Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Sendiri


__ADS_3

Tari dan Lala tidak di ijinkan oleh masing-masing suami mereka untuk kembali ke pantai, sedangkan Rika juga tidak memiliki teman yang bisa ia ajak bermain ombak di pantai.


"Ya ampun, gini amat ya nasib gue," suara putus asa itu seakan menandakan jika Rika sedang sangat kesepian.


Ombak yang terus datang dan pergi menghampiri Rika seakan sama seperti perasaan nya kini, sendiri tanpa teman. Kedua teman yang selalu bersama dengan nya kini sudah sibuk dengan suami mereka masing-masing, Rika bukan tidak bahagia dengan kebahagiaan kedua sahabatnya. Tapi ia kini sendiri benar-benar sendirian, bahkan duduk di bibir pandai juga sendiri.


"Hay," seorang pria mendekati Rika, Sandy dari tadi terus saja memperhatikan Rika yang hanya sendiri tanpa teman, sampai akhirnya ia mencoba untuk menjadi teman Rika.


Rika mendesus kesal, ia buru-buru berdiri lalu pergi. Tanpaknya ia masih tidak bisa berteman dengan Sandy, karena lelaki itu sering kali membuatnya kesal. Kaki Rika terus berjalan, ia menelusuri bibir pandai dengan dress sampai di lutut nya.


"Cantik banget," Rika merasa ombak semakin mendekat padanya, tapi ombak itu tidak tampak mengerikan. Sebab sudah beberapa kali ombak tersenyum menerjangnya, tapi ia tidak apa-apa. Semakin lama Rika semakin merasa bahagia, ia semakin berjalan ke tengah pantai demi bisa mendapatkan ombak yang lebih besar. Tawa bahagia semakin terasa saat Rika mendapatkan apa yang ia inginkan, bermain ombak di pantai. Sampai tiba-tiba kakinya sulit untuk di gerakkan, dan ombak begitu besar semakin mendekat padanya dan sedetik kemudian semakin menyeretnya ke tengah lautan, "Tolong!!!" teriak Rika dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, berharap ada yang bisa menyelamatkan dirinya.


Sandy menatap keanehan, ia merasa Risa tidak bisa berenang. Tidak perduli apa nantinya Rika akan marah, Sandy mulai berlari dan berenang ketengah lautan di mana ada Rika yang semakin terbawa ombak. Dengan cepat Sandy memegang Rika, namun saat itu Rika sudah tidak sadarkan diri. Dengan cepat Sandy membawanya ke bibir pantai, dan membaringkan Rika di atas pasir.


"Rika bangun," Sandy mencoba menepuk-nepuk wajah Rika, mungkin dengan begitu akan tersadar, "Rika!!!" seru Sandy semakin panik, kemudian tanpa pikir panjang Sandy langsung memberikan nafas buatan untuk Rika, menekan dada Rika hingga berulang kali. Sampai akhirnya ia kembali memberikan nafas buatan, hingga Rika terbatuk-batuk.


"Uhuk....uhuk....uhuk....." Rika langsung terbatuk-batuk, dan memuntahkan banyak air yang terminum.


"Kamu sudah lebih baik?" wajah Sandy masih terlihat panik, ia yang biasanya tenang dalam menghadapi pasien kini mendadak takut saat melihat Rika tidak sadarkan diri.


"Uhuk....uhuk....uhuk...." Rika duduk dalam keadaan masih terbatuk-batuk, dan ia tidak menyangka masih hidup kembali, "Makasih ya," Rika yang ketakutan langsung memeluk Sandy, sebab tadi ia berpikir sudah tidak lagi bisa mengirup udara dengan segar.


Sandy terkejut saat Rika memeluk dirinya, bukan maksud Sandy bersyukur atas apa yang barusan menimpa Rika. Namun saat ini keadaan benar-benar memihak padanya, ia yang sudah menaruh hati pada Rika saat pertama kali bertemu kini akhirnya bisa begitu dekat dengan Rika yang cuek.


"I....iya...." tidak ada kata yang bisa di katakan oleh Sandy, tapi ia sangat bahagia bahkan bisa di peluk oleh Rika.


"Maaf ya, tadi aku sempat jutek," tutur Rika sambil menjauh.

__ADS_1


Sandy tersenyum, dan mengangguk, "Apa kau tidak bisa berenang?"


