Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Apa harus sesakit ini


__ADS_3

Dimas melihat seorang wanita yang cukup ia kenal, Zea datang di waktu pukul 21:30 malam, cukup malam bila untuk wanita berkunjung.


"Ada apa?!" tanya Dimas. dengan suara serak namun tertahan, seperti ciri khas dari Dimas. Ia hanya datar pada orang-orang yang menurut asing, begitu pula dengan Zea yang kini berubah asing bagi Dimas.


Cinta yang dulu cukup besar kini tampaknya tak lagi ada, hati yang dulu penuh harapan kini berubah hampa. Mantan hanya sebuah kenangan yang tidak perlu di ingat, sebuah luka yang di torehkan nya cukup menusuk relung jiwa hinga tiada lagi tempatnya di sana.


Zea sadar Dimas kini berubah dingin padanya, tiada lagi senyuman manja yang dulu selalu di tunjukan Dimas saat bersama dengan nya. Mungkin terlalu sakit saat ia memutuskan hubungan mereka di saat acara pernikahan sudah di tentukan.


"Dimas, aku datang ke sini mau minta maaf,' ujar Zea.


Zea duduk di sofa dengan menatap Dimas yang kini hanya berdiri di hadapannya, tangan Dimas terlipat di atas sofa tapi matanya terlihat tidak ingin menatapnya.


Dimas seakan tidak perduli akan mata yang di ucapkan oleh Zea, "Aku sudah tidak memikirkan nya lagi," jawab Dimas dengan jelas, namun ada ketegasan di sana.


"Tapi aku masih mencintaimu!" kata Zea lagi.


Dimas tersenyum miring, apa ada cinta yang meninggalkan nya saat ia sangat mencintai orang tersebut dengan sepenuh hatinya, "Sayang nya aku tidak," jawab Dimas dengan dingin.


"Kenapa?" wajah Zea seakan bertanya, dan membutuhkan jawaban yang sangat pasti, "Apa cinta mu hanya setipis kulit bawang?"


"Jangan tanyakan cinta ku sebesar apa!" ujar Dimas, yang kini menatap Zea dengan pandangan yang tajam, "Kau sendiri yang tidak ingin aku cintai, kau sendiri yang mengatakan aku tidak perlu mencintai mu lagi."


Zea bangun dari duduknya, ia kini berdiri di hadapan Dimas, "Kau bilang kau mencintai ku, tapi baru kata itu yang aku ucapkan kau sudah goyah?"


"Aku tidak ingin memaksa seseorang untuk tetap bersama ku saat dia sudah tidak ingin lagi, dan kenapa kau datang lagi saat ini. Bukankah kau sudah memutuskan untum membatalkan pernikahan Kita? Lalu kenapa kau di sini! Belum puas kau mempermalukan diri ku!" kata Dimas.


Sebenarnya Dimas ingin sekali meluapkan apa yang ia rasakan sejak lama, tapi Zea hanya memutus hubungan lewat chatting saja. Kemudian ia memblokir nomor Dimas, saat itu Dimas tidak diam saja. Ia langsung mendatangi kediaman ke-dua orang tua Zea, karena ingin menemui calon istri nya. Namun sayang, Zea tidak berada di rumah, dan saat itu Dimas tahu dari orang suruhan nya jika Zea berlibur keluar negeri bersama teman-temannya.

__ADS_1


Hati Dimas seakan semakin terasa sakit, Zea memutuskan hubungan sepihak dan ia terlihat tidak perduli sama sekali. Lalu kini tiba-tiba Zea datang padanya dengan membawa kata maaf, rasanya ini bukan suatu lelucon yang dengan gampang nya bisa menjadi tertawaan.


Zea terdiam saat kata yang di ucapkan oleh Dimas memang benar, tapi ia pun punya alasan sendiri mengapa saat itu melakukan nya, "Tapi saat itu aku marah, aku kesal, aku geram. Kau hanya fokus pada pekerjaan mu. Untuk menemaniku ke butik saja kau tidak bisa, untuk melihat contoh-contoh undangan pun kau tidak punya waktu."


Dimas seketika menatap Zea, "Aku ini hanya bawahan, kalau kau ingin punya pasangan yang bebas melakukan apa saja jangan memilih aku. Kau salah orang, aku hanya bekerja di bawah kekuasaan orang lain!"


