
Buat pembaca yang baik hati, tolong Vote ya udah mulai enggak semangat up nih.
Happy reading.
***
Rika terbangun, kepalanya terasa begitu berat dengan badan yang terasa sakit, bahkan terasa remuk.
Seketika itu juga ia tersadar kini dirinya ada di sebuah kamar hotel, tapi siapa yang membawanya ke sana.
Terakhir kali Rika mengingat ia berada di kelap malam namun, pagi ini ia malah berada di kamar hotel.
Perlahan Rika bangun dan memijat kepalanya yang terasa pusing, terlalu banyak minum membuatnya menjadi hilang akal sehat.
"Apa Dino yang bawa aku ke sini?" Rika mulai merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku, kemudian matanya melihat dirinya tanpa sehelai benang pun dan hanya tertutup selimut putih.
Apa yang terjadi semalam?
Rika menatap pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Enggak mungkinkan Dino?" Rika berusaha mengingat apa yang terjadi malam tadi, tapi ia tidak mengingingat apa-apa.
Pikiran Rika saat ini Dino yang sudah melakukan hal buruk itu padanya, seketika Rika mengingat wajah Sandy.
Sandy saja belum pernah menyentuhnya lalu, apa yang akan di katakan nya jika Sandy tahu ini semua.
Kepala Rika terasa pusing, mimisan mulai datang, Rika menarik beberapa helai tisu untuk menghentikan darah yang terus menerus keluar.
Setelah lebih baik ia turun dari ranjang dan memakai pakaiannya, pakaian kotornya sendiri bahkan muntahannya sudah kering.
Sebenarnya Rika tidak ingin memakainya akan tetapi, dari pada tidak memakai apa-apa pilihan terbaik adalah memakai pakaian kotor yang cukup membuatnya merasa jijik.
"Sakit banget ya," Rika meresapi rasa sakit pada bagian inti tubuhnya, rasa sakit bercampur takut bercampur menjadi satu.
Dengan cepat ia memakai sepatu dan keluar dari kamar secepat mungkin.
Dengan rambut kusut, dan tisu di tangannya Rika berjalan keluar, memberhentikan sebuah taxi dan naik dengan cepat.
Setelah sampai di alamat tujuan Rika segera turun dari taxi.
__ADS_1
"Pak, tunggu sebentar ya, saya ambil uangnya dulu," Rika ingin masuk ke dalam apartemen Dino, tapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya.
"Rika," Dino segera keluar dari dalam mobilnya, melihat tubuh Rika yang sudah acak-acakan membuat tanda tanya besar.
"Mbak, saya buru-buru," ujar supir taxi.
Dino segera mengambil dompetnya dan memberikan bayaran taxi untuk Rika, ia tahu sahabatnya itu sedang tidak memegang uang sepeserpun karena tas milik Rika masih berada di dalam mobilnya.
"Dino, sebenarnya semalam aku kenapa?!" Seru Rika panik.
Dino menatap sekiranya, ada banyak orang yang berlalu lalang.
"Kita masuk ke apartemen aku dulu," Dino segera membawa Rika untuk masuk kedalam apartemen miliknya.
Kemudian meminta Rika untuk duduk di sofa, Dino tidak dapat menahan bibirnya untuk tidak bertanya.
"Rika, kamu kenapa acak-acakan begini?"
"Dino, sebenarnya semalam apa yang terjadi, apa kamu yang bawa aku ke hotel?" Seru Rika sambil terus berlinang air mata.
"Hotel?" Dino shock bukan kepalang, bukankah pria semalam mengaku sebagai suami Rika lantas mengapa membawanya ke hotel.
"Tunggu-tunggu, kamu mau bilang kalau mau di tidurin orang?!" Tanya Dino dengan jelas.
Rika mengangguk sambil terus menangis, sakit di tubuhnya masih sangat terasa kini di tambah lagi dengan sakit lainnya.
