Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 138


__ADS_3

Kakak aku cantik dan ganteng, tolong like dan Vote, bantu Othor menyemangati diri Othor buat lanjuti cerita ini.


Happy reading!


***


Mata Rika terbuka lebar dengan tiba-tiba, bahkan seakan merasa jika dirinya tengah berada dalam alam mimpi.


Tapi tidak, Rika melihat wajah Sandy yang kini tengah menatapnya.


"Mas, maaf, ya," lirih Rika dengan bibir bergetar dan wajah pucat.


Kata pertama yang keluar dari bibir Rika membuat air mata Sandy kembali menetes.


"Ma, maaf," Rika beralih menatap Mama Yeni yang juga tengah terisak.


Selanjutnya Rika menatap Dimas.


"Kak, maaf, ya, Rika udah banyak nyusahin," kata Rika sambil tersenyum.


Tidak ada yang berbicara semua hanya diam menatap wajah Rika.


Sedetik kemudian Rika menutup matanya kembali, dan tidak membukanya lagi.


"Rika," Sandy memanggil Rika dengan penuh rasa takut.


Tapi Rika sudah tidak membuka matanya lagi hingga mengundang kepanikan.


"Rika, bangun Dek ini Mama," Mama Yeni menggerakkan tubuh putrinya.


"Rika," Sandy juga merasa ada yang tidak beres.


"Denyut nadi nya melemah Dok," kata Dokter Anifah.


"Sekarang Dok," Dokter Miranda segera mendekati defribrilator, karena detak jantung Rika mulai melemah.


"Dokter anak saya baik-baik saja kan?"


"Sabar ya Bu, tolong keluar dulu," pinta Dokter Miranda.


"Tapi anak saya Dok," luka ini terlalu menyakitkan untuk seorang wanita rapuh saat melihat putrinya terbaring lemah tak berdaya.


Sisa-sisa kenangan yang terlintas seakan semakin membuat rasa takut.


"Ma, mulai hari ini sering-sering lihat wajah Rika, ya," tutur Rika tanpa sadar, "sering-sering marah sama Rika juga, nanti kalau-" Rika tersadar dengan apa yang barusan di ucapkan nya.


"Kalau?" Tanya Mama Yeni penasaran.


Kepingan ingatan itu kembali berputar di kepala Mama Yeni, terjawab sudah apa maksud dari perkataan putrinya yang terdengar aneh dan membingungkan.

__ADS_1


Mama Yeni menangis tersedu-sedu, membekap mulut dengan kedua telapak tangannya agar suaranya tak sampai menggema.


Sekalipun begitu ia tetaplah tak mampu membendung rasa sakit ini, setiap perubahan sikap putrinya kini terjawab sudah.


Inilah alasan dari segalanya, anaknya tak ingin membagi rasa sakitnya pada keluarga ataupun orang-orang yang di sayanginya.


Lala juga berusaha untuk tetap tegar, menguasai dirinya agar tidak shock berat dan nantinya malah membuat kecemasan lagi.


Tidak ingin membuat masalah ia memilih pergi menuju taman rumah sakit, duduk sambil memegang mineral di tangannya, sesekali meneguknya agar tetap baik-baik saja.


Apa jadinya jika ia tidak kuat dan malah jatuh pingsan, bukan mengurangi masalah tapi malah menambah masalah ada.


Sekalipun terasa sudah begitu rapuh dan tak kuasa membendung air mata.


Tidak lama berselang Dino duduk di sampingnya, keduanya diam tanpa kata hanya air mata yang sesekali tumpah di seka dengan cepat agar tidak semakin terluka.


"Kamu tau?" Lala memecahkan keheningan, diam tanpa bertanya membuatnya tidak menjadi tenang seketika, "sejak kapan?" Perlahan Lala menatap Dino, sesaat kemudian ia kembali menatap ke depan.


"Baru, baru beberapa hari ini, itu pun mungkin karena buntu, sampai Rika menceritakan nya sendiri," Dino menyandarkan tubuhnya, tidak menyangka keadaan begitu sulit.


"Kenapa kamu diam?"


"Karena aku bodoh," Dino tersenyum getir, takut Rika pergi menghilang hingga ia memilih untuk menuruti keinginan sahabatnya.


Tidak hanya satu penyesalan tapi dua, itupun karena kebodohannya sendiri.


