Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 145


__ADS_3

Beberapa hari berikutnya Sandy memberikan hasil tes DNA pada Mana Yeni.


Dengan perlahan Mama Yeni membukanya dan membaca hasilnya.


Dengan segera ia menghubungi suaminya, meminta untuk di jemput ke rumah.


"Bawa aku menemui Anisa."


Aditama diam menatap wajah rapuh istrinya, sedangkan Yeni hanya menatap ke depan tanpa membalas tatapan bingung Adithama.


"Aku hanya ingin bicara, tolong sekarang antarkan aku padanya."


Dengan berat hati Adithama mengangguk, akhirnya ia menuruti keinginan Yeni menemui istri mudanya.


Sampai di depan rumah, Yeni pun turun.


"Tante di sini?" Tanya Dino saat melihat kedatangan Mama Yeni seorang yang sangat di kenalinya.


Sesaat kemudian Adithama menyusul Mama Yeni yang sudah berjalan mendekati pintu utama.


"Di mana Ibu?"


"Di dalam Pa," jawab Dino.


Tunggu, barusan Dino memanggil Adithama Papa, atau hanya Yeni yang salah mendengar karena terlalu lama menangis.


"Pa....Papa?" Tanya Yeni dengan leher tercekat.


"Dino mengangguk, ini Papa, Dino Tante," Dino malah memperkenalkan Adithama pada Yeni sebagai Papanya.


Apa lagi ini, semua benar-benar penuh kejutan, Dino adalah sahabat Rika.


"Dino, siapa yang datang!!!" Seru Anisa dari dalam.


"Papa, Bu," Jawab Dino dengan nada suara meninggi agar Anisa mendengar.


"O, Pa-" Nisa tidak lagi berbicara saat melihat ada Yeni yang berdiri di depan pintu utama.


Keduanya diam mematung tanpa bicara, pertama kalinya keduanya bertatap muka secara langsung. Selama ini Mama Yeni terlalu menutup telinga untuk mengetahui pernikahan suaminya, pernikahan bertahan hanya karena anak.

__ADS_1


Selebihnya ia tidak perduli, berapa hari dalam satu bulan pun Adithama menemuinya Yeni tidak pernah menuntut sebab hatinya sudah sakit, hingga semua terasa hambar.


Andai pun Adithama pulang ia tetap menjalankan tugas nya sebagai istri tapi, tidak lebih. Tak ada tawa maupun canda semanis dulu, senyuman nya hanya ada untuk anak-anak nya.


"Masuk Mbak," Anisa mempersiapkan Yeni untuk masuk, sekalipun ada ketenangan.


"Ma, Tante Yeni itu Mama sahabat Dino yang namanya Rika sakit kangker tempo hari Dino cerita," ujar Dino memberitahu pada Anisa bahwa cukup mengenal Yeni.


Anisa mengangguk lemah, hanya senyum kecut yang terlihat. Tanpa Dino tahu sebenarnya apa yang terjadi.


Yeni perlahan masuk, matanya menatap sekeliling rumah. Ada sebuah gambar fhoto keluarga, Adithama, Anisa, dan Dino terlihat seperti keluarga bahagia.


"Duduk, Mbak," kata Anisa lagi.


Yeni pun mengangguk kemudian duduk di sofa.


"Saya buatkan minuman sebentar," pamit Anisa segera menuju dapur. Sesaat kemudian kembali dengan secangkir teh dan meletakkan pada meja.


Anisa juga ikut duduk di sofa, Adithama duduk di samping Yeni mendengarkan apa yang akan selanjutnya terjadi.


Yeni menarik napas dengan berat, menghembuskan terlebih dahulu lalu, menatap Anisa dengan serius.


Anisa perlahan mengambil kertas itu, memang itulah kebenaran nya.


"Aku berterima kasih kepada mu, sudah mendonorkan salah satu dari ginjal mu, aku bertemu kasih," Yeni menjeda perkataan nya sambil menimbang raut wajah Anisa.


"Apa kamu juga yang akan menjadi pendonor untuk Rika?"


"Iya, Mbak, aku Ibu kandungnya dan aku ingin dia tetap hidup," jelas Anisa dengan tegas.


Mama Yeni kembali mengangguk, setetes air matanya jatuh seiring dengan pelupuk mata yang berkedip.


"Aku sangat menyayangi Rika lebih dari aku menyayangi Dimas putra ku sendiri, bisa kah aku meminta satu hal?"


