Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 137


__ADS_3

Ponsel Sandy berdering, ada sebuah notifikasi sebuah chat.


Sandy segera membuka berharap itu adalah orang suruhannya, tetapi ternyata Dokter Anifah yang mengirimkan pesan dengan sebuah fhoto.


Sandy mendadak mengerem mobilnya, melihat gambar Rika dengan keadaan yang sangat memprihatikan.


Dengan segera Sandy menghubungi Dokter Anifah melalui panggilan telpon.


"Halo Dok?" Jawab Dokter Anifah di sebrang sana, matanya menatap Rika yang masih belum sadarkan diri.


"Dokter, apa yang terjadi?" Tanya Sandy to the poin.


"Saya tidak tahu pasti Dok, tapi, Rika baru saja di larikan ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri, kata pria yang membawanya Rika tidak sadar saat dalam perjalanan menuju rumah sakit," jelas Dokter Anifah.


"Apa di ada di rumah sakit kita?" Tanya Sandy lagi.


"Iya Dokter, tapi temannya mengatakan bahwa sebelumnya Rika memang sudah beberapa kali di rawat di rumah sakit lain dengan Dokter Miranda yang menangani," papar Dokter Anifah.


Sandy memutuskan panggilan sepihak, apa yang di dengarnya pagi tadi tidak salah.


Dengan menambah kecepatan laju mobilnya Sandy segera memutar arah, kembali menuju rumah sakit.


Sampai di rumah sakit Sandy memarkirkan mobilnya dengan asal, segera ia berlari menuju ruang ICU tempat di mana kini Rika tengah berada.


***


POV Sandy.


Lutut ku terasa lemah bahkan untuk menopang tubuh ku sendiri rasanya tidak mampu.


Aku berdiri di depan pintu ruang ICU berharap yang kini di rawat di dalam sana bukan Rika wanita yang aku cintai setelah Bunda ku.


Air mata ku menetes seketika tanpa permisi, pertama kalinya aku menitikkan air mata untuk seorang wanita.


Pertama kalinya aku benar-benar jatuh hati tanpa ingin beralih darinya, dia wanita yang membuat ku berubah, mengajarkan apa artinya cinta yang sesungguhnya.


Senyuman nya saat bersama ku, tawanya saat tengah mengejek ku, teriakan nya saat sedang marah karena aku.


Aku mengenang sejarah pertemuan saat pertama kalinya aku dan dia bertemu, aku tidak sanggup.


Kami memperjuangkan cinta kami dengan susah payahnya, melewati banyaknya cobaan, melalui terjalnya jalan pemisah yang harus kami lawan.


Berpegangan saling menguatkan satu sama lainnya.


Tapi saat kami bersatu dalam ikatan pernikahan kenapa semua seakan lebih buruk, cinta ini kembali di uji dengan perpisahan yang sangat menyakitkan.

__ADS_1


Aku menangis tanpa suara, terisak tanpa kata dalam luka yang begitu sakit menyaksikan sendiri istri ku terbaring lemah tidak berdaya.


Inikah alasan di balik sikap dinginnya, menolak setiap kali aku ingin menyentuhnya?


Apa dia pikir aku bisa bahagia tanpa dia?


Apakah dia pikir menggantikan posisinya di hati ku semudah itu?


Apa dia pikir aku main-main dalam mencintai nya?


Andai posisi ini bisa aku gantikan, aku lebih memilih mengambil penderitaan nya dan dia yang kini sehat, tertawa dengan bahagia.


Tapi kenapa dia memilih untuk menyimpan penderitaan nya, memilih untuk menderita sendiri tanpa membagi sedikit pun pada ku.


Jangankan untuk bahagia, untuk menderita saja aku rela asal itu bersamanya.


Bodoh!


Aku memang bodoh, cinta ku menghilangkan akal sehat ku.


Sekalipun aku adalah seorang dokter tapi aku terlalu lemah bila di hadapan wanita ku, aku sangat mencintai nya.


***


"Dokter Sandy, anda baik-baik saja?!" Dokter Jeri menepuk pundak Sandy.


Sandy hanya mengangguk tidak kuasa melihat Rika kini dalam keadaan tidak sadar.


