
"Assalamualaikum."
Bunda Jihan seketika melihat siapa yang datang.
"Waalaikumusalam Jeng Yeni, ayo duduk."
Bunda Jihan menyambut kedatangan calon besannya dengan senyuman, kemudian menuntunnya duduk di kursi meja makan.
"Lala, Dimas, ayo duduk."
Tidak lupa juga Bunda Jihan mempersilahkan Dimas dan Lala.
"Terima kasih Bunda," Lala langsung duduk dan menatap banyak makanan.
Seketika itu Lala merasa lapar, perutnya sudah berdemo minta di isi segera, padahal waktu berbuka puasa sudah tinggal hitungan menit.
Bunda Jihan tahu Lala sudah tidak sabar mencicipi makanan yang ia masak sendiri dan menganggap wajar, mengingat kini Lala tengah berbadan dua.
"Kalau mau makan duluan, makan saja. Tidak baik menahan."
Lala tersenyum kecut, karena malu.
"Itu wajar, Bunda juga dulu begitu."
Lala mengangguk dan matanya mulai mencari seseorang.
"Bunda, Rika di mana?"
"Tidur."
"Di mana Bunda?"
"Di kamar Sandy."
Tatapan tajam langsung di layangkan Dimas pada Sandy, keduanya duduk saling berhadapan.
Sandy tersenyum dan terlihat santai saja.
"Kok di kamar Sandy Bunda?"
"Udah ngantuk banget kayaknya dia."
Lala mengangguk mengerti.
"Assalamualaikum."
Mentari dan Arka juga tiba, keduanya tersenyum bahagia saat melihat semua sudah berkumpul kecuali Rika.
"Waalaikumusalam."
"Ayo duduk."
Mentari tersenyum dan perlahan duduk di samping Arka.
"Kamu puasa Mentari?"
"Enggak Bun, kemarin sempat puasa. Tapi si kecil diare jadi-" Mentari mengangkat bahunya dan merasa malu.
"Tidak apa, itu biasa," kata Bunda Jihan.
"Mama juga dulu begitu, mau bagaimana lagi," Mama Yeni ikut menimpali.
Mentari melihat Lala yang aneh, matanya tidak pernah lepas dari makanan.
"La, kamu kenapa?"
"Aku kenapa?" Tanya nya bingung.
"Kamu juga enggak puasa kan?" Tebak Mentari.
Lala sudah beberapa hari ini berpuasa, merasa tidak ada yang harus di khawatirkan ia tetap melanjutkan walaupun Dimas sudah tidak mengijinkan dirinya berpuasa mengingat usia kandungannya cukup muda.
"Sayang, kamu enggak ikut puasa kan?" Dimas menimpali karena Lala hanya diam.
__ADS_1
Lala mengangguk lemah, "Lala puasa Aa, kan Lala sehat dan baik-baik saja," jawab Lala dengan yakin.
Dimas mendesus karena istrinya sangat keras kepala.
"Ayo makan sekarang!" Titah Dimas.
"Tinggal 20 menit lagi Aa," tolak Lala.
Dimas memilih diam dan tidak ingin berdebat dengan istri bocahnya saat ini tetapi, saat sampai di rumah sudah pasti Dimas akan membicarakan ini semua.
"Rika di mana?"
"Di sini!"
Rika berjalan ke arah meja makan, di mana semua anggota keluarga sudah duduk dengan manis.
Semua seketika menatap Rika.
"Kamu ngantuk banget kayaknya?"
"He'um, aku capek banget," Rika perlahan menarik kursi meja makan dan duduk di samping Dimas.
"Kau sedang sakit? Wajah mu lelah sekali!" Dimas memegang dahi Rika tetapi suhu tubuhnya stabil.
"Enggak Kak, Rika lagi capek aja," Rika langsung menelungkupkan kepala nya pada meja.
Waktu berbuka puasa tiba.
Semua mulai menikmati hidangan berbuka puasa dengan begitu menikmati, tidak terkecuali Lala.
"Sayang, makannya hati-hati."
"Hehehe."
Lala sudah sangat lapar, seketika ia membuang rasa malunya lalu makan dengan sebanyak-banyaknya.
"Lala, kalau kamu tidak kuat puasa sebaiknya tidak usah. Tidak baik memaksanya."
Selesai menikmati hidangan berbuka puasa di lanjutkan dengan sholat Maghrib berjamaah, Dimas ingin sekali menguji Sandy.
Tetapi karena Sandy masih belum pulih akhirnya Dimas memutuskan dirinya yang menjadi imam.
