
"Rika, Mas masuk ya," Sandy perlahan mendorong pintu kamar Rika yang kini kamar itu menjadi kamarnya juga.
Melihat Rika duduk di sisi ranjang membuatnya merasa iba, perlahan Sandy semakin melangkah masuk, melihat keadaan istrinya dengan jarak yang lebih dekat.
"Kamu baik-baik saja?" Sandy berdiri di hadapan Rika dan ingin melihat wajah sisa tamparan tangan Mama Yeni.
Rika berdiri, ia mengambil gelas yang berisi air pada meja nakas dan menyiramkan pada wajah Sandy.
Byurr!!!
Sandy terdiam menutup mata sambil merasakan air yang dingin membasahi wajahnya.
"Pergi dari sini, aku membenci mu! Kau senang pastinya melihat aku di tampar, dan ini tamparan pertama dan itu karena kau!" Rika berteriak di depan waja Sandy, meluapkan bertapa ia sangat marah pada Sandy.
Sandy mengangguk dan memilih diam, kemudian ia pergi begitu saja tanpa bicara pada Rika.
Tampaknya Rika sedang berkabut emosi sehingga sulit untuk berdamai dengan nya.
***
Satu Minggu kemudian.
Satu Minggu sudah berlalu, Rika berada di rumah kedua orang tuanya sedangkan Sandy berada di rumahnya sendiri.
"Rika, kamu enggak khawatir sama Sandy?"
Rika sejenak melirik Mama Yeni, sedetik kemudian ia kembali berfokus mengoles selai pada roti di tangannya tanpa ingin menjawab pertanyaan Mama Yeni.
Dimas, Lala, menatap Rika juga, keduanya melihat wajah Rika tidak perduli atau tertarik pada apa yang di pertanyakan oleh Mama Yeni.
"Rika, ini udah lebaran yang ke tiga, kamu enggak mikir suami kamu di mana?"
Kali ini Lala yang berbicara, ada rasa kesal pada sahabatnya itu karena tidak perduli pada suaminya sendiri.
Rika masih diam tanpa menjawab, pertanyaan Lala maupun Mama Yeni sama sekali tidak ada yang menarik bagi Rika.
"Rika," suara berat dan tertahan Dimas terdengar, beberapa hari ini hanya diam tanpa ingin perduli.
Tetapi, pagi ini ia cukup kesal karena Rika mengabaikan setiap pertanyaan dari Mama Yeni.
Rika menatap wajah Dimas, tanpa menjawab sepatah katapun.
"Aa, udah," Lala mengusap punggung tangan Dimas, berusaha meredam emosi suaminya.
"Mau mu apa?!" Tanya Dimas dengan suara kemarahan.
"Aa, udah," Lala lagi-lagi berusaha untuk meredam kemarahan Dimas.
__ADS_1
"Kak, Dimas yang maunya apa?!" Tantang Rika kembali.
"Sudah, sudah," Mama Yeni berdiri dan berusaha membuat kedua anaknya tidak bersitegang.
Dimas menatap Mama Yeni, kemudian kembali menatap Rika.
"Dulu kau yang ingin di nikahkan dengan Sandy, bahkan hampir kawin lari, sekarang kau seolah-olah tidak suka pada nya, mau mu apa?!"
"Rika, bukan enggak mau nikah sama Mas Sandy! Tapi, Rika enggak ngapa-ngapain sama Mas Sandy malam itu, kenapa harus nikah nya di paksa!" Seru Rika, sambil menangis.
"Kami tahu kamu dan dia tidak melakukan apapun! Kami tahu dan tidak bodoh!" Papar Dimas.
"Terus kenapa Kak Dimas maksa Rika buat tetap nikah sama Mas Sandy, seakan kami memang berzina?" Rika berdiri dan menatap Dimas dengan emosi.
"Duduk! Berbicara dengan ku! Duduk!" Geram Dimas.
"Rika, duduk ya dek, kita bicara baik-baik," pinta Mama Yeni sambil memegang lengan Rika dan meminta anak bungsu duduk kembali.
Dengan perlahan Rika kembali duduk, menatap Dimas dengan kekecewaan.
