
Rika mengambil ponselnya dan menghubungi Dino.
"Halo," jawab Dino di seberang.
"Din, lu di mana? Gue tunggu di rumah sakit Pelita Bunda, gue tunggu, ya, tolong banget jemput gue. Gue butuh Lo."
Rika langsung memutuskan panggilan sepihak. Kemudian ia mendekati mobilnya,
"Bapak pulang aja, Rika di jemput temen," kata Rika.
"Bapak pulang ya Neng."
"Iya Pak."
Rika berjalan menuju gerbang rumah sakit, tas kecil selempang kulit menggantung di pundaknya, sesekali ia melihat mobil sekitarnya yang berlalu lalang mungkin salah satunya adalah Dino.
Tiga puluh menit kemudian Dino tiba, ia memberhentikan mobil tepat di depan Rika yang berdiri menunggunya di sisi jalanan.
"Naik!" Seru Dino dari dalam mobil.
Rika langsung masuk dan duduk di samping Dino.
Sedetik kemudian Dino melajukan mobilnya, tidak ingin bertanya apa tujuan Rika ke rumah sakit. Tebakan nya adalah Rika pasti memeriksa keadaan nya.
"Mau langsung pulang?" Tanya Dino.
Saat ini Dino berubah menjadi sahabat yang setia, selalu ada untuk Rika sekalipun ia tengah sibuk dengan urusan nya.
Tetapi, saat Rika menghubunginya maka detik itu juga langsung meninggalkannya apapun pekerjaan nya.
"Enggak usah Din, kita ke kelab' malam aja, yuk."
Citttt.
Dino mengerem mobilnya dengan mendadak, kemudian melihat Rika yang duduk di sampingnya.
"Jangan gila dong!"
"Ayolah Din, gue itu pengen rasain dunia malam, capek gue jadi orang baik, sesekali jadi wanita liar enggak papa lah," jelas Rika sambil menaik turunkan kedua alis matanya berharap Dino setuju.
"Enggak, di sana itu banyak laki-laki brengsek, mereka bisa colek-colek elu," tolak Dino.
"Kan ada lu yang jagain gue," pinta Rika lagi tidak ingin putus asa.
Percayalah saat ini ia tidak ingin gila karena melihat suaminya sedang memangku wanita lain, sehingga ingin sekali ia bahagia di sisa akhir napasnya ini.
__ADS_1
"Jangan gila!" Dino kembali melajukan mobilnya tanpa menuruti keinginan Rika.
"Dino, atau gue pergi sendiri," ancam Rika.
Dino melirik Rika sekilas, rasanya begitu putus asa melihat wajah melas Rika.
"Ayolah Dino, entar lu nyesel kalau besok gue mati lu dan nggak nurutin keinginan gue."
"OKEY!! PUAS LO!!!!" Seru Dino dengan nada tinggi penuh kemarahan.
Rika tersenyum bahagia karena Dino menyetujui keinginan nya, sekalipun Dino tampak berat hati mengabulkan.
"Makasih Ayang Dino," Rika langsung memeluk Dino dengan rasa bahagia.
"Untung udah gue anggap sodara, kalau enggak ogah!"
Rika tersenyum, bahagia karena Dino memang dari dulu selalu bersahabat tanpa melibatkan perasaan karena takut persahabatan mereka hancur.
Karena cinta yang tidak bisa di pertahankan, hingga perasaan di jaga dengan baik hanya sampai persahabatan saja.
Dino memarkirkan mobilnya, kelab malam sudah menjadi tempat hiburan nya tapi ia tidak ingin membawa Rika ke sana kalau bukan karena dipaksa.
Mengingat Rika adalah seorang perempuan dan laki-laki bejat yang akan menatapnya haus.
Menurutnya menikmati sisa hidup yang sudah tidak akan lama lagi adalah suatu keindahan.
"Rika, lu yakin?" Dino kembali bertanya karena Rika bukan wanita yang hobi mencari kesenangan di kelab malam.
"Yakin lah, masa kagak!" Rika langsung turun dan merasa tidak ada yang lebih bahagia dari ini semua.
