
"Saya terima nikahnya dengan mahar tersebut tunai!!!"
Sah?
Sah!!!!
Sah!!!
Sah!!!
Layla Putri Sinara kini sudah berstatus istri Dimas Adithama, dan salah satu nya yang menjadi saksi adalah Zea sekaligus mantan kekasih Dimas. Jangan tanyakan hati, tapi Zea sudah ikhlas dalam melepaskan Dimas untuk Lala. Tidak ada lagi cinta ataupun berharap kembali pada Dimas. Dengan Dimas dan Lala memanfaatkan dirinya pun sudah lebih dari cukup bagi Zea.
"Maaf ya Kak Zea, kalau Rika kemarin sempat jutek sama Kakak," ujar Rika yang melihat Zea tersenyum menyaksikan pernikahan Lala dan Dimas.
Zea mengangguk, dan memutar lehernya menatap Rika. Ia tersenyum lembut pada Rika.
"Tenang Kak Zea, ada Pak Bimo. Nanti Rika yang bakal jadi Jomblang nya," tawar Rika sambil cekikikan.
"Kamu ada-ada saja," jawab Zea tertawa kecil, "Kamu sudah punya pacar belum?" tanya Zea.
"Hehehe......" Rika menggeleng, "Belum, mana di ijinin sama bodyguard Rika yang tidak di gaji itu!!!" Rika menatap Dimas yang kini tengah menatap Lala, selepas melapaskan ijab kabul.
"Kamu bisa aja," kata Zea tersenyum.
"Ayo Dimas pakai kalungnya," titah Mama Yeni.
"Mana mau dia Ma," celetuk Rika.
"Lho kenapa?" Mama Yeni menatap Rika dengan bingung.
"Maunya langsung ke kamar!" jawab Rika.
"Huuussss!!!!" Mama Yeni menatap Rika dengan kesal.
"Hehehe......" Rika sadar ia salah sehingga ia hanya cengengesan saja.
Dimas mengambil kalung milik Mama Yeni yang sebelumnya sudah di pilih sendiri oleh Lala, kemudian mengalungkan nya pada leher Lala. Tapi tanpaknya Dimas sangat betah di posisi yang begitu dekat hingga ia tidak menjauh walaupun kalungnya sudah terpasang.
"Dimas......udah boleh di bawa kalau mau!" kata Mentari yang tiba-tiba memecahkan keheningan.
Glek.
Dimas tersadar dan ia mulai menjauhi Lala, kemudian menatap sekitar nya.
"Ahahahaha....."
Jika para lelaki hanya tersenyum melihat tingkah konyol Dimas, maka tidak dengan para wanita yang langsung melepaskan tawanya.
"CK...." Dimas menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal.
"Lala ayo cium tangan AA Dimas nya, apa yang di khayal kan dulu sudah tercapai," celetuk Rika yang tahu semua tentang rahasia Lala.
Wajah Lala memerah saat Rika menggoda dirinya, ini sangat memalukan sekali pikir Lala. Tapi Lala sebenarnya masih terlalu bingung, apakah ia benar-benar sudah menjadi istri Dimas? Semua terjadi begitu saja tanpa ada rencana. Kemarin mereka masih bukan siapa-siapa, lalu malam ini status mereka berubah menjadi suami istri.
__ADS_1
"Rika udah Dek," kata Mama Yeni yang tahu kini Lala tengah menahan malu.
"Bener tu Rika, kami harus sopan sama Kakak Ipar!!" timpal Tari.
"Ahhahaha....." yang lainnya lagi-lagi tertawa melihat wajah Dimas dan Lala yang tengah menahan malu.
"Dah ya kita ke kamar dulu," kata Dimas dan ia langsung menggendong Lala.
"Pak Dimas," Lala terkejut karena Dimas langsung mengangkat dirinya.
"Dimas, tamu masih di sini!!!" kata Arka yang tiba-tiba ikut bicara.
"Pulang! Yang punya rumah juga mau tidur!!!" jawab Dimas dan ia langsung pergi.
"Sabaruddin sabar ya, kita pulang yuk. Udah di usir," kata Tari sambil memeluk lengan Arka.
"Dasar Dimas gila," umpat Arka.
Sementara dari tadi Lala terus minta untuk di turunkan, sampai akhirnya Dimas menurunkan nya di depan pintu kamar.
"Maaf ya, tapi mereka ngejekin terus. Jadi sekalian saja buat kehebohan," jelas Dimas.
