Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Pawangnya


__ADS_3

Dimas mulai menghidangkan sarapan pagi di meja makan, tidak banyak sarapan yang di buat oleh Dimas. Hanya sepiring nasi goreng dan telur setengah matang di atasnya, sebab bahan makanan yang memang hanya seadanya.


Lala keluar dari kamar memakai kemeja putih milik Dimas, sebab ia memang tidak memiliki baju ganti. Kemarin hari memang ada sebuah dress tapi itu pun sudah di rusak Dimas saat semalam, hingga dengan terpaksa ia memakai kemeja milik Dimas. Dengan rambut yang masih di tutupi dengan handuk.


"Sayang," Dimas dengan cepat memeluk Lala dari belakang, saat ia melihat istrinya tengah berdiri di dekatnya.


Lala lagi-lagi hanya meneguk saliva, tidak biasa mendapatkan perlakuan romantis dari Dimas membuatnya sedikit risih.


"Kenapa memakai kemeja ku yang kebesaran ini?" tanya Dimas dengan wajah yang mulai mendekat pada tengkuk Lala.


Kedua tangan Lala yang tergantung mulai saling meremas, ada keterangan yang tidak bisa di ungkapkan. Tapi ia tetap berusaha untuk tetap tenang, "Lala enggak punya baju ganti Aa," jawab Lala.


Dimas terkekeh mendengar jawaban Lala, suara yang lembut dengan sedikit manja namun sepertinya Lala juga sedang takut untuk berbicara, "Tidak apa, seharusnya tidak usah pakai baju. Aa lebih suka," jawab Dimas sambil tersenyum.


Mata Lala melebar mendengar jawaban Dimas, karena kini Dimas lebih terang-terangan berbicara tidak seperti biasanya.


"Sudah ayo makan," Dimas duduk di kursi dan ia juga ikut menarik Lala untuk duduk di kursi sebelah nya, "Buka mulut," pinta Dimas yang ingin menyuapi Lala.


Lala terkejut dengan kata-kata Dimas, ia menatap Dimas penuh tanya. Meyakinkan diri apakah apa yang ia dengar barusan tidak salah.


"Sayang buka mulut," pinta Dimas lagi.


"Lala bisa makan sendiri Aa," tolak Lala.


"Aa aja yang suapin," ujar Dimas lagi dengan nada memaksa.


Lala tidak lagi berkomentar, ia perlahan membuka mulut dan mulai menerima suapan dari Dimas.


Lala sudah selesai makan, bahkan kini Lala sudah memakai dress keluaran terbaru yang barusan di antarkan seorang kurir ke apartemen. Bukan hanya satu atau dua, tapi Dimas membeli cukup banyak, agar Lala memiliki pakaian ganti yang tersedia di apartemen.


Mata Dimas terus menatap Lala, dress merah yang terlihat cukup pas di tubuh istrinya membuat mata sulit sekali beralih pada yang lain, "Sudah selesai?" tanya Dimas.


Lala mengangguk, dan ia berjalan ke arah Dimas tanpa banyak bicara. Dengan tubuh yang terasa pegal, karena semalam ritual pengantin baru yang cukup membuang tenaga yang begitu banyak.


Lima belas menit berlalu, kini Dimas dan Lala berada di sebuah pusat perbelanjaan yang terletak tidak jauh dari apartemen yang mereka tempati.


"Kita ngapain ke sini Aa?" tanya Lala bingung.


"Untuk membeli ponsel baru," jawab Dimas, "Ayo pilih."


Lala melihat beberapa ponsel di sana, bahkan pramuniaga menawarkan beberapa barang keluaran terbaru. Sampai akhirnya Lala memilih sebuah ponsel yang menurutnya cukup menarik.

__ADS_1


Selesai melakukan pembayaran keduanya kembali ke mobil dan Dimas yang mengemudikannya.


"Aa," panggil Lala yang duduk di samping Dimas.


Dimas menatap jalanan, dan ia hanya melirik Lala sekilas saja.


"Makasih ya ponselnya," kata Lala lagi, "Aa, apa beli ponselnya dari gaji Lala yang di potong?" tanya Lala.


Dimas terkejut mendengar pertanyaan Lala, tapi ia tetap berusaha untuk tenang. Bocah di sampingnya itu benar-benar lucu, bahkan saat ini pun mampu membuat Dimas senyum-senyum hanya karena pertanyaan yang aneh.


"Aa kok enggak jawab sih?" tanya Lala bingung.


