
"Di sisa-sisa hidup harus bahagia kan Din, Ahahahhaha, dan aku sedang bahagia," Rika berteriak tidak jelas, merasakan bertapa dunia saat ini begitu indah.
Tapi sesaat kemudian ia menangis dan tertidur pulas.
"Rika, sebenarnya kamu kenapa?"
Sandy tidak tahu harus membawa Rika kemana, tidak mungkin ia membawa ke rumah mertuanya sudah pasti Dimas akan marah besar dan Mama Yeni pun akan sangat malu pada dirinya.
Jika ia membawa ke rumah nya nanti Bunda Jihan malah menilai Rika adalah wanita yang buruk.
Akhirnya Sandy memutuskan membawa Rika ke sebuah hotel berbintang lima.
"Huuueekkk....." Rika terbangun karena muntah-muntah bahkan sampai mengenai bajunya.
"Sayang, sebenarnya ada apa dengan mu," Sandy memesan kamar setelah itu ia segera membawa Rika masuk ke dalam kamar.
"Huuueekkk....." Rika lagi-lagi muntah bajunya sangat kotor dan menjijikan, "hey kau siapa?!" Rika berdiri dengan tubuh ringkih berusaha membuat dirinya tetap sadar, "Dino, anterin gue pulang ya," Rika menarik kemeja Sandy dan ia yakin itu adalah Dino sahabatnya.
Sandy masih diam, ingin sekali menarik Rika mengguyur tubuh itu di bawah shower tetapi tidak. Sandy tidak tega melakukan nya sekalipun sedang marah.
Sedetik kemudian Rika terlelap, Sandy mengangkat tubuh Rika ke atas ranjang dan melepaskan pakaian Rika.
Pakaian itu sudah kotor, sekalipun Sandy belum pernah menyentuh Rika tapi tidak ada keraguan apa yang di lakukan mengingat Rika adalah istrinya.
Setelah selesai melepas pakaian Rika Sandy menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya yang masih menggunakan pakaian dalam, Sandy tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rika.
Banyak pertanyaan di kepalanya hingga akhirnya ia berdiri sambil menatap mata lelap Rika.
Hueekkkk.
Rika kembali terbangun dan muntah, terlalu banyak meminum alkohol membuat tubuhnya tidak baik-baik saja.
"Rika," Sandy panik dan mencoba untuk memijat tengkuk istrinya.
"Mas," Rika menggosok matanya dengan tangan hingga beberapa kali, pandangan nya tidak jelas tapi ia seperti mengenal siapa kini orang yang tengah berada di dekatnya.
"Rika kamu-"
"Mana ada, Mas Sandy sudah bahagia, Ahahahhaha," Rika terus berbicara tidak jelas, "aku juga bahagia, melihatnya bahagia."
Sandy merasa kecewa akan apa yang di lakukan oleh Rika, pergi ke kelap malam lalu pulang dalam keadaan mabuk dan sekarang berbicara asal.
Setelah itu kemudian tubuh Rika kembali terjatuh dan tangannya menarik kemeja Sandy.
Sandy jatuh menimpa Rika.
__ADS_1
Dengan perlahan Rika memanggut bibir Sandy, tanpa ingin melepaskannya lagi.
Sandy sudah lama menanti saat-saat seperti ini, tidak ada penolakan sama sekali.
Perlahan semua seakan semakin menuntut, Sandy melupakan rasa kecewanya kemudian hanyut dalam permainan yang di tawarkan oleh Rika.
Tak sadar sama sekali Rika terus membalas dengan penuh damba, tidak ingin di lepas walaupun hanya sedetik saja.
Tangan Sandy menelusuri setiap lekuk tubuh Rika, memainkan dua benda yang kini mulai menantangnya.
"Mas Sandy," desah Rika tanpa sadar.
Masih dalam keadaan di pengaruhi minuman saja Rika hanya menyebut nama Sandy.
Sandy tau istrinya dalam keadaan di pengaruhi alkohol tetapi, tidak masalah baginya dengan segera Sandy melepas pengait bra Rika dan mulai menikmati dua benda kenyal yang selama ini membuatnya menjadi panas dingin.
Puas dengan itu Sandy menelusuri lainnya, sampai akhirnya ia menatap bagian inti dari tubuh Rika.
"Sssstttt," Rika menekan kepala Sandy semakin dalam, merasakan sensasi yang membuatnya terbang melayang.
