Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 155


__ADS_3

Setelah beberapa perdebatan akhirnya Lala di bawa ke rumah sakit, sesekali ia meringis kesakitan karena pembukaan semakin banyak.


"Aa, sakit......" Lala merintih menahan sakit, kadang menghilang kadang datang dengan tiba-tiba membuatnya merasa tak ada yang lebih menyakitkan dari ini.


Dimas pun tak mengerti apa yang harus dilakukan nya saat ini, melihat wajah Lala membuatnya prihatin.


"Sayang, sabar ya," hanya kata tersebut yang bisa di ucapkan oleh Dimas.


Tapi sayang tanggapan Lala malah tak sesuai dengan apa yang di harapkan oleh Dimas.


"Sabar-sabar apa nya? Aa, pikir ini nggak sakit!" Omel Lala.


Dimas hanya bisa meneguk saliva mendengarkan omelan istri bocahnya, di usia 19 Tahun memang terbilang cukup muda untuk melahirkan.


Tetapi beruntung dokter mengatakan tak ada masalah jika Lala melahirkan secara normal, kondisi nya baik-baik saja hingga dokter pun menyarankan untuk melahirkan secara normal.


Sedangkan Dimas hanya menurut asal yang terbaik baik istri dan calon anaknya.


Hanya saja ada yang berbeda saat ini, istrinya terlihat cerewet dan mudah marah. Mungkin karena kesakitan membuatnya tak terkendali.


"Aa, belakang Lala dielus!"


"Iya sayang."


Plak!


Lala memukul tangan Dimas.


"Nggak gitu! Itu salah, itu aja nggak bisa! Yang bener dong!" Lala kesal bukan kepalang, rasa sakitnya benar-benar membuatnya ingin mencekik leher siapa saja yang tak sesuai dengan keinginan nya saat di minta melakukan sesuatu hal.


Dimas pun hanya diam dan menurut, semakin lama peluh Lala semakin bercucuran membuatnya semakin kasihan sekalipun istri nya terus mengomel.


"Ibu saya periksa dulu ya, sudah pembukaan berapa," seorang dokter wanita datang dan memeriksa nya.


Sebenarnya dokter yang menangani kelahiran ini adalah Radit tetapi, Dimas tak mau istrinya di tangani oleh dokter laki-laki apa lagi Radit.


Akhirnya Radit menghubungi Dokter Anggia, dokter yang sudah senior di bidangnya.


"Sudah, pembukaan 8 tidak lama lagi ya Ibu," Dokter Anggia tersenyum lembut sekalipun pasiennya terlihat marah-marah mengerti keadaan seorang Ibu yang akan melahirkan.


"Dok, sakit," rintih Lala.


"Iya jadi, semakin banyak, semakin kuat rasa sakitnya dan tidak berhenti itu artinya akan mempermudah proses kelahiran. Jadi, Ibu berdoa juga agar semuanya lancar dan sakit ibu akan terbayar setelah bayinya lahir," jelas Dokter Anggia kembali agar Lala semakin bersemangat.


Setelah Dokter Anggia keluar, Lala kembali merintih menahan sakit yang luar biasa.


"Ayah, sakit!!!" Teriak Lala memanggil Atmaja, "gara-gara Aa nih, bikinnya doang enak! Giliran begini cuman Lala yang rasain!" Kata Lala pada Dimas.


Arka, Radit, Sandy, Rika dan Mentari tersenyum mendengarkan ocehan Lala yang tak pernah berhenti.

__ADS_1


Mereka semua memang iba melihat Lala tetapi, menertawakan nasib Dimas yang terus menjadi sasaran amukan kemarahan Lala tanpa henti.


"Coba kalau Aa, rasain ini pasti Aa yang nangis di sini. Terus kalau di mintain tolong marah-marah, giliran bikinnya Aa keenakan dan tutup-tutup mata, sakitnya cuman Lala yang rasain!"


Dimas lagi-lagi hanya diam tanpa kata, terserah Lala mau berbicara seperti apa sekalipun terus mengomel.


Beberapa saat kemudian dokter kembali masuk dan memeriksa keadaan Lala.


"Alhamdulillah, ini sudah bisa mengejan Ibu," Dokter Anggia tersenyum dan meminta beberapa perawatan untuk ikut serta membantunya.


"Dokter, saya mules dan mau BAB," kata Lala.


