Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 111


__ADS_3

Lala memeluk Dimas sambil berjalan keluar dari ruangan Sandy di rawat, Mama Yeni juga tertunduk, Bunda Jihan juga tidak kalah murung.


Menatap wajah-wajah aneh Rika mulai bertanya-tanya, belum sempat bertanya Lala sudah bersuara.


"Sandy," suara Lala tercekat tak mampu berkata-kata, bibirnya bergetar dan langsung memeluk Dimas dengan eratnya.


"Mas Sandy kenapa La?" Rika seketika berdiri dengan raut wajah memucat.


Lala menggeleng seakan tak mampu berkata-kata.


Pikiran Rika semakin tidak karuan, apa yang terjadi pada Sandy?


Jika Sandy pergi untuk selamanya apakah ia masih mampu untuk tersenyum, berdiri tegak di atas kakinya. Atau hanya larut dalam bayang-bayang masa sulit, masa di mana orang yang di cintai nya pergi karena menolong dirinya


"Bunda?" Rika beralih menatap Bunda Jihan penuh tanya.


Nihil.


Jawab Bunda Jihan juga hanya sebuah gelengan kepala hingga membuat Rika semakin bingung dan bertanya-tanya.


"Ma?"


Mama Yeni juga menatap Rika dengan pandangan mata sayu.


"Sandy sudah pergi," kata Lala.


Dehg!


Jantung Rika berdetak hebat dengan mata perlahan berembun, hingga satu detik kemudian meneteskan air mata.


Dengan langkah kaki yang lebar Rika menuju kamar Sandy, mendorong dengan tidak sabaran.


Tubuh Sandy berbaring dengan mata yang tertutup membuat hati Rika seakan hancur.


Kaki Rika masih dalam keadaan sakit dan tanpa alas kaki tetapi Rika melupakan rasa sakitnya dari tadi malam hingga saat ini.


Seakan tidak merasakan apa-apa sekalipun ada memar di bagian tingkat kakinya, berdiri di samping ranjang Sandy dengan perasaan bersalah.


"Mas!!!"


Isak tangis Rika pecah seketika menatap sang pujaan hati terbaring tanpa bergerak sedikit pun.


Rika butuh jawaban pasti, butuh penjelasan tentang mata Sandy yang tertutup rapat.


Butuh jawaban apaan mengapa wajah-wajah anggota keluarga nya murung, bermuram durja setelah keluar dari ruangan.


Bukankah seharusnya mereka merasa lega, lebih baik karena dokter barusan menjelaskan keadaan Sandy yang baik-baik saja, dengan operasi yang berjalan dengan lancar.


"Mas bangun!!!"


Rika berseru sejadi-jadinya memeluk Sandy dengan erat, perasaan takut kehilangan Sandy sungguh membuatnya seketika menjadi bodoh.


"Mas jangan tinggalkan aku," teriak Rika di sela-sela isak tangis yang semakin hebat.


"Kenapa?!"


Suara Sandy yang begitu dalam terdengar di telinga Rika.


"Rika sayang sama Mas, jangan tinggalkan Rika Mas!!"

__ADS_1


Melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah setelah sadar siapa yang barusan bertanya.


Mata Rika yang sembab dan bibir bergetar seketika itu menatap mata Sandy yang terbuka lebar sambil menatapnya.


"Benarkah?"


Sandy memicingkan mata menatap Rika yang masih dalam keterkejutan nya.


Menangis tersedu-sedu dan merasa takut membuat Rika tidak sepenuhnya menyadari bahwa Sandy yang barusan bertanya padanya.


Seketika Rika menatap kearah pintu lalu, kembali menatap Sandy dengan mata terbuka dan menatapnya datar.


Rika menatap bingung dan penuh tanya.


Blush!!!!


Seketika Rika mengerti ternyata ia tengah dikerjai habis-habisan oleh anggota keluarganya.


Lihat saja di pintu yang terbuka. Dimas, Lala, Mama Yeni dan Bunda Jihan menatap ke arahnya dengan senyuman seakan melupakan wajah-wajah yang murung sesaat sebelum Rika masuk keruangan Sandy di rawat.


"Kalian ngerjain aku?!"


"Sedikit," jawab Lala enteng.


Perasaan Rika bercampur aduk menjadi satu, benci, marah, kesal dan malu saat mengingat kebodohan nya barusan.


"Kalian!"


Rika mengepalkan tangannya menatap Lala dengan pandangan berapi-api.