Lala mengangguk, "Saya ke kamar dulu Pak," pamit Lala.
"Tunggu," tangan Dimas dengan cepat memegang lengan Lala.
Lala berhenti melangkah dan menatap tangan Dimas yang memegang lengannya, entahlah tapi ini sungguh sangat menegangkan.
"Kamar kita di sini," Dimas menunjuk kamar miliknya yang kini juga menjadi kamar Lala.
"Kita, aku kamu," jelas Dimas, "Kita kan sudah...." Dimas menatap Lala sambil menjeda ucapannya, "Menikah," lanjut Dimas lagi.
Deg.
Mendengar kata menikah Lala merasa jantungnya tidak karuan, dan ia hanya bisa diam tidak tahu harus apa.
Perlahan tangan Dimas memutar gagang pintu, lalu masuk ke kamar. Lala juga otomatis ikut melangkah masuk karena lengannya masih di pegang erat oleh Dimas.
Lala mengedarkan pandangannya, karena kamar itulah yang menjadi saksi saat kejadian itu menimpanya.
"Tidak apa, kita sudah menikah," kata Dimas yang bisa menebak pikiran Lala.
Lala mengangguk, "Pak, saya masih boleh kuliah kan?" tanya Lala.
"Boleh, kalau kau jadi istri yang baik," jawab Dimas.
"Istri yang baik Pak?" tanya Lala bingung.
"Em....." Dimas mengangguk, "Melayani suami, memandikan suami, menyuapi suami, memasak untuk suami," jelas Dimas.
"Kok bapak seperti bayi?" tanya Lala dengan polosnya.
"Hehehe....." Dimas tertawa kecil melihat wajah Lala yang kini terlihat begitu polosnya, "Polos banget, tapi lebih enak kalau di polosin," batin Dimas.
__ADS_1
Lala tersenyum dengan terpaksa sambil menggaruk tengkuknya, "Saya salah ya Pak?" tanya Lala ragu.
"Salah Buk," jawab Dimas.
Glek.
Lala meneguk saliva entah untuk yang ke berapa kalinya, karena Dimas yang terlihat aneh.
"Perbaiki panggilan mu itu ya," kata Dimas memberikan peringatan.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu, Dimas langsung menuju pintu dan ternyata Arka di sana yang tengah menatapnya.
"Pengganggu!" geram Dimas, dan ia ingin menutup pintu.
Kaki Arka dengan cepat menahan pintu kamar Dimas, hingga pintu tidak bisa di tutup.
"Mau jadi penonton kah?" geram Dimas.
"Kalau kau ijinkan," jawab Arka.
Arka tahu Dimas sudah tidak sabar, tapi ia pun ingin mengerjai Dimas. Lagi pula acara makan malam bersama belum selesai, hanya akad yang barusan selesai tapi Dimas sudah langsung masuk ke dalam kamar membawa istri nya.
"Dasar bos gila!" kesal Dimas.
"Ayo ikut," Arka menarik paksa Dimas untuk ikut dengan nya.
"Kemana?" tanya Dimas yang terpaksa ikut berjalan, karena jas nya di tarik paksa oleh Arka.
"Makan malam. Kau butuh energi!" jawab Arka.
"Aku sudah kenyang!!" tolak Dimas.
"Kau harus makan dulu, nanti tiba-tiba kau lapar bagaimana?" tanya Arka dengan konyolnya.
"Aku pasti kenyang kalau makan istri!" jawab Dimas yang tidak mau kalah, dan kini ia di paksa duduk oleh Arka pada kursi meja makan.
"Makan!" titah Arka.
"Sudah....sudah," Mama Yeni tersenyum melihat Arka yang usil dan Dimas yang kesal, "Lala mana?" tanya Mama Yeni.
"Di kamar Ma," jawab Dimas.
"Lho, kok enggak di ajak makan. Dia dari pagi belum makan apa-apa kayaknya," ujar Mama Yeni.
"Dimas yang bawakan makanan nya ke kamar ya Ma," pinta Dimas.
"Ada Mentari," kata Arka menatap istrinya.
"Betul, ada Tari dan Rika!" Tari tersenyum melihat wajah kesal Dimas.
"Yups...." Rika langsung berdiri, "Yuk Tari, kita antar makanan buat Lala."
__ADS_1
"Yuks, sekalian aku mau kasih kado nih...." jawab Tari.