
"Kita beli sepatu nya di mana?" tanya Dimas, karena Lala tidak menggunakan alas kaki.
"Itu ada toko sepatu Pak," Lala menunjukan toko sepatu yang mereka lewati.
"Apa enggak di mall aja?" tanya Dimas.
"Enggak usah Pak, kelamaan. Lagian juga Lala mau beli yang murah aja," jawab Lala lagi.
Dimas kini memarkirkan mobilnya di depan toko sepatu, tapi ia cukup tertarik dengan kata-kata Lala.
"Kenapa begitu?" tanya Dimas.
"Soalnya Lala masih harus bayar uang kuliah," kata Lala lagi.
"O..... iya," Dimas mengangguk mengerti, jika dulu mantan kekasih nya akan menghabiskan semua isi ATM dan akan sangat bahagia di berikan black card, namun Lala malah bertingkah aneh. Padahal status nya adalah istri, yang memiliki hak atas uang suaminya. Tapi Dimas menganggap ini suatu hiburan, apa lagi masalah uang kuliah. Dimas sudah melunasinya.
"Lala turun dulu ya Pak," Lala membuka pintu mobil, dan mulai menginjak kakinya di aspal.
Dimas juga turun dan ia berjongkok di hadapan Lala.
"Bapak ngapain?" tanya Lala bingung.
"Cepat sebelum gaji mu di potong!" tegas Dimas.
"Saya naik Pak?" tanya Lala lagi.
"Iya, kalau kau tidak mau gaji mu saya potong!" ancam Dimas lagi, padahal Dimas tidak mau kaki Lala kepanasan karena tidak memakai alas kaki.
Lala menurut saja, ia naik ke pundak Dimas. Dan alasannya adalah karena takut Dimas memotong gajinya, aneh bukan? Mana mungkin Dimas memotong gaji Lala, sebab jika di hitung-hitungan uang Dimas yang terpakai untuk perusahaan miliki Lala bahkan sampai triliun nan. Mungkin Lala tidak tahu hal itu, tapi Dimas tidak perduli yang ia tahu Lala bahagia bersama nya.
Orang-orang yang melihat pasangan itu seakan berbisik-bisik, karena keromantisan nya yang membuat mereka iri.
"Pak Dimas Lala mau turun," pinta Lala, sebab mereka sudah masuk ke dalam toko. Dan Lala ingin bebas memilih.
Dimas menurunkan Lala, sesaat kemudian pramuniaga mendatangi mereka, "Wah.....saya kok jadi iri sama Mas dan Mbaknya ya," ujar wanita tersebut.
"Cepat layani istri saya!" titah Dimas dengan wajah dinginnya.
"I....iya Tuan," kata Pramuniaga itu dengan sedikit takut.
"Lala mau yang itu aja deh Pak," pinta Lala pada Dimas.
__ADS_1
"Terserah, yang mana kau suka," Dimas tersenyum pada Lala kemudian ia duduk di sofa, sambil menantikan Lala yang tengah sibuk memilih sepatu nya.
Beberapa pelanggan menatap Dimas, karena ia terlihat romantis bila bersama istrinya. Tapi terlihat kasar pada wanita lain, sungguh membuat mereka iri karena suami mereka yang kadang terang-terangan tersenyum manis pada pramuniaga yang memang sangat cantik-cantik sekali.
"Pak Dimas Lala udah nemu," Lala menunjukan sepatu nya, bahkan ia sudah memakainya.
Dimas melihat sepatu yang di pilih oleh Lala, "Cuman satu?" tanya Dimas.
"Iya, satu aja Pak," jawab Lala.
"Ya sudah," Dimas tidak ingin berdebat, karena di sana banyak orang. Ia memang suka mengerjai atau pun berbicara asal pada istrinya, tapi tidak di hadapan orang-orang di sana yang terlihat terus melihat mereka.
Setelah 20 menit kemudian Dimas dan Lala sampai di kampus, keduanya turun dan langsung saja seorang wanita cerewet memeluk Lala.
"Lalat!!!" teriak Rika dan langsung memeluk Lala, sebenarnya bisa saja Rika berteriak Kakak ipar. Tapi tidak, karena Dimas sedang menyusun rencana bersama Arka dan Zea agar memancing Dimitri keluar dari persembunyian, hingga Rika menurut saja pada Dimas jika pernikahan mereka hanya di rahasiakan. Tapi Dimas sudah mengurus surat-surat pernikahan nya dengan Lala.
