
Sandy Perdian adalah sahabat lama Dimas dari semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama, sampai sekolah menengah atas. Sampai akhirnya keduanya sejenak berjauhan sebab Dimas yang melanjutkan studi nya di LA bersama Arka, sedangkan Sandy mulai melanjutkan pendidikannya di Jerman. Dan saat ini Sandy sukses menjadi seorang dr.SpKJ, hingga Dimas menghubungi Sandy kembali.
Sebenarnya Dimas bisa saja mencari psikiater lainnya, namun Dimas tidak ingin nantinya kecolongan. Karena walaupun Dimitri berada di dalam sel, namun jaringannya cukup luas. Dan Dimas tidak ingin Lala benar-benar gila karena trauma yang ia alami semakin parah.
"Ada apa kau meminta ku untuk ke rumah mu?" tanya Sandy, sebab saat di telpon semalam Dimas tidak menjelaskan dengan detail. Dan Dimas hanya memintanya untuk mendatangkan rumah kedua orang tuanya.
Dimas terdiam dan tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada Sandy, hingga ia hanya menjelaskan dengan singkat saja, "Ada seorang teman wanita adik ku Rika, dia sering mengalami kekerasan dari suaminya. Dan seperti dia sedikit bermasalah," jelas Dimas.
"Hanya teman adik mu?" tanya Sandy bingung, sebab ia sangat tahu Dimas adalah lelaki yang sangat cuek. Namun kini tiba-tiba ia perduli pada seorang wanita yang katanya hanya teman adik nya saja.
"Iya," jawab Dimas.
"Kau yakin?" tanya Sandy ingin memastikan dengan baik, "Aku seperti nya tidak percaya," lanjut Sandy lagi.
"Entahlah tapi sepertinya kau benar ini bukan hanya karena dia teman adik ku," jelas Dimas lagi.
Sandy dan Dimas sudah cukup lama berteman, bahkan keduanya pun sudah sangat saling mengenal. Hingga keduanya sangat tahu tentang teman satu sama lainnya. Dan mungkin tidak bisa saling menutupi lagi.
"Itu baru penjelasan yang benar," kata Sandy sambil terkekeh, "Bisa aku melihatnya?" tanya Sandy.
"Iya," Dimas mengangguk kemudian ia bangun dari duduknya, Dimas mulai berjalan di ikuti dengan Sandy yang berjalan di belakang nya. Sampai di lantai dua Dimas mengarahkan tangannya pada gagang pintu dan perlahan memutar nya, pintu perlahan terbuka dan menampakan seorang wanita yang tengah diam sambil memeluk lututnya.
Sandy perlahan mulai melihat Lala yang duduk diam tanpa berbicara, pandangan terlihat kosong bahkan ia merasa sendiri tanpa ada yang bisa menemaninya. Tidak ada yang bisa di lakukan Lala selain mengingat masa-masa buruknya, hal yang paling menyakitkan adalah saat malam itu ia di lecehkan oleh beberapa preman jalanan. Bayangan itu dan itu yang tidak pernah lepas dari kepala nya.
__ADS_1
Sandy berulang kali menggerakkan tangannya di depan wajah Lala, namun Lala masih diam saja tampa merespon apa-apa. Akhirnya Sandy menepuk pundak Lala, ia ingin melihat reaksi Lala seperti apa saat melihat dirinya. Orang yang baru di lihat oleh Lala.
Mata Lala mulai mengikuti tangan yang menepuk di pundaknya, perlahan tubuh Lala mulai gemetaran dan rasa takut semakin menghantui nya. Dengan gerakan cepat Lala meloncat dari atas ranjang.
"Enggak..... jangan," Lala menggeleng sambil bergerak mundur, "Jangan lagi aku mohon, hiks....hiks...." tangis Lala semakin sulit untuk di bendung, saat melihat wajah Sandy. Tubuh Lala semakin bergetar hebat saat melihat tali pinggang yang di pakai oleh Sandy, "Mundur, pergi!!!" teriak Lala ketakutan.
Sandy tidak ingin semakin membuat Lala takut, ia berjalan ke arah pintu dan ada Dimas di sana.
"Pak Dimas, suruh dia pergi!!!" seru Lala ketakutan, "Dia pasti mau melakukan hal kotor lagi pada saya Pak!!! Pergi aku jijik!!!" lanjut Lala sambil terus menangis.