Sampai akhirnya Sandy benar-benar memasuki istrinya, merasakan bertapa indah memiliki seorang istri.
Setelah satu jam berlalu Rika langsung terlelap, sedangkan Sandy segera membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri ia naik keatas ranjang dan tidur di samping Rika, pertama kalinya keduanya tidur di atas ranjang yang sama padahal sudah menikah selama 10 hari.
Dengan segera Sandy mengambil ponselnya tapi sayangnya ponsel itu mati karena kehabisan baterai.
"Mas, keluar sebentar ya, Mas ke toko di depan sebentar, sekalian Mas bawa makanan," sekalipun Rika masih terlelap Sandy tetap berpamitan.
Sandy tidak ingin lagi ada kesalahpahaman ia ingin meluruskan segalanya, jika Rika menginginkan pernikahan mewah ataupun seperti lainnya Sandy tidak akan keberatan sama sekali.
Uang bukan masalah baginya, Rika adalah segalanya, apapun akan di lakukan untuk membahagiakan istri kecilnya.
Sandy berjalan dengan santai, seakan ia begitu berbunga-bunga di pagi hari ini.
Sampai ia masuk ke sebuah butik yang terletak di depan hotel pun bibirnya masih terus tersenyum.
"Mbak saya mau yang ini," Sandy menunjukan sebuah dress berwana merah yang terlihat elegan, "itu juga," Sandy menunjuk heels dan hanya menebak-nebak ukuran kaki Rika, tidak lupa ia juga memberikan dalaman tanpa merasa malu.
Sampai akhirnya ia melihat sebuah tas, Sandy pun memutuskan untuk membelikan.
"Dokter Sandy," seorang wanita menyapa Sandy, dengan segera ia menatap wanita tersebut.
"Dokter Miranda," Sandy mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Dokter Miranda membalas uluran tangan Sandy.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya."
"Iya, kapan ya terakhir lupa," jawab Sandy.
"Jadi, kebetulan saya ketemu anda di sini, saya punya adik sepupu Dok, dan ada masalah dalam rumah tangga sekarang dia trauma berat, bisa saya minta kartu nama Dokter, kebetulan nomor ponsel Dokter sudah tidak ada di kontak ponsel saya," ujar Dokter Miranda.
Kemudian mata Dokter Miranda menatap banyak paperbag di tangan Sandy.
"Ini untuk istri saya," Sandy tahu Dokter Miranda menatap paperbag di tangannya penuh tanya.
"Anda sudah menikah dan tidak mengundang saya," Dokter Miranda tersenyum bahagia.
"Saya akan mengundang anda dalam acara resepsi pernikahan saya."
"Wah, harus ini," Dokter Miranda sangat bahagia melihat kebahagiaan Sandy.
Sandy mengambil dompetnya dan mengambil kartu namanya untuk di berikan pada Dokter Miranda.
Tapi tiba-tiba sebuah fhoto terjatuh tanpa sengaja, Dokter Miranda berjongkok dan mengambil fhoto tersebut.
"Dia istri saya," Sandy terlihat bangga saat Dokter Miranda menatap gambar wanita yang sangat ia cintai.
Dokter Miranda masih terdiam dan berusaha mengingat siapa wanita yang kini tengah di lihatnya.
"Nama?"
"Rika," jawab Sandy masih dengan senyum manisnya.
"Iya benar, saya sudah mengingatnya," Dokter Miranda mengembalikan fhoto Rika pada Sandy, "bagaimana keadaannya, wah, saya benar-benar tidak tahu ternyata salah satu dari pasien saya adalah istri anda," ujar Dokter Miranda.
Sandy seketika terdiam dan merasa bingung.
"Pasien Anda?"
"Dokter, mungkin sebaiknya istri anda di rawat di rumah sakit atau mungkin Anda bisa membawanya keluar negeri mengingat Leukimia yang di derita istri anda sudah memasuki stadium 3," papar Dokter Miranda.
Sandy terperangah mendengar penuturan Dokter Miranda.
"Dokter Sandy, anda mendengar saya?" Dokter Miranda menggerakkan tangannya.
"Leukemia?" Sandy terperangah.
"Iya, sudah sangat parah, apa lagi dia tidak memeriksa keadaan nya secara rutin."
__ADS_1
"Saya permisi dulu Dok," Sandy segera pergi, ia ingin memastikan bahwa saat ini apa yang di dengar nya tidak benar.