"Sebenarnya dia kenapa?" Tanya Sandy ingin tahu lebih jelas.


"Menurut hasil pemeriksaan sementara dia terkena Leukimia, dan setelah menghubungi Dokter Miranda selaku dokter yang ternyata selama ini menangani pasien dia membenarkan jika pasien memang menderita Leukimia stadium lanjut," jelas Dokter Jeri.


Harus di katakan meskipun terlalu menyakitkan, Dokter Jeri sebagai ahli dalam mengani penyakit ini tentunya merasa iba dan sedikit sulit, tapi semakin Sandy tahu keadaan Rika maka akan semakin mempermudah segala penangan tepat.


"Dia istri saya Dokter, lakukan apapun demi kesembuhan nya," kata Sandy.


Dokter Jeri dan dokter lainnya tidak berani bertanya lebih lanjut, meskipun mereka cukup terkejut mendengar pernyataan Sandy.


Tapi semua hanya memilih diam, bahkan mereka kini tau tengah merawat istri dari pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja.


Mendadak Rika kejang-kejang dan detak jantung nya mulai melemah.


"Apa ini?" Sandy semakin panik dan ketakutan, ia benar-benar tidak siap jika harus kehilangan Rika.


Dokter Jeri segera menangani Rika, melakukan tindakan untuk menolong semampunya.

__ADS_1


"Dokter Anifah tolong suntikan obat ini," Dokter Jeri memberikan beberapa jarum suntik pada Dokter Anifah untuk membantunya.


"Dokter apa dia baik-baik saja?"


Setengah jiwanya terasa hilang karena Rika yang terbaring lemah, Sandy hanya bisa duduk di lantai sambil menundukkan kepalanya, bahkan kehilangan harga diri yang selama ini di kenal sebagai dokter dingin.


Rika meruntuhkan segalanya.


"Pasien kritis Dok."


Entah berapa kali jumlah jarum suntik yang sudah menembus kulit Rika, tapi keadaannya memang begitu buruk.


"Kita lihat satu jam ke depan, mungkin akan ada keajaiban," ujar Dokter Jeri.


"Bagaimana jika kita menghubungi Dokter Miranda, karena dia sudah lebih tahu tentang pasien, jika kita melakukan pemeriksaan lagi akan memakan waktu, kita tetap melakukan pemeriksaan tapi pasien juga harus segera di tangani," usul Dokter Anifah.


"Hubungi Dokter Miranda," titah Sandy.


Dengan segera Dokter Anifah menghubungi Dokter Miranda dan memintanya segera datang ke rumah sakit.


Walaupun Dokter Miranda bekerja di rumah sakit lain tetapi, ia tetap bersedia untuk datang karena menolong pasien adalah salah satu dari bagian hidupnya.


***


Mama Yeni berjalan secepat mungkin menuju ruang ICU, kemudian ia melihat Dino berdiri di depan pintu.


"Dino, gimana keadaan Rika?" Tanya Mama Yeni tidak sabar.


"Dino cepat jawab," lirih Lala dengan suara yang hampir menghilang.


"Rika, kritis Tante, dia-" Dino pun tak mampu berkata-kata, mengingat wajah Rika yang pucat dengan darah yang terus keluar dari hidungnya.


Sampai detik ini pun Dino masih merasa bersalah karena memilih untuk menyimpan rahasia ini dari keluarga Rika.


Mungkin saja jika keluarganya tahu ini tidak akan terjadi tetapi, mau bagaimana lagi ia pun tidak ingin Rika menganggapnya bukan sahabat dan malah pergi sejauh mungkin.


Dino berada di posisi yang sulit.


"Rika terkena Leukimia Tante, dan Dino juga baru tahu beberapa hari ini, Rika minta buat menyembunyikan ini semua," jelas Dino.


Dimas yang mendengar merasa menyesal, artinya barusan Rika meminta uang untuk pengobatan ke rumah sakit.


Andai saja Rika mengatakan langsung untuk apa jumlah uang banyak yang selalu di minta pasti Dimas tidak akan mungkin tidak memberikan uang untuk pengobatan adiknya.


Apapun akan dilakukan oleh Dimas demi membiayai adiknya.

__ADS_1


__ADS_2