Dimas langsung masuk, dan ia berusaha untuk menenangkan Lala.
"Suruh dia pergi Pak....hiks.....hiks...." pinta Lala sambil terus menangis ketakutan.
"Kamu tenang, ada aku," Dimas memeluk Lala, hingga Lala perlahan tenang. Dan seperti biasa setelah di berikan obat maka Lala akan tertidur. Dengan perlahan Dimas membaringkan tubuh Lala di atas ranjang, tidak lupa selimut untuk menghangatkan tubuh Lala juga mulai di tarik Dimas hingga menutupi wanita yang setengah gila itu.
Dimas mengangguk, "Saat itu di tengah malam yang gelap, aku melihat seorang wanita yang tidak sadarkan diri. Aku merasa kasihan karena preman jalanan itu seperti akan melakukan hal bejat, dan saat itu aku melihat ternyata orang itu adalah dia," Dimas melihat wajah pucat Lala yang kini tertidur karena pengaruh obat, "Aku yakin sekali jika preman itu belum sempat melakukannya, tapi tampaknya dia hanya yakin jika semua itu sudah terjadi," jelas Dimas lagi.
Sandy mengangguk mengerti, "Artinya wanita ini trauma, dan kenapa tidak di visum saja. Semua bisa terjawab bukan?" kata Sandy memberikan sebuah ide, "Bila benar dia masih virgin, dia tidak akan ketakutan lagi."
"Dia sudah memiliki suami..."kata Dimas dengan wajah bersedih, "Sekarang dia adalah seorang janda, jadi antara di lecehkan atau tidak tetap saja dia sudah tidak lagi...." Dimas menggantung perkataannya, kemudian beralih menatap Sandy. Ia yakin Sandy cukup mengerti dengan apa yang ia katakan.
Sandy mengangguk mengerti, "O, begitu, tapi kasihan sekali. Sepertinya dia memang mengalami gangguan mental," Sandy melihat sisa-sisa memar yang semakin memudar di tangan Lala, "Dia butuh dukungan, dan juga kasih sayang. Kita harus mendukung nya agar tetap memiliki semangat untuk melanjutkan kehidupan nya lagi."
__ADS_1
"Aku ingin kau merawatnya, tapi ini rahasia. Semua nya akan aku jelaskan nanti, dan aku hanya katakan rahasia kita. Jangan menggunakan pakaian formal, ataupun lainnya. Saat melihatnya kau harus terlihat berkunjung kemari dan hanya sekedar singgah saja," jelas Dimas memperingati Sandy.
"Aku mengerti, aku pamit dulu. Besok aku datang lagi," pamit Sandy lalu ia pergi.
Sandy mulai keluar dari rumah Dimas, ia memasuki mobilnya. Dan mulai mengemudikan nya, musik yang di putar pada mobil cukup kencang. Dengan mengunyah permen karet Sandy terus saja mengemudikan mobilnya. Namun sampai di persimpangan jalan tiba-tiba sebuah motor matic melintas, dan berhenti mendadak hingga membuat Sandy juga ikut mengerem mendadak. Namun tanpa di duga ia menabrak sebuah motor.
Brak!!!!
Suara benturan cukup keras terdengar dari luar mobil, itu akibat dentuman dua benda saling berbenturan.
"Ish....." Rika yang terjatuh bersama dengan motor matic nya mulai bangun.
Sedangkan Sandy juga turun dari mobil, dan ia ingin memastikan jika orang yang menabrak mobilnya tidak apa-apa.
"Mbak baik-baik saja?" tanya Sandy.
Rika melepaskan helm nya, dan ia menatap Sandy, "Mbak-mbak pala lu, kapan gue nikah sama Abang lu," geram Rika dengan penuh amarah.
Sandy menatap Rika dengan kagum, wanita di hadapan nya sangat cantik dan sepertinya mampu mengalihkan dunianya.
"Di mana rumah mu, dan siapkan berkas mu. Kita akan menikah," ujar Sandy dengan menaikan sebelah alisnya.
"What.....???? Dasar gila!" kesal Rika, ia tidak mengerti mengapa ada pria yang aneh.
__ADS_1
"Aku masih waras, ayo ku antar pulang. Dan besok kita menikah!" ujar Sandy sambil menarik Rika untuk masuk ke mobilnya.
"Ish.... lepas," Rika menginjak kaki Sandy, setelah itu cepat-cepat ia pergi dan melarikan diri.