
Saat Lala, Rika, dan Tari tengah tertawa dengan lepasnya seorang pria dari kejauhan juga ikut tersenyum saat melihat senyuman Rika.
Rika menunduk tersipu malu, saat melihat Sandy yang terus tersenyum pada nya. Tanpa di duga Sandy mengkedipkan sebelah matanya.
Glek.
Rika cepat-cepat berbalik agar tidak lagi melihat Sandy, dengan tangan yang langsung memegang dada. Jantung terasa semakin tidak karuan saja.
"Rika!!!" Tari merasa ada yang aneh dengan Rika, hingga ia menepuk pundaknya.
Rika terperanjat kaget ketika tepukan pada pundaknya terasa cukup kuat, "Tari!!!" kesal Rika.
"Kamu kenapa?" tanya Tari, "Senyum-senyum sendiri!"
Rika kembali memutar leher, tapi Sandy sudah tidak berada lagi di sana, "Apa tadi cuman perasaan aku," Rika terus melihat dengan jelas, tapi Sandy tidak ada di sana.
Tari semakin kesal, karena merasa di acuhkan oleh Rika yang hanya sibuk dengan pikirannya sendiri, "Kamu kenapa sih?"
"Apa aku yang?" Rika mendadak menjadi takut, sebab Sandy yang tiba-tiba ada dan tiba-tiba juga sudah tidak terlihat, "Ya ampun," Rika mengetuk kepalanya, "Tari main di pantai yuk," ajak Rika, ia juga turun ingin terus berdebat dengan pikirannya.
"Yuk," Tari mengangguk, kemudian ia melihat Lala.
Lala yang tengah sibuk dengan Dimas terlihat tidak perduli pada yang lainnya, keduanya sibuk dengan pembicaraan yang mungkin cukup membuat hati seakan tenang.
"Aa sering jalan-jalan ke sini?" tanya Lala yang berdiri di hadapan Dimas.
Dimas mengangguk, "Baru kali ini," jawab Dimas sambil terus melihat Lala.
Lala mengangguk, hatinya sangat merasa malu dengan tatapan mata Dimas yang tanpa henti menatap dirinya, "Lala enggak percaya."
"Tidak usah percaya, karena itu tidak benar. Dan yang benar itu cuman aku mencintaimu," tutur Dimas.
"Aa...." Lala lagi-lagi hanya tersipu malu karena Dimas yang terus saja punya cara untuk membuat dirinya semakin berbunga-bunga.
Dimas langsung menarik Lala kedalam pelukannya, istri bocahnya itu terlihat begitu menggemaskan sekali. Lala menyimpan wajahnya, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
"La!!!" seru Tari yang berjarak beberapa meter dari Dimas dan Rika.
Lala melepaskan diri dari Dimas, lalu beralih melihat Tari yang barusan memanggil namanya.
"Kita main di pantai yuk."
Kali ini Lala, Rika dan Tari tidak lagi menggunakan bikini. Ketiga wanita itu tidak ingin Dimas dan Arka nantinya malah tidak mengijinkan mereka berada di pantai, ketiganya memakai dress panjang dengan tidak membentuk lekuk tubuhnya.
Ketiganya dengan begitu bahagia, mengejar ombak sampai membuat rumah pasir. Sedangkan Arka dan Dimas melihat dari sekitarnya.
Lala yang sibuk dengan kegiatannya tiba-tiba melihat kearah Dimas, tubuh tegap dengan kacamata hitam membuatnya tidak bisa beralih menatap pada yang lain.
Rika dan Tari berencana untuk membuat Lala terkejut, dengan serempak keduanya berseru dan menepuk pundak Lala, "Woy!!!"
Lala terkejut dan merasa malu karena sahabat yang tahu akan tatapan nya pada Dimas.
"Cie......" seru Rika dan Tari.
"Ish....apasih....." jawab Lala dengan wajah malunya.
Tari menyenggol pundak Lala, "Enggak papa kali, kan udah halal," goda Tari.
Tari dan Lala langsung melihat Rika, kemudian keduanya merasa memiliki ide untuk mengerjai Rika.
"Aa Dimas!!!" Lala langsung memeluk Dimas.
"Sabaruddin," Tari juga menghambur memeluk Arka.
