
Duduk di sebuah kursi taman, sama-sama menatap arah yang sama. Sebuah danau buatan di tengah kota yang terlihat begitu indah, dua orang anak manusia duduk terdiam. Hanyut dalam pikiran masing-masing. Berusaha menggenggam erat jemari dan menguatkan hati.
"Maaf Mas, tapi hubungan kita sampai di sini saja."
Kata-kata itu seperti bom waktu yang tengah meledak, hati Sandy seakan tidak percaya. Kini Rika mengakhiri hubungan yang sudah terbina indah.
Rika memutuskan hubungan, sedangkan Ia tahu jikalau perasaan Rika begitu besar pada dirinya.
Menatap wajah Rika dari samping, ada amarah yang tertahan. Ada tangan yang tidak tergenggam, ada cinta yang harus di perjuangkan. Tetapi pemilik hati tidak ingin bertahan.
"Kau tidak mencintai ku?" wajah bingung Sandy terus menatap Rika yang hanya menatap lurus.
Rika memutar leher ke samping, membalas tatap mata Sandy yang sendu penuh luka.
"Sangat," suara Rika hampir menghilang saat mengatakan satu kata yang cukup menyakitkan, "Tapi," setitik air mata itu menetes, berusaha tetap tegar dalam menguatkan perasaan, "Aku tidak mau rumah tangga Sahabat ku hancur, sudah cukup dia menolong ku. Aku yang bodoh, karena kegilaan ku ini terjadi," lirih Rika.
Sandy masih menatap bingung, belum mengerti akan penjelasan Rika yang terlihat penuh luka. Mudah mengetahui perasan orang-orang yang menjadi pasiennya selama ini, tapi Sandy terlalu bodoh membaca pikiran Rika. Bahkan Sandy seperti orang linglung yang tidak bisa melakukan apapun saat bersama Rika.
"Karena menolong kita, Lala berbohong pada Kak Dimas. Lalu sekarang Kak Dimas kecewa, dan rumah tangga keduanya sedang di uji. Aku enggak kuat mendengar tangis pilu sahabat ku, akulah penyebab nya," jelas Rika.
Sandy menarik napas, mencoba menerima setiap kata yang terasa menyakitkan untuk di dengar. Sulit sekali mendapatkan satu tangkai bunga yang masih merekah, sulit sekali memetiknya lalu menjadikan sebagai hiasan dalam rumah yang akan ia bangun. Ingin memupuk, menjaga, tapi belum apa-apa bunga itu sudah di pagar dengan belati tajam yang siap menusuk. Melepaskan terlalu sulit, menggapai terlalu sakit. Merelakan tidak mungkin, menggenggam terlalu jauh.
"Lalu bagaimana dengan ku?" tanya Sandy dengan suara bergetar.
"Jangan tanyakan dengan mu, aku pun terluka. Tapi tolong, jika kita di takdir kan bersama. Apapun caranya pasti kita bersatu, tapi untuk sekarang aku tidak ingin melihat sahabat ku menjadi korban," jelas Rika, "Aku permisi Mas, dan selamat tinggal," Rika bangun dari duduknya, tersenyum lembut pada Sandy.
__ADS_1
Tangan Sandy dengan cepat memegang pangan Rika, seakan tidak ingin Rika pergi darinya. Ikut berdiri di depan wanita yang begitu menyita perasaan nya, terkadang Sandy pun bingung. Mengapa Rika mampu membuatnya jatuh sedalam ini akan cinta yang tidak berujung, mampu membuatnya untuk tidak berpaling pada wanita lain. Apa kelebihan wanita yang masih cukup muda, tetap bisa mengalihkan dunianya. Mungkin jawabnya hanya satu! Cinta yang penuh misteri dan tidak butuh alasan untuk mencintai.
"Jangan tinggalkan aku."
"Aku tidak meninggalkan, hanya saja jika kita memang akan bersama. Biar takdir saja yang membawa kita," jawab Rika dengan senyuman, terlihat ia sangat ikhlas dalam melepaskan cinta pertamanya.