Dibalas dengan tatapan santai dari Lala, "Ada yang bilang sayang," seloroh Lala.


Dan yang paling membuatnya merasa malu adalah saat reaksi dan ucapannya yang lepas begitu saja.


"Aa, pulang yuk."


Selepas Dimas, Lala, Mama Yeni dan Bunda Jihan pergi. Rika juga bangun.


Seketika itu ia berjalan ke arah pintu dan ingin pergi secepatnya, tidak memiliki wajah lagi di hadapan Sandy.


Ukh!!!


"Mas."


Rika urung melangkah pergi justru kembali berbalik dan menatap Sandy meringis menahan sakit.


"Kenapa bergerak?! Tidak usah bangun keadaan mu masih lemah," ujar Rika dengan kembali membantu Sandy berbaring.


Ada kehangatan sekalipun nyawanya yang menjadi taruhan, sedikit saja perhatikan dari orang yang dicintai seakan membuat lupa diri sekalipun dari rasa sakit yang menantang nyawa.


Sandy tersenyum penuh kebahagiaan.


"Ish, kok senyum sih?!"


Entah apa yang terjadi hari ini tetapi orang-orang di sekitarnya sangat menjengkelkan termasuk Sandy.


"Denger-denger ada yang ngomong tidak mau di tinggal, di tinggal kemana?"


Rika berulangkali mengusap wajah yang sudah merah melebihi tobat, kali ini Sandy menggodanya dengan kalimat yang baru saja di lontarkan.

__ADS_1


"Kalian jahat!!!"


Rika kembali berseru lalu ingin pergi.


"Tidak adakah sedikitpun rasa iba melihat ku?"


Rika terdiam untuk yang kedua kalinya urung keluar dari kamar Sandy.


"Abis Mas nyebelin!!!" Jawab Rika dengan mata berembun.


"Jangan menangis," Sandy menarik Rika memeluk dirinya.


Tangis Rika semakin pecah saat Sandy mendekapnya, sekalipun Sandy hanya berbaring tetapi kehangatan begitu terasa.


"Menangis lah sekerasnya, semaunya tetapi, setelah itu berjanji untuk tersenyum," ucap Sandy seraya sebelah tangannya membelai lembut rambut panjang Rika yang terurai.


Setelah puas menumpahkan air mata Rika bangun dan sedikit menjauh dari Sandy, tangan Sandy masih berusaha menghapus sisa-sisa air mata wanita yang ia cintai.


"Masih ingin menangis?"


Rika menggeleng lemah.


"Ayo kita ke penghulu!"


"Mas!"


Rika kembali berteriak dan menangis, bertapa Sandy sangat mengesalkan sekali padahal keadaan tubuhnya saja masih lemah.


"Sudah-sudah," Sandy terkekeh melihat wajah Rika.


Puas menggoda Rika ia kembali menarik Rika kedalam pelukannya.


"Mas jahat!"


Kesal Rika setelah menjauhi Sandy.


Tidak ingin lagi menggoda Rika lagi, Sandy hanya diam sambil tersenyum menatap wajah Rika dengan bibir yang mengerucut menatap dirinya kesal.


"Kenapa?"


"Enggak papa!"


"Kenapa?"


"Jahat!"


Sandy mengangguk mengerti.


Tidak ada lagi yang berbicara keduanya hanya hening dalam ruangan itu, Rika perlahan duduk di kursi dan menunduk sambil merebahkan kepalanya pada sisi ranjang.


Sandy masih mengusap kepala Rika, membelai dengan lembut hingga Rika terlelap dalam duduknya.


Semalaman Rika sangat lelah setelah bermain di pasar malam, berlanjut insiden bertemu Dimitri kembali menguras tenaga dan kemudian menantikan Sandy yang tengah berjuang di meja operasi.


Perlahan napas Rika terdengar semakin beraturan Sandy tidak tega melihat Rika terlelap dalam duduknya tetapi, ia juga tidak bisa melakukan apapun mengingat keadaan nya yang juga masih sangat lemah.


Jika pun memaksakan diri mungkin hanya akan memperparah keadaan nya dan akan memperlambat proses penyembuhan hingga akan lebih lama lagi berbaring di sana. Lalu, bagaimana bisa ia menjaga Rika jika keadaan terus saja tidak memungkinkan.


*

__ADS_1


Emak-emak baik hati tolong Vote ya, like juga. Tolongin lah ya.


__ADS_2