mu udah panas dingin tuh," celetuk Lala.
"Kakak Ipar sialan!"
__ADS_1
"Ahahahhaha....."
Satu Minggu berlalu Rika sudah dibawa kembali ke rumah, mulai hari ini Rika hanya perlu cek rutin ke rumah sakit setiap dua hari sekali.
Sebenarnya tidak harus dua hari sekali, tapi apa daya nasib istri kesayangannya Sandy itu terlalu mendapatkan perhatian lebih dari suaminya. Sampai akhirnya Rika di nyatakan sembuh total, sekalipun demikian Dokter Miranda tetap menyarankan agar memeriksa keadaan rutin setiap satu bulan sekali. Demi mencegah gejala awal jika di temukan ada pertumbuhan sel kangker baru.
***
"Kalian nikah udah 4 Bulan, nggak ada rencana liburan atau honeymoon?" Tanya Lala dengan perut besarnya menantikan detik-detik kelahiran anak pertamanya.
Rika duduk di samping Sandy, bersandar pada sofa dengan diam tanpa menjawab. Rika lebih fokus mencolek hidung Sean yang duduk di pangkuan nya.
"Hay semuanya, ini Mama bawakan minuman," Mama Yeni semakin mendekat dan meletakkan napan di tangannya pada meja, bibirnya begitu bahagia melihat keluarganya yang utuh kembali setelah berpuluh tahun tanpa kehangatan dan tanpa memiliki kejelasan.
Hari ini semua berkumpul di ruang keluarga dengan raut wajah bahagia, bahkan ada Mentari, Arka, juga baby twins yang tampan.
"Makasih Ma, seharusnya Lala yang ambil minuman buat Mama, bukan Mama yang ambil minum begini," ujar Lala sambil bergerak menghidangkan minuman.
"Biar Mama saja," Mama Yeni menjauhkan napannya sebab Lala sudah terlalu sulit untuk bergerak, menantikan hari-hari kelahiran tiba artinya Mama Yeni akan mendapatkan panggilan Oma.
"Sini Tari aja Ma," Mentari merasa dirinya yang paling bisa melakukannya.
"Terima kasih, Mama balik ke dapur dulu," Mama Yeni kembali ke dapur dengan membawa nampan lalu, melanjutkan kembali memasak di dapur bersama Art lainnya.
Mentari tau mungkin pertanyaan akan menyinggung, tapi Rika juga pasti tahu dirinya tak berniat menyinggung. Apa lagi jika memang Rika memiliki masalah mungkin bisa di tangani sejak dini.
"Jangan-jangan lu banci!" Arka mengerakkan sebelah alisnya saat tatapan Sandy begitu menusuknya.
"Rika, kamu kok diem aja sih, kamu udah itu belum?" Tanya Mentari semakin penasaran.
Rika tersenyum kikuk, pertanyaan Mentari terdengar menggelitik di telinga. Seketika ia menatap Sandy.
"Atau?" Arka bertanya penuh intimidasi.
"Atau apa?" Tanya Dimas penasaran juga.
Sedangkan Sandy hanya diam sekalipun penasaran dengan maksud Arka.
"Rika jawab dong, diam aja!" Kata Mentari lagi.
Rika menggeleng sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Belum?" Seru dengan Lala dan Mentari bersamaan.
"Apasih?! Kompak banget lagi!" Kesal Rika menatap wajah kedua sahabatnya.
__ADS_1
"4 Bulan nikah, Rika?" Mentari masih begitu terkejut.
Sandy dan Rika menikah karena, dari awal sudah saling mencintai jadi, rasanya tidak mungkin ada rasa canggung ataupun saling menolak tapi, nyatanya malah berkata sebaliknya seakan menciptakan tanda tanya besar.
"Ya, memang begitu, ya, kan Mas?" Tanya Rika pada Sandy dengan polosnya.
Semua mata menatap Sandy, berharap apa yang di katakan oleh Rika sama selalu tidak benar.
"Ini bicara apa?" Merasa tidak beres, ia memilih bangun berniat pergi.
"Kita harus bicara!" Dimas menarik Sandy masuk ke dalam ruangan nya, tak berselang lama Arka juga ikut menyusul masuk.
Dimas mendorong Sandy hingga terjatuh di atas sofa.
"Apa yang kau lakukan! Mengesalkan!" Sandy bangun dan duduk dengan benar sekalipun wajahnya masih kesal.
"Apa kau ingin menghina adik ku?" Dimas ingin sekali mencengkram erat wajah Sandy, ini bagaikan sebuah penghinaan untuk adiknya bahkan juga dirinya.
Apa mungkin ada dua insan saling mencintai di persatukan dalam ikatan pernikahan tanpa malam-malam bercinta.
"Atau kau tidak normal?" Tambah Arka yang duduk berhadapan dengan Sandy.
Dimas berdiri di samping sofa yang di duduki Sandy, ikut penasaran dengan pertanyaan Arka.
"CK," Sandy menggaruk kepalanya bingung cara mengatakan seperti.
"Atau kau menyesal menikahi adik ku karena, dia penyakitan dan ingin meninggalkan nya dalam waktu dekat ini?!" Dimas menggerakkan tangannya, bersiap melayangkan bogem bila memang itu yang sebenarnya terjadi.
"Kalian apa sih, aku ini normal dan aku tidak menghina adik mu atau keluarga mu, aku pun tak menyesali menikahi nya hanya saja," Sandy menatap wajah Dimas dan Arka bergantian berusaha mengetahui apa yang kini dipikirkan kedua sahabatnya.
"Cepat katakan!" Seru Dimas tak sabaran.
"Aku menunggu sampai istri ku benar-benar sembuh total, aku tidak mau tiba-tiba dia pingsan atau keadaan nya memburuk karena, kelelahan, aku takut kehilangan dia dan aku lebih memilih mengalah, padahal setiap malam-malam nya aku tersiksa!" Sandy menggaruk kepalanya dan merasa begitu menderita.
"Kami kira kau tidak normal!" Ejek Dimas.
"Kalau nggak normal nggak akan menikah tolol!" kesal Sandy.
Plak!
Dimas memukul kepala Sandy dengan buku kecil.
"Berani sekali mengatakan Kakak ipar mu tolol!"
"Hehehe, maaf Kakak Ipar, ya, udah aku bikin ponakan buat Kakak ipar dulu ya!" Sandy bangun dari duduknya dan bergegas pergi sebelum Dimas mengamuk.
__ADS_1