Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 156


__ADS_3

Lala memeluk erat baby D, begitu terharu hingga air matanya jatuh menetes. Tak menyangka kini dirinya sudah menjadi seorang ibu dari seorang bayi mungil berparas cantik, tapi, ada raut wajah kecewa yang di rasakan oleh Lala saat ini.


"Sayang, udah dong nangisnya. Kasihan anak kita," kata Dimas.


"Lala kesel tau Aa."


Semua anggota keluarga menatap penuh tanya, mereka semua menunggu kelanjutan dari kekesalan Lala apa penyebabnya.


"Kok kesel, kan. Anak kita udah lahir, harusnya bahagia dong," Dimas semakin dibuat tidak mengerti oleh istrinya yang masih bocah itu.


Bukan bahagia karena, kelahiran anak mereka malah istrinya merasakan kesal hingga Dimas merasa Lala terpaksa melahirkan anaknya.


"Gimana nggak kesel, yang hamil Lala, yang sakit-sakitan Lala, yang ngelahirin pakek air mata dan keringat Lala. Tapi-" Lala diam menatap wajah yang lainnya satu-persatu yang menatapnya bingung.


"Tapi apa La?" Tanya Rika tidak sabar.


"Apa kalian nggak sadar wajahnya mirip Bapaknya, padahal yang berjuang kan, aku!!!!"


Lala menatap Dimas dengan berapi-api, ingin sekali mencakar wajah tampan suaminya itu. Hanya modal kecebong saya langsung mewariskan wajahnya pada baby D dan membuat amarah Lala benar-benar membuncah seketika.


Semuanya tak kuasa mendengar jeritan hati Lala, sebuah kekesalan yang tak mampu di ucapkan hanya dengan kata-kata.


Tapi memang begitu adanya, kodratnya sebagai seorang wanita yang melahirkan anak.


"Tau nih, Kak Dimas! Kok kalian bisa mirip!" Rika menepuk punggung Dimas sambil tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan Lala.


Setelah melahirkan tampaknya kembali pada sikap aslinya yang aneh dan lambat dalam berpikir, sungguh sangat ironis memang nantinya Dimas yang akan kebingungan sendiri menghadapi istri bocahnya.


"Lala, kamu sabar ya," Mentari ikut mengusap punggung Lala, seakan memberikan kekuatan pada nasib malang Lala.


"Aa, sana jauh-jauh. Lala nggak mau deket-deket!!!" Kesal Lala sambil mencubit lengan Dimas.


"Sayang sakit," rintih Dimas sambil menggosok tangannya.


"Biarin!!!"


Tak berselang lama pintu terbuka, seorang wanita paruh baya datang mendekati ranjang Lala.


Berjalan dengan perlahan hingga mata Lala berembun dan sedetik kemudian meneteskan cairan bening.


Ya.


Sarika datang untuk melihat keadaan Lala, putri sambungannya yang sekaligus keponakanya itu.


"Apa kabar?" Tanya Sarika dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Lala memeluk Sarika seketika bayinya di angkat oleh Mentari, keduanya menangis tersedu-sedu meluapkan rasa rindu setelah sekian lamanya berpisah karena, keadaan.


Sarika memilih pergi dari hidup Atmaja dan juga Lala karena, rasa malu yang tak dapat dikatakan.


Andai saja Zira adalah anak dari Atmaja mungkin semua tak akan sesakit ini tapi, pada kenyataannya Zira adalah anak Dimitri.


Kenyataan yang masih begitu sulit untuk di terima oleh Sarika, hingga kini tak memiliki wajah di hadapan Atmaja dan Lala.


Kali inipun ia datang karena, Dimas.


Dimas yang mendatangi dirinya secara langsung beberapa hari yang lalu, entah dari mana Dimas menemukan alamatnya.


Padahal ia sudah bersembunyi sejauh mungkin agar tak ada yang mengenal.


"Ibu, kemana aja. Lala kangen Bu," Lala semakin memeluk erat Sarika, rasanya tak ingin melepaskan nya lagi takut Sarika akan pergi dan menghilang lagi.


Sesaat kemudian Lala menatap Zira, perlahan pelukannya merenggang dan Zira pun memeluk dirinya.