"Tapi kau bisa membuka bisnis mu sendiri, kenapa terus saja bekerja menjadi budak orang lain. Bukankah sudah pernah.aku katakan untuk memulai bisnis mu sendiri agar kau punya waktu untuk ku!" tegas Zea yang tidak ingin mengalah apalagi jika dipersalahkan.


Dimas melihat tidak ada raut waja rasa yang di tunjukan oleh Zea, dirinya masih sama saja. Keras kepala dan tidak ingin mengerti dengan keadaan orang lain di sekitarnya.


"Tidak perlu berdebat, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Dan aku pun sudah tidak mengharapkan mu lagi!" Dimas ingin segera mengakhiri pembicaraan mereka, sejauh apapun perdebatan mereka tidak akan berpengaruh apa-apa. Sebab kini semua sudah berakhir tanpa ada yang tersisa.


"Tapi aku masih mencintaimu!"


"Sayang sekali aku tidak!"


Dimas menjauh, karena ia menolak saat Zea ingin menyentuh nya, "Tidak perlu berdebat, aku sudah melupakan mu. Sesuai keinginan mu dulu!"


"Ok.....aku minta maaf, dan aku mohon kita kembali lagi. Di saat ini aku baru sadar ternyata aku tidak bisa jauh dari mu, kau adalah sebagian dari hidup ku...."


Dimas tersenyum miring, kemudian matanya melihat Lala yang akan menaiki anak tangga, "Lala," panggil Dimas.


Lala urung dalam menaiki anak tangga, ia kini beralih menatap Dimas dan juga menatap wanita yang berdiri di dekat Dimas.


"Kemari...." Dimas menggerakkan tangannya meminta Lala untuk mendekati nya.


Lala mengangguk, kakinya perlahan berjalan mendekati Dimas dengan hati yang bingung.

__ADS_1


"Dia calon istri ku!" Dimas merangkul pundak Lala dan menatap Zea dengan senyuman.


Deg.


Lala menatap Dimas dengan hati yang bertanya-tanya, kata yang keluar dari bibir Dimas barusan sungguh membuatnya menjadi sangat terkejut.


"Aku tahu kau sangat mencintai aku!" Zea menggeleng dan tidak percaya dengan apa yang barusan di katakan oleh Dimas, "Tidak usah menjadikan wanita ini pelampiasan, dia masih terlalu muda untuk nantinya tersakiti!"


"Aku dan dia akan menikah! Dan ini tidak main-main! Dan kenapa aku harus terus mencintai mu?" tanya Dimas dengan remeh, "Masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik dari mu!" tambah Dimas lagi.


"Kau sangat keterlaluan!"


Zea langsung pergi, baginya niatnya mendatangi kediaman Dimas sudah sangat baik. Tapi tanpa di duga ternyata respon Dinas begitu dingin dan kasar, tapi setelah Dimas pergi Zea merasa ada yang hilang di hatinya.


Perlahan Dimas menyadari posisi tangan nya yang masih merangkul pundak Lala, perlahan tangan Dimas mulai terlepas dan ia pun mulai menjauh.


"Maaf," lirih Dimas.


Lala tidak tahu harus berkata apa, yang ada ia masih butuh penjelasan dengan pengakuan yang barusan dikatakan oleh Dimas.


"Maaf untuk kata ku yang tadi, aku hanya ingin Zea cepat pergi," kata Dimas lagi.


"Iya," Lala mengangguk, dan ia berbalik lalu melangkah pergi.


Seiringan dengan langkah kaki yang terasa berat air mata pun tidak terbendung, ia terus mengalir tanpa bisa di tahan. Apa yang Lala harapkan? Kata yang di ucapkan Dimas barusan? Tidak! Ia memang tidak pantas dan tidak akan pernah bisa pantas bersanding dengan Dimas.


"Bila aku tidak ditakdirkan untuk hidup dengannya mengapa harus sesakit ini?" tangis Lala kembali pecah saat ia berada di kamar, ia duduk di sisi ranjang sambil mencengkram seprei dengan menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis.

__ADS_1


Tapi tidak, air mata itu tetap saja tumpah. Rasanya begitu menyakitkan, mengapa di saat ia sudah tidak berharap lagi Dimas justru semakin dekat dengan nya. Rasanya sangat sakit, hanya bisa melihat tanpa bisa memiliki.


__ADS_2