Mobil Dimas mulai memasuki area kampus, dan sesaat kemudian ia sudah memarkirkan mobilnya dengan rapi. Kemudian ia beralih menatap Lala yang tengah menatap dirinya dengan bingung.


"Iya, dan hanya boleh kontak Aa saja di dalamnya," jawab Dimas.


Lala terkejut dengan jawaban Dimas yang tidak masuk akal, "Terus gimana dengan kontak Rika?"


"Rika boleh," jawab Dimas.


"Kontak Mama?" tanya Lala lagi.


Lala mendesis, "Terus tadi katanya cuman boleh kontak Aa aja?" kesal Lala lagi.


"Iya, kontak Mama sama Rika boleh," jelas Dimas, "Asal bukan kontak laki-laki!" tegas Dimas.


"Kontak Papa?" tanya Lala.


Dimas menarik nafas dengan panjang, tampaknya kini ia bukan hanya berhadapan dengan istrinya tapi juga berhadapan dengan anak kecil yang polos.


"Boleh."


"Tadi katanya enggak boleh ada kontak laki-laki!" gerutu Lala.


"Iya, tapi ada pengecualian nya," geram Dimas, "Astaga, inilah alasannya gue enggak mau sama bocah. Tapi mengingat isi nya yang waw, gue lebih suka sama bocah," batin Dimas.


"Aa ngapain liat Lala begitu banget?" tanya Lala sebab pandangan Dimas yang sepertinya menatapnya dengan haus.


"Sayang buka dikit ya," tangan Dimas mulai mengarah pada gundukan milik Lala.


Wajah Lala seketika memerah karena Dimas yang semakin terang-terangan memegang bagian sensitif nya dengan bebas.

__ADS_1


"Ayang Bebeb!!!!" seru Rika dari luar mobil, dan sedetik kemudian ia membuka pintu mobil.


Lala cepat-cepat mendorong Dimas, dan dengan gerakan cepat pula Lala kembali membenarkan dress miliknya.


"Sial!!!" kesal Dimas, "Padahal hampir aja gue minum susu segar," batin Dimas.


"Kalian kenapa?" tanya Rika yang tidak tahu apa-apa.


Glek.


Lala mengusap wajahnya, kemudian ia memakai tas nya dan turun dari mobil Dimas, "Lala masuk dulu ya Aa," pamit Lala.


Dimas mengangguk dengan terpaksa, dan ia menatap Rika dengan tajam.


"Apasih?!" kesal Rika yang mengerti dengan tatapan tajam Dimas, namun Rika tidak perduli. Karena kini ia dan Lala sudah berjalan masuk.


Dimas juga menarik nafas dengan panjang, "Pagi-pagi sudah bikin emosi!!!" gumam Dimas, kemudian ia melihat jam di pergelangan tangan nya, "Ini sudah siang ternyata," kata Dimas lagi.


Lala terus berjalan bersama dengan Rika di sampingnya, sampai akhirnya seorang pria menyapa dirinya.


"Selamat pagi?"


"Pagi Pak Bimo," jawab Lala tidak kalah ramah.


"Saya tadi pagi hubungi kamu, tapi tidak bisa, padahal saya mau menjemput kamu," kata Pak Bimo.


Dimas yang berjalan di belakang Lala dan Dimas mendengar kata-kata Pak Bimo, dengan langkah yang cepat Dimas langsung berjalan mendekati Lala dan menarik lengan Lala agar ikut dengannya.


"Pak Dimas," Lala terkejut karena tangannya tiba-tiba di tarik, sebab Dimas tidak berbicara sedikitpun. Sedangkan di kampus mereka memang menyembunyikan pernikahan, hanya sampai beberapa waktu ini saja.


Pak Bimo sangat bingung dengan Dimas, tapi ia juga cukup terkejut.


"Kalau mau deketin Lala bapak akan berhadapan dengan pawangnya," ujar Rika sambil terkekeh.


"Pawang nya?" tanya Pak Bimo bingung.


"Iya, Rika ke kelas dulu ya Pak," pamit Rika, dan ia segera menyusul Lala yang di bawa Dimas, "Kapan gue ketemu jodoh, gue juga pengen melepas jomblo ini," gerutu Rika sambil terus berjalan.


Dengan gerakan cepat Sandy menarik Rika dan menyandarkan nya di dinding, dalam sekejap Sandy mulai mendekat hingga menyusutkan Rika.


"Ish....lepas!!!"

__ADS_1


__ADS_2