Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 158


__ADS_3

Untuk meramaikan suasana, malam ini makan malam keluarga pun berlangsung dengan begitu bahagia. Merayakan kehamilan Rika, yang baru memasuki trimester pertama.


Semua begitu bahagia, tidak terkecuali Lala dan Dimas.


"Selamat, ya Rika, kamu udah mau jadi emak," kata Lala.


"Iya," jawab Rika sambil menangis, entah mengapa kini Rika lebih gampang menangis padahal tak ada yang bersedih, ataupun membuatnya bersedih.


Tanpaknya hormon kehamilan mampu mengobrak-abrik perasaannya dengan begitu mudahnya.


"Ahahahhaha," semua malah tak tahan melihat kelucuan Rika.


Sesaat semua hening, hanya fokus pada makanan mereka hingga terdengar suara Lala.


"Yah, kenapa nggak rujuk sama Ibu, sih?" Tanya Lala menatap Sarika padahal bertanya pada Atmaja.


Atmaja hanya diam sambil terus menikmati makan malam, pertanyaan itu terdengar aneh di telinga Atmaja mengingat usia sudah tak lagi muda.


"Bu, mau ya. Rujuk sama Ayah," lirih Lala lagi.


"Semuanya saya permisi," Atmaja langsung bangun dari duduknya, memilih pergi duluan karena, Lala sangat membuatnya merasa malu.


"Ayah," Lala langsung berlari mengejar Atmaja menuju lobi hotel, "Ayah nggak sayang sama Lala?" Mata Lala berkaca-kaca menatap Atmaja dengan memohon.


"Kamu apa, sih. Ini banyak orang-orang, ada mertua kamu juga!" Atmaja kini sudah sembuh total, hanya saja mereka masih tinggal bersama di kediaman Dimas.


Karena, Dimas tidak mengijinkan Atmaja kembali ke rumahnya.


"Kenapa?" Lala menatap ke arah lainnya, terlihat Sarika dan Zira yang sepertinya juga sudah ingin pulang.


Lala langsung mengejar Sarika dengan cepat, menahan wanita itu agar tidak pergi. Suasana berubah menenangkan.


"Ibu mau ke mana?"


"Ibu mau pulang."


Sarika datang karena, undangan keluarga Dimas yang merasakan kehamilan Rika. Tak menyangka sampai di sana malah Lala memintanya rujuk dengan Atmaja membuat suasana menjadi tidak nyaman.


"Ibu nggak boleh pulang, Ibu sama Ayah rujuk ya," Lala menangkup kedua tangannya memohon agar Sarika dan Atmaja mau rujuk.


"Bu?" Zira juga ingin kembali menjadi anak dari Atmaja dan setuju dengan keinginan Lala.


Merasakan keutuhan keluarga tentu saja membuat kebahagiaan yang sempat hilang kembali lagi seperti dulu.


Sarika menatap Atmaja dengan bingung, bagaimana bisa rujuk mungkinkah Atmaja mau menerima dirinya yang kotor.


"Ayah," Zira mendekati Atmaja dan memegang lengannya penuh harap.


"Ayah, mau ya," pinta Lala memeluk lengan Sarika.


"Ibu mau, rujuk dengan Ayah. Tapi, Ayah apa masih mau menerima Ibu? Ibu ini jahat, bahkan sudah berhiyanat," terang Sarika.

__ADS_1


"Kita rujuk," kata Atmaja.


Lala tersenyum begitu juga dengan Zira, keduanya begitu bahagia bisa merasakan keluarga yang utuh kembali.


_____________________________


Dua hari kemudian Atmaja dan Sarika menikah kembali, menjadi suami istri dengan bahagia.


Keduanya kembali ke rumah yang dulu mereka tempati, memulai segalanya dari awal dengan penuh kasih sayang.


"Ya ampun, anak-anak itu," Sarika mengusap wajahnya beberapa kali menatap kamarnya dan Atmaja dihiasi bunga-bunga begitu indah.


Rasanya di usia yang sudah cukup tua ini sudah sangat memalukan sekali mendapatkan kejutan berupa kamar pengantin yang indah.


"Ini Lala sama Zira yang menghias lho, Bu," kata Lala sambil tersenyum.


"Iya, kan. Kamar manten baru!" Celetuk Zira.


"Ahahahhaha........" keduanya tertawaan terbahak-bahak melihat wajah Atmaja dan Sarika yang memerah.


"Masuk dong," Lala menarik Atmaja dan Sarika masuk, kemudian berpamitan keluar.


