Ku Tunggu Janda Mu

Ku Tunggu Janda Mu
Bab 126


__ADS_3

Arka, Dimas, Radit, langsung menarik Sandy masuk keruang kerja Dimas.


Ruangan tersebut cukup privasi sehingga tidak akan ada yang berani masuk sebelum ada persetujuan dari si pemilik.


"Duduk," Dimas mendorong adik ipar gilanya untuk duduk di atas sofa.


Selanjutnya Arka, Radit, dan Dimas juga segera duduk.


Sandy menatap satu persatu wajah-wajah yang kini juga menatap dirinya, merasa ada yang tidak beres dengan segera bangun dan ingin melarikan diri.


Sayangnya pintu sudah terkunci, dengan terpaksa Sandy kembali duduk pada tempatnya.


Dimas, Arka, dan Radit terlihat serius menatap Sandy.


Entah apa yang tengah di pikirkan tiga pria tampan tapi takut istri tersebut, yang pasti adalah Sandy yang akan di berikan sedikit pelajaran, berupa sedikit bimbingan.


Tetapi mungkin bimbingan yang diberikan ketiga pria senior beristri tersebut sedikit membuat Sandy kesal.


Tetapi, itu memang tujuannya.


"Kenapa kau datang tidak membawa seserahan?" Tanya Radit yang memulai pembicaraan.


"Kau pikir cukup dengan membawa cinta?" Timpal Arka.


"Kau pikir tinggal di rumah ini gratis? Makan, minum, ke toilet! Semua harus di bayar," Kini Dimas yang juga ikut berbicara.


Sekalipun omongan ketiga pria itu cukup menyakitkan tetapi, itu hanya sekedar gurauan saja.


Mereka semua tahu Sandy adalah orang berada, memiliki rumah sakit yang besar dengan memperkerjakan banyak tenaga medis.


Banyak wanita yang menggilai nya, tapi sayang hanya Rika yang bisa membuatnya setia.


"Jawab! Itu kopi di hadapan mu buatnya juga pakai gula!" Radit menunjukkan kopi yang baru saja di hidangkan oleh seorang pelayan.


Sandy menyandarkan tubuhnya pada sofa, santai dan sama sekali bukan beban apa yang ia dengar.


"Aku tidak punya uang," jawab Sandy.


"Ternyata selain penjebak wanita agar bisa kau nikahi, kau juga pembohong besar!" Ejek Arka.


"Aku tidak berbohong pak CEO takut istri!" Sandy juga tidak mau kalah.


Jika Arka bisa mengejeknya mengapa ia tidak, tetapi, ternyata kata-kata Sandy barusan membuat Arka marah.


"Kau kalau bicara jangan sembarang!"


"Mentari!"

__ADS_1


Arka langsung menatap arah pintu, tapi ternyata Sandy membohongi dirinya.


Menyebalkan!


Arka merasa malu dan kembali duduk pada sofa.


"Aku memang tidak membawa apa-apa, tapi adik mu kan bisa membelinya sendiri, aku membebaskan nya untuk membeli apa saja," jelas Sandy sambil menatap Dimas.


"Jangan bilang kau sudah menyogoknya?" Tebak Dimas.


"Bukan sogok menyogok sebenarnya mungkin bisa di sebut tanda jadi dan aku memberikan black card ku padanya," jelas Sandy dengan santai.


Bagaimana bisa Dimas tidak mengabulkan keinginan Sandy saat memohon padanya untuk menikahi adiknya.


Cinta Sandy sudah sangat besar, malahan Dimas takut malah keduanya pergi dan menikah secara diam-diam.


Rasanya akan lebih terhormat saat seperti ini, Sandy sendiri yang memohon untuk menikahi adiknya.


Jika pun andaikan suatu hari nanti Sandy mengatakan menyerah mencintai adiknya maka Dimas akan lebih mudah melenyapkan Sandy dari muka bumi ini.


Atau pun satu saat Sandy ternyata kembali bermain wanita maka dengan segera Dimas akan menggali makan untuk Sandy.


"Dia ini licik, dan juga cerdik tapi sayang kawan istri mu masih marah pada mu," ejek Radit, "kau ingat tadi? Dia langsung pergi tanpa perduli pada mu."


Radit menertawakan nasib Sandy yang sepertinya belum bisa menikmati indahnya malam pengantin.


