Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Ketakutan


__ADS_3

"Di mana alamat rumah mu?" tanya pak Bimo yang mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Pak sebenarnya saya mau minta tolong sama Bapak," kata Lala dengan sedikit sulit.


"Minta tolong?" sekilas Pak Bimo melirik Lala, namun kemudian ia fokus ke depan.


"Iya, bapak kan punya cafe. Bisa enggak Pak saya bekerja di sana?" tanya Lala.


"Lho bukannya kamu itu orang berkecukupan?" tanya Bimo, "Tapi maksud saya tidak begitu, kalau kamu memang butuh pekerjaan. Iya sudah saya bisa bantu," kata Pak Bimo dengan senang hati, ia tidak ingin banyak bertanya karena menurut nya Lala juga punya hak menjaga hal yang tidak ingin orang lain tahu.


"Terima kasih ya Pak," Lala tersenyum karena Pak Bimo memberikan nya pekerjaan.


Pak Bimo membawa Lala ke salah satu cafe miliknya, Lala melihat sekitarnya dan tempat itu terlihat sangat menyenangkan. Setelah Pak Bimo memperkenalkan Lala pada karyawan lainnya, ia berpamitan.


"Lala, saya harus jemput Ibu saya di rumah sepupu saya. Kamu kerja di sini bebas, kalau mau istirahat kapan saja. Dan nanti saya yang akan mengantarkan mu pulang," ujar pak Bimo.


"Tapi apa tidak merepotkan bapak?"


"Tentu saja tidak."


Lala mengangguk dan Pak Bimo pergi, lalu kini Lala memulai pekerjaan nya dengan bahagia.


"La, tolong antarkan minuman ini pada meja ya di sudut sana," pinta seorang karyawan.


"Iya," Lala mengangguk dan mengambil alih Napan yang di pegang Zahra barusan, namun saat ia membawa napan tersebut tiba-tiba seseorang menyenggol nya.


Krang!!!!!


Gelas nya seketika terjatuh dan beling nya berserakan di lantai.


"Hati-hati dong!" bentak wanita tersebut.


"Maaf Mbak," kata Lala dengan keringat yang mulai bercucuran.

__ADS_1


"Bisa kerja enggak! Kalau enggak bisa jangan bekerja!" ujar seorang pria yang sepertinya adalah kekasih dari wanita tersebut.


"Tau nih, baju saya jadi kotor!" bentak wanita itu lagi.


Lala merasa dunia seakan berputar dengan begitu cepat, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Ia duduk di lantai dan menutup kedua telinganya, rasanya bayang-bayang saat Dimitri memarahinya dan mengasari dirinya kembali menghantui.


"Hiks....hiks.....hiks...." Lala menangis ketakutan hingga mengundang orang-orang di sana mulai mengerumuni dirinya.


"Lala kamu kenapa?" tanya Zahra seorang karyawan yang meminta Lala barusan mengantarkan minuman tamu, "Mas sama mbak nya enggak usah main bentak juga dong, kan dia udah minta maaf," kesal Zahra, sebab tadi ia mendengar jika sepasang kekasih itu membentak Lala.


"Pak Dimas," lirih Lala sambil menangis, dan sangat ketakutan, apa lagi melihat orang-orang yang semakin mengerumuni dirinya. Lala semakin ketakutan, ia hanya bisa menyebut nama Dimas dan menutup kedua telinganya, "Pak Dimas, saya takut.... hiks.....hiks....."


Dimas yang mengikuti Lala dari tadi sampai akhirnya ia melihat Pak Bimo bersama Lala berhenti di sebuah cafe, Dimas mengira jika Lala dan Pak Bimo akan makan siang di sana. Tentu saja Dimas semakin geram, namun saat ia akan pergi tiba-tiba Dimas melihat Pak Bimo keluar sendiri dari cafe. Dan Dimas bingung Lala ada di mana, ia melihat sampai Bimo pergi dan Lala tidak ikut pergi. Dengan perlahan Dimas turun dari mobil, dan ia melihat ada yang aneh. Karena semua pengunjung berdiri dan mengerumuni seseorang, Di as langsung masuk ke tengah kerumunan orang itu. Dimas sangat shock melihat Lala yang tengah ketakutan, dan ternyata orang-orang melihatnya bingung.


