Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 152


__ADS_3

Setelah beberapa jam berada di kamar akhirnya Sandy keluar juga, kini ia memakai kemeja berpadu dengan celana senada dan segera menuju ruang keluarga.


Sandy keluar dari kamar dengan wajah bahagia, tanpa tahu wajah Kakak ipar dan sahabat nya Arka.


Dimas, dan Arka duduk di sofa sementara Sandy pun segera duduk bergabung bersama sahabatnya.


"Ayo berangkat," kata Sandy dengan bangganya.


Dimas dan Arka saling tatap kemudian melihat Sandy secara bersamaan.


"Hey kalian kenapa?" Sandy semakin kebingungan melihat exspresi wajah dua sahabatnya.


"Kemana?" Tanya Dimas.


Sandy mendesus karena jengkel akan Dimas, bukankah Dimas mengajaknya menghadiri persidangan Dimitri lalu, sekarang malah bertanya kembali.


"Memangnya kau sudah pikun? Bukankah tadi kau mengatakan kita akan ke persidangan Dimitri?!"


"Kau yang tolol, ini sudah jam berapa? Aku mengajak mu jam berapa?"


Dimas menunjuk jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dan Sandy pun melihat jamnya dan terkejut.


"Aku mengajak mu pagi tadi ini sudah siang, kami sudah pulang dari persidangan dan kau baru keluar dari kamar!" Jelas Dimas penuh kekesalannya.


Sandy mengusap wajahnya beberapa kali, bertapa malunya menyadari kesalahannya ternyata saat kembali ke dalam kamar ia baru keluar lagi setelah beberapa ronde dengan istrinya.


"Kalau kau yang menjadi hakim sidang bisa di tunda sampai kau selesai dengan ritual pengantin baru mu!" Ujar Arka tak kalah kesal.


"Hehe....Maaf, namanya juga manten baru maklumlah baru, jadi masih candu," jawab Sandy sambil terkekeh geli mengingat bertapa konyol dirinya.


"Dasar!"


Ingin sekali Dimas mengacak wajah Sandy tetapi, takut Rika akan menangis bila suami tercintanya babak belur jadi, Dimas memilih menahan dirinya.


"Dasar kasanova tanggung!" Kata Arka lagi dengan kekesalan sampai di ubun-ubun.


Arka tahu selama ini Sandy suka bergonta-ganti pacar, tapi tak pernah sampai pada hubungan intim. Hanya sebatas menjamah saja sebab Sandy sebenarnya mencari ketenangan pada wanita-wanita tersebut mengingat ia terlahir dari keluarga broken home.


"Semalam lu tu brisik banget tau! Mama aja yang lewat dengar!"


"Mama? Mama dengar?!" Sandy shock bukan main, bagaimana mungkin mertuanya mendengar.


"Iyalah, siapa yang nggak dengar. Kamar kalian itu tidak kedap suara! Mana suara kalian berisik pula!"


Sandy seketika terperosok ke lantai, entah bagaimana caranya saat bertemu muka dengan Mama mertua nya nanti jika benar semua yang dikatakan oleh Dimas.


***

__ADS_1


Mama Yeni melihat jam menunjukkan sudah pukul 12 : 30 siang tetapi Rika belum juga keluar dari kamar.


Rasanya cukup khawatir mengingat anaknya masih dalam masa pemulihan sedangkan belum juga sarapan pagi di saat hari sudah menjelang siang.


Setelah mendengar suara dari ruang keluarga Mama Yeni melihat dari kejauhan ada Sandy juga diantara, Dimas dan Arka artinya Rika hanya sendirian di dalam kamar.


Segera menuju kamar Rika untuk membangunkan putri bungsu nya untuk makan, tapi saat membuka pintu kamar Mama Yeni sudah di sambut kamar Rika yang berantakan.


Tapi ia hanya diam mengerti dengan keadaan pengantin baru, bahkan ia salut pada Sandy yang menahan diri hingga menunggu keadaan Rika membaik.


Segera ia membuka selimut, dan menampilkan wajah Rika yang masih tetap dengan rambut acak-acakan dan tanpa ada benang yang menutupi tubuh polos nya selain selimut.


