Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 118


__ADS_3

Keesokan harinya.


Hari ini Sandy sudah di bawa pulang ke rumah, mulai hari ini ia akan di rawat di rumah saja.


Sekalipun luka bekas operasi masih ada tetapi keadaan nya sudah lebih baik.


"Rika di mana Tante?" Tanya Sandy.


Sudah pukul 13:00 tetapi sampai saat ini belum juga sampai di rumah sakit membuat Sandy seketika bingung dan bertanya-tanya.


"Tadi masih tidur, semalam dia pulang dari rumah sakit udah larut banget."


"Maaf ya Tante, semalam itu sebenarnya Rika sudah minta pulang. Sandy yang enggak ijinin sampai akhirnya dia menangis dan mengatakan takut di amuk Dimas barulah saya ijinkan pulang. Sekali lagi maaf Tante."


"Iya sudah tidak apa, tapi lain waktu tolong jangan begitu ya, mengingat kalian berdua belum menikah."


Sandy mengangguk mengerti dan merasa tidak enak hati, ada rasa bahagia yang tidak dapat di lukisan mengingat dulu hubungan antara keduanya sangat di tentang keras.


Sehingga saat mendapatkan restu membuat Sandy lupa waktu.


"Tante, Sandy boleh nikahin Rika secepat mungkin?" Tanya Sandy dengan hati-hati.


Rika seketika mematung, baru saja kakinya menginjak ambang pintu tetapi, sudah mendengar pertanyaan Sandy yang begitu menegangkan.


Dimas yang berdiri di belakang tubuh Rika juga mendengar jelas pertanyaan Sandy.


"Tidak!"


Suara Dimas menyadarkan Mama Yeni dan Sandy, keduanya bersama menatap Dimas.


Dimas berjalan masuk dan berdiri di dekat ranjang Sandy.


"Selesaikan dulu kuliah nya, setelah itu baru menikah. Itupun kalau tidak berpindah ke lain hati," papar Dimas.


Sial!


Sandy seakan tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Dimas.


Malahan Sandy semakin takut jika menunggu sampai kuliah Rika selesai.


Takut bila Rika malah berpindah hati pada lelaki lain.


Mungkin saat ini Sandy diam tetapi pasti ada cara untuk nya memiliki Rika lebih cepat dari waktu yang diberikan oleh Dimas.


"Kamu setuju menikah setelah selesai kuliah?" Tanya Sandy menatap Rika.


Degh!


Apa yang bisa di jawab oleh Rika, tidak tahu harus bagaimana ia hanya tersenyum kecut.


"Dia saja setuju," kata Sandy menyimpulkan senyum Rika.


"Enggak! Mas sok tahu banget sih," pekik Rika, "Rika ngikut apa yang di bilang Kak Dimas aja!" lanjut Rika lagi.

__ADS_1


Rika takut Dimas seperti dulu padanya, dan Rika sadar apapun yang dilakukan oleh Kakaknya pasti yang terbaik.


Dimas tersenyum penuh kemenangan, melihat wajah frustasi Sandy.


"Sudah-sudah, jangan lagi ribut. Ingat, bulan puasa," Mama Yeni berusaha menengahi.


"Ingat itu Sandy, bulan puasa! Cuman setan yang tidak puasa!"


Sandy merasa tersinggung sebab, Dimas menyindir dirinya.


"Sialan lu!"


***


Sampai di rumah Sandy duduk di kamar nya bersama dengan Rika yang menemaninya, pintu kamar terbuka dengan lebarnya agar tidak ada yang berpikir bahwa keduanya melakukan sesuatu.


"Mas mau makan sekarang atau nanti?"


Rika begitu cekatan mengurus setiap kebutuhan Sandy, mengingat ia punya tanggung jawab sampai Sandy sembuh.


Dan aneh nya seperti tidak ada perubahan sama sekali, kadang Rika juga bingung apa mungkin luka Sandy sulit untuk sembuh. Rasanya tidak mungkin.


Sudah sepuluh hari berlalu pasca operasi tetapi, Sandy masih saja seperti itu. Malahan seakan semakin menjadi-jadi. Hingga Rika bertanya-tanya dalam hati.


"Mas, kok Rika perhatiin kayaknya Mas banyak maunya mulu! Apa-apa saja harus Rika, ambil minum saja harus Rika!" Omel Rika dengan mulut yang komat-kamit karena kesal pada Sandy.


"Kamu tidak ikhlas?"


