
Hari ini Lala sudah diperbolehkan pulang, tetapi entah mengapa saat melihat Dimas selalu mengundang amarah. Padahal Dimas sudah berusaha untuk terus memperbaiki kesalahannya, mungkin karena hamil di usia muda hingga membuat emosinya meledak-ledak tidak jelas.
"Sayang, kamu bisa jalan?" tanya Dimas dengan begitu perhatian, bahkan membantu Lala untuk turun dari atas ranjang.
"Lari juga Lala bisa!" jawab Lala ketus.
Arka seketika menahan tawa, melihat wajah Dimas yang memerah.
"Lala aku bantuin ya?" Mentari berjalan ke arah kiri Lala, sedangkan Dimas berada di sebelah kanan.
"Iya makasih," ujar Lala dengan senyuman.
"Mmmmfffffpp....." Radit menutup mulut karena sudah tidak sanggup menahan tawa.
"Abi," kesal Rembulan, karena Radit tertawa di saat yang tidak tepat.
Radit seketika terdiam, lalu kembali melihat Dimas dengan mengejek.
"Ayo kita pulang."
***
"Kamu hati-hati," kata Dimas sambil kembali membantu Lala untuk duduk di atas ranjang.
"Enggak usah di kasih tahu, Lala udah tahu!"
Glek.
Entah mengapa Dimas merasa takut pada Lala yang sekarang, jika biasanya istri nya hanya diam kini Lala seperti menganggapnya musuh.
"Hawa di sini berasa panas ya," ejek Arka.
"Sedikit, AC kurang dingin seperti nya," timpal Radit.
Dimas menatap Arka dengan tajam, kemudian menatap Radit. Dua orang pria itu benar-benar mengejek dirinya dengan terang-terangan.
"Aa, keluar dulu ya. Kamu istirahat."
Lala membuang wajahnya, seakan tidak perduli akan Dimas.
Setelah Radit, Arka dan Dimas keluar. Tinggal lah empat wanita yang menemani Lala.
"Lala, kamu kenapa begitu sama Dimas?" tanya Rembulan, sebagai seorang istri ia tidak suka jika ada wanita yang tidak sopan pada suaminya.
"Enggak boleh gitu lho....dosa tau La," tambah Mentari.
__ADS_1
"Iya bener!" timpal Rika.
Seketika tiga pasang mata langsung menatap Rika yang duduk di tengah-tengah mereka.
"Sok tahu!" Mentari langsung mengetuk kepala Rika.
"Emang kamu udah punya suami?" tanya Rembulan juga.
Rika cengengesan, seketika wajah Sandy melintas di benaknya. Tapi dengan cepat Rika mengibaskan tangannya, dan kembali mengubur rasa cinta yang tidak boleh tumbuh lebih dalam lagi.
"Hehehe, aku enggak mau cepat tua. Seperti kalian, jadi aku fokus kuliah dulu," jawab Rika tanpa ada beban, masalah Sandy sudah Rika ikhlas kan pada waktu yang akan menjawab siapa yang akan menjadi imamnya kelak.
Mentari dan Lala tahu seperti apa perasaan Rika, ada tangis yang tertahan. Tetapi keduanya ingin membuat Rika tetap bahagia.
"Iya, iya...." jawab Rembulan mangguk-mangguk. Kemudian Rembulan kembali melihat Lala, "La, Kak Ulan mau tanya. Kamu itu biasanya sopan sama Dimas, jangan begitu lagi ya."
"Kak Ulan, Lala udah coba buat enggak marah-marah. Buat lembut, buat santai, tapi kalau lihat wajah suami Lala," Lala mengeratkan giginya, Bahkan dengan tangannya yang meremas selimut. Seakan Dimas yang menjadi sasarannya, "Lala bawaannya pengen marah terus, enggak tahu kenapa!"
Rembulan mengangguk mengerti, "Saingan kayaknya yang di dalem sama Papanya," ejek Rembulan.
"Kemungkinan besar," timpal Mentari.
Lala masih bingung, seketika melihat wajah Mentari dan juga Rembulan dengan penuh tanya, "Maksud nya gimana sih?"
"Emang iya?" Lala memegang perutnya yang sedikit membuncit dengan rasa bingung.
"Ya, begitulah aku rasa," jawab Mentari sambil bersandar pada Rika, "Ngomong-ngomong kamu diem aja, ada masalah?" tanya Mentari, karena hanya Rika yang dari tadi tanpak diam.
