Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Kawin lari


__ADS_3

Tok tok tok.


Sandy mengetuk kaca jendela kamar, padahal waktu sudah cukup subuh. Bahkan suara Azan berkumandang dengan begitu indahnya.


Rika yang tidak bisa tidur semalaman hanya duduk di atas ranjang sambil memeluk lututnya, kemudian ia memutar lehernya karena mendengar suara. Dengan perasaan yang was-was ia perlahan turun dari atas ranjang, tangannya mulai bergerak membuka gorden. Namun, bibir Rika tersenyum seketika setelah melihat Sandy, dengan gerakan cepat tangannya mulai membuka jendela.


"Mas di sini?" tanya Rika dengan bahagia.


"Suuuttt," Sandy meletakan jari telunjuknya pada bibir, kemudian ia melihat sekitarnya yang terlihat aman. Perlahan Sandy mulai menaiki jendela dan masuk.


"Mas," Rika langsung memeluk Sandy dengan eratnya.


Sandy tersenyum bahagia, pertama kalinya Rika langsung memeluknya seperti sekarang ini. Perasaan Sandy sungguh tidak ada bandingannya dan orang paling baik menurutnya kini adalah Lala. Sebab bila tanpa Lala mereka tidak akan bertemu seperti ini.


"Mas juga kangen banget," Sandy juga memeluk Rika dengan tidak kalah eratnya, seakan ia ingin menunjukkan bertapa Rika sudah mengambil separuh dirinya.


"Mas kita kawin lari aja ya," pinta Rika sambil terus memeluk Sandy.


Sandy terkejut mendengar ide Rika yang cukup di luar akal sehatnya, "Kamu lupa? Kamu sendiri yang bilang ke bunda kalau restu orang tua itu adalah doa," kata Sandy mengingat apa yang di katakan oleh Rika beberapa waktu lalu.


Rika perlahan melepaskan pelukan Sandy, ia menjauh dan merasa kecewa akan jawaban Sandy. Perasaan Rika kini malah semakin kesal.


Kaki Sandy mendekati Rika, ia berdiri di belakang tubuh Rika, "Ini hanya tentang waktu," ujar Sandy berusaha meyakinkan Rika.


Rika masih diam sambil memunggungi Sandy, satu butir air mata mulai jatuh di pipinya.


"Sayang," Sandy perlahan menarik lengan bagian atas Rika, hingga kembali menatap dirinya. Sandy tahu perasaan Rika saat ini. Namun, ia ingin semuanya berjalan dengan cara yang baik, "Jangan menangis, kita hanya sedang di uji, cinta kita sedang di uji agar kita mengingat ini saat nanti kita sedang dalam kemarahan."


Rika menggeleng, ia berjalan menuju ranjang dan duduk di sisi ranjang. Sesekali air matanya terus saja menetes.


"Rika," Sandy juga ikut duduk di sisi ranjang, ia memegang dagu Rika dan sedikit mengangkat nya hingga dua pasang bola mata itu saling bertemu.

__ADS_1


"Mas sayang enggak sama Rika?" tanya Rika dengan mata yang berkaca-kaca.


Sandy langsung menarik Rika kedalam pelukannya, "Pertanyaan macam apa itu," jawab Sandy.


Rika dengan cepat mendorong dada bidang Sandy, ia merasa Sandy tidak mencintai dirinya dengan sepenuh hati, "Sudahlah kita tidak usah bertemu lagi."


Sandy terkejut dengan kata-kata Rika, bahkan barusan Rika mengajak nya menikah siri. Lalu sekarang tiba-tiba Rika tidak ingin bertemu dengan nya lagi, "Kamu bicara apa?" Sandy tidak ingin salah mendengar hingga ia bertanya agar bisa mendengar dengan baik.


"Mas enggak cinta beneran sama Rika!" seru Rika sambil menangis tersedu-sedu.


"Kalau Mas tidak mencintai mu, untuk apa Mas di sini?"


"Mas bohong!"


"Lalu yang benar itu seperti apa?"


Rika mengusap air matanya kemudian ia naik ke atas ranjang dan menarik kemeja Sandy.


"Rika!" Sandy mulai panik, karena tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Rika.


"Rika, jangan gila!" tolak Sandy.


