Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 144


__ADS_3

Adithama merasa semua sudah sampai pada waktunya, keadaan Yeni pun kini sudah membaik hingga tak lagi ada yang harus dikhawatirkan.


Mengingat Yeni selalu menyebut Anisa sebagai benalu dalam pernikahan mereka, sebenarnya tidak salah menganggap demikian mengingat tak pernah tahu awal mula semua terjadi.


"Ini kenyataannya, maaf tapi saat itu kamu jauh lebih penting, aku tak bisa hidup tanpamu dan bagaimana nasib Dimas kecil jika kamu kehilangan nyawa, aku tidak mau dia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak utuh," papar Adithama.


Mama Yeni menggeleng ini sangat menyakitkan sekali, putri yang di besarkan dengan tangannya sendiri, bahkan memberi asi selama 2 Tahun penuh ternyata bukan darah dagingnya sendiri.


"Kamu bohong, aku yang menyusuinya selama 2 Tahun penuh!" Seru Mama Yeni tidak terima.


"Iya, tapi saat itu asi mu memang sudah keluar bahkan sejak masih hamil, tapi dia tetap anak mu, dia tetap milikmu Anisa tidak pernah meminta dikembalikan lagi setelah kelahiran anak keduanya," jelas Adithama dengan rasa sedih, entah kapan ia bisa bahagia karena selama ini selalu menahan luka dengan rasa bersalah.


"Jadi Rika dan Dimas tidak sekandung Pa?" Tanya Dimas juga.


Dimas tahu perihal ginjal yang di donor kan ibu tirinya pada Mamanya, tapi perihal Rika bukan adik sekandungnya sangat mengejutkan.


Adithama menggeleng lemah, "Tapi dia juga anak Papa, bedanya dia terlahir dari istri kedua Papa, kalian tetap sedarah."


Ini benar-benar di luar dugaan, selama ini berpikir jika Rika adalah adik sekandung tapi ternyata tidak.


"Ma, tolong terima ini," Adithama berusaha untuk menenangkan istrinya yang masih menangis tersedu-sedu, merasa terluka mengetahui jika putri yang paling di cintainya ternyata bukan anak kandungnya.


"Dia anak ku!"


Dimas dan Sandy memilih keluar, meninggalkan kedua orang tuanya berbicara berdua agar tak ada kecanggungan.


"Aku tidak percaya, kau berbohong, Rika itu anak ku."


Adithama memeluk Yeni secepat mungkin, ingin menenangkan kekacauan hati istri tuanya dengan memberikan sedikit kehangatan.


"Ma, aku tidak berbohong, ayo kita lakukan tes DNA kalau kamu perlu, aku hanya ingin memperbaiki segalanya. Aku lelah terus berada dalam rasa bersalah."


"Tapi Rika anak ku!" Yeni menangis tersedu-sedu tanpa bisa berhenti, sakit sekali rasanya melebihi ditikam belati, "lalu, selama ini aku hidup karena, belas kasih istri muda mu, aku tidak mau! Aku tidak sudi! Aku membenci mu! Saat ini kau menganggap aku hanya benalu sedangkan dia itu malaikat begitu kan?!" Teriak Mama Yeni, "aku lebih memilih mati dari pada menerima bantuan istri muda mu itu Mas!"

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Dimas?!" Tanya Adithama dengan tegas seiring melepaskan pelukannya dan menjauh dari Yeni.


"Bagaimana dengan Dimas? Apa kamu mau saat itu dia menderita? Selama kamu sakit dia sudah terlantar Yeni, selama kamu bersedih karena bertanya anak kedua kita dia tidak di hiraukan apa aku sanggup membiarkan anak ku menderita? Tidak! Aku tidak sanggup, aku pun tidak bisa kehilangan kamu, kita menikah karena perjodohan tapi saat setelah aku menjabat tangan Ayah mu aku sudah mulai mencintai mu dan takut kehilangan mu! Aku juga terluka, tapi ini bukan pilihan!"


Suara tangis Yeni masih menggelegar, mengapa harus menyakiti hati begitu dalam. Mengapa Rika bukan putri kandungnya, ini kenyataan yang sulit di terima.