Rika menggeleng, dari dulu sampai saat ini ia memang tidak pernah bisa berenang. Padahal Dimas sudah sering mengajari dirinya, tapi Rika tetap saja tidak pernah bisa.


"Lalu kenapa kau nekat ke tengah?"


"Aku juga tidak sadar, aku hanya mengejar ombak. Itu saja, biasanya ada Lala sama Tari yang jago berenang. Atau Kak Dimas yang mengawasi, tapi kan enggak selamnya bisa begitu," kata Rika dengan putus asa, karena memang tidak mungkin teman-temannya selalu mengawasi dirinya. Ia juga bukan anak kecil lagi.


Sandy mengerti, "Kita teman," pinta Sandy sambil mengulurkan tangannya.


"Iya teman," Rika langsung membalas uluran tangan Sandy, "Sekali lagi makasih ya Mas Sandy," kata Rika lagi.


Sandy terkekeh mendengar Rika memanggilnya dengan panggilan Mas, sebab dulu ia yang meminta tapi Rika tidak pernah mau. Namun sepertinya sekarang Rika sendiri yang memanggilnya dengan panggilan tersebut.


"Ini serius?" tanya Sandy yang sedikit bingung, seperti mimpi bisa berkomunikasi dengan baik seperti ini bersama Rika.


"Mau dong," jawab Sandy dengan cepat.


Rika mencoba bangun, tapi kakinya masih terasa sakit, "Aaaaaaa...." Rika meringis dan kembali duduk di atas pasir.


"Biar aku bantu," tawar Sandy, kemudian ia langsung mengangkat tubuh Rika.


Rika tidak menolak saat Sandy mengangkat dirinya, lagi pula saat ini ia memang butuh pertolongan dan hanya Sandy orang yang menolongnya.


"Makasih ya Mas," Rika duduk di sisi ranjang, walaupun tubuhnya masih basah. Tapi Sandy tetap meletakan nya di sana.


"Aku keluar dulu, takut ada yang melihat dan berpikir macam-macam," pamit Sandy, sebab tidak baik jika dua orang yang tidak terikat tali pernikahan berada di dalam kamar berdua saja.

__ADS_1


"Sekali lagi terimakasih Mas," kata Rika lagi.


Sandy mengangguk, dan ia berjalan menuju pintu. Namun sampai di depan pintu tiba-tiba ada yang menghantam nya.


Buk!!


Sandy yang terkejut langsung terjatuh di lantai, ia melihat siapa orang yang menghajar dirinya barusan.


"Kak Dimas!!!" teriak Rika, agar Dimas tidak lagi menghajar Sandy.


Dimas yang setengah berjongkok dan condong tubuh nya pada Sandy, terus memegang kerah baju kaos yang di pakai Sandy. Bahkan tangan terkepal masih melayang di udara dan siap menghantam Sandy.


"Kak Dimas, tadi Rika terbawa ombak dan tenggelam. Beruntung Mas Sandy nolongin. Kalau enggak Rika udah enggak ada mungkin," teriak Rika agar Dimas mendengar dengan jelas.


Dimas tercengang mendengar penjelasan Rika, sebab ia pikir Sandy dan Rika berbuat tidak senonoh di dalam kamar. Perlahan tangan Dimas mulai turun dan menarik Sandy untuk berdiri, sebab Sandy masih berada di lantai.


"Terima kasih," kata Dimas pada Sandy, kemudian Dimas berjalan cepat mendekati Rika, "Kau baik-baik saja?" tanya Dimas panik.


Rika mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca, dan Dimas langsung memeluk adik kesayangannya.


"Hiks...hiks....hiks...." menangis sekencang-kencangnya, sambil memeluk Dimas dengan begitu erat, "Untung ada Mas Sandy nolongin Rika Kak...hiks...hiks....hiks..."


"Maaf ya, tadi Kakak pikir kamu tidak lagi ke pantai setelah Kakak marahi. Lagi pula tidak biasanya ke pantai tidak mengajak Kakak atau Lala?" tanya Dimas.


"Maaf ya Kak, Rika enggak dengar kata-kata Kakak. Coba kalau Rika nurut, pasti Rika enggak ngalamin ini," kata Rika lagi dengan terus menangis.


"Sudah tidak apa, adik Kakak sudah besar. Tidak boleh cengeng," Dimas menghapus air mata adiknya, walaupun keduanya seringkali bertengkar karena hal sepele, tapi sebenarnya keduanya saling menyayangi.

__ADS_1


__ADS_2