
" Aa kenapa kalau Rika sama Sandy ada hubungan khusus, bukannya Sandy itu orang baik?"
Lala merasa tidak adil untuk Rika dan juga Sandy, keduanya saling menginginkan dan juga saling menyukai. Sedangkan Dimas terlihat sangat menentang hubungan keduanya.
Dimas menatap Lala yang duduk di sampingnya, malam sudah sangat larut tapi Dimas masih belum bisa memejamkan mata.
"Sandy sedang dalam masalah, dan Aa tidak mau nantinya Rika yang terluka," kata Dimas sambil menarik Lala kedalam pelukannya.
Lala merasa bingung, ia seketika menjauh karena ingin melihat wajah Dimas, "Masalah gimana sih Aa?" tanya Lala semakin penasaran.
Dimas duduk dengan Lala yang juga ikut duduk, sejenak Dimas menimbang apakah ia bercerita pada Lala atau tidak.
"Aa," Lala menunjukan wajah sedihnya, "Cerita ya," pinta Lala lagi.
"Sandy itu seorang Casanova, dan itu sejak dulu. Setiap kali dia berpacaran dia itu selalu membawa wanitanya kedalam kamarnya, dan ada satu wanita yang mengaku hamil," Dimas menjeda perkataan nya sambil melihat ekspresi wajah Lala, "Azela adalah kekasih dari Sandy, yang sekarang butuh pertanggungjawaban Sandy atas janinnya," lanjut Dimas.
"Aa kalau cerita yang serius dong," Lala merasa apa yang di ceritakan oleh Dimas tidak benar, sebab mengingat Sandy yang begitu baik dan ramah.
"Tidur yuk," Dimas tidak ingin terus membuat istri bocahnya pusing, menurutnya itu adalah urusannya.
"Aa, Lala masih mau denger alasannya," Lala masih mencoba untuk protes tapi Dimas malah menariknya ikut tertidur.
"Sudah malam, mendingan kita tidur. Aa pengen cepat punya junior," bisik Dimas.
"Ish....Aa...."
Malam semakin larut, Rika tidak dapat memejamkan mata sampai saat ini juga. Ia hanya terdiam duduk di atas ranjang sambil menatap cincin yang melingkar di jari manisnya, perasaan membingungkan lagi-lagi menghantui dirinya dengan penuh tanya.
Dreett..
Ponsel Rika bergetar dan Sandy yang menghubunginya, dengan cepat Rika langsung menerima panggilan tersebut.
"Halo Mas," jawab Rika setelah panggilan terhubung.
Sandy diam dan tidak berbicara, begitu juga dengan Rika. Keduanya masih berada dalam panggilan tapi tanpa ada yang berbicara. Sampai akhirnya suara Sandy memanggil nama Rika.
"Adik," panggil Sandy di seberang sana.
Rika sedikit bingung, apakah Sandy memanggilnya atau tidak. Dan ia hanya diam saja.
__ADS_1
"Adik," Sandy kembali memanggil Rika, sebab Rika hanya diam saja.
"Mas manggil Rika," tanya Rika.
Sandy tersenyum di sebelah sana, sambil menatap langit dengan bulan yang bersinar terang di angkasa, "Memangnya Mas manggil siapa lagi?" Sandy bertanya kembali pada Rika.
Rika terkekeh sambil menggaruk tengkuknya, "Rika pikir siapa," jawab Rika.
"Adik manis kesayangannya Mas, pasti kamulah," goda Sandy agar ia sedikit merasa tenang, sebab setiap kata yang di ucapkan oleh Rika adalah suatu keyakinan untuk tetap berjuang.
"Mas bisa aja," walaupun Rika dan Sandy tidak saling bertatapan mata, tapi kedua merasa saling berdekatan.
"Coba lihat langit," pinta Sandy.
Rika turun dari atas ranjang dan membuka jendela, "Terus?" tanya Rika.
"Kita memang berjauhan, tapi kita menatap langit yang sama," ujar Sandy dari seberang sana.
"Mas ada bintang jatuh," Rika tersenyum bahagia dan langsung menutup mata, "Ayo Mas berdoa, nanti bisa dikabulkan."
Sandy terdiam dan tersenyum mendengar kata-kata mitos yang di ucapkan oleh Rika, "Sudah?"
"Udah dong Ma," jawab Rika, "Mas udah?" tanya Rika kembali yang masih menatap langit.