Dino sangat menyesal melepaskan Rika saat semalam dalam keadaan mabuk, sampai akhirnya sahabatnya itu semakin tertekan karena entah siapa pria yang sudah tidur dengannya.


"Beberapa hari ini dia berubah, bahkan kami nggak kenal lagi dengan dia dan ternyata ini alasannya," Lala menarik napas dan kembali meneguk mineral di tangannya.


"Rika gimana La?"


Suara Mentari menyadarkan Lala dari lamunannya, seketika mendongkak menatap Mentari yang kini berdiri di hadapannya.


Wajah Mentari begitu panik, hingga membutuhkan jawaban yang cepat.


Lala menggeleng.


"Buruk," jawab Lala dengan suara putus asa.


Mentari membekap mulutnya dengan kedua tangannya, keadaan Rika membuat jantungnya seakan berpacu dengan kencang.


"Aku, lihat Rika dulu ya, kamu?"


"Aku di sini aja, jangan sampai aku juga membuat masalah di sana," jawab Lala.


Saat ini saja perutnya mulai terasa sakit, jika ia melihat wajah Rika yang lemah. Membuatnya merasa sedih, jantungnya berpacu dengan kencang dan membuat perutnya semakin sakit.


"Ya udah," Mentari langsung menuju ICU.

__ADS_1


Mentari menatap sahabatnya dari pintu kaca, tidak pernah terlintas dalam benaknya melihat kondisi lemah Rika kini malah terjadi seakan sebuah mimpi yang begitu nyata.


Ini memang nyata, tanpa bisa di elak.


"Dok?" Sandy menatap Dokter Miranda, membutuhkan jawaban sekalipun Sandy sudah melihat tidak ada napas yang tersisa untuk Rika.


"Pasien sudah pergi," kata Dokter Miranda dengan berat hati.


Tak terhitung berapa jumlah tetesan air mata, Sandy memeluk erat Rika yang kini terbujur kaku dengan wajah pucat.


"RIKA!!!!!" Teriak Sandy dengan sisa-sisa cinta yang telah hancur, lenyap bersamaan kekasih halalnya yang tak lagi bernyawa.


Kenangan indah semakin menjadi luka dalam, seakan belati yang menikam dada.


Sandy pernah berjuang mempertaruhkan nyawanya demi Rika, pernah berkorban demi bisa hidup bersama, lantas apakah tidak ada waktu untuk nya agar bisa bersama wanita yang di cintai nya.


Menikmati indahnya cinta dari sisa-sisa perjuangan yang tak mudah.


Terluka.


Jangan tanyakan lagi apa, segalanya telah pergi tanpa ada yang tersisa.


"Rika bangun, jangan tinggalkan aku!!!"


Taukah kamu apa itu cinta?


Cinta adalah luka dan luka adalah cinta.


Seseorang bisa bahagia karena cinta, tapi bisa menderita dan terluka karena terlalu mencinta.


Sandy berpikir semalam adalah awal dari kebahagiaan nya, tapi siapa sangka ternyata semalam adalah akhir dari segalanya.


Pertama dan terakhir.


"Aku tidak bisa hidup tanpa mu, mana janji mu saat dulu, mana janji mu hidup bersama ku mati bersama ku, nyatanya saat ini kamu pergi tanpa aku, mana janji mu kita satu liang lahat bersama???!!!" Seru Sandy penuh luka.


Degh!


Semua terperangah mendengar kata-kata Sandy, termasuk Bunda Jihan.


Sejauh itukah cinta keduanya, lantas apa yang terjadi jika salah satunya pergi.


Apa Sandy akan sama seperti Ayahnya yang brengsek itu, Jihan tidak siap jika Sandy pun mengikuti jejak Ayah bajingan nya yang sampai saat inipun entah di mana rimbanya.


"Rika bangun, tolong bangun demi aku, aku tidak bisa hidup tanpa mu!!!"


Tangis pilu masih terdengar, rasanya sangat menyakitkan sekali.


Memory indah itupun terus saja berputar membuat sakit semakin dalam, cinta di uji dengan perpisahan yang tak tahu apa mungkin akan di pertemukan kembali.

__ADS_1


Tapi setengah jiwa telah pergi, apa mungkin setengah nya lagi bisa berdiri tegak dengan napas yang tak lagi berpihak pada nya.


__ADS_2