Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Jangan Adik ku


__ADS_3

"Buk!!"


Rika membentur dada seseorang, ia yang terlalu bahagia dengan Sandy yang mengatakan cinta membuatnya tidak melihat jalanan dengan baik. Bahkan sampai menabraknya seseorang.


"Sssstttt...." Rika meringis dan merasakan sakit, ia yang masih terduduk di lantai mulai mendongkak. Rika meringis karena ternyata ia menabrak Dimas, "Kak Dimas, lu Bener-bener deh," kesal Rika.


Lala yang berdiri di samping Dimas langsung berjongkok untuk membatu Rika berdiri, "Kamu enggak papa?"


"Enggak papa kok," jawab Rika sambil terus menatap taja Dimas.


Malam hujan dengan derasnya, tapi tidak begitu saja membuat Rika terlelap dalam tidur, sesekali matanya terus menatap jari manisnya yang terlihat indah dengan cincin yang di berikan oleh Sandy.


"Ya ampun aku kenapa?" Rika tidur dengan terlentang, matanya menatap langit-langit kamar dengan tangan yang berada di dada. Pikirannya masih pada Sandy, benci berubah menjadi kagum dan berakhir pada cinta juga. Tidak pernah berpikir untuk membalas perasaan cinta seorang Sandy yang selama ini ia selalu musuhi, tapi pikiran tidak sejalan dengan kenyataan.


Ting.


Ponsel Rika berdering, sebuah chatting terlihat pada layar ponsel.


"Mas Sandy," Rika merubah posisinya menjadi terlungkup, dengan cepat ia membuka chating tersebut.


[Sayang,] Mas Dimas.


Deg....deg... deg....


Hati Rika semakin tidak karuan, jantung yang semakin berdebar dengan bunga yang seakan bermekaran.


"Jantung tolong jangan terus begini," Rika menarik nafas dengan panjang, panggilan Sandy seakan membuatnya benar-benar di mabuk asmara.


Ting.


Chatting kembali masuk pada ponsel Rika, dan masih dengan pengirim orang yang sama. Dengan terus berusaha tenang Rika memberanikan diri untuk membacanya.


[Mas tunggu di atap gedung,] Mas Sandy.


Malam terus berlalu, sayup-sayup suara angin yang berhembus membentur dedaunan. Dua orang insan yang tengah di mabuk asmara saling berdiri dalam diam, sesekali sang wanita mengelus masing-masing lengannya karena sentuhan angin malam.


"Dingin?" dengan perlahan Sandy menyelimuti tubuh Rika dengan jaket miliknya.


Rika terdiam merasakan jaket Sandy yang terpakai padanya..


"Makanya sukalah memakai jaket, jangan bikini," seloroh Sandy.

__ADS_1


Rika diam dan mengangguk, tampaknya tidak perlu lagi bertanya mengapa Sandy tahu mengenai bikini. Sudah pasti Rika dapat menebak jika Sandy terus memperhatikan dirinya. Namun, tidak di pungkiri jika ia juga merasa bahagia.


"Kenapa diam saja?" Sandy mendekatkan diri, agar melihat wajah Rika dari jarak yang cukup dekat.


Gelapnya malam dengan penerangan Bulan yang hanya bersinar setengahnya saja, karena tertutup awan sehabis hujan tidak serta membuat pandangan Sandy pada Rika berkurang. Cahaya cinta itu tetap terpancar dengan sempurna, bahkan begitu menenangkan jiwa.


"Mas Sandy serius ngasih cincin ini buat Rika?" Rika menunjukkan cincinnya pada Sandy.


"Apa kau tidak suka?" tanya Sandy kembali.


"Bukan begitu," Rika menatap wajah Sandy penuh tanya, ia juga tidak tahu harus berkata apa, "Mas udah mau hujan lagi, Rika balik ke kamar ya," pamit Rika.


Rika bersiap-siap untuk pergi. Namun, tiba-tiba tangannya dipegang erat oleh Sandy hingga ia tidak bisa pergi kemanapun. Rika terdiam, jarak ia dan Sandy begitu dekat hingga nafas keduanya pun saling berbagi.


"Kau sudah yakin menjadi istri ku?" bisik Sandy.