Dua anak tak sedarah namun, di besarkan dengan orang yang sama. Tinggal satu atap dengan cinta dan kasih sayang yang begitu besar.


"Kamu kemana aja, Kakak kangen banget."


"Zira juga kangen sama Kakak," Zira tak kalah erat menekuk Lala


Pelukan haru yang membuat siapa saja meneteskan air mata saat menyaksikan nya.


Mencium pipi anak itu dengan penuh kehangatan tak menyangka lagi-lagi air matanya menetes.


"Kak Sinara, pasti bahagia melihatnya. Nggak nyangka sekarang dia udah punya cucu," Sarika tersenyum penuh haru, sekalipun bibirnya bergetar menahan Isak tangis.


Membayangkan wajah mendiang sang Kakak yang sudah lama pergi, sekalipun begitu pembunuhan nya sudah di hukum setimpal.


Berkat campur tangan Dimas kini Dimitri sudah di hukum mati, selesai sudah semua dendam yang selama ini selalu membara.


Menyisahkan sebuah kebahagiaan yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.


"Zira nggak kangen sama Ayah?" Tanya Atmaja menatap Zira.


Zira terdiam dengan pandangan berkaca-kaca seakan merasa begitu terluka, dari tadi ingin sekali memeluk Atmaja tapi, sadar ia bukan siapa-siapa.


"Memangnya Ayah mau meluk anak pembunuh?" Tanya Zira dengan bibir bergetar.


"Kamu anak Ayah," Atmaja menarik Zira ke dalam pelukannya.


Tangis Zira benar-benar pecah seketika, jika di suruh memilih Zira tak ingin menjadi anak Dimitri.

__ADS_1


Percuma semua warisan yang di dapatkan nya dari Dimitri, jika semua itu bisa di ganti dengan Atmaja menjadi Ayah kandungnya maka dengan suka rela Zira rela menukarnya.


Tapi tak mungkin, takdir yang sudah di tentukan tak dapat di ubah lagi.


"Kamu anak Ayah, selamanya begitu," Atmaja semakin memeluk erat Zira, meyakinkan tak ada kebencian di hatinya.


Ini bukan salah Zira, sekalipun terlahir dari darah seorang pembunuh.


Tak pernah Zira menginginkan keadaan ini, terlahir dari seorang pembunuh.


"Zira, kamu udah jadi Tante lho." Kata Mama Yeni menunjuk Baby D.


Zira mengusap air matanya dan beralih menatap baby D.


"Dia mirip siapa ya?" Zira menatap wajah Lala, kemudian, Rika, beralih pada Mama Yeni dan Dimas, "o, kamu mirip Papa kamu ternyata," kata Zira dengan polosnya.


Lala kembali menangis tersedu-sedu, mengapa Zira mengesalkan sekali mengatakan baby D mirip dengan Dimas.


"Kak Lala kenapa? Apa Zira salah?" Zira panik dan kebingungan.


"Salah! Kamu itu salah banget!" Omel Lala dengan geram.


"Salahnya di mana?" Zira masih bingung dan menatap penuh tanya, "kan, Kak Dimas bapaknya," imbuh Zira masih dengan kebingungan.


Sedangkan keluarga lainnya tertawa karena, tak kuasa melihat Lala yang aneh.


"Tapi aku Mama nya!" Kata Lala berusaha membela diri.


"Iya tapi-" Zira pun tak tahu lagi harus berkata apa, sejenak menyadari jika ternyata Lala tak terima wajah baby D mirip dengan Dimas.


"Sabar anak Ibu ya," Sarika memeluk Lala dengan cepat.


Putrinya itu memang sedikit lucu dan aneh, Sarika sangat hapal seperti apa Lala.


"Bu, bilang kalau anak Lala mirip Lala."


"Iya, dia mirip kamu," Sarika pun ingin tertawa tak tak tahan dengan lucunya Lala.


"Ibu serius kan?"


"Iya, hidung nya. Matanya, mulut nya," Sarika tersenyum lembut penuh kebahagiaan.


"Mirip Lala," kata Lala dengan bangga.


"Mirip Bapaknya," lanjut Sarika.

__ADS_1


"Ibu!!!!" Seru Lala kesal dan membuat nya menangis.


"Ahahahhaha......." Semua tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan ibu muda itu.


__ADS_2