"Rika, bangun Dek. Kamu belum makan apa-apa."


Mama Yeni terus berusaha untuk membangunkan Rika sekalipun cukup sulit.


"Rika bangun!"


"Emmm......Ma, Rika masih mengantuk!"


"Kamu harus bangun, makan dulu nanti kamu sakit."


"Em!"


Rika kembali menutup mata dan Mama Yeni segera menarik Rika untuk bangun sekalipun dengan paksa.


"Makan dulu, abis itu tidur juga silahkan!"


"Em," Rika dengan terpaksa membuka mata dan turun dari ranjang dengan melilitkan selimut di tubuhnya yang polos.


Mama Yeni menyadari tak ada bercak darah di atas ranjang membuatnya penasaran.


"Rika tunggu?


"Apa lagi sih, Ma?" Rika duduk di lantai dengan selimut di tubuhnya.


"Lihat Mama!"


"Iya!" Rika menumpang dagunya menatap Mama Yeni sesuai permintaan.


"Kenapa tidak ada bercak darah?! Kamu sudah pernah tidur dengan siapa? Setahu Mama semalam Tari bilang kamu malam tadi itu malam pertama kalinya."


"Ah, Tari mah, sok tau!" Gerutu Rika.


Membayangkan wajah Lala dan Mentari membuat nya kesal karena dikerjai semalam padahal ia sangatlah malu di paksa memakai lingerie di hadapan Sandy.


"Rika, kalau ngomong yang jelas. Jangan bilang kamu udah tidur sana laki-laki lain?!" Tebak Mama Yeni.

__ADS_1


Jika benar begitu adanya mungkin kini dan seterusnya tak memiliki muka di hadapan Sandy.


Sandy begitu mencintai Rika, berjuang dengan tidak mudahnya dan mendapatkan sisa.


"Mana ada, Mama jangan aneh-aneh ya. Gabung sama Tari bikin otak Mama ikut miring, Mas Sandy yang nidurin Rika di hotel malam Mama minta Rika nganterin makan ke rumah sakit, setelah itu paginya Rika di rawat dan Dino yang larikan ke rumah sakit, udah ah..... Mama harus jauh-jauh dari Tari atau Papa nggak akan ngenalin Mama lagi?!"


"Maksudnya?" Tanya Mama Yeni bingung.


"Ya, Mama ketularan gilanya Tari lah!"


Rika langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa selimut nya, meninggalkan Mama Yeni salam kebingungannya.


"Cepat selesaikan mandi mu, dan Mama tunggu di meja makan!"


Mama Yeni menaikan nada suaranya agar Rika mendengar. Kemudian ia segera memungut pakaian yang berserakan di lantai lalu membawanya menuju dapur.


Setelah Mama Yeni keluar Sandy masuk, ia melihat Rika sudah tak berada di atas ranjang dan sesaat kemudian pintu kamar mandi terbuka Rika keluar dengan balutan handuk saja.


"Sayang, kamu udah makan?"


Rika duduk di sofa dan kembali memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk.


"Belum, lapar, ngantuk," keluh Rika.


"Pakai pakaian mu dan makan, sebelum Mas yang makan kamu!"


"Apasih! Dokter cabul!"


"Makanya pakai baju!"


"Rika mau tidur aja!".


"Makan dulu!"


"Ngantuk!"


Sandy segera menuju dapur dan mengambil makan untung Rika, kemudian kembali dengan membawa sepiring nasi berisi dan lauk juga segelas mineral.


"Kamu makan dulu, Mas yang menyuapinya."


"Em."


Rika menerima setiap suapan tapi mengunyah dengan mata tertutup, setelah makan dan isi piring hampir habis Rika sudah terlelap kembali dengan duduk di sofa.


Sandy merasa bersalah melihat wajah lelah Rika, bertapa kasihan istrinya itu bahkan begitu mengantuk.


Akhirnya ia mengangkat tubuh Rika dan membaringkan dengan perlahan di atas ranjang, lalu segera meminta Art untuk membawa selimut yang bersih

__ADS_1


Setelah itu menyelimuti tubuh Rika, Sandy segera keluar dari kamar membiarkan Rika tertidur mengingat semalam penuh Rika tak tidur.


__ADS_2