Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Cemburu


__ADS_3

Hari ini seperti apa yang di katakan oleh Lala kemarin hari, jika ia akan kembali masuk kuliah. Walaupun masih sedikit sulit, tapi ia haru bangkit dari keterpurukannya seperti apa yang dikatakan oleh Dimas. Semangat Lala semakin bertambah, saat Dimas menjanjikannya akan mempertemukan nya dengan sang Ayah yang masih di rawat di Jerman.


"Pagi Lalat sayang," sapa Rika yang langsung menyelonong masuk ke kamar Lala.


"Hay," jawab Lala yang tengah menyisir rambut nya.


Rika tersenyum sambil kakinya berjalan mendekati Lala yang berdiri di depan cermin, "Aku seneng banget!!!!" Rika langsung memeluk Lala, karena ia sangat bahagia dengan Lala yang kembali ke kampus.


Lala juga senang karena ada Rika yang selalu ada untuk dirinya.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu.


Lala dan Rika langsung melihat ke arah pintu, dan ternyata ada Dimas di sana.


"Apa?!" ketus Rika.


"Sudah siap?" tanya Dimas sambil memperhatikan penampilan Lala, dress yang melekat di tubuhnya Lala terlihat begitu indah. Hingga Dimas sulit untuk mengkedipkan matanya.


"Woy!" seru Rika.


Peltak!!!


Dimas langsung menyentil dahi adiknya, "Dasar Kunti!" kesal Dimas.


"Ish....Mama!!!" teriak Rika, karena dari dulu Dimas suka memanggilnya Kunti.


"Eh....eh....ada apa ini?" tanya Yeni yang kebetulan melewati kamar Lala, dan akhirnya ia harus mendengarkan jeritan anak bungsunya.


"Kak Dimas Ma," Rika mengadu pada Yeni, dan berharap Mama Yeni bisa berpihak pada nya.


"Sudah-sudah, ayo siap-siap untuk ke kampus," ujar Mama Yeni, kemudian ia melihat Lala yang hanya menatap diam pada dua Kakak beradik yang selalu terlibat cekcok, "Lala, kamu mau ke mana? Sudah rapi banget," tanya Mama Yeni dengan ramah.


"Lala mau ke kampus Tante, doa in semoga Lala bisa," kata Lala pada Mama Yeni.


"Wah, Tante senang sekali. Akhirnya kamu tidak terus dalam rasa sedih," Mama Yeni memeluk Lala dengan hangat, walaupun ia bukan Mama kandung Lala tapi paling tidak rasa rindu Lala terhadap Mama mungkin sedikit terobati.


Lala mengangguk dan merasa bahagia, sebab ia membenarkan apa yang di katakan oleh dokter Sandy, jika masih banyak orang yang begitu menyayangi dirinya.


"La, kita naik motor aku aja ya," Rika memegang tangan Lala dan langsung menariknya.


"Tunggu dulu," Dimas memegang lengan Lala, "Lala dengan Kakak saja, karena Lala masih belum terlalu membaik," ujar Dimas.


Dimas memang takut bila nanti tiba-tiba Lala histeris di jalanan, dan itu bisa membahayakan keadaan nya sendiri.

__ADS_1


"Ok, Rika juga bareng Kakak," kata Rika dengan semangat.


"Ayo," Dimas langsung berjalan dan Rika juga Lala berjalan di belakang nya.


Sampai di kampus Rika dan Lala mulai turun dari mobil, sedangkan Dimas langsung menuju ruang dosen. Sebab Dimas masih menjadi dosen menggantikan Arka, sekaligus Dimas ingin bisa lebih leluasa melihat keadaan Lala.


"Hai," sapa seorang pria dengan tubuh kekarnya.


"Hai juga pak Bimo," jawab Lala.


"Kamu apa kabar?" tanya Bimo.


"Baik," Lala mengangguk dan mencoba untuk terus menguasai dirinya, karena ia masih sedikit takut dengan tali pinggang yang di pakai oleh Bimo.


"Kamu kuat, Lala yang aku kenal enggak lemah," bisik Rika, karena ia melihat Lala terus meremas kedua tangannya.


Lala meneguk saliva dan mengangguk, karena apa yang di katakan oleh Rika memang sangat benar sekali.


"Saya masuk dulu ya Pak," pamit Lala.