Apa yang bisa di harapkan dari hidup nya kini selain berbahagia, apapun yang terjadi kedepannya biarlah terjadi, sekalipun Sandy mungkin esok bukan miliknya lagi.
"Dino, ayo!"
Rika dengan semangat menarik Dino untuk masuk.
Suara musik berdentum dengan begitu nyaring, asap ada di mana-mana, bahkan banyak pria dan wanita berbaur tanpa ada jarak.
Mungkin di antara mereka hanya pakaian Rika yang paling sopan, di bandingkan dengan wanita lainnya yang mungkin hanya menutupi beberapa bagian tubuhnya saja.
Rika duduk di meja bar tender, menikmati minuman yang ia sendiri pun tidak pernah tahu bahkan mencoba minuman tersebut baru kali ini.
Hanya saja ia pernah mendengar minuman memabukkan bisa membuat pikiran tenang dan hati akan bahagia.
"Rika, pulang ya, tempat mu bukan di sini!" Dino sedikit berteriak di dekat daun telinga Rika agar suaranya dapat terdengar, mengingat alunan musik begitu kencang.
__ADS_1
"Satu jam ya, janji," tawar Rika.
Dino diam sambil melihat sekitarnya, ia tidak ikut minum seperti Rika.
Saat ini ia hanya fokus menjaga Rika mungkin saja ada lelaki bajingan yang nantinya mengganggu nya.
"Kamu tau Din, aku ini gila, dulu aku ngotot pengen nikah sama dia, eh, sekarang aku yang ngotot pengen cerai," kata Rika tanpa sadar.
"Apa yang dia katakan, dasar gila," Dino tidak tahu perihal pembahasan Rika, bahkan tidak tahu sama sekali mengenai pernikahan Rika.
Kali inipun ia menganggap Rika tengah gila karena pengaruh alkohol.
"Din, kok rasanya seperti," Rika mulai tidak karuan dan semakin masuk ke dunia keindahan karena meneguk minuman terlalu banyak.
"Dia menghabiskan minuman berapa botol, kenapa begini," Dino panik dan memilih untuk membawa Rika pergi, "kita pulang."
"Din, gue enggak mau pulang, gue bukan istri yang baik Din, gue enggak sanggup lihat suami gue sama wanita lain," kata Rika semakin tidak karuan.
"Suami? Apa dia benar-benar gila!" Dino memilih membawa Rika keluar, baginya setiap kata yang keluar dari mulut Rika hanyalah sampah yang tak berguna.
Saat Dino akan memasukan Rika ke dalam mobil tiba-tiba ada tangan yang menarik Rika, Dino tersentak dan menarik sahabatnya kembali.
"Jangan sentuh dia!" Dino pun tidak mau melepaskan Rika, bagai nya saat ini Rika adalah tanggung jawabnya.
Apa yang terjadi pada Rika akan menjadi masalah pula untuknya, dan apapun yang terjadi Rika harus di antar pulang dengan selamat.
Sandy tahu Dino bukan lelaki bajingan, dan ia sudah menyelidiki siapa Dino. Tapi, Rika adalah istrinya.
"Lepaskan istri ku!" Titah Sandy.
"Jangan gila, dia ini belum menikah!!!" Dino pun tidak mau kalah, ia masih mencoba untuk menarik Rika kembali.
Sandy tidak ingin berdebat dengan segera mengambil ponsel dan memperlihatkan sebuah gambar saat ia menikahi Rika, bukan hanya ada wajahnya dan Rika saja.
Tetapi, Dimas, Arka, Mentari dan Lala.
Dino perlahan melepaskan Rika, sekalipun ia masih bingung.
"Mana kartu nama anda?" Tanya Dino, paling tidak ia bisa mencari tahu siapa pria tersebut.
Sandy memberikan kartu namanya, Dino melihatnya diam di tempatnya.
Sekalipun masih merasa bimbang tapi ia tidak berhak atas Rika jika pria barusan adalah suami Rika.
Seketika Dino tersadar, Rika sempat mengatakan jika dirinya bukan istri yang baik, Dino pun mengambil kesimpulan bahwa Rika barusan Rika memang mengatakan kebenaran.
__ADS_1