
"Pak Dimas," Lala semakin panik saat tangan Dimas mulai menelusuri seluruh lekuk tubuhnya, Lala merasa mulai tidak beres. Dan Lala berubah takut.
Dimas sadar dengan ketakutan yang tengah di alami oleh Lala, tapi ia pun sudah tidak bisa menahan diri lagi, "Aku janji tidak akan kasar," kata Dimas yang berusaha untuk menyakinkan Lala agar tetap tenang.
"Tapi Lala takut Pak, sakit....." kata Lala lagi.
"Enggak, aku akan melakukan nya pelan-pelan. Janji, ini namanya ngadem," kata Dimas lagi.
"Ngadem?"
"Cuman ngadem biar segar, tidak akan sakit."
"Janji ya Pak," lirih Lala.
"Iya, kita kan sudah menikah. Dosa lho menolak suami," kata Dimas agar tidak gagal untuk yang kali ini juga.
Lala mengangguk, dan menutup matanya saat bibir Dimas semakin mendekat padanya. Sedetik kemudian bibir Lala dilahap habis oleh Dimas, Lala hanya diam karena ia tidak mahir dalam urusan itu. Lagi pula Lala selama ini belum pernah melakukan nya dengan mantan kekasih nya.
Dimas tersenyum saat melihat Lala hanya menerima setiap sentuhan yang ia berikan, perlahan Dimas semakin merasa jika semuanya tidak bisa berhenti begitu saja. Hingga dalam sekejap semua benang pada tubuh Lala langsung terlepas oleh Dimas, bahkan sampai kancing baju Lala rusak.
"Pak, baju nya rusak," kesal Lala.
"Nanti kita beli yang baru," kata Dimas sambil melihat tubuh mulus istrinya.
Lala cepat-cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, tapi dengan cepat Dimas melempar selimut tersebut sejauh mungkin hingga Lala tidak tahu harus menutupi tubuhnya dengan apa.
"Sayang ayolah, tidak usah malu," kata Dimas yang kini semakin liar bahkan tangannya kini meremas kedua gundukan milik Lala.
"Sssst....." Lala menahan suara yang akan keluar dari mulutnya, bahkan ia sampai menggigit kuku-kukunya nya. Demi menahan ******* yang keluar.
Berulang kali Lala mencoba menutupi, tapi dengan cepat tangan Dimas menyingkirkan tangan Lala. Sampai akhirnya Dimas mengecup seluruhnya dan terakhir ia tiba pada bagian utama dari wanitanya.
Lala mencoba untuk menutupi, tapi Dimas lagi-lagi melakukan hal sama.
"Pak Dimas malu," kata Lala lagi, "Sssstttt......" Lala meremas rambut Dimas karena sensasi ini baru pertama kali nya di rasa oleh Lala, sesuatu yang begitu membuat nya bergairah dan hanyut dalam kenikmatan yang nyata, kali ini tidak mengerikan seperti malam itu.
Setelah Dimas merasa Lala lebih tenang dan bisa menerima, dengan perlahan Dimas memasuki Lala.
"Sssssttt...." Lala masih mencengkram seprai, walaupun ia sudah tidak lagi suci tapi masih terlalu terasa sedikit sakit.
Dimas mulai bergerak seirama dengan hasrat yang semakin menggebu dengan begitu panas, udara sejuk karena AC kini tidak dapat menetralkan suhu tubuh yang mulai berkeringat.
"Aa....Dimas..... Sssssttt....." rintih Lala tidak sadar.
Dimas semakin bersemangat karena suara Lala yang seakan membuat nya semakin panas dan tertantang, bahkan suara dentuman akibat kulit yang saling berbenturan begitu terdengar dengan jelasnya.
__ADS_1
Teriakan Lala semakin tidak tertahankan saat Dimas semakin liar, dan juga membuatnya hanyut dalam kenikmatan surga dunia. Satu jam berlalu, Lala sudah terkapar karena tidak sanggup lagi hingga akhirnya Dimas pun mendapat pelepasan yang sangat nikmat.
Seketika Dimas berbaring di samping Lala dan menatap wajah Lala yang sudah tertidur dengan pulas, kemudian Dimas mengambil selimut yang sebelumnya ia buang di lantai. Dan menyelimuti tubuh istri bocahnya, sedangkan Dimas langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Saat masuk ke dalam kamar mandi Dimas melewati sabun, ia menatap sabun dengan senyuman, "Apa aku katakan, sekarang terbukti. Kau tidak lagi bisa menggoda ku!" Dimas tersenyum dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air shower, bibir Dimas terus tersenyum karena kini ia sudah tidak menjadi jomblo bahkan langsung menikah.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Dimas keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggang. Mata Dimas langsung menatap Lala yang ternyata sudah terbangun, Dimas berjalan mendekati Lala yang tengah menatap dirinya.