"Malam ini kita akan bermain catur," Dimas mengambil papan catur dan meletakkan nya di atas meja.


Sandy pikir malam ini juga bisa memeluk erat Rika, tertidur setelah bermandikan keringat karena olah raga yang membuatnya menjadi lebih bahagia.


"Apa kalian tidak punya otak, aku ini pengantin baru!" Geram Sandy.


Arka, Dimas, dan Radit saling melempar senyum.


Sedetik kemudian ketiga nya tertawa terbahak-bahak.


"Malam pertama mu di sini, di papan catur ini," Arka masih terus tertawa bahagia melihat penderitaan Sandy.


"Bulan puasa, otak mu itu di kondisikan!"


Ya ampun.


Andai saja para tiga jantan brengsek itu tahu ia sudah membayangkan bersama Rika sejak pertama kali bertemu, mungkin akan ada sedikit belas kasih untuk dirinya.


Tapi apa mungkin mengatakannya, bisa saja itu akan menjadi bahan candaan dan mukanya akan menjadi tomat karena malu menahan ejekan.


Tapi tidak ingin kehabisan akal Sandy berpura-pura memegang perutnya yang terasa sakit, seakan mengeluarkan keringat dan memasang wajah pucat.

__ADS_1


Hanya demi bisa lolos dari ketiga jantan takut istri yang kini berada di hadapannya.


"Aduh, perut ku sakit banget, aku butuh istirahat seperti nya," Sandy seakan meringis menahan sakit pada perut nya.


Arka dan Dimas menatap Radit dengan penuh tanya.


Radit tahu kini dua orang pria itu bertanya apanya apakah ini benar atau tidak.


"Sebagai seorang dokter Obgyn, aku sudah terbiasa bermain dengan banyaknya benda tajam," Radit seketika bangun dari duduknya dan mendekati Sandy.


"Apa dia akan mati!" Seloroh Dimas.


"Kalau aku mati adik mu jadi janda, janda perawan itu menyakitkan!" Suara Sandy meninggi karena geram pada Dimas.


"Baik, psikiater mungkin kau sangat pandai ber- acting tetapi, aku di sini yang terbiasa berada di ruang operasi!" Radit menekan perut Sandy dengan sedikit kuat.


Memastikan apakah benar Sandy tengah menahan sakit.


"Kau itu sangat pandai berbohong, coba angkat baju mu!" Titah Radit.


"Ini bukan bagian dokter Obgyn!" Tolak Sandy.


"Tapi aku sudah biasa membuka perut wanita-wanita kekenyangan karena ulah suaminya!" Radit menarik paksa kemeja Sandy.


"Hey, aku ini normal!"


"Kau berbohong! Ini sudah kering, kau memang ingin mengelabui kami!"


"Ini papan catur, cepat main!"


Dengan terpaksa Sandy mengikuti kegilaan tiga pria brengsek yang mengerjainya habis-habisan, mimpi yang sempurna untuk di tunaikan malam ini harus tertunda dengan sangat berat hati.


"Senyum!"


Dimas ingin sekali tertawa melihat wajah Sandy, begitu juga dengan Arka.


Malahan mereka hanya bermain asal karena yang terpenting adalah melihat wajah Sandy yang penuh penderitaan.


"Sudah ya, aku sangat mengantuk!" Sandy segera berdiri, tetapi Dimas, dan Radit segera menahan tubuh Sandy.


"Satu jam lagi, sudah waktunya sahur. Tidak usah tidur, nanti kau lupa bangun," kata Dimas.


"Dasar Kakak Ipar gila!" Dengan terpaksa Sandy kembali duduk.


"O, sudah hebat kau ya?! Sudah mendapat adik ku sepenuhnya kau berani berbicara begitu pada ku, ya!" Dimas marah berapi-api dan ingin menghajar Sandy.


"Kakak ipar, aku minta maaf, aku salah bicara ya," Sandy ingin masalah nya dengan Dimas selesai, agar ia lebih mudah pergi.

__ADS_1


"Untung kau masih dalam masa pemulihan, kalau tidak!" Dimas mengepalkan tangannya dan ingin melayangkan bogem mentah pada adik Ipar nya.


"Maaf, Kakak ipar," kata Sandy mencoba berdamai.


__ADS_2