"Lala," dengan cepat Dimas berjongkok dan memegang lengan bagian atas nya.


"Hiks....hiks....Pak Dimas saya takut," dengan cepat Lala langsung memeluk Dimas, karena hanya Dimas yang selama ini ada untuk nya jadi ia pikir Dimas tidak akan menyakiti dirinya.


"Dimas?" seorang wanita yang cukup mengenal pria yang tengah di peluk Lala.


"Pak saya takut," lirih Lala yang terus saja menangis.


"Ada saya, mana obat mu?" tanya Dimas yang kini duduk di kemudi.


Lala menggeleng dan ia tidak tahu karena saat ketakutan begini ia memang tidak lagi bisa berpikir jernih.


"Pak saya takut."


Dimas kembali memeluk Lala dan berusaha untuk menenangkan Lala, ia mengingat tadi pagi Sandy memberikan obat yang baru untuk Lala. Cepat-cepat Dimas mengambil obat tersebut dari tas miliknya, "Minum ini," Dimas langsung memasukkan nya ke dalam mulut Lala dan memberikan minum dari sebuah botol minuman miliknya.


"Pak, apa dia nanti akan memukuli saya?" tanya Lala dengan ketakutan, "Saya tidak kuat lagi Pak, saya takut pak," kata Lala sambil terus menangis.


"Tidak akan asa yang berani memukul mu lagi, kau tenang. Kau akan baik-baik saja," Dimas berusaha meyakinkan Lala jika tidak akan ada yang terjadi.

__ADS_1


Lala terus memeluk Dimas tanpa ingin di lepaskan, hingga akhirnya Lala tertidur karena sepertinya obat yang barusan ia minum mulai bekerja.


"Lala," Dimas menyadari Lala yang mulai tidak bergerak, dengan nafas yang beraturan dan artinya Lala sudah tertidur lelap. Dengan perlahan Dimas mulai membenarkan tidur Lala dan menyetel jok mobil agar nyaman saat Lala tertidur.


Perlahan kaki Dimas mulai turun dari mobil, kakinya kembali melangkah masuk kedalam cafe dan ingin bertanya penyebab mengapa Lala bisa memakai seragam cafe tersebut.


"Lala memang karyawan baru pak, dan saya yabg meminta Lala untuk mengantarkan minuman," jelas Zahra.


Dimas mengepalkan tangannya mengetahui ternyata Lala bekerja di sana.


"Ambi tas dan pakaian sebelumnya!!" titah Dimas dengan geram.


"Ini tuan," Zahra gemetaran saat memberikan pakaian dan tas milik Lala.


Dengan cepat Dimas mengambilnya, "Bilang pada bos mu, apa cafe ini di jual! Saya akan membeli lima kali lipat!" kata Dimas lagi lalu ia pergi, meninggalkan karyawan tersebut dengan tubuh gemetaran.


Dengan langkah kaki yang lebar Dimas langsung keluar dari dalam cafe tersebut.


Dimas langsung mengemudikan mobilnya, hingga ia sampai di depan rumah. Ia melihat Lala masih tertidur dengan Lelap, Dimas terlebih dahulu turun. Dan memutari mobil kemudian ia mengangkat Lala.


"Lho Lala kenapa Dimas?" tanya Mama Yeni panik.


"Ini cuman pengaruh obat Ma," kata Dimas, dan ia tidak ingin menjelaskan lebih banyak lagi. Sebab jika Mama Yeni tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi ia pasti di marahi habis-habisan.


"Ya udah kamu bawa ke kamar, ingat ya Dimas setelah mengantar Lala kamu langsung keluar! Jangan lama-lama berdua di dalam kamar kalian itu bukan mahram!" tegas Mama Yeni, sebab ia sering kali memperhatikan Dimas yang masuk dan berlama-lama di kamar Lala.


"Mama apasih, kita enggak ngapa-ngapain juga!" geram Dimas.


"Alah, Mama pikir kamu enggak tahu Mama sering lihat kamu memperhatikan wajah Lala saat sedang tidur!"


Glek!


Dimas meneguk saliva, lalu pergi tanpa berpamitan dengan menggendong Lala.

__ADS_1


*


Ya ampun author udah up banyak dan kalian enggak vote. Sungguh terlalu. Bisa berhenti up Author sampai beberapa hari.


__ADS_2