"Kami juga punya otak, kami juga tidak akan mengambil keputusan jika kami tidak yakin, Sandy sudah menjelaskan semuanya dan tujuannya menikahi mu karena dia takut kau lepas dari genggaman nya, dia tidak bisa menunggu sampai kau lulus kuliah! Aku tidak bodoh, aku tahu kau pun mencintai nya, jika kau merasa ini keterpaksaan baiklah besok aku pastikan Sandy akan menceraikan mu!" Tegas Dimas.
"Dimas," Mama Yeni terperangah mendengar kata-kata putra sulungnya.
Bagaimana bisa Dimas mengatakan hal demikian, bercerai bukanlah suatu penyelesaian lagi pula putrinya masih terlalu muda.
"Biarkan saja Ma, aku tidak akan perduli lagi padanya! Aku tidak mengerti apa mau anak ini!" Kesal Dimas menatap Rika.
Lala masih berusaha untuk menenangkan Dimas, ia juga takut jika Rika benar-benar bercerai dari Sandy.
"Aa, kita bisa bicara baik-baik, atau biarkan Sandy dan Rika bicara berdua," usul Lala.
"Tidak perdu, dia tidak tahu cara berbicara sopan pada suaminya sendiri! Percuma saja!" Dimas memang menjawab pertanyaan Lala, tapi, matanya mengarah pada Rika.
"Terserah kalian saja!" Kali ini Rika kembali meluapkan kesalnya.
"Rika, jangan begitu ya Nak, kamu sekarang ke rumah Bunda Jihan, kamu minta maaf sama mertua dan suami kamu," pinta Mama Yeni berharap Rika bisa luluh.
"Assalamualaikum," terdengar suara dari arah pintu masuk.
Semua yang duduk di kursi meja makan menoleh, ternyata Sandy dan Bunda Jihan yang datang.
Mama Yeni cepat-cepat bangun dari duduknya dan menyambut kedatangan besannya.
"Jeng, Waalaikumusalam, ayo kita duduk," Mama Yeni membawa Bunda Jihan untuk duduk di ruang keluarga.
Sedangkan Sandy masih menatap Rika.
__ADS_1
"Rika, aku mau bicara," kata Sandy.
Sandy pergi menuju kamar Rika menantikan Rika di dalam kamar mereka.
Lala, Dimas dan Rika masih duduk di kursi meja makan.
"Rika, kamu sekarang susul Sandy ya, dan jangan bertengkar," pinta Lala.
"Mungkin juga Sandy benar-benar menceraikan mu, sesuai keinginan mu," timpal Dimas.
"Aa," Lala tidak suka dengan kata-kata suaminya, sehingga ia menegur Dimas.
"Itu yang dia inginkan, kenapa kita harus memaksanya tetap mempertahankan rumah tangga nya, Sandy itu masih muda, punya rumah sakit, dia dokter, siapa yang tidak mau dengan nya," ejek Dimas tersenyum miring pada Rika, "mahasiswa semester awal saja sudah belagu," kata Dimas lagi.
"Ya udah, Rika emang enggak pantas sama dia! Cerai saja!" Rika langsung berdiri dan berlari menyusul Sandy yang kini menunggu di kamar nya.
"Aa, kok ngomong begitu sih! Kalau Aa, ngomong gitu ke Rika berarti ke Lala juga dong!"
"Sayang kamu apa sih, enggak usah ikut-ikutan tersinggung," Dimas memeluk istrinya yang sedang hamil muda dan emosinya kadang-kadang tidak stabil.
***
Pintu kamarnya terbuka lebar, Rika langsung masuk menyusul Sandy.
"Mau bicara apa?!" Tanya Rika secara langsung.
Sandy yang duduk di sofa perlahan menatap Rika yang berdiri tidak jauh dari pintu yang terbuka lebar.
"Duduk," pinta Sandy.
Rika duduk di sisi ranjang karena tidak ingin berdekatan dengan Sandy.
Sejenak keduanya hening tanpa ada yang berbicara.
"Cepat bicara, aku mau ke rumah teman ku!" Kata Rika.
Sandy mengangguk.
"Tidak bisa sedikit berbicara lebih baik pada suami mu?!" Kali ini Sandy memasang wajah datar.
"Cepat ngomong!"
"Apa kau ingin bercerai?!"
"Iya!"
"Apa kau yakin?" Tanya Sandy lagi.
__ADS_1