"Berdoanya dong Mas," kata Rika sambil tertawa kecil, "Memangnya apa?" tanya Rika kembali.
"Em," Sandy tersenyum, walaupun sebenarnya ia sudah sangat ingin menikah dengan Rika. Tapi perjuangan tidak mudah, "Mas udah berdoa."
Rika tersenyum namun ia juga penasaran akan doa Sandy, "Mas doanya apa?"
"Semoga yang kamu inginkan terkabul," jawab Sandy.
"Em...Mas modus," jawab Rika dengan geli.
Jatuh cinta untuk yang pertama kalinya memang sangat manis, bahkan begitu terasa menenangkan dengan segala keindahannya.
"Sayang," seorang wanita langsung masuk ke kamar Sandy, ia melihat Sandy tengah berbicara di telpon.
Sandy terkejut melihat Azela yang langsung masuk ke kamarnya, cepat-cepat ia memutuskan panggilan sepihak tanpa persetujuan dari Rika.
__ADS_1
"Mas," Rika di seberang sana bingung mengapa Sandy tiba-tiba memutuskan panggilan, "Tadi kok kayak ada suara cewek?" gumam Rika dengan penuh tanya.
Sandy masih begitu terkejut dengan kedatangan Azela, ia bahkan sangat bingung mengapa wanita itu langsung masuk kedalam kamar nya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Sandy dengan tidak suka.
Seorang wanita paruh baya tanpa sengaja melewati kamar Sandy, ia melihat kamar Sandy terbuka lebar. Karena penasaran akhirnya ia memutuskan untuk masuk.
"Sandy, Azela!!!" seru Jihan.
Jihan adalah Bunda dari Sandy, ia sangat tidak suka bila seorang wanita dan pria yang berada dalam satu ruangan bersama tanpa ikatan pernikahan.
"Selamat malam Bunda," sapa Azela dengan senyuman.
Bunda Jihan menatap Azela, kemudian beralih menatap Sandy, "Cukup ya Sandy, Bunda sangat tidak suka. Kalau kalian memang terus begini kenapa tidak menikah saja!" geram Bunda Jihan.
"Sayang," Azela langsung memeluk lengan Sandy.
"Apa-apaan ini!!!" geram Bunda Jihan lagi.
Sandy juga langsung menghempaskan nya, agar Azela tidak lagi memeluk lengannya, "Azela keluar dari kamar ku!" titah Sandy.
"Sayang kau mengusir ku," Azela masih berusaha untuk memeluk lengan Sandy, tapi Sandy terus berusaha menjauh, "Sandy cukup ya!" Azela sangat geram dengan penolakan Sandy, ia sangat tidak terima karena merasa Sandy kini sudah tidak seperti dulu, "Aku sedang mengandung anak mu! Dan kau sekarang sangat menghindari aku!"
"Cukup!!!" seru Bunda Jihan sambil menutup kedua daun telinganya, ia benar-benar sudah sangat muak dengan Azela dan juga Sandy, "Kalau kalian mau ribut jangan di rumah Bunda, dan kamu Sandy!" Bunda Jihan menatap Sandy dengan tajam, "Belajarlah untuk bertanggungjawab!" Bunda Jihan langsung pergi, ia sangat tidak suka pada Azela yang setiap kali datang langsung masuk kedalam kamar Sandy.
"Keluar dari kamar ku!" Sandy langsung mendorong Azela dari dalam kamarnya.
"Sandy aku ini sedang mengandung anak mu!!!" teriak Azela.
"Cukup!" jawab Sandy, "Kau pikir aku bodoh, kau pikir aku tidak tahu kau punya berapa banyak lelaki!" jawab Sandy yang tidak ingin terus diam.
"Aku tahu, aku memang sudah tidak suci. Tapi ini anak mu!" tegas Azela lagi yang tidak ingin mengalah.
"Kita akan lakukan tes DNA," tantang Sandy.
"Kau akan menyesal!" ancam Azela.
"Kau yang akan aku buat menyesal karena sudah mengkambing hitamkan aku!"
__ADS_1
Azela berlalu pergi, meninggalkan Sandy dengan perasaan yang begitu membingungkan dengan cepat Sandy menyusul sang Bunda yang pasti tengah menangis di kamar karena dirinya.
"Kau dan Ayah mu sama saja, sama-sama bajingan!" kata Bunda Jihan yang tahu Sandy kini berdiri belakangnya.