Mungkin cinta pertama bukan untuk yang terakhir, tetapi bagi Rika cinta pertama tetap menjadi yang terindah. Biarlah semua tersimpan, terbingkai indah dalam hati untuk bisa di kenang.
"Aku tidak sanggup," lirih Sandy sambil mengusap wajah, duduk kembali pada kursi sambil melihat Rika yang sudah berlalu pergi.
Sampai kapan terus berada dalam lingkaran cinta yang tidak pasti, mencintai tanpa bisa memiliki. Masa lalu yang kelam membuat sulit untuk bisa bersatu dengan wanita yang di cintai, andai waktu bisa di putar kembali. Sandy akan menata hidup agar lebih baik lagi, andai kedua orang tuanya tidak terus bertengkar sudah pasti tidak akan mencari bahagia di luar sana.
"Kenapa Dimas?"
Sandy menatap Dimas yang duduk di kursi kebesarannya, berkutat dengan komputer di hadapannya.
"Itu balasan karena wanita mu sudah menyakiti adik ku!" jawab Dimas sambil menyandarkan tubuhnya dengan santai, melipat kaki tersenyum puas pada Sandy.
"Tapi aku dan wanita itu tidak pernah berpacaran Dimas, kami hanya sekedar bersama saja dan memiliki kedekatan!" tegas Sandy.
"Bukan urusan ku! Yang aku tahu karena kau wanita itu menyakiti adik ku! Karena kau adik ku pertama kalinya mendapatkan tangan kasar!"
"Aku mencintainya Dimas, sampai kapan kau akan mengerti!" Sandy mendekat pada Dimas dan langsung menarik kerah jas Dimas dengan penuh amarah.
"Em," Dimas mengangguk sambil tersenyum, kemudian tangan Dimas melepaskan tangan Sandy pada jasnya, "Kau cari saja wanita lain!"
__ADS_1
"Apa kau yakin jika adik mu bersama yang lain akan bahagia!" tantang Sandy.
"Lebih baik, karena lelakinya tidak pernah aku tahu sisi buruknya. Sedangkan kau!" Dimas tersenyum remeh, "Apa mungkin aku memberikan adik ku pada lelaki yang sudah jelas-jelas aku tahu seperti apa sisi buruk mu?"
"Tapi aku sudah berubah Dimas, aku mencintai nya. Aku berjanji tidak akan membuatnya tersakiti, aku akan menjaganya bagaikan berlian yang tidak boleh tergores sedikit pun!"
"Tapi aku tidak percaya!"
Sandy meninju udara, tidak tahu bagaimana cara untuk meyakinkan Dimas tentang perasaan yang begitu dalam pada Rika.
"Aku akan membuktikan!"
Dimas mengangkat kedua bahunya dengan santai, "Setelah hari itu, aku semakin yakin jika kau bukan yang terbaik," Dimas mengingatkan Sandy, saat Ia memergoki keduanya tengah bercumbu di sebuah kamar. Perasaan Dimas yang menatang hubungan keduanya kini semakin besar.
Sandy terdiam, tidak mungkin mengatakan jika Rika yang memaksa semua itu. Bahkan Sandy tidak berniat melebihi cumbuan, akan tetapi Dimas datang di saat tidak tepat. Andai Dimas datang satu menit lebih awal mungkin akan melihat bertapa ia tidak ingin itu terjadi.
"Aku mohon Dimas," Sandy duduk di lantai, kepala tertunduk dengan tangan yang menggantung. Tidak tahu lagi harus berkata apa, tapi cintanya pada Rika sudah sampai pada batasnya.
Sandy merasa hidup tanpa Rika tidak akan ada bahagia, wanita yang kini ingin menjadi tempat terakhirnya melepaskan lelah. Mencurahkan kasih sayang, membina rumah tangga, mengarungi badai bersama. Hingga tetap bergengaman tangan menuju bahagia.
Dimas terdiam saat melihat Sandy yang berlutut di hadapannya, hati Dimas seakan terketuk. Sebesar itukah cinta Sandy pada Rika?.
*
Jangan lupa like dan Vote.
__ADS_1
Beberapa bab kedepannya Mentari dan Arka juga akan menghibur kalian di sini. terima kasih.