
Lala sayang, udah dong cemberutnya...."
Dimas terus melihat Lala yang cemberut, ia tahu istrinya masih marah padanya. Tapi semua juga terjadi begitu saja. Sampai akhirnya Dimas memarkirkan mobilnya dengan asal di depan perusahaan milik Lala yang kini perusahaan tersebut sudah berpindah menjadi milik Dimas.
"Mau ke kantor atau ke hotel?" Dimas menunjukan gedung yang menjulang tinggi tidak jauh darinya.
"Ngapain ke hotel?" tanya Lala dengan sinis.
"Biar kamu senyum, mungkin karena kurang jatah," goda Dimas.
"Aa," Lala langsung memukul lengan Dimas, "Baru tahu ternyata Aa mesum nya parah, dulu aja Lala godain nolak terus!" gerutu Lala.
"Hehehe..... cerewet nya udah keluar lagi," Dimas menarik pipi Lala dengan gemas, sudah lama sekali ia tidak melihat Lala dengan kecerewetan nya.
"Aduh sakit Aa," kesal Lala sambil memukul tangan Dimas.
"Hehehe....." Dimas langsung turun, begitu juga dengan Lala yang ikut berjalan di samping Dimas.
Beberapa karyawan terus menyapa Dimas, sedangkan Lala hanya tersenyum saat beberapa karyawan tersenyum pada dirinya. Namun, tanpaknya Dimas memperhatikan Lala yang terus membalas senyuman para karyawan. Akhirnya ia dengan cepat menarik Lala masuk kedalam lift.
"Ish..... pelan-pelan!" geram Lala.
"Tidak usah senyum bisa!"
"Senyum itu ibadah Aa, dari pada Aa main pangku-pangku cewek!" jawab Lala yang tidak mau kalah.
"Sekali lagi kau bicara seperti itu, aku tidak perduli ada cctv di dalam lift ini!" ancam Dimas.
Lala lebih memilih melihat ke arah yang lain, sebab, ia juga takut pada ancaman Dimas yang mungkin saja menjadi nyata.
Ting.
Pintu lift terbuka, Lala dan juga Dimas keluar. Keduanya langsung menuju ruang CEO.
Lala mengedarkan pandangannya, ia melihat ruangan sang Ayah dengan tatapan mata yang berkaca-kaca, "Ruangan ini tidak banyak berubah," Lala melihat meja kerja Dimas, dan di sana ada banyak fhoto dirinya, "Ternyata Lala punya penggemar setia," celetuk Lala sambil menunjuk fhoto nya.
Dimas menggaruk kepalanya, ia seakan tidak mendengarkan ejekan Lala.
"Waw, Ahahahhaha......" Lala semakin tertawa saat melihat foto nya yang mungkin di ambil secara diam-diam.
"Lala!" Dimas menatap Lala dengan serius.
"Iya....." jawab Lala dengan cekikikan, "Jadi gaji Lala berapa Aa?" Lala langsung duduk di kursi kebesaran Dimas.
__ADS_1
"Semua gaji Aa untuk mu," jawab Dimas.
"Waw," Lala tersenyum, tentu saja Lala sangat setuju sekali, "Ada tambah lagi?" tanya Lala.
Dimas langsung berjalan kearah Lala, ia berdiri di samping kursi kerjanya, "Apa gaji suami mu masih kurang Komariah!" ejek Dimas sambil menarik rambut Lala.
"Tapi Aa punya bisnis yang lainnya juga kan, jangan bilang itu semua buat wanita tadi ya," tebak Lala.
Dimas mengeluarkan dompetnya, dan memberikan semua kartu miliknya pada Lala, "Ambil ini!"
"Gitu dong kan enak, tapi kerjaan Lala apa?"
"Nyapu, ngepel, beres-beres ruangan ini," jawab Dimas.
"Ahahahhaha....." Lala tertawa lepas saat mendengar tugas yang di berikan Dimas untuknya, "Malangnya nasib ku."
"Apanya yang malang, gaji Aa semua untuk mu. Kerja mu hanya itu!" jawab Dimas bingung.
"Tugas di kampus banyak banget Aa," Lala mendesus sambil merebahkan kepalanya ke atas meja, "Kadang dosen Lala ngeselin banget!" gerutu Lala lagi.
Dimas tahu Lala tengah menyindir dirinya, ia langsung menjewer telinga Lala karena sudah berani mengatai dirinya.
"Sakit Aa!!!" seru Lala.
"Sama dosen yang sopan!" geram Dimas.
"Sudah berani ya," Dimas langsung mendekati Lala, tapi dengan cepat Lala berlari karena ingin menghindari Dimas.
"Ahahahhaha....." Lala tertawa lepas saat melihat wajah kesal Dimas.
