
Keesokan harinya.
Sandy menggenggam erat tangan Rika sebelum akhirnya akan masuk ke ruang operasi.
Setelah tes uji DNA dan ke cocok akhirnya Rika sampai di titik ini, berjuang di meja operasi dengan segala konsekuensinya.
"Jangan lemah, Mas di sini menunggu mu," berulangkali Sandy mengecup dahi Rika, memberikan semangat tanpa henti.
Rika tersenyum bahagia, bertapa kagum akan Sandy begitu mencintainya.
"Mas, kalau ternyata operasi nya gagal-"
Sandy menutup mulut Rika dengan telapak tangannya.
"Semua akan baik-baik saja, kamu harus yakin."
Rika mengangguk.
"Rika, Mama sayang sama kamu," Mama Yeni ingin sekali menangis menjerit.
Andai saja Rika putri kandungnya saat ini ialah yang menjadi pendorong untuk anaknya, tapi sayang kenyataan mengatakan Rika anak suaminya dengan wanita lain.
"Ma, jangan nangis dong, Rika bakalan baik-baik aja," Rika mengusap wajah Mama Yeni sampai beberapa kali.
"Anak Papa kuat," Adithama mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Pa, peluk Mama ya, biar Rika semangat," pinta Rika penuh harap.
"Rika, Mama malu, ada Lala, Sandy suami kamu, kami sudah tua," Mama Yeni ingin mengelabui putrinya, sebenarnya ia sudah tidak ingin lagi bersentuhan dengan suaminya Adithama, setelah operasi selesai akan menggugat cerai suaminya dan memberikan sepenuhnya untuk dimiliki oleh Anisa.
"Lala, Mas Sandy tutup mata, atau balik badan," idenya saat ini terdengar konyol tapi Rika ingin kedua orang tuanya tetap menjadi satu, tahu bahwa masih ada cinta di antara keduanya.
"Rika, kamu apasih!" Tolak Mama Yeni.
"Ma," rengek Rika, "atau Rika batal aja operasi!"
"Apasih Dek!"
"Cepetan!"
Aditama memeluk Yeni dengan cepat agar tak ada keterangan mengingat keadaan putrinya jauh lebih penting.
"Cium!"
Adithama mencium kening Mama Yeni, kali ini terpaksa menurut saja demi Rika, Mama Yeni diam menerimanya.
"Di bibir kali Pa, kayak Mas Sandy cium Rika!" Seloroh Rika.
Wajah Sandy memerah, bertapa polosnya istri bocahnya itu mengatakan hal tabu tersebut.
"Ayo dong, masa udah suami istri malu, dulu aja Rika sebelum nikah di cium terus di bibir sama Mas Sandy."
__ADS_1
Blush.
Sandy semakin kehilangan harga dirinya, suasana serius berubah menjadi mengerikan bercampur menjengkelkan karena, kepolosan Rika.
"Sialan lu San!" Dimas menepuk pundak Sandy dengan perasaan campur aduk, antara kesal, benci tapi, sedikit lucu juga.
Sandy menggaruk kepalanya merasa malu, sambil berdoa semoga mulut Rika tidak lagi mengatakan hal lainnya.
"Dokter Sandy, operasi harus segera dilakukan," Dokter Miranda berdiri di samping Sandy.
Sandy mengangguk, beberapa saat kemudian kembali mendekati Rika.
"Sayang, kamu harus semangat."
"Doa, in Rika ya Ma, Pa."
"Ya sayang," Adithama kembali mencium dahi Rika sebelum akhirnya Rika menghilang masuk ke ruang operasi.
Seketika itu pintu ditutup.
Semua duduk di kursi tunggu dengan perasaan was-was, takut kemungkinan terburuk terjadi.
Sebenarnya Sandy meminta masuk menyaksikan proses operasi berlangsung, tapi Dokter Miranda tidak mengijinkan menimbang Sandy sedang panik dan bisa membuat konsentrasi dokter rusak.
Akhirnya dengan berat hati Sandy menurut menunggu di kursi tunggu.
***
Beberapa jam kemudian operasi selesai dan semuanya di nyatakan baik-baik saja sekalipun Rika belum sadarkan diri.
"Ma," bibir Rika berucap dalam tidak sadar pun memanggil Mama Yeni.
