Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Aa Dimas


__ADS_3

Malam mulai larut, Dimas dan Lala pun kembali ke apartemen. Lala tidak bertanya mengapa mereka tidak pulang ke rumah, karena kemanapun Dimas membawanya Lala tidak masalah. Sebab bersama Dimas adalah suatu ketenangan yang tidak bisa di gantikan.


"Kenapa diam saja?"


Dimas melihat Lala dari tadi diam saja, hingga Dimas bingung dengan perasaan Lala saat ini.


"Em....." Lala tersenyum, karena masih terlalu terkejut dengan semua perlakuan Dimas padanya. Dalam sekejap Dimas berubah menjadi lelaki yang seperti di impikan hingga Lala masih cukup terkejut dan bertanya-tanya.


"Kenapa?" tanya Dimas lagi.


"Enggak kenapa-kenapa juga," jawab Lala.


"Kenapa?" Dimas memegang dagu Lala, karena ia masih butuh jawaban dari istri nya.


Lala merasa udara malam ini semakin panas, padahal kini mereka berada di ruang ber- AC. Sejak kembali dari restoran tadi Lala memang hanya diam, dan ia masih berharap jika ini bukan mimpi.


"Lala takut Pak," jawab Lala dengan menunduk.


"Takut?" tanya Dimas.


Lala mengangguk, "Lala takut kalau ini cuman mimpi," satu butir air mata Lala jatuh begitu saja, karena tidak tahu bagaimana cara mengatakan nya pada Dimas.


Dimas tersenyum saat mendengar jawaban Lala, artinya Lala masih sangat mencintai dirinya. Hingga Lala merasa takut, "Mau Aa cubit?" tanya Dimas.


Lala seketika menatap Dimas, dan sedetik kemudian Dimas langsung mencubit pipi Lala


"Auuuu...." ringis Lala, karena kesakitan, "Sakit Pak!!!!"


"Berarti nyata!!!" kata Dimas lagi sambil terkekeh, "Mau coba lagi?" goda Dimas.


"Enggak, sakit," jawab Lala sambil mengusap air matanya.


"Mau ya," seloroh Dimas dan berpura-pura akan mencubit Lala kembali.


"Enggak," Lala dengan cepat meloncat dari atas sofa, dan ia berlari sejauh mungkin.


"Mau ya," Dimas juga ikut meloncat dari atas sofa, dan langsung mengejar Lala.


"Enggak....." teriak Lala dan ia masuk keruang kerja Dimas, "Enggak kenak!!!" ejek Lala.

__ADS_1


"Baik-baik, kalau kena tidak akan aku lepaskan!" ancam Dimas.


Lala kini berdiri saling berhadapan dengan Dimas, namun ada meja kerja Dimas yang menjadi pembatas keduanya.


"Ayo kejar...." goda Lala karena Dimas tidak bisa menangkapnya.


"Kau meremehkan aku!"


Lala tersenyum miring, "Tidak Pak Dimas, tapi sedikit sih," kata Lala lagi sambil terkekeh.


"Kalau aku berhasil melompati meja ini dan kau berhasil ku dapatkan apa ada hadiah?" tanya Dimas.


"O tentu," jawab Lala dengan remeh, "Pak Dimas, akan aku panggi Aa Dimas," ejek Lala.


Dimas tersenyum karena mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Lala, "Ada bonus tidak?" tanya Dimas lagi.


"Bonus?" tanya Lala balik, "Bonus ada, bebas mau apa saja," kata Lala sambil tertawa karena ia memang sedang meremehkan Dimas.


Dimas tidak lagi berbicara, ia meloncat dengan cepat dan melewati meja. Lala yang tidak di beri aba-aba oleh Dimas tentu saja terkejut.


"Aaaaaa...." teriak Lala ketakutan.


"Kena!!!!" teriak Dimas dan langsung memeluk Lala.


"Pak Dimas curang, enggak bilang-bilang dulu kek apa kek!" omel Lala.


"Kau sudah kalah masih banyak bicara, cepat panggil Aa!"


"Iya tapi lepasin Lala," pinta Lala sambil menggerakkan tubuhnya, karena Dimas masih memeluknya dari belakang.


"Enak saja, cepat panggil yang tadi!"