Rika mangguk-mangguk, membenarkan pikiran Mentari, "Otak aku masih polos, dan aku enggak ngerti sama sekali dengan pembahasan kalian," ujar Rika.
Lala dan Mentari seketika saling pandang, tidak lama kemudian keduanya langsung menekan kepala Rika kebawah selimut.
"Ampun!!" teriak Rika di selingi tawa yang menggelegar.
"Polos!!! Otak ini polos!" ejek Lala sambil terus menekan kepala Rika lebih kuat.
"Lu pikir kita bodoh!!" tambah Mentari yang juga malah mengkelitiki Rika.
Rika meloncat dari atas ranjang, sambil tertawa lebar.
"Polos ya!" ejek Lala yang hanya duduk di atas ranjang, tetapi tangannya menunjuk Rika yang berdiri pada daun pintu.
Rika sengaja berlari ke daun pintu, agar mudah melarikan diri jika tiba-tiba Mentari turun dari ranjang dan menghajar dirinya.
"Ahahahhaha....." Rika benar-benar tertawa puas saat melihat wajah Lala dan Mentari yang marah padanya.
__ADS_1
"Sok polos iya!" timpal Mentari.
"Ya ampun, iya jangan gitulah. Gue masih perawan, masih polos juga."
"Sini gue polosin, buat gue percaya!" Mentari meloncat dari atas ranjang, tanpaknya Ibu dua orang anak itu kini kembali menjelma menjadi anak ABG.
"Ahahahhaha......Ampun Nyonya Arka!" Rika langsung membuka pintu dan keluar dengan segera.
"Hajar Tar, orang yang ngaku polos!" seru Lala di selingi tawa, tetapi, ia tetap duduk pada ranjang. Sebenarnya tangan Lala juga gatal ingin menghajar Rika, tetap kondisi nya saat ini masih dalam pemilihan. Hingga Lala berusaha menjaga diri serta kandungan nya agar tetap baik-baik saja.
Mentari berlari mengejar Rika, keduanya seperti anak-anak yang sedang bermain kucing-kucingan sampai akhirnya keduanya tanpa sengaja berlari di depan ruang kerja Dimas.
"Sayang ada apa?" tanya Arka yang tiba-tiba keluar saat mendengar suara istri nya, awalnya Arka berpikir terjadi sesuatu pada Lala. Tapi saat melihat wajah Mentari yang tertawa sambil berlari malah membuatnya semakin bingung, "Hay," Arka menarik Mentari hingga tidak bisa berlari.
"Sabaruddin, dia ini harus aku hajar!" telunjuk Mentari mengarah pada Rika yang berdiri di belakang sofa.
"Apa?" ejek Rika.
"Sudah punya anak masih seperti anak-anak," omel Arka.
"Tari memang anak-anak, tapi udah Kakak jadikan pencetak Anak. Bahkan anak-anak begini udah menghasilkan dua anak!" jawab Mentari dengan lantang.
Arka masih bengong, mencerna jawaban istri cantiknya. Hingga ternyata Mentari berhasil membebaskan diri dan kembali mengejar Rika.
"Kalau kena abis lu ya!" seru Mentari sambil terus mengejar Rika.
"Istri seperti bocah," bisik Dimas yang berdiri di ambang pintu.
Arka langsung memberikan tatapan membunuh pada Dimas, walaupun istri cukup menjengkelkan tetapi baginya istri nya paling menggemaskan.
"Dasar takut istri!" ejek Arka.
Glek.
Dimas meneguk saliva, "Yang bilang kayak enggak," kata Dimas manggut-manggut.
Rika terus berlari sampai kakinya tersandung, tetapi tiba-tiba ada yang menangkap tubuh nya.
"Aaaaa!!!" teriak Rika.
Sandy yang baru saja masuk, langsung sigap menangkap Rika. Padahal baru saja sampai, itupun karena Dimas yang memintanya datang.
Rika cepat-cepat menjauh, saat melihat siapa pria yang menolong dirinya. Dengan perasaan canggung Rika langsung menatap Dimas dan Arka yang berdiri tidak jauh dari nya, karena ruang kerja Dimas sangat dekat dengan ruang tamu.
Tanpa bicara Rika langsung pergi, ia takut jika Dimas marah. Begitu juga Mentari yang mengikuti langkah kaki Rika menuju kamar Lala.
__ADS_1