
"Baiklah aku percaya pada mu," Dimitri melepaskan genggaman nya pada tengkuk Sarika, "tapi kau aku beri satu kesempatan, menikah dengan Atmaja dan membesarkan putri dari Sinara," senyum Dimitri yang penuh misteri muncul, entah apa yang kini ada di kepala.
"Menikah?" Tanya Sarika dengan terbatuk-batuk.
"Iya, sebenarnya aku ingin juga melenyapkan bayi perempuan itu."
"Jangan!"
Dimitri memutar leher, menatap Sarika penuh tanya.
"Kau tahu maksud ku?"
Dimitri tidak pernah menceritakan tentang masalah nya pada Sarika, tetapi saat ini jawaban Sarikan seakan tahu hingga mengundang kecurangan Dimitri.
Sarika menarik napas dengan panjang sambil berusaha mendapatkan jawaban yang tepat.
"Tidak, hanya aku bisa melihat ada dendam di mata mu, lantas jika dia mati maka apa kau puas dengan semuanya? Seperti nya tidak, karena melihat orang yang kita benci hidup dalam penderita jauh lebih menyenangkan," jawab Sarika santai, padahal jantungnya sudah berdegup kencang.
Dimitri menatap Sarika penuh tanya, sesaat kemudian tersenyum, "Kau benar!"
Huuuufff.
Sarika merasa lega karena Dimitri setuju dengan idenya, sejujurnya Sarika tidak ingin jika anak Sinara di habisi Dimitri.
Dimitri menceritakan segalanya, tentang apa yang sudah terjadi antara ia dan Atmaja sampai akhirnya Sinara lenyap di tangannya.
Sinara menggerakkan tangannya, menahan amarah yang harus di redamkan rencananya. belum sampai seujung kuku pun. Tujuan utamanya adalah menghabisi Dimitri.
Setelah berhasil menjebak Atmaja akhirnya Sarika berhasil menikah dengan Atmaja, ada rasa bersalah di hati Sarika mengingat wajah mendiang sang Kakak. Tetapi apa yang bisa dilakukan dengan wanita miskin dan anak yatim-piatu sepertinya, akhirnya Sarika kembali menguatkan hati untuk tetap membalaskan dendam nya.
Plak!
Tangan Dimitri melayang di wajah Sarika, Dimitri mengetahui jika tidak ada bentuk penyiksaan yang dilakukan oleh Sarika terhadap Atmaja ataupun bayi dari Sarika. Membuat amarah mendidih.
"Dimitri dengarkan aku dulu!" Seru Sarika sambil memegang pipinya.
"Kau penghianat!" Dimitri kembali mengangkat tangannya, tetapi Sarika dengan cepat menjawab.
"Kalau aku menyiksa nya dia tidak akan menurut pada ku!"
__ADS_1
"Maksud mu?" Dimitri tertarik dengan alasan Sarika, dengan perlahan Dimitri menurunkan tangannya yang hampir sampai di wajah Sarika.
"Tidak akan menyenangkan menyiksa bayi, lebih menyenangkan menyiksanya saat dia dewasa!" Jawab Sarika memberi alibi.
"Kau benar, saat itu tiba anak itu harus menikah dengan ku menggantikan Ibunya!" Tawa Dimitri menggelar, membayangkan kemenangan yang akan di genggaman.
"Dasar gila, kau yang akan mati!" Kata Sarika dengan suara yang kecil.
Dimitri berbalik menatap Sarika, "Apa jaminannya kalau kau tetap setia apa ku selama itu?"
Sarika tidak perduli jika memang harus ada yang di korbankan, dan dengan gilanya Sarika merayu Dimitri hingga berakhir di ranjang.
Sarika tidak perduli lagi tentang harga diri, karena ternyata masuk kedalam kehidupan Dimitri adalah keputusan yang tepat. Setelah mengetahui rencana Dimitri yang ingin melenyapkan anak dari Sinara, tidak masalah di anggap wanita pemuas.
Walaupun begitu Atmaja lah orang yang pertama menyentuhnya, sampai akhirnya Sarika berada di titik terendah saat mengetahui ia melahirkan seorang putri yang di bernama Zira.
Sarika tidak menampik ia sudah menjadi seorang jl4ng untuk Dimitri, sehingga ia sendiri bingung Zira putri Atmaja atau putri dari Dimitri.
