Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Memalukan


__ADS_3

Perlahan Dimas mulai meletakan Lala di atas ranjang, mata Lala yang terpejam dengan begitu indah. Bulu mata yang melentik seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang menatapnya. Begitu juga dengan Dimas.


Posisi tubuh Dimas yang condong pada Lala seakan terasa nyaman, rasa hati yang tidak karuan muncul kembali. Namun ada satu hal lagi yang saat ini sangat menarik, bibir yang seakan menghipnotis dirinya untuk lebih dari sekedar memandang saja. Entah sadar atau tidak perlahan Dimas semakin mendekat pada bibir itu, hingga kini hanya berjarak dua sentimeter lagi.


"Ehem...." terdengar suara deheman, dimana Mama Yeni kini tengah berdiri sambil bersandar pada sudut pintu.


Deg.


Dimas tersadar ada ia, Lala dan juga orang lain nya yang berada di sana. Ia tadi hanya mengira hanya ada mereka berdua saja, sampai akhirnya Dimas menjauh dan melihat Mamanya di sana.


"Memalukan," gumam Dimas seperti maling yang tengah ke takutkan karena ketahuan, "Mama," kata Dimas dengan tubuh yang sangat bergetar.


Mama Yeni menatap kukunya, seolah ia tidak tahu dengan Dimas yang kini tengah was-was.


"Lala masih tidur Dim?" tanya Mama Yeni tanpa melihat Dimas, ia masih sibuk memperhatikan kuku-kukunya.


Dimas memutar sedikit lehernya, dan melihat Lala yang masih tidur dengan lelap, "U...udah Ma," jawab Dimas dengan terputus-putus, "Maksud Dimas masih Ma," Dimas sadar jawaban salah, dan ia mencoba membenarkan. Sambil menjauh dari Lala.


"Em," Mama Yeni mengangguk, dan ia hanya menatap Dimas penuh intimidasi.


"Mmmm....." Lala mulai merenggangkan otot-otot tubuhnya, dan ia mulai tersadar. Dengan perlahan matanya terbuka hingga menatap Dimas, kemudian menatap Mama Yeni, "Lho, kok Lala di sini?" Lala cepat-cepat duduk dan melihat sekitarnya, "Bukannya tadi?" Lala menunduk dan mengingat di mana ia berada beberapa waktu lalu.


"Kamu tadi ketiduran, dan Dimas membawa kamu ke kamar. Dan tadi saat kamu sedang tertidur pulas Dimas....." Mama Yeni ingin berbicara tapi Dimas cepat-cepat menimpalinya.


"Kamu tadi apa udah makan siang?" tanya Dimas berusaha membuat Mama Yeni agar tidak mengatakan jika ia hampir saja mengecup bibir indah Lala.


"Tadi sih udah sama Pak Bimo," jawab Lala, "Tapi tadi Tante Yeni mau ngomong apa ya?" Lala merasa tidak sopan saja saat Mama Yeni sedang berbicara, tapi Dimas langsung memotong perkataan nya.


Dimas mulai panik, ia mengatakan Mama Yeni dengan wajah yang memucat. Apa yang akan di pikirkan Lala jika tahu dengan apa yang barusan ingin ia lakukan.


Tante Yeni tersenyum, "Itu tadi, Tante mau bilang kalau...."


"Ma yuk kita keluar," Dimas dengan cepat mendorong Tante Yeni untuk keluar.

__ADS_1


"Pak Dimas ini kenapa?" tanya Lala semakin bingung.


"Mama belum makan takut masuk angin," jawab Dimas dengan berbohong.


"O....." Lala mengangguk, "Tapi jangan di dorong juga, nanti Tante Yeni bisa jatuh," Lala memberikan peringatan, dengan nada suara yang sedikit tinggi karena Dimas dan Mama Yeni sudah cukup jauh darinya.


Dimas dan Mama Yeni kini berada di ruangan yang lainnya, dan cukup jauh dari kamar Lala. Dengan cepat Mama Yeni melepaskan tangan Dimas yang memegangi dirinya.


"Dasar anak enggak sopan!!' geram Mama Yeni.


"Mama mau ngomong apa barusan?" tanya Dimas.


"Mau ngomong apaan memang nya?" Mama Yeni kini kembali menatap Dimas penuh selidik, "Memangnya Mana mau ngomong apa?!" tanya Mama Yeni dengan nada membentak.