Rika terdiam mematung, pertanyaan Sandy kali ini terlihat begitu menegangkan. Mungkinkah Sandy ingin segera menikahi dirinya, dan menjadikan nya istri.


"Aku butuh jawaban," kata Sandy lagi.


Rika mencoba menatap manik mata Sandy, ia terdiam sambil mengigit bibir bawahnya. Sedetik kemudian Rika mengangguk, dan pergi dengan berlari.


"Jangan dia Sandy!"


Suara itu seakan mengejutkan Sandy, bibirnya yang semula terus tertarik pada masing-masing sudutnya kini berubah kecut begitu saja setelah kedatangan Dimas yang tiba-tiba. Mata Sandy beralih menatap Dimas yang semakin berjalan kearah nya.


"Kau bebas menyakiti wanita, tapi jangan dia. Karena itu artinya kau berhadapan dengan ku!" tegas Dimas lagi.


Sandy sejenak terdiam, ia tahu Dimas sudah begitu tahu tentang kebejatannya. Tapi untuk kali ini apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan Rika.


"Tapi kali ini aku tidak main-main," jawab jawab Sandy.


Dimas mengangguk, ia hanya menatap Sandy dengan penuh pertimbangan. Tapi tetap saja semua sangat sulit di jelaskan dengan kata-kata, bahkan sulit di terima.


"Aku mohon, tinggalkan adik ku," pinta Dimas


Deg.


Dunia seakan runtuh, bumi seakan berputar dengan kecepatan tinggi. Perasaan bahagia berubah menjadi luka, setelah mendengar keinginan Dimas yang sangat sulit.


"Aku mohon Dimas," lirih Sandy, "Kita sudah berteman cukup lama, sangat lama."

__ADS_1


"Dan aku sudah sangat tahu kau seperti apa," timpal Dimas sebelum Sandy selesai berbicara.


Sandy kembali diam, takdir memang begitu membingungkan dengan banyaknya teka-teki yang sulit untuk di selesaikan, Sandy yang mencintai Rika sejak awal bertemu, sedangkan cinta nya kini masih terhalang restu.


"Tapi kali ini aku serius Dimas."


"Aku tahu selama ini kau terus berusaha mendekati adik ku," Dimas tersenyum miring, "Aku tahu kejadian saat kau yang menabraknya pun aku tahu," jelas Dimas lagi, sejenak Dimas diam dan menjeda ucapannya, "Tapi aku hanya diam, karena Rika tidak pernah merespon mu," Dimas menatap Sandy yang juga tengah menatap dirinya, "Tapi tidak untuk sekarang, jauhi dia!" Dimas menepuk pundak Sandy, dan ia benar-benar tidak ingin lagi ada masalah antara mereka berdua.


"Tapi aku mencintainya!"


Dimas mengangguk, "Maaf aku tidak bisa memberikan nya untuk mu, dia terlalu berharga untuk ku. Dan lupakan dia," pinta Dimas, setelah itu Dimas berbalik dan ingin pergi.


"Dimas," suara Sandy menghentikan langkah kakinya.


Dimas yang sudah menunggu Sandy perlahan berbalik, ia menatap Sandy kembali dan mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Tolong berikan aku kesempatan."


"Tidak ada kesempatan untuk menyakiti hati adik ku!" jawab Dimas dengan pasti, "Jangan sampai kau mempertaruhkan persahabatan kita!" tambah Dimas lagi.


"Tapi Rika juga mencintai ku!"


"Dia itu masih sangat kecil, dan belum mengerti artinya cinta."


"Apa salah jika aku mencintai dan ingin menikahinya?" tanya Sandy.


Dimas mengangguk, "Tapi kau juga akan menikah bukan?" tanya Dimas kembali.


Sandy diam dan tidak lagi bisa berbicara, apa yang dikatakan Dimas memang benar. Tapi ia pun hanya ingin menikah dengan Rika.


"Aku tahu kau dan juga Azela akan menikah, dia sedang mengandung anak mu bukan?" tanya Dimas.


"Tapi."


Dimas tersenyum miring, "Jangan membuat persahabatan kita hancur, nikahi Azela dan tinggalkan adik ku!"


Dimas pergi begitu saja dan tidak ingin berdebat lagi dengan Sandy, ia sudah mengatakan itu semua agar Sandy mengerti dan tidak lagi menganggu Rika.


*


Like dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2