"Iya, sampai berjumpa lagi," kata Pak Bimo


Lala mengangguk dan tersenyum, sebab tidak ada yang salah dengan kata yang di ucapkan oleh Pak Bimo. Hingga tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Lala dan Rika.


"Lala!!!" seru Repan, bahkan ia langsung memeluk Lala.


Repan adalah sahabat Lala sejak masih duduk di bangku SMA, kini mereka kuliah di kampus yang sama tapi dengan jurusan yang berbeda. Walaupun begitu persahabatan mereka masih bejalan dengan cukup baik.


"Lu kemana aja, gue kangen tau," seru Repan yang kini mulai menjauh dari Lala.


"Caelah Pan, gue udah kayak jemuran aja. Bahkan ngelirik gue aja lu enggak," celetuk Rika yang merasa terabaikan.


"Alah, udah bosan liat wajah lu tiap hari," seloroh Repan.


"Sialan lu!" geram Rika.


"Btw, lu makin cantik. Makin kalem kayaknya ya," Repan menatap penampilan Lala yang biasanya menggunakan celana jeans dan kaos, kini berubah memakai dress yang terlihat anggun.


"Bisa aja lu," jawab Lala sambil terkekeh.


"Btw, kayaknya gue mau mundur jadi sahabat lu!"


"Kenapa?" Lala bingung begitu juga dengan Rika.


"Gue mau jadi calon ayah dari anak-anak kita aja," celetuk Repan sambil terkekeh.

__ADS_1


"Bisa aja lu Pan," Lala meninju lengan bagian atas Repan, karena gurauan Repan yang berhasil menghibur paginya.


"Ehem.... Ehem....." Dimas yang entah sejak kapan berada di belakang Rika mulai berdehem.


"Selamat pagi Pak," sapa Repan dengan ramah.


"Em," jawab Dimas dengan cuek.


Repan tidak terlalu memikirkan reaksi Dimas saat ia menyapanya. Karena Dimas memang irit dalam berbicara, dan semua mahasiswa sudah sangat paham akan Dimas.


"Lala gue antar ke kelas yuk," kata Repan sambil tangan nya bergerak ingin memegang lengan Lala.


"Lala ayo," Dimas dengan cepat menarik lengan Lala, hingga akhirnya Lala tertarik dan ia masih bingung mengapa Dimas menariknya.


"Mmmmfffffpp......" Rika tertawa melihat wajah Dimas yang menahan kesal, sedangkan ia juga merasa lucu dengan Repan yang kebingungan, "Kamu sekarang tertarik sama Lala?" tanya Rika sambi menunjuk Lala yang sudah berlalu pergi di tarik oleh Dimas.


"Iya lumayan," jawab Repan, karena tidak di pungkiri lagi. Jika Lala kini berpenampilan cantik dan anggung.


Rika menepuk pundak Repan, "Sulit, saingan mu terlalu berat kawan, Ahahhaha!!!!" tawa Rika menggelegar, karena mengejek Repan, "Tapi semangat ya, pantang mundur," ujar Rika lagi yang kini berjalan cepat menyusul Lala yang sudah di bawa Dimas keruangan nya.


"Duduk!" titah Dimas tanpa ingin di bantah.


Lala merasa ia tidak salah dalam melihat ruangan, dan ini adalah ruang dosen.


"Pak, ruang saya enggak disini," kata Lala Ingin memastikan jika ia tidak sedang gila, atau berhalusinasi.


"Ini memang ruangan saya," jelas Dimas.


"Terus kenapa saya di bawa ke sini?" tanya Lala bingung.


"Karena saya mau memperingati kamu," kata Dimas dengan tegas.


"Memperingati saya?" Lala menatap Dimas dengan bingung.


"Iya, tadi kamu bertemu dengan


Bimo. Dan kemudian dengan anak bau kencur tadi!" kata Dimas yang tidak tahu siapa nama pria yang kedua menyapa Lala.


"Namanya Repan Pak," kata Lala dengan polosnya.


"Siapa pun namanya tidak penting!"


"Terus?" tanya Lala lagi karena Dimas belum berbicara dengan jelas.


Dimas malah kesal pada Lala, dan ia menahan rasa kesalnya dengan susah payah.

__ADS_1


"Cemburu bilang Bang," kata Rika yang tiba-tiba masuk dan langsung menyambar pembicara Dimas dan Lala.


Lala langsung menatap Rika dengan bingung, sedangkan Dimas ingin sekali meremas adik bungsunya itu, dan melemparnya ke laut.


__ADS_2