"Tapi dia bilang kalau kamu istrinya," jelas Dino.
Dino tidak mungkin melepaskan Rika begitu saja, setelah pria yang mengaku sebagai suami Rika menunjukkan beberapa bukti barulah Dino memberikan Rika.
"Suami?" Rika terdiam sejenak mendengar kata suami yang di ucapkan oleh Dino.
"Rika, sebenarnya kamu udah nikah atau belum?"
"U-udah," jawab Rika dengan suara bergetar, jika memang Sandy yang bersamanya kenapa malah membawanya ke hotel dan bukan ke rumah lalu, di mana Sandy saat ia membuka mata pagi tadi.
"Terus, kalau dia suami kamu kenapa kamu begini?"
"Aku enggak tahu Dino, pagi tadi pas aku bangun aku udah-" Rika menangis sejadi-jadinya meluapkan rasa benci kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Dino pun mulai bingung dan takut, bagaimana jika pria semalam bukan suami Rika.
"Aku punya kartu namanya," Dino mencoba mencari nya, "di mana ya?" Dino pun lupa dimana meletakan kartu nama itu, mungkin terlalu panik memikirkan keadaan Rika.
"Mana?"
"Aku nggak tahu, semalam aku enggak bisa tidur mikirin kamu."
"Dino, enggak mungkinkan kalau suami aku yang semalam bawa aku? Kalau iya apa mungkin dia bawa aku ke hotel, paginya juga dia enggak ada di samping aku," kata Rika dengan penuh luka.
Dino menyandarkan tubuhnya menyesal sejadi-jadinya melepaskan Rika pada lelaki yang mengaku sebagai suami sahabatnya itu.
"Suami aku aja belum pernah sentuh aku, tapi-" Rika benar-benar takut jika Sandy tahu akan hal ini.
Dino semakin shock mendengar penjelasan Rika, apa yang akan terjadi pada Rika setelah ini.
"Kamu mandi dulu ya, bersihkan badan kamu, aku punya baju Kakak aku di kamarnya," kata Dino.
"Dino, gimana aku bisa membersihkan badan aku, aku udah kotor," seru Rika sambil menangis tersedu-sedu, "aku manusia paling hina Dino," sesal tinggal sesai andai semalam ia menurut saat Dino mengatakan tidak, pasti hari ini tidak akan terjadi.
"Aku minta maaf, aku salah Rika," Dino pun menyesal.
"Tapi, enggak papa Dino, pasti aku langsung di ceraikan kalau dia tahu aku usah kotor," tiba-tiba saja Rika merasa mendapatkan ide yang cemerlang untuk bisa berpisah dari Sandy.
"Rika, jangan gila ya, masa iya kamu mau pisah sama suami kamu!"
"Aku ini enggak ada gunanya, pertama dia menyelamatkan aku waktu hampir terbawa ombak, kedua, dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan nyawa aku, bahkan masih ada bekas peluru di perutnya, sekarang aku penyakitan bahkan aku enggak tahu entah siapa yang udah tidur dengan aku semalam."
Rika merasa dirinya hanya benalu, percuma Sandy bersamanya jika tidak pernah bahagia.
Rika juga ingin melihat Sandy bahagia, sekalipun tanpa dirinya.
"Kalau dia sama aku terus masalah nya nggak akan selesai, aku enggak akan bisa ngajak dia terus-menerus berada dalam masalah, dia juga harus bahagia, kan," kata Rika lagi dengan bibir yang terus bergetar.
"Kamu mandi sekarang, mimisan kamu enggak akan berhenti kalau enggak ke rumah sakit, kamu bangun sekarang mandi, kalau enggak aku bakalan bilang ke Lala tentang keberadaan kamu sekarang!" Ancam Dino.
Dino tidak sanggup melihat keadaan Rika, terserah jika Rika menilainya buruk, tapi saat ini Rika harus segera di hawa ke dokter.
"Kepala aku sakit banget, aku udah nggak kuat."
__ADS_1