Tidak ingin terus merasa penasaran secara diam-diam Sarika melakukan tes DNA, di sanalah luka Sarika di mulai mengetahui fakta jika Zira sialnya adalah anak dari Dimitri.
Tetapi tidak berlangsung lama, Sarika kembali bangkit. Tujuan utamanya adalah membalaskan dendam atas kematian Kakaknya, sehingga secara terang-terangan Sarika menjadikan Zira sebagai alat.
Dimitri terperangah, "Jangan gila! Kau itukan murahan!" kata Dimitri merendahkan Sarika.
Sarika sudak kebal dengan setiap kata-kata kasar yang keluar dari mulut Dimitri, kadang ia juga membenarkan dirinya adalah wanita murahan mengingat selalu memuaskan Dimitri padahal sudah bersuami.
Lagi-lagi dendam mampu menutupi segala rasa sakit yang di rasakan Sarika.
"Aku pun tidak mengerti, tapi paling tidak aku sudah mengatakan nya!"
"Baik, kita buktikan dengan tes DNA!" Usul Dimitri.
Sarika mengangkat bahunya santai, seakan ia tidak masalah. Sejujurnya hatinya bagaikan di cabut paksa dari tempatnya.
Setelah hasil tes DNA mengatakan bahwa Zira anak Dimitri, di sanalah letak kemenangan Sarika.
Sarika mulai mendapatkan kepercayaan dan mulai memiliki kekuasaan serta dengan mudah mengendalikan Dimitri, walaupun terkadang masih terlalu sulit tetapi masih lebih baik.
Sampai akhirnya Lala beranjak dewasa, Dimitri menagih janji Sarika untuk memilik Lala.
__ADS_1
Tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa, hingga akhirnya Dimitri mengirim orang untuk masuk ke perusahaan dan mencuri semua berkas penting milik Atmaja. Padahal Atmaja dengan susah payahnya membangun kerajaan bisnis nya.
Dan saat itu Atmaja shock saat mendengar ia tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
Hingga Atmaja mengalami serangan jantung, dan harus di larikan ke rumah sakit.
Terpaksa Sarika menyetujui Dimitri untuk menikahi Lala, mengingat Atmaja sudah sangat hancur.
Saat Lala sudah sah menjadi istri Dimitri, Sarika selalu masuk di antara rumah tangga Dimitri dan Lala. Menawarkan diri agar Lala tidak di sentuh oleh Dimitri, tetapi secara diam-diam Sarika lah yang membiayai seluruh pengobatan Atmaja dan membayar seorang dokter serta perawat untuk mengatakan bahwa keadaan Atmaja semakin memburuk karena tidak memiliki biaya.
Sampai akhirnya Sarika bernapas lebih lega, saat mengetahui ada seorang pria yang sangat mencintai Lala.
Dimas!
Sarika diam-diam menemui Dimas dan meminta bantuan, tidak takut di tipu oleh Dimas tetapi keduanya tetap memiliki sebuah surat perjanjian yang sah mengenai surat kepemilikan aset milik Atmaja.
Semua di mulai saat Dimas bersedia mengirim Atmaja ke luar negeri, merekayasa tentang kematian Atmaja dan semua surat berharga sudah berada di tangan Dimas.
Sinara melarikan diri ke luar negeri, di bantu oleh Dimas hingga tidak meninggalkan jejak sedikitpun untuk merawat Atmaja.
Flashback off.
"Kau penghianat Sarika, kau manusia tidak tahu diri!!!" Geram Dimitri.
"Kau manusia tidak punya hati Dimitri, dan hari ini dendam ku untuk menghabisi mu sudah tiba!" Ujar Sarika penuh air mata mengingat wajah mendiang Kakaknya di habisi di depan mata.
"Aku menyesal sudah bekerja sama dengan penghianat seperti mu!"
"Sekalipun aku penghianat, Zira adalah anak mu? Dan aku benci itu!!!" Teriak Sarika.
Sampai saat ini pun Sarika tidak bisa menerima Zira adalah anak Dimitri, meskipun tidak pernah satu kali pun Sarika menunjukan kebencian pada Zira, mengingat Zira tidak bersalah.
"Kau menjadikan nya alat, agar aku lemah!"
"Ahahahhaha!!! Kau harus mati Dimitri susul Kak Sinara dan minta maaf pada nya di akhirat," Sarika mengeluarkan senjata api dari dalam tas tangan miliknya.
*
Like dan Vote
__ADS_1