"Aku mohon mengerti sedikit saja dengan perasaan ku saat itu, aku takut kehilangan orang-orang yang aku sayangi, aku juga terpukul kehilangan putra kedua kita, bahkan kamu sampai kehilangan rahim aku ikut terpukul, tapi aku memilih menyimpan segalanya sendiri, tanpa kamu tahu, yang kamu tahu aku hanya berhiyanat menikah mantan kekasih ku."


"Kamu tidak menjelaskan segalanya!" Potong Mama Yeni.


"Aku takut kehilangan mu!"


Keduanya terdiam sejenak, larut dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya Yeni keluar dari ruangan itu meninggalkan Adithama berdiri di sana.


***


Mama Yeni terus memandangi wajah Rika yang masih terlelap dalam tidurnya, hatinya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Rika bukan lahir dari rahimnya.


Apa mungkin selama 19 Tahun membesarkan anak dari madunya, ini sangat di luar akal sehat.


"Mama nangis?" Tanya Rika tersadar menatap manik mata indah Mama Yeni.


Mama Yeni tersenyum dan mengusap wajahnya, menghapus jejak air mata yang menetes tanpa permisi. Menata senyuman agar kembali seperti sedia kala, seakan hati baik-baik saja.


"Mama, cuman kangen aja, kamu sekarang udah nggak bisa tidur sama Mama, padahal waktu belum nikah kalau Papa nggak pulang kamu selalu tidur sama Mama, meluk Mama," ingin sekali berteriak menjerit sekencang mungkin agar meluapkan hati yang terasa sakit.


"Ya, udah nanti malam Rika tidur sama Mama aja," tawar Rika berusaha menghibur Mama tercintanya.


"Mana boleh begitu, kamu tidur sama suami kamu, sekarang kan udah beda."


"Tapi Mama kangen tidur sama Rika."


Rika memeluk Mama Yeni, melingkar tangannya pada leher Mamanya dan menyimpan wajahnya pada dada wanita yang selama ini di panggilnya Mama.

__ADS_1


Itu adalah kebiasaan tidurnya, memeluk sang Mama adalah sebuah kehangatan dan ketenangan baginya.


"Iya, tapi lain kali aja."


"Mama sengaja nolak tidur bareng Rika, karena ada Papa! Mama mah, sombong kalau ada suami Mama," tebak Rika sambil menggoda Mama Yeni.


Rika tahu keadaan rumah tangga Mama dan Papanya mulai membaik dan itu semua seakan terasa sangat membahagiakan bagi dirinya.


"Kamu apasih Dek, tapi kamu sayang nggak sama Mama?"


"Mama apasih, nggak jelas banget deh!"


Pertanyaan Mama Yeni terdengar aneh, tapi entah mengapa kini ada rasa takut kehilangan putrinya. Bahkan setelah ini akan melakukan tes DNA diam-diam membuktikan kebenaran segalanya, tidak bisa percaya begitu saja pada apa yang di ungkapkan oleh suaminya sendiri.


"Sayang dong Ma," jawab Rika.


"Kamu tidur lagi, Mama masak dulu ya."


***


Mama Yeni segera menemui Sandy, ia ingin berbicara berdua saja di ruang keluarga.


"Sandy Mama mohon, ini rahasia kita berdua."


Sandy menyetujui permintaan Mama mertuanya, dengan segera ia mengambil sempel darah Mama Yeni.


Sedangkan sempel darah Rika sudah ada di laboratorium rumah sakit, karena melakukan beberapa tes sebelum melakukan pasca operasi.


"Setelah hasilnya keluar Sandy akan memberikan nya pada Mama," kata Sandy.


Mama Yeni mengangguk lemah dengan perasaan gundah, berharap apa yang dikatakan oleh suaminya hanya sebuah kebohongan besar.


"Bagaimana jika Rika bukan putri kandung Mama."

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja, dia tetap anak Mama."


Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan kembali Maka Yeni segera pergi berusaha untuk menenangkan hati yang gundah.


__ADS_2