
"Hay," Dimas masuk ke kamar Lala, pagi ini Dimas ingin memulai membuat Lala nyaman dan tidak ingin membuat Lala terus berada dalam ketakutan nya.
Lala yang hanya duduk di atas ranjang perlahan mulai melirik Dimas, wajah pucat Lala terlihat begitu jelas.
"Kamu sudah lebih baik?" Dimas menarik single sofa dan ia duduk saling berhadapan dengan Lala.
Lala mengusap wajahnya, dan mengangguk.
"Kenapa menangis?" tanya Dimas tersenyum, "Jangan menangis terus-menerus, kamu tidak ingin masuk kuliah lagi?" tanya Dimas.
Lala menarik nafas dan diam sejenak, menimbang apa yang di katakan oleh Dimas.
"Kenapa diam? Kamu itu sekarang sudah tidak terikat pernikahan lagi. Kamu sudah bebas, ayolah mana senyum yang dulu yang selalu membuat aku marah?" seloroh Dimas.
Lala menatap Dimas dengan bingung dan bertanya-tanya, "Kenapa? Apa bapak rindu marah pada saya?" tanya Lala.
"Hehehe," Dimas terkekeh, "Sedikit," kata Dimas sambil mengangguk membenarkan apa yang barusan di katakan oleh Lala. Seketika Dimas mendapatkan ide agar Lala bisa bersemangat kembali, dan melupakan kesedihannya, "Kamu mau bertemu Ayah mu?"
Lala langsung turun dari ranjang, ia dengan cepat mendekati Dimas, "Mau Pak," jawab Lala dengan cepat.
Dimas tersenyum, "Duduk dulu," Dimas memegang pundak Lala hingga duduk di sisi ranjang, "Jadi kalau kamu mau ketemu sama Ayah, kamu harus hilangkan trauma mu. Karena kalau tidak, bagaimana kita bisa pergi ke Jerman. Bagaimana nanti bila kau bertemu dengan orang banyak, nah..... setelah kau sembah kita pergi," jelas Dimas.
"Bapak serius? Bapak enggak bohong kan Pak?" tanya Lala dengan semangat.
"Iya, saya serius. Itu pun kalau kamu bisa tenang. Dan berdamai dengan rasa trauma mu itu, cobalah untuk menerima dan memulai hal yang baru," pinta Dimas.
"Iya Pak, saya akan mencoba," jawab Lala dengan semangat, walaupun ia tidak tahu akan berhasil berdamai dengan segala trauma yang ia alami. Tapi ia akan mencoba demi bisa bertemu dengan sang Ayah yang masih berada di Jerman.
Dimas mengangguk, "Bagus kalau begitu," Dimas mengacak rambut Lala yang menang sudah berantakan, "Yang kemarin itu namanya dokter Sandy, dia itu teman lama saya. Dan mulai saat ini dia yang akan membantu mu untuk sembuh," jelas Dimas, "Demi Ayah," tambah Dimas lagi agar Lala lebih bersemangat.
Lala mengangguk, "Terima kasih ya Pak, saya enggak nyangka bapak orang yang akhirnya menolong saya. Bahkan saya sama sekali tidak habis pikir jika kita bisa berbicara dengan baik seperti ini," kata Lala.
Lala dan Dimas memang dulu nya tidak pernah memiliki komunikasi yang baik, bahkan tidak sekali pun Dimas meliriknya. Padahal ia sudah mati-matian mengejar cintanya Dimas, hingga akhirnya kata yang tanpa sengaja di dengar Lala cukup menusuk relung hati. Dan saat itu Lala memutuskan untuk tidak lagi mengejar cinta Dimas, hingga sampai saat ini pun Lala tidak lagi berharap.
__ADS_1
"Saat dulu saja aku masih wanita yang suci tapi tidak pantas bersanding dengan bapak, apa lagi sekarang," batin Lala.
"Kamu kenapa?" tanya Dimas, sebab Lala terlihat diam sambil melihat dirinya.
"Enggak papa juga Pak, tapi apa saya terlalu menyusahkan bapak?"
"Kamu bicara apa? Kamu sama sekali tidak menyusahkan saya. Mulai besok kamu harus kembali ke kampus ya, dan cobalah untuk berdamai dengan keadaan kalau enggak masalah tidak akan selesai. Saya tahu kamu wanita yang kuat," kata Dimas memberikan semangat untuk yang kesekian kalinya.
Lala mengangguk, dan tidak ada salahnya untuk mencoba.