"Hehehe....." Dimas mendadak bodoh dan menggaruk kepalanya, "Enggak tahu."


"Dasar enggak jelas!" pekik Mama Yeni, "O," Mama Yeni menatap Dimas dengan serius, "Kamu takut Mama ngomong kalau kamu mau nyosor barusan!" tambah Mama Yeni.


Deg.


"Lho, kok malah kamu yang galak?" tanya Mama Yeni bingung.


"Tadi itu ada nyamuk di wajah Lala, Dimas mau singkirkan nyamuk nya."


"Ouuu," Mana Yeni tersenyum seolah mengejar Dimas.


"Itu kan memang kenyataannya!" kata Dimas lagi yang ingin meyakinkan Mana Yeni.


"Em," Mama Yeni mengangguk kembali, "Iya, Mama ke kamar dulu. Mau lihat Papa, takut Papa juga di gigit nyamuk di kamar," ujar Mama Yeni dan ia mulai pergi, "Nyamuknya besar dan ganas! Jantan pula," kata Mama Yeni dengan suara yang cukup kencang agar Dimas mendengar nya.


"Ish...." Dimas meremas tangannya di udara, karena kesal pada dirinya sendiri. Bertapa ia bodohnya karena hampir saja mencium bibir Lala.


Sementara di luar rumah terdengar suara keributan, dan sepertinya itu suara seorang wanita yang tengah memarahi orang lainnya.

__ADS_1


"Dasar gila!" pekik Rika dan kini ia berada di teras rumah.


"Cantik," Sandy mendorong Rika hingga bersandar pada daun pintu, "Mas tamvan ini sudah mengantarkan mu pulang, tapi kenapa kau marah-marah," kata Sandy.


"Mas....Mas...!" geram Rika, "Kapan Kak.Dimas nikah sama lu. Jadi ngapain lu gue panggil Mas!" imbuh Rika geram.


"Waw, kenapa Mas harus menikah dengan Kakak mu Dimas. Dia itukan laki-laki, mana mau Mas entar adu pedang," jawab Sandy dengan konyolnya.


Rika mencoba mendorong Sandy, "Sana jauh-jauh! Kebiasaan ketemu sama orang enggak waras kayaknya lu, makanya ketularan gila!" teriak Rika.


"Iya dan Mas tergila-gila sama kamu!" celetuk Sandy lagi, "Sayang jangan galak-galak dong, entar cantiknya hilang," Sandy menggoda Rika sambil mencolek dagu Sandy.


"Enggak usah pegang-pegang, bukan muhrim!" tangan Rika dengan cepat menepis tangan Sandy.


"O, kamu mau Mas muhrimin?" tanya Sandy dengan konyolnya.


"Apasih, sana jauh-jauh!"


"Kamu jangan galak-galak dong, kan udah Mas antari pulang."


"Terpaksa! Kalau enggak terpaksa gue enggak akan mau!" jawab Rika, sebab tadi saat Dimas meninggalkan dirinya di kampus. Tiba-tiba banyak yang berlari, Rika yang bingung juga ikut berlari padahal ia tidak tahu apa-apa. Sampai akhirnya Sandy membuka pintu mobil dan ia langsung masuk dan ternyata itu mobil Sandy, dan anehnya orang-orang berlari karena di kejar anjing milik seorang mahasiswa yang cukup galak.


Dimas yang mendengar suara keributan tentu saja penasaran, ia keluar dan melihat Rika yang tengah memarahi Sandy. Tapi posisi keduanya tidak lagi berdekatan, karena Sandy tahu Dimas sudah akan keluar dan ia kembali memasang wajah datarnya.


"Ada apa ini?" tanya Dimas, menatap Rika kemudian menatap Sandy.


"Ini nih, psikologi gila!" kesal Rika menunjuk Dimas.


Dimas menatap Sandy, tapi Sandy hanya datar sambil mengangkat bahunya seolah ia tidak mengerti.


"Yeeee.....Kakak tau enggak! Dia ini orang enggak waras!" geram Rika.


"Maaf ya Dimas, aku pulang dulu. Tadi aku cuman kasihan sama adik kamu jalan sendiri, terus aku tawarin buat ngantarin pulang dan," Sandy mengangkat bahunya seolah tidak mengerti.

__ADS_1


"Ish..." Rika menghentakkan kakinya dan menatap Sandy dengan tatapan permusuhan, kemudian ia masuk.


__ADS_2