"Rika, kamu udah sadar," Mama Yeni mendekati anaknya, tersebut penuh bahagia.
Meskipun pandangan mata nya masih buram tapi Rika masih mencoba untuk sadar. Sekalipun bukan terlahir dari rahimnya tapi keduanya saling membutuhkan hingga tak bisa untuk di pisahkan.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu.
Dino seketika masuk dan mendekati Mama Yeni.
"Tante, Ibu minta ngasih ini ke Tante," Dino memberikan dua buah amplop coklat pada Mama Yeni.
"Ini apa?"
Tidak ada alasan untuk membenci Dino, sekalipun adalah anak Adithama bersama wanita lain tapi, Dino tidak bersalah, tidak pantas mendapatkan kebencian dan nya.
"Ibu, minta Dino kasih ke Tante, Ibu udah sadar," kata Dino lagi.
Yeni mengangguk perlahan ia mengambil dua amplop yang di berikan Dino.
__ADS_1
"Dino permisi Tante," segera Dino pergi setelah memastikan bahwa surat sampai di tangan Mama Yeni.
Semua mata menatapnya, tidak memungkiri penasaran akan isi dua amplop tersebut.
Mama Yeni berpindah duduk ke sofa dan membuka salah satunya terlebih dahulu, sebuah surat cerai.
Tapi bukan namanya di sana melainkan nama Anisa, artinya Anisa mengajukan permohonan cerai dan membutuhkan tanda tangan Adithama.
Kemudian Yeni cepat-cepat membuka amplop kedua, terlihat tulisan tangan yang begitu tapi.
Teruntuk Wanita yang aku sakiti.
Mbak Yeni, aku minta maaf sudah menyakiti, merebutnya dari mu, hari ini aku mengembalikan nya kembali karena, dia milik mu. Begitu juga dengan Rika putri ku, putri mu dan kini dia menjadi milik mu sepenuhnya. Aku tidak akan mengambilnya dari mu, aku sudah ikhlas memberikan nya untuk mu.
Anisa-
Mama Yeni tidak percaya tentang ini semua, ternyata Anisa masih memiliki hati nurani.
Segera ia menuju ruangan Anisa untuk bertemu dan berbicara.
Tapi sayang ternyata Anisa sudah dipindahkan ke rumah sakit lainnya.
"Sus, bisa minta alamat rumah sakit nya?" Pinta Mama Yeni penuh harap.
"Maaf Bu, tapi ini sudah menjadi rahasia, dan kami tidak bisa membocorkan data pasien, apa lagi ini permintaan pasien sendiri," jawab perawat.
"Tapi saya mohon."
"Sekali lagi maaf Bu." Sorot wajah perawat itu pun terlihat penuh penyesalan mengharapkan Mama Yeni mengerti akan posisinya juga.
"Siapa yang membuat peraturan itu?" Terdengar suara Sandy yang berdiri dibelakang tubuh Mana Yeni.
"Dokter, ibu ini meminta data pasien dan pasien minta di tutupi-"
"Berikan!"
"Ba-baik Dok....."
"Sandy, Mama titip Rika dulu ya Nak. Mama harus bertemu Nisa dan mengucapkan terima kasih," Mama Yeni memegang lengan Sandy dengan pandangan mata berkaca-kaca.
"Hati-hati Ma."
Mama Yeni segera pergi, menuju rumah sakit di mana kini Nisa di pindahkan.
Bukan karena Anisa menceraikan Adithama, melainkan karena, Anisa memberikan Rika sepenuhnya pada dirinya.
Sampai di rumah sakit tujuan Mama Yeni segera mencari ruangan Anisa dan masuk tanpa permisi dengan napas memburu tidak sabar bertemu dengan Anisa.
"Mbak," Anisa melihat kedatangan Mama Yeni sekalipun ia baru saja sadar dari pengaruh obat bius.
"Nisa, terima kasih, sudah memberikan Rika untuk ku," Mama Yeni memeluk Nisa dengan erat.
__ADS_1
Melupakan dendam, kemarahan dan kekecewaan percuma terus larut dalam dendam yang tidak berkesinambungan bahkan tanpa sadar terus menyakiti diri sendiri.
"Aku juga minta maaf Mbak, aku udah jahat banget," lirih Nisa penuh penyesalan.