"Pagi!!!!" seru Rika yang mulai masuk ke kamar Lala, sebab ada Dimas di dalam kamar Lala jadi pintu di buka dengan lebar.
Lala langsung menatap Rika, "Kamu mau kemana?" Lala memperlihatkan dandanan Rika dari ujung kaki sampai di ujung rambut, terlihat sempurna.
"Aku mau ke kampus, kamu kapan balik ke kampus? Aku kesepian enggak punya temen. Tari lahiran, dan kamu juga sakit. Ayo dong La. Balik ke kampus," pinta Rika penuh harap, sebab ia sudah rindu dengan Lala yang selalu ada untuknya.
"Besok aku mulai kuliah lagi," jawab Lala.
Mata Rika melebar seketika, "Kamu serius?"
Rika langsung memeluk Lala, "Akhirnya, lagian ada yang nyariin kamu terus," kata Rika lagi.
"Siapa?" tanya Lala.
"Masa iya lu enggak tahu, Pak Bimo. Dosen killer di kampus," jelas Rika, sambil menatap Dimas.
"Buat apa dia nanya in aku?" tanya Lala bingung.
"Kangen mungkin sama kamu," jawab Rika asal, "Kamu cocok kalau sama pak Bimo, tampan, tajir, pokok nya udah pas banget," Rika terus tersenyum sambil menjelaskan pada Lala.
"Ehem....Ehem.....ehem," geram Dimas sebab Rika malah berbicara hal yang sangat tidak di sukai oleh Dimas.
Lala menatap Dimas dengan bingung, sedangkan Rika tersenyum melihat wajah kesal Dimas. Sebab ia tahu Dimas sudah jatuh hati pada Lala, walaupun Rika belum pernah mendengar kata itu keluar dari mulut Dimas. Tapi apa yang di lakukan oleh Dimas untuk Lala itu sudah jelas membuktikan segala nya.
__ADS_1
"Kenapa lu Kak, tenggorokan lu lagi sakit?" tanya Rika mengejek.
Dimas berdiri dari duduknya dan menarik kerah kemeja yang di pakai adik nya, sampai akhirnya di sudut kamar Dimas berbisik pada Rika, "Kalau punya mulut di jaga, enggak usah bicara Bimo atau siapapun!" geram Dimas.
Rika langsung menghempaskan tangan Dimas, ia sangat kesal pada Kakaknya, "Napa?" tanya Rika dengan nada yang kencang.
Dimas menutup mulut Rika, "Mulut lu Dek, brisik!" geram Dimas.
"Yee..... cemburu bilang Bang!!!" ejek Rika lalu ia mendorong Dimas.
Sedangkan Lala hanya menatap bingung dengan dua kakak beradik itu, sebab suara keduanya memang tidak jelas terdengar.
"La, gue berangkat ngampus dulu. Besok kita ke kampus bareng ya," kata Rika sambil melangkah keluar dari kamar Lala.
Lala tersenyum dan mengangguk, dan ia ingin bangun dari keterpurukannya.
Namun sampai di depan pintu Rika tanpa sengaja menabrak dada seseorang.
Buk!
Rika langsung terduduk di lantai, ia menatap ke atas dan melihat itu pria yang kemarin menabraknya.
"Lu benar-benar ya!" dengan cepat Rika berdiri, dan ia berjinjit agar menyamai tinggi Sandy, "Ngapain lu di rumah gue?!"
Sandy kini mengerti ternyata Rika adalah adik dari Dimas, wajar saja jika Sandy tidak mengenali Rika lagi. Sebab dulu Rika masih sangat kecil.Tapi Sandy tidak menyangka jika Rika bisa secantik sekarang ini.
"Heh," Rika yang selalu ketus pada pria langsung mendorong dada Sandy, "Jawab, jangan ngelamun doang! Gue nanya, lu ngapain ke rumah gue!" Rika kembali mengulangi pertanyaannya.
Sandy diam dan hanya fokus pada bibir Rika, dan sedetik kemudian tangan kekar Sandy menarik pinggang Rika.
"Lu ngapain?" tanya Rika yang mulai panik.
Sandy tidak perduli, kini ia semakin mendekatkan wajahnya hingga berjarak beberapa senti saja, "Mau menikahi mu," jawab Sandy sambil menarik alisnya ke atas.
__ADS_1
"Dasar gila," Rika cepat-cepat melepaskan diri dari Sandy, ia ingin sekali mencongkel kedua bola mata Sandy saat ini.