Rika diam dengan mengerutkan bibirnya, "Sialan lu pada!" geram Rika, dan ia segera pergi begitu saja.
Rika terus berjalan, ia ingin kembali ke hotel menemui Mami Linda, Mama Ranti, agar ia merasa sedikit lebih baik. Namun, saat ia melewati lorong hotel tiba-tiba ada yang menarik lengannya.
"Aaa...." teriak Rika dengan panik.
"Suuuttt...." Sandy menyandarkan tubuh Rika pada dinding, kemudian ia mengunci pergerakan Rika.
__ADS_1
"Mmmmfffffpp...." Rika panik dan ia terus bergerak untuk melepaskan diri dari kungkungan Sandy.
"Ini aku," kata Sandy agar Rika tidak lagi panik.
"Mas Sandy?" Rika menatap Sandy dengan bingung, tapi ia juga bahagia karena ternyata Sandy yang membawanya ke sana, "Mas Sandy ngapain?" tanya Rika bingung.
"Jalan-jalan yuk," ajak Sandy.
"Kemana?" tanya Rika.
"Ke hati kamu," jawab Sandy dengan pasti.
"Mas apasih," Rika membuang pandangannya ke arah lain agar Sandy tidak melihat wajahnya yang memerah karena malu.
Sandy kembali menarik wajah Rika agar membalas tatapan matanya. Mata keduanya bertemu dengan cukup lama tanpa ada yang ingin mengakhiri.
"Aku mencintai mu."
Rika sangat terkejut dengan kata-kata Sandy, kata cinta dan untuk apa Sandy mengungkapkan kata cinta padanya saat ini.
"Aku tidak ingin kau di ambil orang, jadi," Sandy terus menatap manik mata Rika, mencari sesuatu yang mungkin bisa membuatnya mengeri akan perasaan Rika saat ini. Entah mengapa Sandy menangkap tatapan Rika saat ini juga terlihat kagum padanya, tidak tahu ia salah atau benar. Namun, di hatinya jauh lebih bahagia saat Rika kini sudah bisa dekat dengan nya.
Rika semakin terkejut saat tangannya yang tergantung tiba-tiba terpasang cincin, bahkan dengan ukuran yang pas di jari manisnya.
"Jadilah kekasih ku," pinta Sandy.
Rika mengangkat tangannya, ia ingin melihat dengan pasti apa benar Sandy memakaikan sebuah cincin barusan pada jari manisnya.
"Mas?" tatapan penuh tanya sambil menatap sebuah cincin dengan bertahtakan berlian melingkar dengan indahnya.
"Aku mohon jangan di lepas," pinta Sandy penuh harap.
Rika mengangguk, dengan jantung yang terus berdebar. Ia menerima cinta Sandy tanpa syarat. Menurutnya apa yang di berikan Sandy membuatnya terharu sekali, mengingat selama ini Sandy juga terus berusaha keras untuk bisa lebih dekat dengan nya. Rika juga ingin bahagia seperti dua sahabatnya yang memiliki pasangan, dan Sandy adalah pilihan yang tepat.
"Terima kasih," Sandy mencoba untuk memeluk Rika.
__ADS_1
Rika melepaskan dirinya dengan menunduk, kemudian ia berlari menjauh dari Sandy. Setelah ia berjarak beberapa meter Rika berbalik sambil tersenyum, "Aku mau di peluk setelah Mas menjabat tangan Papa ku, atau Kakak ku," ujar Rika lalu ia pergi sambil membawa rasa bahagia.
Sandy tersenyum mendengar kata-kata Rika, dari kata-kata tersebut Sandy tahu Rika sudah siap bila menjadi istrinya. Sandy menunju udara dengan penuh bahagia, segala cara sudah ia tempuh untuk bisa berdekatan dengan Rika. Bahkan sampai saat ini ia bisa di Bali karena hanya ingin mendekati Rika, tidak ada perjuangan yang mengkhianati hasil. Akan tetap perjuangan yang tidak semudah membalikkan telapak tangan, siapa yang tahu kedepannya seperti apa. Dan siapa yang tahu rintangan yang menghadang membuat keduanya tidak mudah untuk bisa bersama dalam satu ikatan cinta yang sakral.