"Kalau kena kau tidak akan lepas," ancam Dimas sambil berfokus pada kancing kemeja Lala yang sudah terlepas beberapa kancing.
"Dasar dosen aneh, mahasiswanya di kejar-kejar dimana kesopanan anda bapak," ejek Lala sambil menaiki sofa.
Dimas merasa Lala sudah kembali ceria seperti saat dulu sering kali menggoda dirinya, dan kali ini pun seperti Lala tengah menggoda dirinya.
"Jangan salahkan aku kalau khilaf," kata Dimas, sambil berusaha menangkap Lala.
"Enggak bisa," Lala merasa bangga karena Dimas tidak bisa menangkapnya, dengan cepat ia keluar dan berlari dengan sesuka hatinya. Sampai akhirnya ia sadar sudah cukup jauh, "Ya ampun aku di tangan darurat ini," Lala melihat sekitarnya yang cukup sepi. Namun, tiba-tiba mulutnya di tutup dan ia terhempas pada dinding, "Mmmmfffffpp...." Lala panik dan ingin berteriak.
"Kau pikir suami mu ini tidak bisa menemukan mu?" tanya Dimas.
"Huuuufff...." Lala menarik nafas dengan panjang, awalnya ia sangat takut bila orang dari Dimitri yang mendekap mulutnya. Tapi ia kembali bernafas lega saat ternyata Dimas adalah orang nya, "Aa muncul dari mana sih, tiba-tiba aja?" tanya Lala bingung.
__ADS_1
"Dari mana saja tidak penting, karena yang penting itu kau," bisik Dimas.
"Aa," Lala mencoba untuk bergerak, tapi Dimas terus saja mendekati nya, wajah Lala bertambah panik saat tangan Dimas semakin menelusup masuk kedalam pakaian nya, "Aa, ngapain?"
"Enggak ngapa-ngapain," bisik Dimas sambil menggigit kecil daun telinga Lala.
"Aa, enggak tahu tempat banget sih," kesal Lala lagi ia masih saja mencoba untuk melepas diri.
Tidak perduli pada penolakan Lala, Dimas langsung menarik tengkuk Lala dan melahap dengan cepat bibir nya. Tangan yang sudah berkeliaran seakan membuat suasana menjadi lebih panas.
"Aa, jangan di sini," pinta Lala.
"Tidak ada siapapun," jawab Dimas sambil menunjuk sekitarnya.
"Ada cctv," Lala menunjuk cctv yang terpasang tepat mengarah pada mereka.
Dengan terpaksa Dimas melepas Lala dan mengurungkan keinginan nya, "Siapa yang memasang cctv di sana!" geram Dimas.
Lala menahan tawa melihat wajah kesal Dimas, dengan cepat tangannya merapikan kemejanya yang sudah di acak-acak oleh Dimas.
"Ini harus di selesaikan."
Lala sampai terhuyung karena Dimas menariknya dengan tiba-tiba, sampai akhirnya ia dibawa masuk keruang pribadi milik Dimas. Ruangan itu dulunya adalah ruang istrinya milik sang Ayah.
"Kita tuntaskan di sini sayang," bisik Dimas.
"Aa apasih, ngomong nya perasaan sekarang bebas banget," jawab Lala dengan wajah malunya.
"Kau yang memancing aku!"
Dimas langsung mendorong Lala ke atas ranjang dan menindih Lala dengan cepat.
"Aa, mana ada asisten di bawa ke atas ranjang!" kata Lala mulai komplain.
"Ada, kau orangnya," bisik Dimas.
"Sssstttt....." dengan sekuat tenaga Lala berusaha menahan suaranya, tapi tangan Dimas yang bergerak dengan liarnya membuatnya seakan hanyut dalam kenikmatan yang luar biasa. Perlahan Lala mulai menerima tanpa menolak, karena sentuhan Dimas kini sudah menjadi candu untuk Lala, "Aa," Lala menekan kepala Dimas dengan kuat saat memainkan gundukan yang besar dan kenyal secara bergantian, "Sssstttt....."
"Kau sangat cantik," bisik Dimas.
Lala menarik selimut karena ia mulai tersadar dan malu, tapi dengan cepat Dimas langsung membuang selimut dengan jauh. Dan ia kembali melanjutkan permainan yang sempat terhenti.
"Aa...ah...ah...ah.. sssstttt....ah...ah..."
__ADS_1
Suara Lala benar-benar menggema saat Dimas mulai memasuki dirinya, niat awalnya menuju kantor untuk mengajari Lala cara memimpin perusahan kini berubah seketika. Yang ada Dimas mengajarinya cara menjadi istri yang pandai dalam membahagiakan suami, sampai akhirnya Dimas sampai pada puncaknya, "Itu juga tugas asisten dadakan," bisik Dimas.
Lala langsung tertidur, tidak perduli dengan Dimas. Ia benar-benar sangat lelah sekali.