
Kaki Lala semakin bergetar saat melihat wajah Dimas yang kini menatap nya, hingga perlahan ia kembali membuka tasnya dan mencari butiran obat di sana. Namun tiba-tiba Dimas mengambil tas Lala sebelum menemukan butiran obat yang bisa membuatnya lebih tenang.
"Kalian kenapaasih?" tanya Rika yang kebingungan.
"Ikut," Dimas memegang pergelangan tangan Lala, dan ia menarik Lala untuk ikut dengannya.
"Kak Dimas!!!! Lala mau di bawa kemana?" Rika mengikuti Lala dengan langkah kaki yang tidak kalah cepat, ia tidak tahu mengapa Lala dan Dimas sepertinya terlibat masalah yang cukup serius.
Dimas sejenak berhenti melangkah dan menatap Rika, "Biarkan Lala bersama ku hari ini, dia tidak akan kenapa-kenapa," kata Dimas.
"Tapi ini kenapa?" tanya Rika dengan takut.
Dimas terus memegang pergelangan tangan Lala, hingga Lala mengikuti setiap langkah kaki Lala. Sampai akhirnya kakinya yang tidak lagi kuat melangkah terjatuh, "Sssssttt......" ringis Lala dengan rasa sakit yang semakin menjalar.
Namun tiba-tiba hal yang tidak di duga justru terjadi, Dimas langsung mengangkat tubuh kecil Lala dan memasukannya ke dalam mobil.
Lima belas menit berlalu, kini Dimas membawa Lala ke apartemen miliknya. Ia butuh bicara berdua saja dengan Lala tanpa ada yang lainnya, Lala hanya menunduk dalam diam sambil terus menitihkan air mata. Sampai akhirnya ia kembali mengambil tasnya yang ada di atas meja, namun sayang dengan cepat Dimas merebutnya kembali.
"Kenapa kau harus meminum obat terus-menerus, kalau kau ingin marah luapkan pada ku. Mengapa kau harus menyiksa diri!" kata Dimas sambil menatap Lala.
"Hiks.....hiks....hiks......" Lala hanya kembali menangis dan menunduk, rasanya sangat menyakitkan atas apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
Dimas pindah duduk di sofa yang sama dengan yang di duduki Lala, "Kenapa hanya menangis, kenapa kau pergi pagi itu. Kenapa kau diam seolah bukan kau yang menjadi korban?" tanya Dimas dengan suara yang pelan agar Lala tidak semakin terpuruk.
"Hiks.....hiks....hiks....." Lala hanya menggeleng sambil terus dalam isak tangis yang terasa semakin pilu.
Dimas memegang kedua lengan bagian atas Lala, "Kenapa kau hanya diam saja?" tanya Dimas lagi, "Tatap aku, kau punya hak untuk berbicara."
"Apa yang harus saya jelaskan Pak Dimas?" tanya Lala di sela-sela isak tangis ya g terus saja keluar dari bibirnya, "Apa Pak? Penjelasan yang seperti apa?"
Dimas dapat merasakan sakit yang di rasakan oleh Lala, dengan cepat Dimas langsung memeluk Lala dna ia ingin membuat Lala lebih tenang bersamanya.
"Hiks.....hiks....hiks......"
Dalam keheningan hanya ada tangisan Lala yang terdengar, tanpa ada yang berbicara di antara keduanya.
"Untuk apa saya jelas kan, bukankah bapak melihat wajah saya. Bukankah lampu menyala dengan terangnya, hiks....hiks....hiks.....untuk apa Pak?" tanya Lala dengan mata yang terus menitihkan cairan bening, "Lagi pula anggap saja itu bayaran atas perjanjian kita dulu Pak," lanjut Lala lagu dengan meremas dadanya.
Sakitnya, perihnya jangan lagi tanyakan. Ini bukan hanya sekedar sakit, tapi juga rasa malu yang semakin dalam. Lala tidak tahu saat malam panas itu terjadi Dimas dalam pengaruh obat, bahkan ia masih terlalu shock bila mengingat itu semua.