"Aduh," Lala sampai terdorong, karena Rika yang tiba-tiba menyambarnya.
"Awas istri gue lecet dek," bisik Dimas dengan suara yang pelan di telinga Rika. Setelah itu Dimas langsung berjalan masuk, dan ia segera menuju ruangannya.
"Dasar bucin!" gumam Rika menatap Kakaknya dari kejauhan. Kemudian Rika kembali melihat Lala dan keduanya kini sudah berjauhan, "Tega banget sih lu La, ninggalin gue!" kesal Rika.
"Lho.....mana ada, tadi aku udah bilang Sama pak Dimas buat nunggu kamu. Tapi jangankan pak Dimas jawab, dia bahkan lirik aku aja enggak," jawab Lala.
"Rika ke kantin yuk, aku lapar belum sarapan," pinta Lala.
"Iya udah yuk," kata Rika dan keduanya berjalan menuju kantin.
Rika dan Lala duduk di kursi paling sudut, tapi tidak lama kemudian seorang dosen datang.
"Hay," sapa Pak Bimo.
"Iya Pak," kata Lala, sedangkan Rika hanya melihat saja dan tersebut ramah pada Pak Bimo.
"Rika!" sapa Repan.
"Repan?" jawab Lala.
"Gue mau ngomong, penting!" Repan langsung menarik Rika pergi dan meninggalkan Lala bersama Pak Bimo di sana.
"Boleh duduk?" tanya Pak Bimo.
__ADS_1
"Em....." Lala ragu, karena ia takut pada Dimas. Lala memang memiliki otak yang sedikit lambat dalam berpikir, apa lagi berhadapan dengan orang yang ia cintai seperti Dimas. Lala akan sangat bodoh sekali dan mudah percaya pada apa yang di katakan oleh Dimas, tapi untuk kali ini otak nya masih bisa berpikir sedikit normal. Ia takut Dimas melihatnya, dan Dimas nanti nya marah. Wajar saja menurut Lala, lagi pula wanita yang sudah bersuami harus memiliki jarak dengan pria lain.
"Saya boleh duduk?" tanya Pak Bimo lagi karena Lala terlihat masih bingung.
"Cari kursi yang lain saja Pak," jawab Lala menolak halus.
"Tapi yang lainnya penuh," pak Bimo menunjukkan semua kursi kantin.
"Tapi di sini juga tempat duduk Rika pak," kata Lala lagi.
"Dia seperti lama kembali, saya duduk di sini saja," kata Pak Bimo dengan memaksa.
Lala tidak bisa lagi menolak, jika ia pergi takut Pak Bimo tersinggung. Bagaimana juga pak Bimo adalah dosennya, lagi pula perut Lala sudah sangat lapar sekali. Dan kedua nya akhirnya makan bersama-sama, dan Pak Bimo langsung membayar setelah mereka selesai makan.
"Terima kasih Pak," Lala langsung bangun dari duduknya, tapi Pak Bimo memegang tangan nya.
"Ada apa Pak?" tanya Lala.
"Maaf," pak Bimo melepaskan tangan Lala, "Nanti pulang saya antar ya," tawar Pak Bimo.
"Terimakasih Pak, tapi tidak perlu repot-repot," Lala langsung pergi dan tiba-tiba di depannya ada Dimas.
Buk!
Lala yang terkejut langsung menabrak Dimas, karena keberadaan Dimas yang tiba-tiba.
Dengan cepat Dimas memegang tangan Lala dan membantu nya untuk bangun, setelah itu Menarik tangan Lala pergi. Dan ia membawa Lala ke belakang kampus, mata Dimas menatap Lala dengan tajam.
"Apa kau tahu batasan mu!" geram Dimas.
Lala tahu kini Dimas tengah marah padanya, dan ia sadar kesalahan nya. Tapi ia juga sudah berusaha menghindar tadinya.
"Pak Dimas, tapi Lala udah menghindar," mata Lala berkaca-kaca karena takut dan ia ingin menangis.
Dimas berusaha tenang sambil mengendalikan amarah, dan mengerti dengan keadaan Lala yang masih dalam masa pemulihan, "Jangan dekat dengan laki-laki lain! Mengerti!"
"Kenapa?" tanya Lala, tanpaknya otak Lala kembali tidak bisa berfungsi secara normal.
Dimas mendekatkan diri nya pada Lala, hingga Lala sampai meneguk saliva karena kagum akan ketampanan Dimas.
*
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote ya, teman-teman ku sayang.