"Kalau ini sudah terjadi kita tidak akan bisa di pisahkan lagi kan Mas?" tanya Rika.


Sandy terdiam dan menimbang kata-kata Rika, akan tetapi apa yang dikatakan oleh Rika memang benar. Namun, semua mungkin akan semakin rumit. Sandy tidak ingin membuat Bundanya malah semakin kecewa pada dirinya, "Rika, bukan begini caranya," Sandy melepaskan diri dan ia segera bangun dari atas tubuh Rika.


Rika juga mulai duduk masih dengan menangis tanpa bisa berhenti, "Ternyata Kak Dimas benar, Mas bohong cinta sama aku."


Sandy semakin terkejut, ia tidak terima jika di katakan tidak cinta, "Mas mencintai mu, kenapa kau ragu!" Sandy mencondongkan tubuhnya pada Rika.


"Mas bohong!" Rika membuang wajahnya kearah berlawanan.

__ADS_1


Sandy memegang tengkuk Rika dan berusaha untuk menarik pandangan Rika agar kembali menatapnya, "Kenapa?" tanya Sandy.


Rika kembali menarik kerah kemeja Sandy, hingga pandangan keduanya hanya berjarak beberapa sentimeter. Sampai akhirnya Sandy benar-benar melahap bibir Rika, ia juga lelaki normal. Apa lagi orang yang kini berada dihadapannya adalah wanita yang ia cintai. Perlahan semua semakin menuntut, tangan Sandy mulai mengarah pada dua gundukan yang cukup besar. Memainkannya dengan perlahan, akan tetapi wajah Bunda Jihan tiba-tiba menghantui dirinya. Dengan cepat Sandy melepaskan Rika, lalu ia menjauh.


"Mas," Rika terlihat kecewa, padahal jika itu terjadi sudah pasti mereka akan terus bersama.


"Mas, terlalu mencintai mu Rika. Mas ingin memiliki mu dengan cara yang baik, bukan dengan cara seperti ini," jelas Sandy.


Rika turun dari atas ranjang, "Cara seperti apa Mas?" tanya Rika dengan berdiri di hadapan Sandy, "Aku lelah terus-menerus bersembunyi seperti ini," seru Rika sambil kembali menarik kemeja Sandy.


Sandy ingin sekali menolak, tapi sulit sekali dengan cepat ia kembali melahap bibir Rika dengan penuh damba.


Dimas yang kembali menemui Rika terkejut saat melihat keberadaan Sandy yang juga berada di sana, tidak tahu dengan pasti. Akan tetapi saat ia masuk kedalam kamar matanya sudah melihat Sandy dan Rika tengah bercumbu dengan mesranya. Api kemarahan semakin membuncah, ia berdiri di depan pintu sambil bertepuk tangan.


Sandy dan Rika seketika tersadar, keduanya menjauh dan melihat arah suara.


"Kak Dimas," kata Rika terkejut.


"Dimas," Sandy juga merasa takut dengan kedatangan Dimas yang tidak ia sadari.


Tanpa ada basa-basi Dimas langsung menghajar Sandy dengan membabi-buta, bahkan sampai terlihat berwarna keunguan pada beberapa bagian wajahnya.


"Kak Dimas!!!!" teriak Rika panik.


Dalam sekejap Sandy terkapar di lantai, ia bukan tidak bisa membalas. Hanya saja ia ingin meyakinkan Dimas jika ia sangat mencintai Rika.


"Aku sudah luluh untuk menikahkan mu dengan adik ku saat istri ku berpura-pura hamil, hanya karena ingin mempertemukan kalian. Tapi saat aku melihat ini aku berubah pikiran, kau hanya lelaki bajingan!" geram Dimas menunjuk Sandy.


"Dimas, dengarkan aku dulu. Aku sangat mencintai adik mu, tolong ijinkan kami menikah," lirih Sandy sambil berusaha bangun dengan susah payah.


"Jangan pernah berharap?" dalam sekejap Dimas langsung menarik tangan Rika untuk ikut dengan nya.

__ADS_1


"Kak Dimas lepas!!!" Rika meronta-ronta minta di lepaskan, karena ia ingin menolong Sandy yang mungkin sulit untuk berjalan.


"Diam!"


__ADS_2