Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Mode Lola


__ADS_3

"Aa, Lala capek," rengek Lala.


Dimas tersenyum sambil melirik Lala yang duduk di kursi kerja nya, ia hanya menatap istrinya yang kini sangat manja. Bahkan selalu mengikuti kemanapun ia pergi.


"Aa lapar."


"Makan?"


"Iya lah, masa tidur!"


Dimas mengambil ponselnya dan memesan makanan untuk Lala.


Sedangkan Lala tengah menunggu Rika menghubungi dirinya, karena ia takut kalau Rika malah belum sampai di kampus. Apa lagi kalau sampai Rika dan Sandy malah tertangkap basah jalan bersama oleh Dimas, itulah alasan Lala tetap berada di ruangan Dimas dan tidak mengijinkan Dimas keluar.


"Sayang, dari tadi kok liatin ponsel terus?" tanya Dimas saat melihat keanehan Lala.


Lala meletakkan ponselnya pada meja, dan melihat Dimas yang duduk di hadapannya. Sambil otaknya berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Dimas, "Hehe...." Lala hanya cengengesan karena tidak tahu harus berikan alasan apa.


Dimas melihat jam pada pergelangan tangannya, "Udah waktunya," kata Dimas.


"Aa, tunggu lima menit lagi," pinta Lala, ia masih saja gelisah menunggu kabar dari Rika jika ia sudah berada di kampus juga.


"Kamu kenapa sih?" Dimas semakin bingung saat melihat Lala.


"Makanan Lala mana?" Lala menagih makanan pesanan Dimas yang belum juga sampai.


Dimas diam dan sama sekali tidak berpikir aneh tentang istrinya, karena apapun yang di inginkan Istrinya Dimas akan menurutinya.


Ting.


Ponsel Lala berdering, cepat-cepat ia mengambil ponselnya, "Rika."


[Aku udah di kampus,] Rika.


Lala tersenyum lega, ia bernafas dengan panjang. Karena Rika sudah berada di kampus juga.


"Ehem," Dimas berdehem.


Lala seketika tersadar, ternyata Dimas berdiri di sampingnya. Cepat-cepat ia menyimpan ponselnya pada tas, karena takut Dimas membaca chat nya dengan Rika.


"Aa," Lala mendadak gelagapan seperti maling yang ketakutan.


Dimas menarik sebelah alisnya, sebab Lala terlihat aneh.


"Aa, Lala ada kelas," kata Lala dan ia cepat-cepat berdiri sambil menyambar tas tangan yang ada di meja kerja Dimas.


Tangan Dimas cepat-cepat memegang tangan Lala, "Kamu kenapa?"


"Emang Lala kenapa?" tanya Lala kembali, "Lala lupa, dosennya Aa Dimas ya?" Lala tersenyum kecut sambil menahan rasa malu, ia menunduk dan mengusap wajahnya.


"Hehe....." Dimas terkekeh geli melihat wajah Lala yang terlihat menggemaskan.


"Tapi tugas Lala belum selesai, dosen Lala sialan banget ngasih tugas enggak pakek otak!" geram Lala, kemudian ia berlari dengan cepat.

__ADS_1


Dimas kesal karena Lala menyebutnya tidak punya otak, dengan langkah yang lebar Dimas berjalan mengejar Lala dan memegang pergelangan tangannya, "Mau ke mana?"


"Hehe....." Lala yang ingin melarikan diri tidak bisa bergerak lagi, padahal ia ingin kabur.


"Ngomong apa barusan?" tanya Dimas dengan wajah dinginnya.


"Hehe...."


"Cengengesan!"


"Hehe...."


Dimas seketika mendapatkan ide untuk mengerjai Lala, "Kamu mau dapat sangsi?"


Lala menggeleng, karena ia takut ancaman Dimas benar-benar terjadi.


"Bagus," Dimas menatap Lala penuh intimidasi, "Ehem-ehem," Dimas berdehem menatap Lala.


Lala langsung menatap Dimas, "Aa, Lala minta maaf," lirih Lala, dan ingin melepaskan pergelangan tangannya yang masih di pegang Dimas.


"Ehem," Dimas kembali berdehem, "Kiss, kamu enggak ngerti kode ya?" tanya Dimas, karena sebenarnya ia ingin Lala merayu dirinya.


Lala tidak ingin terus berdebat dengan Dimas, karena ia takut Dimas malah memberinya sangsi karena barusan berkata seenaknya. Dengan cepat ia berjinjit dan mengecup pipi Dimas.


"Bagus, yuk," Dimas menarik lengan Lala, sampai di luar Dimas melepaskan tangan Lala dan ia mulai berjalan di belakang tubuh mungil Lala sambil tersenyum karena memiliki istri bocah ternyata membuat hidupnya menjadi penuh warna.


Mata Lala langsung mengedar, ia ingin mencari keberadaan Rika yang membuatnya seperti orang bodoh.