"Bukan tidak ikhlas Mas tapi, aneh. Apa iya Mas tidak sembuh-sembuh."


"Mas apasih!"


Rika takut jika Sandy sudah menyebutkan kata Dimas, karena Dimas sudah mengatakan bahwa harus merawat Sandy sampai sembuh.


"Makanya diem, buatkan Mas jus," pinta Sandy.


Sandy tersenyum penuh kemenangan, jika orang lain sakit dan yang merawat adalah kekasihnya sendiri pasti akan cepat sembuh.


Tetapi, berbeda dengan Sandy.


Sandy lebih memilih berlama-lama sakit agar Rika terus menemaninya, bahkan setiap hari Rika bersama nya hanya malam hari keduanya tidak bersama.


"Mas, Rika puasa, capek banget serius," Rika langsung merebahkan dirinya pada sofa, mungkin tidur sejenak bisa membuat lelahnya berkurang.


Sandy tidak lagi memerintah Rika, melihat wajah kekasihnya sudah cukup lelah. Bahkan Sandy tersenyum melihat wajah Rika yang mulai terlelap.


Sandy segera keluar dari kamarnya, menarik pintu hingga tertutup rapat meninggalkan Rika yang sudah tertidur pulas.


Tidak ingin khilaf Sandy lebih memilih keluar dari dalam kamar.


"Sandy, Rika di mana?" Tanya Bunda Jihan.


Sandy menarik kursi meja makan dan perlahan duduk.

__ADS_1


"Kalau sendiri begini kamu bisa apa-apa sendiri ya, kalau ada Rika semua kamu tidak bisa."


"Bunda apasih," Sandy berusaha berdalih, padahal memang benar begitu adanya.


"Rika di mana?"


"Di kamar, tidur. Mukanya capek banget."


"Wajar, dia puasa. Tetapi, kamu tidak ada otak terus memerintah tidak pikir!" Omel Bunda Jihan.


Bunda Jihan menyusun menu berbuka puasa di atas meja makan, sesaat kemudian ia berdiri dengan kedua tangannya masih berada di atas meja.


"Bunda perhatikan kamu sama sekali tidak ada perubahan! Atau?" Bunda Jihan menatap putranya dengan penuh intimidasi.


"Bunda sok tahu," Sandy terkekeh karena tebakan Bunda Jihan benar.


"Nah kan!" Bunda Jihan tersenyum penuh kemenangan saat tahu taktik putranya yang mengambil keuntungan dari setiap kesempatan.


"Bunda, bisa enggak ngomong ke Dimas buat nikahin Sandy sama Rika?"


Bunda Jihan merasa pembicaraan Sandy cukup serius, seketika ia menarik kursi lalu duduk sambil menatap Sandy dengan serius.


"Sandy sama Rika tiap hari ketemu, sekarang aja dia ada di kamar Sandy. Apa Bunda enggak takut kami khilaf?" Tanya Sandy.


Bunda Jihan mengangguk mengerti.


"Kami? Kamu khilaf baru benar!"


"Hehehe," Sandy terkekeh sambil menggaruk tengkuknya.


"Tapi ini bulan puasa!"


"Justru itu Bunda, Sandy ini lelaki normal!"


Bunda Jihan terdiam menimbang permintaan Sandy.


"Ah, kamu harus bisa Sandy. Dimas itu sangat menyayangi adiknya, tolong kamu jangan merusak kepercayaan nya. Mengingat kamu itu suka bergonta-ganti wanita! Jangankan Dimas, Bunda saja kesal!"


Bunda Jihan menatap Sandy dengan geram, mengingat sebelum mengenal Rika, Sandy sama bajingan nya dengan Ayahnya.


"Kami sedang di uji oleh Dimas jadi, jalani ujian mu ini!" Tegas Bunda Jihan.


"Ini ujian sangat menyiksa," gumam Sandy tanpa di dengar oleh Bunda Jihan.


"Kamu ingin dia jadi milik mu, kamu harus bisa jadi yang terbaik!" Tambah Bunda Jihan.


"Terus gimana, setiap hari kami berduaan di dalam kamar?"


"Itu sih mau-mau nya kamu saja, di ruang keluarga kan bisa. Kamu yang maunya di kamar selalu!"


Sandy mendesus kesal, otaknya harus mendapatkan ide agar dalam waktu dekat ini bisa menikahi Rika.


***

__ADS_1


Terharu banget, makasih buat Kakak tercinta yang udah kasih like dan Vote. Kalian benar-benar penyemangat ku untuk menulis


__ADS_2