
"Ma, ngapain ke sini?!"
Rika shock saat Mana Yeni membawa dirinya ke rumah sakit, bahkan harus memakai dress yang cukup mewah.
"Ayo masuk."
Mama Yeni menarik lengan putri bungsu nya dengan sedikit memaksa sebab, Rika menolak untuk masuk.
"Ma, apa anak teman Mama merayakan ulan tahun di rumah sakit?"
Tubuh Rika terhuyung-huyung karena Mama Yeni yang terus menariknya dengan paksa.
"Ma?!" Rika berhenti melangkah karena menyadari bahwa kini ia berada di depan ruang rawat Sandy.
"Ayo masuk!"
Mama Yeni berusaha menarik lengan Rika tetapi, Rika menepis dan menolak untuk masuk.
"Ma, ngapain ke sini?"
Rika tidak tahu dan tidak mengerti maksud serta tujuannya di bawa ke sana.
"Ayo masuk!"
"Enggak! Ngapain ke sini coba?"
Rika ingin melarikan diri tetapi, tiba-tiba pintu terbuka dan Lala lah yang membuka pintu.
Rika seketika terdiam, terlihat jelas ada banyak orang-orang di dalam sana. Seketika Rika bingung dan bertanya-tanya ada apa yang sedang terjadi di dalam sana.
"Ayo masuk!"
Rika tidak lagi menolak, malahan kini berubah menjadi penasaran tentang apa yang tengah terjadi.
Mata Rika menyisir setiap sudut ruangan, menatap wajah-wajah yang menatap dirinya juga dengan senyuman.
Sampai akhirnya mata Rika menatap Sandy yang duduk di atas ranjang dengan menggunakan kemeja dan jas putih.
"Selamat malam," sapa Dokter Anifah yang masuk setelah Rika.
Rika menatap penampilan Dokter Anifah, cantik, tinggi, bahkan tubuhnya begitu indah.
"Selamat malam juga," jawab Lala dengan senyuman ramah.
Rika masih bingung dan seakan tidak ada yang memperdulikan dirinya bahkan Lala sekalipun.
"La?" Rika bertanya tetapi Lala hanya menjawab dengan senyuman.
Kemudian Rika beralih menatap Mentari, berharap bisa menemukan jawaban.
"Tari?"
Jawaban Mentari juga tidak ada bedanya, semua seakan acuh dan tidak perduli sama sekali padanya.
"Assalamualaikum semuanya," Bunda Jihan berdiri di antara anggota keluarga lainnya, termasuk juga beberapa dokter ikut menyaksikan acara malam ini.
Semua terlihat bahagia, sekalipun acara di adakan pada malam hari setelah berbuka puasa.
"Malam ini saya ingin melamar seorang wanita yang sangat pantas bersanding dengan putra saya, Sandy," ujar Bunda Jihan sambil memeluk Dokter Anifah yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Semua bertepuk tangan, dengan bahagia.
Rika terperangah shock, perlahan ia mulai mundur tetapi, Lala menariknya untuk berdiri di tengah anggota keluarga.
Terpaksa Rika tetap berdiri di tempatnya walaupun kakinya sudah hampir tidak sanggup lagi menopang tubuhnya.
"Wanita itu, cantik, baik dan tentunya sangat di cintai anak saya Sandy," kata Bunda Jihan lagi.
Rika sudah tidak ingin lagi berdiri di tengah-tengah, perlahan ia berbalik dan ingin keluar.
"Mau kemana beib!"
lembut.
Glek.
Rika meneguk saliva dan terpaksa berbalik kembali pada tempatnya, tersenyum canggung dengan hati yang tetap kuat dengan keadaan apapun.
"Kamu cantik sekali," goda Bunda Jihan.
"Em," Rika tersenyum kecut sambil meremas dress nya.
"Tapi Dokter Anifah juga tidak kalah cantik ya," kini Bunda Jihan juga tersenyum pada Dokter Anifah.
"Iya tentu Ibu Jihan," jawab Dokter Zidan.
"Iya," tambah dokter Salsabila.
Semua seakan tersenyum bahagia melihat Rika yang semakin kebingungan dengan keadaan yang semakin menegangkan.
Rika mundur selangkah demi selangkah dan kali ini ia benar-benar ingin pergi.
Tangan Dimas menahan lengan Rika, wajahnya terlihat datar dan tidak ada senyuman sedikitpun.
"Kak?" Rika tidak berani lagi melawan.