"Ayang Bebeb!!!" teriak Rika yang terlebih dahulu melihat Lala.


"Hehe....makasih ya ayang Bebeb," Rika tersenyum memeluk Lala dari samping.


"Em..." Lala tersenyum dan matanya mulai melihat Dimas yang berdiri di depa sana, entah mengapa Lala merasa Dimas sangat tampan apa lagi saat tiba-tiba tatapan Dimas bertemu dengan tatapan matanya.


"Mata woy!" Rika langsung memukul kepala Lala.


"Hehehe, kok aku jadi pengen peluk ya," kata Lala.


"Dasar pasangan bucin!" kesal Rika.


"Aa kangen," kata Lala dengan suara pelan agar orang-orang tidak melihatnya.


Rika melihat Lala dengan aneh, "Yakin kangen? Bukannya kalian sama-sama terus dari tadi!"


"Tapi kangen lagi," Lala menyilangkan tangannya di dada seakan membayangkan Dimas yang tengah memeluk dirinya.


"Dasar gila!" Rika benar-benar geli melihat Lala seperti orang gila.


Dimas terus menjelaskan di depan sana, sampai akhirnya ia melihat Lala yang juga tengah melihat dirinya. Dimas tersenyum saat melihat Lala yang menatapnya penuh kekaguman.


"Ehem," Dimas berdehem karena ingin menyadarkan Lala dari lamunannya.


Lala mengangguk, ia bangun dari duduknya dan berjalan ke depan. Sesaat kemudian Lala malah berjinjit dan mengecup sebelah pipi Dimas.

__ADS_1


Cup.


Dimas sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Lala, ia terdiam dan melihat wajah-wajah mahasiswa nya yang masih terdiam karena bingung.


"Lala!!!" seru Rika.


Glek.


Lala seketika tersadar, ia mengedarkan pandangannya karena ternyata ada banyak teman-teman nya yang melihat dirinya.


"Hehe," Lala tersenyum kecut, kemudian ia kembali memutar leher nya dan melihat Dimas.


Dimas hanya memasang wajah datar nya, seakan ia juga tengah bingung pada Lala. Namun, sebenarnya Dimas tengah menahan tawa melihat Lala yang kelepasan.


"Pak Dimas maaf ya," lirih Lala yang ingin sekali menangis, karena malu.


Dimas masih terdiam sambil melihat istrinya yang sangat lucu sekali, "Ikut ke ruangan saya!" titah Dimas dengan wajah dinginnya.


Dimas dan Lala keluar, meninggalkan mahasiswa yang masih bingung. Tapi ada juga yang malah tersenyum.


"Ya ampun Lala berani banget ya," kata Karin.


"Gue juga pengen," celetuk Nia.


"Gue pengen juga, sekali aja," tambah Maya.


Sedangkan Rika juga tersenyum geli, karena Lala yang kembali pada otak nya yang lelet, "Balik ke mode Lola kayaknya, emang kalau udah bucin ya," gumam Rika sambil terkekeh geli, "Kok gue jadi ingat Mas Sandy yang tampan ya, ish....apasih gue!" Rika mengetuk kepalanya karena malu saat menyadari kebodohannya.


Dimas dan Lala kini berada di ruangan dosen, ruangan khusus untuk Dimas, dan Lala seperti seorang anak yang ketahuan karena sehabis melakukan kejahatan. Ia berdiri sambil menunduk, sedangkan kedua tangannya saling meremas.


"Mau peluk?" goda Dimas.


Lala langsung mendongkak, ia sempat berpikir jika Dimas akan marah padanya karena ia tidak sopan. Namun, Dimas malah tersenyum padanya.


"Ayo," Dimas menggerak-gerakkan tangannya.


"Hehe....." Lala cepat-cepat memeluk Dimas dan menyembunyikan wajah malunya pada dada bidang Dimas.


"Tidak mau yang lain?" seloroh Dimas.


Lala hanya diam sambil berusaha menahan malu, barusan karena menatap kagum ia malah mengecup pipi Dimas. Apa lagi barusan Dimas berdehem dan artinya itu adalah kode, lalu dengan bodohnya ia mengecup Dimas. Bahkan di depan banyak nya mahasiswa.


"Ayo, yang sebelahnya tadi belum," goda Dimas lagi.


"Aa," rengek Lala semakin merasa malu.


"Abis itu bibir ya," tambah Dimas lagi.


"Aa!!!" seru Lala yang masih menyimpan wajahnya pada dada Dimas.


"Ahahahhaha......" Dimas tidak kuasa menahan tawa melihat tingkah istri bocahnya yang mendadak aneh.


*

__ADS_1


Temen-temen yang baik hati, tolong like dan Vote. Karena itu sangat berarti buat semangat Author nulis lagi ya, janji deh kalau kalian Vote Othor up lagi. Hehehe.


__ADS_2