Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Visum


__ADS_3

"Aku pergi saja," Lala meloncat dari atas ranjang.


"Lala," dengan cepat Dimas langsung memeluk Lala, dan berusaha membuat Lala tenang.


"Pak Dimas, saya mohon jangan serahkan saya pada dia. Saya sudah tidak sanggup Pak, lagi pula dia tidak menepati janjinya untuk membiayai operasi Ayah Pak," kata Lala sambil terus menangis, kini ia tidak bisa bergerak karena Dimas memeluknya dengan sangat kuat. Sebab Lala memang berusaha untuk melarikan diri, "Saya mohon Pak," lirih Lala.


"Lala kamu tenang dulu," Rika merasa kasihan pada Lala, ia benar-benar ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh Lala.


"Aku udah enggak kuat Rika, aku enggak mau balik sama dia. Aku takut, tolong lepaskan aku. Aku mau pergi saja," seru Lala dan ia meronta-ronta ingin di lepaskan oleh Dimas.


"Lala cukup!!!" bentak Dimas.


Deg.


Lala diam dan merasa tubuhnya lemah karena bentakan Dimas. Ia tertunduk dan tidak lagi meronta-ronta.


"Saya tidak akan memberikan mu pada dia, jadi jangan pernah takut," jelas Dimas.


Lala meneguk saliva dan menatap Dimas dengan mata yang berkaca-kaca, bahkan ia ingin di yakinkan jika Dimas tidak akan memberikan nya pada Dimitri.


"Jangan takut lagi, kau aman di sini bersama ku. Tapi kau harus tenang, apa kau bisa tenang?" tanya Dimas sebelum melepaskan Lala.


Satu butir air mata Lala terjatuh dan membingkai di wajah nya, kemudian dengan cepat Dimas memutar tubuh Lala dan memeluknya dengan erat. Dimas tidak ingin Lala berteriak histeris karena ketakutan, bahkan hanya mendengar nama Dimitri saja Lala sudah ketakutan dan ingin pergi.


"Jangan menangis lagi," Dimas perlahan melepaskan pelukannya, sebab Lala sudah lebih tenang, "Kamu duduk di sini ya," pinta Dimas dan Rika juga ikut duduk di samping Lala, "Jangan takut, dan tetap tenang," kata Dimas lagi.


"Tapi dia pasti cari saya Pak, janji ya Pak jangan berikan saya. Saya janji bakalan nurut sama bapak, tapi tolong ya Pak," pinta Lala dengan berlinang air mata.


"Iya, tapi kau harus tenang," pinta Dimas lagi.


Lala mengangguk dan ia mencoba untuk tetap tengang, setelah itu dengan hati yang berat Dimas pergi menemui Dimitri.

__ADS_1


"Lala kamu tenang ya," pinta Rika.


Lala mengangguk, tapi air matanya terus saja tumpah. Dengan tubuh gemetar Lala mencengkram erat bajunya, bahkan selang infus nya mulai mengeluarkan cairan merah. Suster Wina dengan cepat memperbaikinya, karena ia juga kasihan melihat Lala yang seperti ini.


Sementara di ruang tamu terlihat seorang pria dengan tubuh kekarnya, ia menatap Dimas yang perlahan berjalan ke arah nya.


"Semua bukti mengatakan, kau yang membawa istri ku!" ucap Dimitri dengan tegas.


Dimas tersenyum miring, ia mengeluarkan sebuah berkas dari dalam jasnya. Dan melemparkannya pada Dimitri, "Iya, dan semua bukti itu yang akan menyeret mu ke jeruji besi!!" jawab Dimas dengan pasti.


Dimitri melihat dan membaca isi berkas yang di lemparkan oleh Dimas padanya, mata nya melebar seketika saat melihat isinya.


"Visum?" Dimitri menatap Dimas dengan penuh tanya.


"Aku hanya nyamuk bukan?" tambah Dimas sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Katakan dimana istri ku!!!!" geram Dimitri.


"Jangan main-main dengan ku!" geram Dimitri penuh amarah.


"Kau sudah di berikan waktu, tapi kau menyia-nyiakan nya. Dan sekarang aku yang akan merebutnya dari mu!" jawab Dimas tidak kalah tegas.


"Dia itu istri ku, dan mungkin sekarang dia juga tengah mengandung anak ku. Jadi kau tidak akan punya kesempatan untuk memilikinya!" bohong Dimitri.


Padahal ia dan Lala sama sekali belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri, bahkan saat Lala menawarkan diri nya pun Dimitri menolak. Jadi apakah mungkin jika saat ini Lala mengandung anak Dimitri, rasanya itu sangat mustahil.


"Aku tidak perduli! Yang aku tahu aku yang akan membahagiakan nya! Satpam usir lelaki bejat ini dari rumah ini dan jangan pernah biar kakinya yang kotor itu menginjak rumah ini lagi!" titah Dimas pada kedua Satpam yang dari tadi berdiri di depan pintu, mata Dimas menatap Dimitri dengan penuh amarah dan ia sama sekali tidak takut pada Dimitri.


"Seperti kau belum tahu siapa aku?" kata Dimitri tersenyum miring.


"Siapa pun kau aku tidak takut!" tantang Dimas, "Kalah atau pun menang itu masalah belakangan, yang aku tahu kau harus di musnahkan!" kata Dimas juga menatap Dimitri tidak kalah remeh.

__ADS_1


"Aku pastikan kau akan menyesal!"


"Ayo keluar tuan," pinta dua satpam yang mencoba memegang Dimitri dan menarik nya keluar dari rumah besar milik kedua orang tua Dimas.


"Jangan sentuh saya!" Dimitri menghempaskan tangannya yang di pegang oleh kedua satpam itu.


"Tapi pak Dimas meminta anda keluar dari rumah ini," jelas satpam itu lagi.


"Saya akan pergi sendiri!" kemudian Dimitri kembali menatap Dimas, "Ini penghinaan dan kau pun akan segera mendapatkan balasan, karena aku tidak akan pernah membiarkan diri ku di hina," tegas Dimitri.


Dimas mengangguk dengan menaikan sebelah alis matanya, tidak perduli sekeras apa Dimitri. Entah mengapa ia hanya ingin menebus kesalahannya pada Lala, dengan cara melepas Lala dari suami yang tidak punya hati itu.


"Pintunya di sebelah sana!" Dimas menunjuk arah pintu, dengan arti ia tidak akan gentar melawan Dimitri.


Dimitri terpaksa pergi dengan membawa amarah yang memuncak, bahkan ia melakukan kendaraannya dengan kecepatan yang sangat kencang.


Sampai di rumahnya Dimitri langsung menendang pintu untuk masuk, semua mata Art tertuju padanya tapi tidak ada satupun yang berani berbicara. Hingga kaki Dimitri berjalan menaiki anak tangga, tapi ia kembali menendang satu guci yang di letakan di sudut tangga.


Krang!!!


Guci berharga fantastis itu kini berubah sekejap menjadi serpihan kecil yang tidak ada nilainya lagi, entah mengapa otaknya tidak bisa melupakan wajah Lala. Dan ini terjadi setelah Lala pergi dari hidupnya.


Krang!!!


Krang!!!


Dimitri terus melempar apa saja yang ada di hadapannya.


"Sayang kau kenapa?" tanya Sarika dengan perasaan was-was, sebab ia sudah menunggu kepulangan Dimitri dari tadi.


Dimitri menatap Sarika dengan tajam, ia mengambil pas bunga kecil.

__ADS_1


"Sayang," kaki Sarika bergetar, ia mundur selangkah demi selangkah dan wajahnya sangat ketakutan.


__ADS_2