Anisa berpindah menatap Adithama, bingung dengan maksud Yeni saat ini.


"Kamu sangat mencintai suami ku, sehingga kamu rela melakukan semua itu untuk bisa menjadi istrinya? Benar?"


Anisa kembali menatap Yeni, seiringan dengan anggukan kecil.

__ADS_1


"Kalau begitu aku mengajukan permohonan pada mu, jangan pernah ambil Rika dari ku sebagai gantinya aku akan memberikan suami ku sepenuhnya untuk mu," papar Yeni.


Katakanlah ini terlalu menyakitkan tapi, semua harus di terima dengan hari lapang. Kehilangan Adithama bukan suatu hal yang buruk bagi Yeni asalkan bersama anak-anak nya sudah lebih dari kata syukur.


Silahkan jika Anisa ingin mengambil suaminya dengan syarat Rika akan menjadi miliknya untuk selamanya.


"Yeni-"


Yeni mengangkat tangannya menunjukan satu jari telunjuk di depan wajahnya meminta Adithama untuk diam tanpa bicara.


"Anisa, Rika tidak pernah tahu tentang ini semua, dia hanya tahu aku adalah wanita yang melahirkan nya, andai pun kau memintanya untuk memilih di antara kita aku yakin dia akan memilih aku, dari itu aku harap kamu tidak pernah berpikir mengambilnya dari ku sebagai gantinya kamu akan memiliki suami ku dengan sepenuh nya."


"Bu?"


Dino menatap penuh tanya, butuh penjelasan atas apa yang tanpa sengaja di dengarnya.


Anisa menatap Dino yang berdiri tidak jauh darinya.


"Duduk di sini!" Adithama menunjuk sofa bersebelahan dengan Anisa.


Dino segera duduk, mengingat sangat membutuhkan penjelasan dari segala nya.


"Dia, Tante Yeni, istri pertama Papa kamu, Mama hanya istri kedua, dan Rika wanita atau sahabat kamu itu adalah Kakak kandung kamu, setelah Kakak kamu berusia dua bulan Ibu di nyatakan sembuh, dan akhirnya saat bulan berikutnya Ibu positif hamil dan itu kamu, 7 Bulan kamu dalam rahim Ibu terpaksa kamu harus terlahir prematur karena terlalu beresiko, kehamilan sekarang dan sebelumnya terlalu berdekatan, dan banyak lagi resiko lainnya, kamu sengaja Ibu masukkan ke sekolah lebih awal dari usia mu, agar kamu bisa bersekolah dengan satu sekolah yang sama dengan Rika atau Kakak mu, sehingga Ibu bisa melihat nya dari kejauhan dan kalian pun bisa saling mengenal sekalipun tak tahu sedarah," jelas Anisa.


"Ini gila," Dino mengusap wajahnya, mengacak rambutnya hingga berantakan, "penjelasan macam apa ini!" Dino terlalu shock dan merasa sulit untuk menerimanya.


Segera ia bangun dari duduknya dan menuju kamar.


"Mbak, aku benar-benar minta maaf," lirih Anisa.


"Aku yang justru berterima kasih pada mu sudah memberikan anak mu untuk ku, saat ini aku ingin anak mu sepenuhnya menjadi milik ku, dengan imbalan aku memberikan suami ku, aku akan menggugat cerai Mas Adi dan kalian akan hidup bahagia tanpa aku, kamu akan menjadi istri satu-satunya," terang Yeni dengan sadar tanpa air mata, sudah menerima segala yang sangat menyakitkan menelan dengan lapang dada kehilangan Adithama.


"Yeni, bagaimana dengan aku? Aku mencintaimu!" Adithama tidak mengerti mengapa Yeni bisa mengatakan hal itu.


"Aku juga mencintaimu, tapi maaf Rika jauh lebih berharga dan aku rela menukarnya dengan apa saja termasuk kamu. Mas!"


Anisa terperangah, tak mampu berkata-kata mendengar perdebatan antara Yeni dan Adithama membuatnya sadar jika ia bukan apa-apa.


"Kamu juga mencintai dia, kalau tidak apa mungkin kalian bisa memiliki dua orang anak!" Papa Mama Yeni.

__ADS_1


"Aku hanya berusaha menjadi seorang suami, Yeni, aku tidak mau bercerai dari mu!"


__ADS_2