Lala tidak bisa lagi mengelak, awalnya ia pikir Dimas tidak akan bisa sekali meloncat meja dan langsung menangkap dirinya. Kemudian ia akan menertawakan Dimas habis-habisan, tapi ternyata ia yang kalah dan tentu saja ia yang akan di buat malu oleh Dimas.


"Cepat!" titah Dimas.


"Aa Dimas," kata Lala dengan suara pelan.


Dimas tersenyum di belakang tubuh Lala, "Lebih kencang!"

__ADS_1


"Aa Dimas," kata Lala lagu mengulangi nya, agar Dimas mau melepaskan dirinya, sampai akhirnya Lala melihat ada sebuah foto nya yang terpasang di atas meja kerja Dimas. Ini benar-benar mengejutkan untuk Lala, "Pak, ini foto Lala?" tanya Lala bingung.


Dimas menatap arah yang di tunjukan oleh Lala, "Kenapa?" tanya Dimas balik.


"Kok ada di sini?" tanya Lala lagi penasaran.


"Karena aku mencintaimu!" jawab Dimas dengan pasti.


"Bapak?" suara Lala mendadak menghilang, karena ia tidak tahu cara nya untuk bertanya. Sebab ia masih terlalu terkejut. Karena Lala hanya berpikir Dimas berpura-pura mencintainya, karena rasa bersalah saat Di as merenggut paksa kesucian nya.


"Sayang ayolah, jangan panggil aku dengan panggilan itu!" Dimas langsung membalikkan tubuh kecil Lala agar saling berhadapan dengan nya.


Air mata Lala tumpah begitu saja, tapi ini bukan air mata kesedihan. Tapi air mata kebahagiaan, yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata.


Dimas langsung mengangkat tubuh Lala keatas meja kerjanya, dan menaikan dagu Lala agar ia bisa melihat manik mata indah Lala, "Aku mencintai mu, aku baru sadar di saat kau sudah menjadi milik orang lain. Dan tolong jangan pernah berpikir untuk pergi dari ku," pinta Dimas.


Bibir Lala bergerak, dan ia ingin sekali berbicara. Tapi apa yang bisa ia katakan, karena dengan apa yang ia dengar saja sudah sangat membahagiakan, "Aa serius, enggak bohong kan?" tanya Lala, dengan mata yang masih berkaca-kaca.


"Iya Sayang, aku mencintaimu," kata Dimas dan ia langsung memeluk Lala dengan erat.


Lala juga memeluk Dimas tidak kalah erat, ia tidak menyangka jika akhirnya cinta yang selama ini ia rasakan terbalas juga. Walaupun banyak badai yang mereka lewati tapi cinta mengalahkan segara, pelukan cinta berubah menjadi hasrat yang menggebu.


Dimas mulai melahap bibir Lala dengan panas, mencercap indahnya cinta. Saling bertukar saliva, tanpa ada yang ingin mengalah. Tangan Dimas yang mulai menguasai tubuh Lala semakin bergerak liar seirama dengan gairah yang semakin membuncah dan menuntut, cinta yang tersimpan seakan terwakili saat ini juga.


"Sssssttt...." Lala merintih hebat saat Dimas mulai memainkan gundukkan secara bergantian, rasa perih bercampur nikmat menjadi satu. Bukan yang pertama kalinya, tapi ini adalah ungkapan cinta yang tidak bisa di katakan dengan bibi saja.


"Sayang aku mencintaimu," bisikan cinta di telinga Lala seakan membuatnya hanyut dalam permainan yang Dimas tawarkan.


Saat Dimas merasa Lala sudah siap, ia mulai memasuki Lala. Tidak perduli di mana tempat mereka kini berada, yang jelas semua terasa begitu indah.


Suara yang dentuman antara dua orang terdengar jelas menggema di ruang itu, udara yang berubah panas seakan tidak menjadi masalah bagi keduanya.


"Sayang....." panggil Dimas, saat pelepasan tiba.


Mata keduanya bertemu, mata yang memancarkan aura cinta yang luar biasa. Tidak ada yang bisa menandingi rasa cinta yang cukup besar,


*


Suami mana suami....ya ampun. Lagi datang bulan Othor, sampai di sini dulu ya. Lanjut besok.

__ADS_1


__ADS_2