Rika memilih pasrah dan kembali berdiri di tengah-tengah, pasrah pada keadaan sekalipun nantinya akan sangat menyakitkan.
"Malam ini saya akan melamar seorang wanita cantik, untuk mendampingi putra saya, entah dia bisa menerima anak saya yang nakal itu atau tidak," seloroh Bunda Jihan sambil menatap Sandy.
Sandy hanya diam tanpa bicara, wajahnya pun terlihat dingin tanpa senyuman.
"Dokter Anifah bisakah?"
Bunda Jihan meminta Dokter Anifah untuk berjalan mendekati Sandy.
Rika hanya bisa diam serta menguatkan dirinya tetapi, tiba-tiba Dimas lagi-lagi berdiri di samping nya menahan kaki adiknya yang tampak sudah tidak dapat lagi berdiri menahan kakinya sendiri.
Dimas memeluk Rika dan membawanya berjalan ke arah Sandy.
Rika hanya menurut sambil menyembunyikan wajahnya di balik dada Dimas, menahan air mata yang mungkin akan pecah setelah ini.
"Kak, ayo pulang saja," pinta Rika tanpa ingin lepas dari pelukan Dimas.
"Kenapa?" Tanya Dimas.
"Rika mau pulang!" lirih Rika dengan suara bergetar.
Dimas memeluk Rika semakin erat, "Mungkin Kakak bisa menjadi pelindung mu dari sejak kecil tetapi, Kakak juga sadar ada orang lain yang jauh lebih baik bahkan lebih melindungi mu," ujar Dimas lagi.
__ADS_1
"Rika," Bunda Jihan mendekat dan melepaskan Rika dari pelukan Dimas.
Rika menolak, ia hanya ingin bersembunyi di balik tubuh tegap Kakaknya.
Lala seketika maju dan menarik Dimas.
"Dada ini bukan milik mu Rika, aku pemiliknya," tutur Lala dengan menjauhkan Dimas dari Rika.
"La?" Rika merasa Lala begitu kejam bahkan untuk memeluk Dimas saja tidak boleh.
"Kalau kau mau bersandar, menangis, kau harus memeluk milik mu," Lala menunjuk Sandy.
Rika terdiam dunia seakan berputar dengan cepat dan sangat kejam dalam sesaat.
"Ayo calon menantu Bunda apa lamaran ini di terima?" Tanya Bunda Jihan.
"Ayo cincin tunangan nya mau di pakai di sini atau berdua saja," seloroh Dokter Anifah.
Sejenak Rika terdiam dan menatap wajah Sandy yang kini tersenyum padanya.
Dimas kembali mendekati Rika dan menarik adiknya berdiri di dekat ranjang Sandy.
"Dia milik mu, aku harap kau bisa menjaganya," papar Dimas.
Sandy tersenyum pada Rika yang masih kebingungan.
"Apa kau mau aku miliki?" Tanya Sandy.
Rika memutar leher menatap Mentari, Lala, Mama Yeni, Bunda Jihan, Dimas lalu Dokter Anifah yang berdiri cukup dekat dengan Sandy.
"Saya udah letih banget memegang cincin ini, tidak kah ingin segera di pakai?" celetuk Dokter Anifah.
"Rika, kamu kenapa?" Tanya Bunda Jihan yang melihat Rika masih kebingungan.
"Bunda?"
"Kamu mau kan jadi istri Sandy?"
Pertanyaan itu sangat jelas hingga membuatnya shock bukan kepalang.
Seketika itu Rika kembali menatap Dimas yang tersenyum padanya.
"Bunda ini sebenarnya apa?" Rika tidak lagi diam, tidak ingin salah mengartikan.
"Will you marry me?" Tanya Sandy.
Degh!
Tiba-tiba dunia seakan berputar dengan cepat, mendadak suasana menjadi gelap dengan peluh yang meluncur hebat.
Rasa shock ini membuat Rika seakan diam, bahkan jantung terasa berhenti berdetak, darah pun tak lagi mengalir hingga dalam sekejap ia sudah jatuh tidak sadarkan diri.
Dimas yang berdiri di samping Rika cepat-cepat menahan tubuh adiknya yang hampir saja terjatuh di lantai.
*
Emak-emak cakep, tolong Vote dan boleh tulis di kolom komentar ingin bab selanjutnya seperti apa ya. Author akan mencoba memilih lalu menulis di bab selanjutnya sesuai keinginan pembaca setia.
Terima kasih untuk like dan Vote nya, tanpa kalian Author bukanlah apa-apa...
__ADS_1