Lala melebarkan matanya karena Dimas yang semakin mendekat dengannya, Lala yang menarik selimut sampai menutupi matanya. Sungguh ini sangat memalukan sekali, apa lagi saat mengingat apa yang terjadi beberapa saat lalu.
"Sayang," panggil Dimas kini sudah dekat dengan Lala.
"Pak Dimas, sana jauh-jauh," jawab Lala dari dalam selimut.
"Coba ulangi panggilan mu!" titah Dimas.
"Aa....jauh....jauh...." Lala takut nanti jika Dimas marah atau pun menarik selimutnya, ia dengan cepat memperbaikinya panggilan nya.
"Ya sudah, ayo mandi. Atau...." belum sempat Dimas berbicara Lala sudah bangun, dan turun dari atas ranjang. Ia melilitkan selimut di tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Krang!!!
Suara pintu yang di banting, bukannya Lala marah tapi ia takut jika Dimas menyusul masuk. Hingga ia panik dan dengan gerakan cepat menutup pintu.
"Ya ampun, menggemaskan sekali istri ku," kata Dimas berbicara sendiri.
"Ya ampun apa semua orang merasakan ini," gumam Lala saat merasakan air dingin yang mulai menyentuh kulitnya, "Apa Tari juga merasakan ini ya, apa aku tanyakan caranya agar tidak sakit. Dasar gila," kata Lala lagi yang menyadari kebodohannya.
Tok tok tok tok
Dimas merasa Lala sudah cukup lama di dalam kamar mandi, dan ia takut jika terjadi hal buruk.
"Bentar Pak Dimas!!!" jawab Lala.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Dimas.
Clek.
Lala membuka pintu, dan ia hanya melilitkan handuk di tubuhnya.
Dimas menatap Lala dari ujung rambut sampai ujung Kaki.
"Apa kau sedang menggoda ku lagi?" tanya Dimas dengan mata yang berkabut gairah.
Tangan Lala terus berusaha menutupi tubuhnya, "Bukan Pak, tapi Lala enggak punya baju ganti. Kan tadi bapak yang rusak," jelas Lala.
__ADS_1
"O....aku kira kau mau mencari pahala," goda Dimas, "Tapi begini saja, kau cantik sekali," tambah Dimas lagi.
"Pak Dimas Lala pakai baju apa?" tanya Lala.
"Tidak usah pakai baju!"
"Pak Dimas...."
"Kau panggil siapa?
"Aa Dimas."
Dimas tersenyum dan ia memberikan kemeja putih miliknya pada Lala.
Dreet drett drett.
Lala yang sudah memakai kemeja milik Dimas langsung mendekati tasnya karena itu suara ponselnya.
Sedangkan Dimas bingung sejak kapan Lala memiliki ponsel, karena setahunya Lala tidak memiliki ponsel. Rasanya baru pagi tadi ia memberikan ATM nya pada Lala dan Lala tidak pernah lepas dari pengawasan nya.
"Halo pak Bimo," jawab Lala setengah panggilan nya terhubung.
Dan seseorang di seberang sana mulai berbicara, menanyakan tentang Lala.
Lala melihat Dimas yang menatapnya tajam, "Saya sudah pulang Pak, Assalamualaikum," kata Lala mengakhiri pembicaraan itu, dan panggilan terputus.
Kaki Dimas perlahan berjalan mendekati Lala, dan menatap ponsel yang di pegang oleh Lala, "Kapan kau memiliki ponsel, dan kenapa aku tidak tahu. Yang tahu nomer ponsel mu malah orang lain?" tanya Dimas dengan tidak sabar.
"Ini ponsel di kasih pak Bimo, kemarin. Lala udah nolak tapi....."
Dengan cepat Dimas mengambil ponselnya dari tangan Lala, dan melemparnya melalu jendela dari lantai 20. Mungkin kini ponsel itu sudah berserakan di bawah sana.
"Jangan terima barang dari siapa pun, aku tidak suka. Apa pun yang kau inginkan akan aku berikan, kau mengerti!" tegas Dimas.
Lala tidak berani membantah, ia hanya mengangguk saja. Bahkan bertanya saja Lala tidak berani.
"Kenapa diam?" tanya Dimas, "Apa kau tidak suka ponsel nya aku buang?"
"Lapar," jawab Lala dengan wajah bersedih.
Dimas tidak bisa lagi marah, karena tadinya ia pikir jika Lala tengah kesal karena ponsel pemberian pak Bimo yang ia buang.
"Kiss dong, janji deh abis itu Aa pesan makanan," kata Dimas menunjuk bibirnya. Tampaknya Dimas kini sudah lupa akan kemarahan nya, hanya karena tingkah lucu Lala.
Glek.
__ADS_1
Lala tidak menyangka jika Dimas kini bisa terang-terangan meminta hal itu, hingga jantung Lala berdetak kencang.
Karena Lala hanya diam akhirnya Dimas yang kembali mencondongkan tubuhnya pada Lala.