"Tidak, aku minta maaf...." Dimas kembali memeluk Lala, rasanya ini terlalu menyakitkan. Menyakiti wanita yang ia cintai adalah hal yang salah, Dimas melihat dengan jelas rekaman cctv saat ia menarik Lala dengan paksa. Saat Lala berteriak kesakitan ia seakan tidak mendengar, yang ia tahu adalah apa yang ia inginkan tercapai. Dimas juga merasa benci pada dirinya yang tidak bisa menghargai wanita.
Saat beberapa saat setelah Lala dan Rika pergi pagi tadi, Dimas langsung kembali menuju kamar nya tanpa perduli pada Zea yang masih menangis di ruang keluarga sendirian. Dengan cepat ia membuka laptop nya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi, Dimas sangat terkejut atas apa yang terjadi. Karena di sana terlihat jelas saat ia mendorong Zea hingga terjatuh dan tidak sadarkan diri, setelah itu di lanjutkan dengan beberapa saat kemudian dengan kemunculan Lala yang tiba-tiba. Dan saat itulah semua terjadi, Dimas langsung menarik Lala dan menuntaskan segala kebejatan nya. Setelah puas melihat bukti rekaman cctv Dimas langsung membersihkan tubuhnya, dan menyusul Lala menuju kampus. Sebab semua harus di selesaikan, masalah ini tidak boleh berlarut-larut.
__ADS_1
"Aku minta maaf, saat itu aku tidak baik-baik saja," kata Dimas lagi, dan ia menjelaskan pada Lala tentang obat yang di jatuhkan Zea pada minumannya.
Deg.
Jantung Lala berdetak kencang, rasanya ini lebih menyakitkan. Karena apa yang harus ia katakan lagi, sebab Dimas pun melakukan nya dalam keadaan tidak sadar.
"Tidak apa Pak, masih sama. Anggap saja itu bayaran saat bapak sudah menolong saya," jawab Lala dengan bibir yang gemetaran, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Sebab ini juga bukan salah Dimas sepenuhnya, tangannya kembali bergerak untuk mengambil obat nya.
"Jangan minum itu terus menerus, luapkan amarah mu pada ku!!!" kata Dimas.
"Hiks....hiks....hiks...." Lala menggeleng, dan tidak tahu harus apa. Rasanya marah dan berteriak pun percuma, semua sudah terjadi.
"Kita akan menikah, aku akan bertanggung jawab," kata Dimas dengan pasti.
Lala langsung menatap Dimas, ia masih terkejut dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Dimas, "Tidak usah Pak, karena saya juga sudah tidak lagi wanita yang suci. Jadi....." Lala menatap Dimas dengan bibir yang terus terisak, "Bapak tidak usah memikirkan itu, bapak pantas mencari wanita yang lebih baik. Lebih segalanya dari saya," kata Lala dengan suara yang perlahan semakin menghilang, karena tidak sanggup untuk berbicara. Rasanya sangat menyakitkan sekali.
Dimas mengambil paperbag yang tadi ikut ia bawa turun dari mobil, dengan cepat Dimas membukanya dan menunjukkan nya di Japan Lala. Seprai berwana abu-abu menunjukan ada noda darah di sana.
"Siapa yang mengatakan tidak pantas?" tanya Dimas, "Ini noda darah yang sampai sekarang masih membuat aku shock," ujar Dimas.
Dimas memang sangat yakin jika Lala buka. lagi wanita yang suci, anggap saja saat preman itu tidak sempat melakukan itu. Tapi Lala sudah bersuami, apa kah mungkin Dimitri belum pernah menyentuhnya.
__ADS_1
"Apa kau dan Dimitri?" tanya Dimas dengan menatap mata Lala, tapi Dimas yakin jika Lala mengerti dengan maksud tanpa di katakan pun dengan jelasnya.
Lala menatap mata Dimas, dan ia menggeleng dengan lemah. Sebab ia memang tidak pernah melakukan hal itu dengan Dimitri.