Akan tetapi, setelah Sandy pulih Dimas tidak akan melewatkan untuk seleksi selanjutnya. Mengingat adiknya sangat malas beribadah jadi, Dimas harus mencari lelaki yang siap membimbing adiknya sampai surga.
Selesai sholat Maghrib kembali duduk di ruang keluarga, berbincang hangat dengan sesekali saling melempar candaan.
"Masakan Bunda barusan enak banget," kata Mentari.
"Terima kasih, sering-sering lah berbuka puasa di rumah Bunda."
"Hehehe....makan doang mah gampang Bunda," celetuk Mentari hingga mengundang gelak tawa.
"Rika kamu kok diam saja," Bunda Jihan beralih menatap Rika yang duduk di samping Sandy.
Kali ini dengan terpaksa Rika duduk di samping Sandy, karena hanya tinggal itu tempat duduk yang tersisa untuk nya.
"Rika ngantuk Bunda," Rika menyandarkan tubuhnya dengan mata susah payahnya untuk di buka.
Wajar.
Bunda Jihan sangat mengerti, seketika ia menatap anaknya dengan tajam.
Mungkin setelah yang lain pulang ia akan menghajar Sandy, mengingat Rika selalu memiliki pekerjaan.
Mulai dari menyuapi makan, minum, sampai memijat.
"Ya sudah kamu tidur saja."
"Tidur di kamar Sandy!" Tambah Lala dengan geli.
"Em, bobo cakep sama ayang," Tambah Mentari menggoda Rika.
Rika kehilangan kantuknya, seketika itu juga ia merasa susah untuk menutup mata.
__ADS_1
Takut jika yang lain berpikir aneh-aneh tentang dirinya dan Sandy.
"Apaan sih!!!" Rika mendesus kesal.
"Em, hati-hati ya.....jangan sampai udah takbir duluan. Padahal lebaran masih beberapa hari lagi," ujar Mentari.
"Takbir dadakan kah?" Seloroh Lala sambil tertawa.
"Kalian ngomongin apasih?"
Rika sangat tidak mengerti dengan pembahasan Mentari dan Lala, bahkan ia sampai bingung dan cukup penasaran.
"Ya itu, takbir lebih awal."
"Apasih, mana ada takbir lebih awal. Takbir itu di hari raya," jelas Rika dengan polosnya.
"Mmmmfffffpp....." Lala menahan tawa melihat wajah bingung Rika.
"Ahahahhaha......." Mentari tidak lagi sanggup menahan tawa ia malahan tertawa paling kencang.
"Sabariah!" Arka memperingati istrinya untuk tidak tertawa berlebihan.
Mentari terpaksa menghentikan tawanya, menatap wajah-wajah yang juga tidak kalah bingung menatap nya.
"Kamu bingung?"
"Iya!"
Lala dan Mentari mengusir Sandy yang duduk di samping Rika.
Walaupun kesal tetapi Sandy harus menerima, dengan terpaksa duduk di samping Dimas.
Rika kini berada di tengah-tengah antara Mentari dan Lala.
"Apaan sih?!"
"Sini."
Mentari dan Lala seketika mendekatkan kepala mereka, agar lebih mudah berbisik mengenai hal penting.
"Takbir sebelum lebaran itu adalah," Lala terdiam menatap Mentari.
"Maksudnya, tabrak bibir," lanjut Mentari dengan nada yang pelan dan di pastikan hanya ketiganya yang mendengar.
Glek!
Rika seketika menyandarkan tubuhnya, ke sofa.
"Dasar Kakak Ipar edan!" Gerutu Rika menatap Lala, "sahabat enggak ada akhlak!" Tambah Rika beralih menatap Mentari.
"Hayo!!!" Lala dan Mentari berseru bersamaan hingga membuat wajah Rika memerah.
"Enak aja! Enggak ada ya!"
"Aku enggak percaya, masa iya dua-duaan enggak ada!"
"Tari apa sih!"
"Ehem-ehem....." ejek Lala juga.
"Tanya sama Mas Sandy, Mas kita-" mulut Rika langsung di bekap oleh Lala.
Mentari mulai berbisik.
"Kenapa mendadak lu yang bego! Biasanya yang telmi itukan Kakak ipar lu Lala."
Rika tersadar dan membenarkan yang dikatakan oleh Mentari.
Seketika Rika menggaruk kepalanya.
"Iya, ya." Rika lagi-lagi mengangguk lemah menyadari keanehan nya.
Ah, cinta memang gila. Bahkan orang waras pun bisa terperdaya dengan mudahnya.
__ADS_1