"Yuk, Kak, Lala. Kamu mau jadi nyamuk di sini?" Seloroh Zira.


"Jangan lupa pintunya di kunci," ejek Lala.


"Lala!!!!" Teriak Sarika.


Lala dan Zira sudah hapal seperti apa Sarika, mulut cerewet itu selalu mengomel jika ada kesalahan sedikit saja yang mereka lakukan. Tetapi, percayalah Sarika berhati baik dan tulis menyayangi Lala.


"Kamu tidak berubah," Atmaja terkekeh melihat wajah Sarika yang tengah marah.


Sarika mengusap wajahnya, merasa begitu malu.


"Hehehe," Sarika tertawa kecil tak menyangka bisa secanggung ini saat bersama Atmaja, padahal keduanya pernah hidup bersama selama bertahun lamanya.


"Sini," Atmaja menepuk ranjang kosong di sampingnya.


"Ngapain?" Tanya Sarika dengan bodohnya.


"Istirahat, memangnya mau ngapain?" Ejek Atmaja.


Ingin sekali Sarika menampar wajah Atmaja, mengejek dirinya habis-habisan. Lihat saja saat ini Atmaja tengah tersenyum mengejek dirinya.


"Ayo kemari, bikin adik buat Zira mungkin," seloroh Atmaja.


"Mas, apa, sih. Udah tua juga!"


Sarika langsung menuju kamar mandi dan mengganti baju kebaya nya dengan daster tidur seperti biasanya.


Tapi saat keluar dari kamar mandi Sarika terkejut melihat Atmaja sudah menunggu di depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Ayah, sudah tua tapi masih hebat kok Bu," goda Atmaja.


Wajah Sarika kembali memerah tak menyangka Atmaja masih pandai menggoda dirinya.


"Mas apasih!"


"Mukanya merah, ayo Bu."


Sarika mengangguk dengan wajah memerah.


Ahhh ahhhh ahhh uhhhh uhhhh.


________________


Pagi harinya Atmaja dan Sarika bangun, keduanya segera menuju meja makan. Tetapi ternyata di meja makan sudah ada Lala, Dimas dan Zira yang menunggu.


"Cie manten baru," goda Lala.


"Seger amat ya," celetuk Zira.


Ingin sekali Sarika menarik hidung kedua anaknya itu. Tetapi urung sebab, ada Dimas juga di sana.


Hingga hanya diam dan langsung duduk di kursi meja makan.


"Gimana Bu?" Tanya Lala tiba-tiba.


"Apanya yang gimana?" Tanya Sarika bingung sambil menikmati sarapan pagi nya.


"Itu, lho," Lala cengengesan tak jelas sambil berusaha memberikan kode.


"Tidak jelas!" Kesal Sarika.


"Ibu sama Ayah semalam pasti nyanyi lagu, Yang ini kan," Zira berdiri dan langsung mempraktikkan, "pertemuan yang ku impikan kini jadi kenyataan-"


"Bukan Oon," Lala ikut berdiri memotong kalimat Zira yang belum selesai, "tapi gini," Lala pun bersiap mempraktekkan, "tatapan mu, senyuman mu, tiada pernah aku lupakan........"


"Suara mu, bisikan mu merdu merayu menggoda, hey....." lanjut Zira dengan cepat dan suara melenting.


Dimas sampai menutup telinga, tak kuasa mendengar.


"Kalian berdua apa, sih!" Kesal Sarika yang sudah tidak tahan menerima godaan dari Lala dan Zira, "sekarang, sarapan atau Ibu nggak ikut sarapan sama kalian!" Ancam Sarika.


"Iya, iya," terpaksa Lala dan Zira diam, keduanya mulai memakan sarapan tanpa menggoda Sarika dan Atmaja lagi seperti sebelumnya.


Lengkap sudah keluarga, Atmaja dengan kebahagiaan yang begitu berlimpah seiring dengan kehadiran anggota keluarga baru yang di beri nama Dira.


Apa lagi Sarika dan Atmaja sudah rujuk kembali seakan semakin menambah keharmonisan keluarga yang tiada duanya.


Lala pun kini sudah mendapatkan kebahagiaan yang sempat retak, kebahagiaan yang sudah lama hilang seiring dengan masalah yang ada.


Semoga kedepannya pun tetap menjadi bahagia tanpa ada duka seperti hari-hari sebelumnya yang sangat menyakitkan, menusuk, menikam dada.

__ADS_1


__ADS_2