Lala ketakutan karena, saat ini malah ingin buang air besar padahal dokter mengatakan bahwa akan mengejan artinya akan segera melahirkan lantas bagaimana jika dirinya malah buang air.


"Tidak apa-apa, buang airnya di sini saja."


Dokter Anggia tahu jika Lala mules bukan karena, buang air besar melainkan karena akan melahirkan.


Hingga ia hanya tersenyum lembut melihat calon ibu muda yang belum pernah merasakan nikmatnya melahirkan dan tergantikan dengan wajah lucu bayi mungil setelahnya.


"Dok, saya udah nggak tahan, mules!!!"


"Iya, tidak apa-apa. Nanti saya minta ibu mengejan maka ibu mengejan."


Lala mencengkram kuat tangan Dimas berusaha menghilangkan sedikit rasa sakit yang kian membuat rasa tak enak.


"Ya, sayang sabar ya."


"Sabar, sabar! Sakit!"


"Hehe," Dimas menggaruk kepalanya bingung harus apa.


Anggota keluarga lainnya memilih keluar apa lagi para laki-laki karena, sebentar lagi Lala akan mengejan.


"Ayo Ibu mengejan."


Lala mulai mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh dokter, sekalipun masih terlalu sulit karena, untuk pertama kalinya tetapi ia tak menyerah dan memilih untuk mencobanya.


"Dok, saya nggak kuat," rintih Lala.


"Sabar ya, sedikit lagi maka Ibu akan melahirkan seorang bayi."


"Dokter saya nggak tahu caranya mengejan!" Lala lagi-lagi berusaha untuk mengikuti arahan dokter.


"Ibu tenang dulu, tarik napas, rileks, santai jangan panik dan kita mulai lagi ya. Ingat jangan takut."


Lala mengangguk kemudian semua di mulai kembali, sesaat kemudian terdengar suara tangisan bayi.


Ooeeee ooeeee oeeee

__ADS_1


"Selamat bapak bayinya perempuan," dokter Anggia memberikan nya pada perawat untuk di bersihkan, sedangkan dirinya kembali mengurus Lala.


"Lihat Aa giliran selamatnya ke Aa, padahal Lala yang berjuang!"


Dokter Anggia tersenyum mendengar omelan ibu muda seperti Lala, seketika itu mengingat wajah tampan suaminya Bilmar yang juga menjadi sasaran amukan kemarahan saat ia melahirkan.


"Selamat juga untuk ibu."


Setelah bayi dan ibunya selesai di tangani kini dokter Anggia memberikan bayinya pada Dimas.


"Dokter, saya nggak tau cara pegang bayi," Dimas lebih memilih di suruh mematahkan 20 leher preman dari pada di minta menggendong bayi.


"Bayinya kan harus di azani Pak."


"Caranya gimana?"


"Bapak Islam?" Tanya Dokter Anggia.


"Iya Dok."


"Ya sudah, Bapak azani sekarang."


Dimas mendadak bodoh sebodoh-bodohnya bahkan untuk mengazani saja ia mendadak lupa, padahal itu di kerjakan nya setiap harinya.


"Dimas, Azan! Kamu lupa Azan gimana?" Tanya Mama Yeni.


"Iya, Ma. Sekarang udah ingat," Dimas pun tak mengenali dirinya, saat ini rasa bahagia bercampur haru membuatnya menjadi tak bisa berkonsentrasi.


Setelah tak lagi kebingungan akhirnya Dimas mengazani bayinya dan memberikannya pada Mama Yeni sebab takut memegang bayi mungil tersebut terlalu lama.


"Selamat ya."


"Selamat!"


Semua anggota keluarga mengucapkan kata selamat pada Dimas dan Lala. Akhirnya setelah berjuang kini bayinya berhasil di lahirkan dengan selamat.


"Namanya siapa?" Tanya Rika.


"Dila," jawab Dimas.


"Dimas Lala, gitu ya?" tanya Rika menebak.


Dimas mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Dimas.


"Bagus banget namanya, Dila kamu cantik tapi jangan garang seperti Papa kamu ya, dan sok jual mahal. Taunya sekarang dia dapat anak dari wanita yang dulu di benci dan malah jadi bucin akut!"


"Kamu ya!" Dimas menjewer telinga Rika, adiknya itu sangat menjengkelkan.


"Ahahahhaha......" tawa keluarga pecah dan merasa semakin bahagia dengan hadirnya Anggota keluarga baru.

__ADS_1


__ADS_2